[FF] Go Away (Chapter 5. 2/2) – END

Title: Go Away
Genre: Romance, Sad
Author: Reene Reene Pott
Rating: General

Main Cast : Choi Minho, Lee Son Hee

Supporter Cast : Goo Hara, Donghae, Park Nah Ra, Oh Jae Jin, Kim Hyun Jae, Choi Sulli
Legth: Sequel
Language: Indonesia

A/N : Kutepatin kan? Bulan ini Kupost… Uyeeeaaaaah!!!!! Akhirnya end juga. Sebenernya nih part udah lumutan di kompie gara-gara kugeletakkan begitu saja, hohoho…. Oke deh, yang nunggu in FF ini siapa? Apakah ada?? Baiklah, last part ini kupersembahkan untuk kalian…

PS : Yang suka mewek akan hal2 sedih lebih baik sedia tissue ya….

Last Part

Tubuhku terlempar dari situ. Sempat kudengar teriakan-teriakan Nah Ra memanggil-manggil namaku dan semuanya menjadi gelap.

Sulli’s POV

Suasana ini sungguh tegang. Aku memainan tanganku sambil memperhatikan hakim. Tiba-tiba, tanganku menyenggol gelas air minum lalu jatuh dan langsung pecah seketika itu juga.

PRANGG!!

“Ah, mianhae,” kataku. Lalu semuanya kembali menghadap hakim. Bodohnya, aku menyentuh pecahan kaca itu. Jariku tertusuk salah satunya dan cairan berwarna merah merembes keluar dari kulit jariku. Kenapa perasaanku jadi tidak enak?

Author’s POV

Nah Ra langsung mencegat taksi dan membawa sahabatnya itu ke rumah sakit. Tubuh Son Hee bersimbah darah. Ia tak sadarkan diri.

“Ahjussi, tolong cepat,” kata Nah Ra cemas. “Son Hee, kuatkan dirimu,” tak terasa cairan berwarna bening keluar dari kedua matanya. Ia mengambil ponsel lalu menelpon Jae Jin, lalu Hyun Jae. Keduanya langsung panik dan ikut menyusul Nah Ra.

__

Seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung dicegat oleh Jae Jin.

“Bagaimana keadaannya?”

“Bisakah saya bicara dengan kedua orangtuanya?”

“Orangtuanya dalam perjalanan kesini, kami rekan kerjanya,” jelas Hyun Jae.

“Baiklah, kondisinya sangat kritis. Tubuhnya kehilangan banyak darah, rusuknya banyak yang patah, dan tengkoraknya retak. Jantungnya sangat lemah, sekarang ia sedang koma,” jelas dokter itu. Tangis Nah Ra langsung meledak.

“Bisakah anda menyembuhkannya?” Tanya Jae Jin.

“Kemungkinan untuk sembuh sangat kecil, sehingga, kita lihat saja nanti. Berdoalah terus,” dokter itu berbalik dan pergi.

“Ap… apakah kit… kita harus… me… menelpon… Su… Sulli?” Tanya Nah Ra disela tangisnya.

“Untuk apa?” Tanya Jae Jin. Tubuhnya lemas mendengar kenyataan itu.

“Ku… ku pikir… Dia harus tahu…”

Sulli’s POV

Ponselku tiba-tiba berdering. Son Hee eonni?*maksudnya Nah Ra nelpon Sulli pake ponselnya Son Hee* Ada apa ya? Langsung kuangkat telepon itu.

“Yoboseyo? Eonni?” kataku sambil melangkah keluar ruangan.

“Su… Sulli?” inikan suara Nah Ra eonni? Kenapa ia menangis? Ada apa?

“Ne, eonni, ada apa? Apa yang terjadi?” sungguh firasatku mulai memburuk sekarang.

“Son… Son Hee…” apa yang terjadi dengan Son Hee eonni? Kenapa firasatku mengatakan sesuatu hal yang buruk menimpanya?

“Son Hee eonni kenapa?” tanyaku harap-harap cemas.

“Di rumah sakit XXX…” Klik. Telepon tertutup. Mataku mendelik. Rumah sakit? Apakah…? Omo, semoga firasatku salah. Aku langsung mengetikkan pesan singkat untuk oppa lalu melangkah tergesa-gesa ke parkiran dan langsung measuk ke dalam mobilku. Aku menginjak gas dalam-dalam dan langsung melesat pergi.

__

Setelah bertanya pada resepsionis aku langsung melangkah ke ruang ICU. Aku terhenyak. Aku menemukan Nah Ra eonni menangis di pelukan seorang namja. Lalu seorang namja lainnya yang terdiam mematung di depat pintu kamar ICU. Aku langsung menghambur ke arah Nah Ra eonni untuk meminta penjelasan.

“Eonni, apa yang terjadi?” tanyaku dengan suara bergetar. Semoga saja… yang di dalam itu… semoga saja firasatku salah…

“Son… Son Hee…” isaknya. “Kau… yang… jelaskan…” katanya lagi pada namja yang terdiam mematung itu.

“Ta… tapi… kau… siapa?” tanyaku pada namja itu.

“Aku Oh Jae Jin, dan ini Kim Hyun Jae, kami bertiga rekan kerja Son Hee,” nadanya terdengar getir. “Son Hee mengalami kecelakaan, ia kehabisan darah dan rusuknya patah. Sementara tengkoraknya retak,” mendengar penjelasannya, aku terhenyak. Kakiku lemas seketika. “Sekarang ia sedang koma,” lanjutnya.

“Andwae!!!!” teriakku shock. Lalu air mataku mengalir deras dari kedua kelopak mataku. Sekuat tenaga aku menahan tangis, mencoba berkata. “Ba… bagaimana bisa?”

“Ia berusaha menolong seorang anak kecil,” kata Nah Ra eonni yang tangisannya sudah agak mereda. “Anak kecil itu terjatuh di tengah jalan, lalu ada truk melaju kencang ke arah anak kecil itu,” aku semakin terhenyak mendengar penjelasan Nah Ra eonni. Tiba-tiba ponselku berdering. Dari Minho oppa.

“Yoboseyo? Minho oppa?” suaraku bergetar dan serak.

“Sulli? Waeyo? Ada apa?” suara di seberang terdengar cemas.

“Op… oppa…” panggilku. “Son… Son Hee eonni…” sungguh aku tidak kuat mengatakannya.

“Ada apa denganya?” suaranya menjadi tajam. Aku harus bilang apa? Aku tak ingin oppa frustasi lagi karena merasa kehilangan Son Hee eonni. “Choi Sulli, tolong jawab pertanyaanku,” nada suaranya menjadi tinggi. Aku masih terisak.

“Ke… ke… kecelakaan…” jawabku. Hanya itu yang dapat kukatakan. “Di rumah sakit XXX…” tambahku. Aku tidak kuat harus menjelaskannya di telepon. Klik. Aku memutuskan panggilan.

Author’s POV

Sulli terus terisak sampai seorang namja tinggi datang dengan seorang yeoja. Mata Sulli sudah membengkak setelah kurang lebih setangah jam menangis. Melihat oppanya datang, Sulli langsung menghambur ke dalam pelukannya dan kembali menangis.

“Oppa….” Gumamnya di sela tangisnya.

“Apa yang terjadi?” Tanya Minho pada Nah Ra. Mata Minho sudah memerah serta suaranyapun bergetar.

“Dia koma,” Jae Jin menjawab singkat. “Kenapa kau datang? Mau melihat mantanmu?” suaranya terdengar sinis. Jae Jin melempar pandangan tidak suka pada Hara yang ada di sebelah Minho. “Ingin mengenalkan istrimu rupanya?”

“Ini bukan seperti yang kau pikirkan,” balas Minho.

“Sudah kubilang kan Minho, kau harus rujuk dengan Son Hee sebelum sidang,” sahut Hara. Jae Jin menoleh tak mengerti.

“Mereka sudah bercerai, Jae Jin-ah,” kata Nah Ra. Kedua mata Jae Jin membulat.

“Mwo?”

“Barusan, jam 9.” Sambung Hara. “Jadi, apa yang sudah terjadi pada Son Hee?”

“Sudah kubilangkan, dia koma,” Jae Jin ngotot.

“Iya, aku tahu, tapi bagaimana kondisinya? Kenapa dia bisa menjadi seperti ini?” Hara nggak kalah ngotot.

“Aku malas bicara denganmu,” dengus Jae Jin. “Nah Ra, jelaskan padanya,” Nah Ra pun mengangguk.

“Waktu itu kami sedang makan di warung kaki lima,” Nah Ra mulai bercerita. “Kami sedang ngobrol lalu Son Hee melihat seorang anak kecil terjatuh di tengah jalan. Ia langsung menolong anak itu, karena ada truk besar melaju kencang ke arahnya,” Minho lemas mendengar cerita Nah Ra. Ia tak bisa menopang tubuhnya lagi, jadi ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan tertunduk. Ia menangis.

Tiba-tiba seorang perawat keluar dari kamar ICU dan menghampiri Nah Ra. “Ada yang mau melihatnya?”

“Sa.. saya!! Dia baik-baik saja, kan?” jawab Nah Ra spontan. Perawat itu hanya memasang wajah muram.

“Entahlah, kesempatannya untuk bertahan sangat kecil. Sebenarnya dia termasuk cukup kuat, tapi entah apa yang akan terjadi,” jawab perawat itu.

“Minho, Sulli, Hara, kalian di sini dulu. Kami bertiga saja yang masuk dulu,” kata Jae Jin.

“Hei, kenapa dibeda-bedakan seperti ini?” Hara mencoba protes.

“Su… sudahlah eonni, aku juga belum mau bertemu dengannya, aku masih…” Sulli menarik napas berat lalu menghembuskannya. “Aku masih… belum siap…” Sulli memandangi oppa nya yang masih terlihat shock. Lalu ia menangis lagi.

__Di dalam ruang ICU__

Son Hee terbaring di atas ranjang dengan berbagai selang disambungkan padanya. Tabung infuse, masker oksigen, dan kepalanya dibalut perban belum lagi beberapa peralatan dan selang-selang aneh lainnya tersambung pada tubuhnya. Alat penunjuk detak jantung menunjukkan bahwa ia masih hidup.

“Son Hee-yah.. kenapa kau babo sekali sihh?” kata Nah Ra sambil menggenggam tangan Son Hee. “Kau tahu, kau hampir saja mendapat kebahagiaanmu dan sekarang kau malah terbaring disini,” airmatanya mengalir lagi. Son Hee tak bergeming. Matanya terpejam rapat disela-sela perbannya.

“Nah Ra-yah, tolong biarkan aku sendiri dengannya,” pinta Jae Jin.

“Wae?” tukas Nah Ra. “Aku masih mau di sini,”

“Jebal, biarkan aku berdua dengannya,” pinta Jae Jin lagi. “Sebentar saja,”

“Ne,” Nah Ra mendengus pelan lalu meninggalkan ruangan itu dengan Hyun Jae. Jae Jin menatap Son Hee, lalu menduduki kursi bekas Nah Ra duduki tadi. Tangannya terulur menggenggam tangan Son Hee.

“Son Hee-yah, kau tahu, selama ini aku berbohong,” ucapnya pelan. “Ya, aku berbohong pada diriku sendiri. Aku ingin mengatakannya langsung,” ia menarik napas sejenak dan menghembuskannya pelan. “Aku tak pernah menganggapmu sebagai chingu-ku,” lanjutnya pelan dan lirih. “Saranghaeyo,” Jae Jin terdiam sejenak. “Aku tidak berharap kau membalas perasaanku. Aku hanya ingin kau bahagia. Bila kau bahagia bersama Minho, aku mendukungmu.” Lanjutnya lagi. “Sudah ya, kupikir kau harus bertemu Minho, atau Sulli,” Jae Jin berdiri, beranjak dari kursinya dan keluar.

Tak lama, Sulli menerobos masuk ke dalam ruangan. “Eonniiii…” matanya sembab dan bengkak. “Eonni, jangan pergiii….” Tangisnya. Tiba-tiba Hara masuk dan memegang pundak Sulli. Sulli masih menggenggam tangan Son Hee.

“Sulli-yah, kau harus kuat. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, jadi tegarlah. Bila nanti Son Hee sembuh, kau harus berusaha membuatnya bahagia. Bila ia pergi…” kata-kata Hara terputus. “Kita harus tahu bahwa itulah yang terbaik untuknya,” tak terasa airmata mengalir dari kedua matanya. “Sudahlah. Sekarang oppamu harus berbicara dengannya, ingat, kita tidak tahu kemungkinannya,”

Flashback

Dokter yang memeriksa Son Hee datang dengan kedua orang tua Son Hee di belakangnya.

 

“Ahjumma…” Nah Ra langsung menghampiri eommanya Son Hee. “Dia baik-baik saja kan?”

 

“Tidak ada kemungkinan untuknya untuk terus hidup,” appa Son Hee menjawab pertanyaan Nah Ra. “Sekarang kita hanya menunggu,”

 

“Andwae!” seru Nah Ra perlahan, ia terduduk di depan kamar Son Hee dan airmata mulai membasahi pipinya lagi. Minho hanya terdiam, menahan perasaan yang sedang berkecamuk didadanya.

Flashback End

Sulli menegakkan tubuhnya ketika mendengar pintu ICU terbuka perlahan. Sempat ia mengira itu oppanya, namun ternyata itu orangtua Son Hee.

“Sulli-ssi, bolehkah kami berbicara sebentar dengannya?” Tanya eomma Son Hee.

__Di luar ruang ICU__

Minho terduduk di depan ruang ICU dengan tatapan kosong. Wajahnya pucat dan terlihat jelas kepedihan terpancar dari matanya. Sulli keluar dari ruang ICU disertai Hara yang ternyata sedang menangis.

“Oppa…” suara Sulli bergetar. Ia menghampiri oppanya smabil menarik nafas dalam, mencoba untuk tegar. Setelah duduk di sampingnya, ia mulai berbicara.

“Sebenarnya, dulu waktu oppa memutuskan Son Hee eonni aku merasa selama ini aku telah dibohongi. Oppa tau, aku sangat menyayangi Son Hee eonni dan aku sangat berharap ia dapat menjadi eonniku,” Mata Sulli menerawang jauh “Namun setelah oppa memutuskannya aku sangat marah, aku tahu bagaimana perasaan Son Hee eonni, dan aku dapat merasakan sakitnya lewat matanya,”

“Bagaimana aku bisa tahu? Karena aku menyayanginya seperti eonni kandungku sendiri, aku berharap kelak dia akan menjadi bagian dari keluarga kita,” Sulli mendesah. “Oppa tahu betapa kecewanya aku? Aku sangat sangat kecewa, hingga aku pernah menganggapmu bukan sebagai oppaku lagi,”

“Mianhae,” jawab Minho pelan. Dapat diketahui dari suaranya, terdengar pilu.

“Tapi aku begitu terkejut mendengar cerita Hara eonni, aku merasa ini seperti mimpi,” lanjutnya. “Harapanku agar oppa bisa bersama Son Hee eonni semakin kuat, apalagi diiring kenyataan-kenyataan yang selama ini kalian sembunyikan itu,” Sulli tersenyum tipis. Tiba-tiba ruang ICU terbuka. Kedua orangtua Son Hee keluar dari ruangan dan menghampiri Minho.

“Kami rasa, ia menunggumu,” kata eomma Son Hee. “Tolong temui dia,” Lalu mereka berdua gantian duduk. Mata eomma Son Hee sembab, sementara appanya hanya mengelus-elus punggungnya.

Minho hanya menatap pintu ruang ICU dengan ragu.lalu melirik Sulli, yang sedang menatapnya dengan berharap. Akhirnya ia mengangguk dan masuk ke dalam.

Kriekk… *maksudnya suara pintu*

Minho melangkah perlahan mendekati tubuh Son Hee yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Alat penunjuk detak jantung mneunjukan bahwa jantungnya masih berdegup lemah. Kaki Minho lemas seketika. Namun ia berusaha mendekati yeoja itu. Ia menarik sebuah kursi di samping tempat tidur dan mendudukinya. Matanya menatap Son Hee lurus-lurus,terus memandanginya.

“Aku tahu, aku berhutang banyak penjelasan padamu,” katanya mulai berbicara. “Aku tahu, aku jahat. Aku nappeun namja, yang tak pantas untukmu. Aku bukan mau mengumbar kata-kata romantis agar kau dapat memaafkanku. Mianhae,” tangannya menggenggam tangan Son Hee perlahan. “Mungkin Hara sudah menjelaskannya padamu, tentang bagaimana kami menikah dan segalanya. Aku hanya ingin mengatakan satu kata untukmu sebelum kau berangkat waktu itu. Mianhae,”

“Kau tahu, setelah aku berkata seperti itu sebelum keberangkatanmu, aku tidak pulang. Yang kutahu, Sulli bercerita ia menemukanku di sebuah bar dalam keadaan mabuk berat,” seulas senyum miris terukir di bibirnya. “Selama 4 tahun sebelum kau pulang, aku hanya diliputi perasaan bersalah padamu. Bersalah karena membuat hati seseorang yang kucintai terluka, Mianhae,” suaranya mulai bergetar.

“Kau tahu, aku tak bisa melepas bayangmu. Kau selalu hadir di dalam mimpiku sebagai sosok yang selalu terluka. Terluka amat dalam karenaku,” pandangannya beralih ke wajah Son Hee yang masih tak bergeming atau menunjukan suatu reaksi. Ia ingin yeoja yang dihadapannya mendengar seluruh kata-katanya. “Mianhae, aku masih mencintaimu. Mianhae, aku masih sangat mencintaimu. Mungkin perasaanmu padaku sudah berubah, aku tak bisa menyalahkannya. Aku ingin selalu melihatmu bahagia. Ketika aku melihat senyummu, aku merasa hidupku kembali. Mianhae,”

“Kau tahu, aku pernah cemburu padamu. Sepulang dari taman bermain waktu itu, aku mengikutimu. Aku cemburu pada Jae Jin, rekanmu. Aku cemburu karena kau akrab dengannya dan tersenyum karenanya. Mianhae,” Minho tersenyum getir. “Awalnya aku ingin memintamu kembali padaku, tapi kau selalu bersikap dingin padaku, jadi aku mengurungkan niat itu. Aku tahu, aku pantas untuk kau benci. Aku pantas untuk kehilanganmu karena itu. Tapi mianhae, aku masih mencintaimu. Jeongmal saranghae, mianhae,” sebutir cairan bening mengalir dari matanya. Lalu ia mendongak menatap yeoja yang merupakan belahan jiwanya itu.

Matanya membulat ketika melihat sebuah cairan bening mengalir turun dari kelopak mata Son Hee yang tertutup. “Son Hee, kau mendengarku kan?? Kau masih mendengarkanku??” spontan Minho menyentuh bahu Son Hee. “Dengar Son Hee, mianhae, mianhae, saranghae,” napas Minho tak beraturan. “Dengar, kau harus bahagia Son Hee, bagaimanapun caranya, jebal…”

Lau terengar bunyi monoton panjang. Kepala Minho berputar menatap layar mesin penunjuk detak jantung yang telah menunjukan garis lurus. Ia berpaling menatap Son Hee, lalu beralih lagi ke layar. Ia terhenyak.

Serombongan orang dengan pakaian putih menyerbu masuk, membuat Minho terdorong ke belakang. Seorang dokter mengeluarkan mesin pengejut jantung.

Satu… Dua… Tiga…

JEGRUKKKK!!!!!!!!!

Satu… Dua… Tiga…

JEGRUKKK!!!!!!!!!!!!

Namun hasilnya nihil. Segerombolan orang berbaju putih itu keluar dari ruangan tersebut, digantikan segerombolan orang dengan mata sembab.

“ANDWAEEEE!!!!! EONNIIIIIII!!!!!!!!!!!” Sulli berteriak histeris sambil memeluk tubuh Son Hee yang sudah pucat. Nah Ra menangis histeris dipelukan Hyun Jae. Jae Jin menyandarkan punggungnya ke dinding dan sedang berusaha untuk tidak menangis. Kedua orangtua Son Hee saling berpelukan, menangis. Hara ternganga, namun airmata tak henti-hentinya keluar dari kedua matanya. Tubuhnya lemas. Lalu ia mulai terisak.

Minho menatap Son Hee dengan kepedihan. Ia terjatuh berlutut, kedua kakinya tak lagi mampu menopang beban tubuhnya. Airmata tak henti-hentinya keluar dari kedua matanya, meski ia tidak terisak sama sekali.

“Gomawo, Minho, nado saranghae…” sebuah suara berbisik ke dalam hati Minho. Namun, kepalan kedua tangan Minho meninju lantai. Ia menangis.

Ia sudah pergi…

Belahan jiwanya sudah pergi…

__Di pemakaman__

Segerombolan orang berbaju hitam mengeliling sebuah pusara dengan tangis pilu. Terukir dengan indah di batu nisan yang terbuat dari marmer putih itu, nama seorang yeoja yang tengah berbahagia setelah mengalami semua kepedihan di bumi.

Lee Son Hee

Minho tetap berdiri mematung memandangi nama itu seraya orang-orang mulai saling meninggalkan pusara itu. Ia kelihatan jauh lebih tegar, karena percaya, yeoja itu akan selalu ada di dalam hatinya, dan akan selalu bahagia.

Nah Ra mendatangi Minho dengan sapu tangan yang hampir sepenuhnya basah oleh airmata. Sebuah buku bersampul cokelat muda ada di salah satu tangannya. “Aku menemukan buku ini di dalam tas Son Hee sebelum kecelakaan. Aku ingin kau membacanya,” katanya seraya menyerahkan buku itu pada Minho. Minho pun menerimanya, dan Nah Ra langsung berlalu.

Minho menatap buku yang ada di genggamannya, berpikir sejenak lalu membukanya. Ia membacanya sambil berlalu ke mobilnya, semakin ia membacanya semakin pandangannya menjadi buram oleh airmata.

Bukk…

“Hei, kalau jalan lihat-lihat dong,” seorang yeoja menegurnya ketika ia menubruk yeoja itu. Minho mendongak. “Oh, kau, Minho. Namja yang mencampakkan eonni, kan?” lalu yeoja itu berlalu dengan sorot mata kebencian. Minho hanya mematung. Namun ia meneruskan langkahnya.

Langkah kakinya, dan juga langkah hidupnya…

END

EPILOG

First page…

Aku sampai. Yeah, walaupun capek, aku harus mengucapkannya!!! Hufft… kenapa aku masih sesak ya?? Ah molla, mungkin itu akan hilang seiring waktu. Hmm.. kemungkinan siapa yah yang akan kutemui? Apakah aku akan langsung menemuinya?? Huahh.. entahlah. Yang penting aku harus tulus, ya, aku harus tulus!! Hwaiting!!!

Second page…

Dia sudah mempunyai anak. Choi Lina. Tapi aku belum pernah melihatnya, karena aku belum ketemu kedua orangtuanya. Di sini semakin sesak, rasanya ingin menangis. Tapi airmataku tak mau keluar. Eotokkhe? Aku merindukannya. Mianhae, tapi bogoshipoyoo….

Hanya mimpi untuk bersamanya lagi. Sudahlah, lupakan dia, Lee son Hee. Jangan buat jurang untukmu sendiri!!

Third page…

Aku melihatnya lagi… di taman bermain bersama keluarganya. Kenapa rasa sesak itu semakin menjadi-jadi?? Aigoo, berapa kali aku memikirkannya?? Yeah, mungkin, itu benar. Dan aku tidak bisa pungkiri itu. Mianhae, jongmal mianhae, Hara….

Aku masih mencintainya….

Forth page…

Baiklah. Aku menyerah. Aku menyerah sudah berusaha sekuat ini, namun samasekali nihil. Baiklah, kau menang, Choi Minho, kau menang. Sekarang kau membuatku semakin sakit. Aku ingin meneriakkan kata-kata ini, namun akal sehatku berkata, kalau aku meneriakkannya, aku sudah gila. Mana mungkin aku menyatakan perasaanku padanya, kan dia sudah berkeluarga?? Baiklah, aku tidak tahan lagi.

JONGMAL JONGMAL SARANGHAEYO CHOI MINHO!!!!

JONGMAL BOGOSHIPOYO!!!!

__END__

Akhirnyahhhh!!!!!! Selesai lah FF yang gaje ini!!!!! Mari kita tumpengan!!!! *plakk*. Aku tidak tahu apa yang kutulis, karena semuanya aku yakin acakadut, mianhae yang gak jelas dengan ceritanya… *sujudsujud depan reader*. Yang epilog itu, sebenernya isi dari buku yang dikasih Nah Ra ke Minho.. jadi udah pada nebak kan?? Buku itu diary nya Son Hee… Aku bikinnya sampe nangis-nangis, dan berharap ada reader yang nangis baca ini…*kaloada*

Okeh, aku yakin pasti banyak yang protes kenapa nih FF kubuat dengan akhir yang sad end. Udah gitu endingnya ngegantung lagi. Itu karena mau kubuat sequelnya!!!!   Janji deh nanti sequelnya bakalan happy end…

Untuk semuanya… yang sudah bersedia membaca dari awal sampe akhir nih FF…. Jongmal jongmal gomawoyooo…!!!!*bow* Yang sudah baca, tolong yah… RCL!!!!!!*bow*

NOT FOR SILENT READER!!!!

Gamsahamnida…. Annyeong.. sampai jumpa pada FF selanjutnyaaa…. ^_^

Reene Reene Pott

[FF] Go Away (Chapter 5. 2/2) – END

10 thoughts on “[FF] Go Away (Chapter 5. 2/2) – END

    1. hehehe…. terlalu sedihkah? *garukgaruk kepala*
      Huaaa…. ini aku kasih tissue…
      Sequelnya dipending dulu yah… soalnya author bingung mau mulai dari mana… dari si Minho pov ato si cewek pov…
      Tapi bakalan aku tulis… tenang aja…
      rencananya harus jadi bulan ini… doain ajayah….
      gomawoooo udah bacaaa!!!!!!
      *bow bow bow*

  1. Rin_Dan says:

    Oennie aku menyarankan dari Minho POV aja deh
    cewe POVnya ntar-ntar aja 😀 😀 😀

    HOHOHOHO*ketawaalasinterclause
    tebakanku benar :D*nari-narigajebarengTaemin

    Oennie next partnya Taeminnya dibuat dong jadi apa kek*PLEASE 😀 😀 :D#abaikan

    1. Hoaaa…. Minho POV??? bakalan ada kok… bakalan panjang kayaknya, tapi, awal2 cwe POV dulu yah.. *ditabok*
      Taemin… Hmmm…. kayaknya bakal nyelip-nyelip dikit sih, tapi ga tau di part berapa…
      gomawo udaaa bacaaa!!!! *bow*

  2. aaaa, alurnya cepet banget! tapi gapapa. berarti minho emang cuma berjodoh denganku. wahahaha -evil laugh- tapi itu cewek terakhir nyebelin banget. seenak.a marah2 ke suami gua. emg dia pikir dia siapa? benar2 pengen mati. wakaka

    1. Memang dicepetin sedikiiiiiitttt biar FF ini kelar. Kalo diturutin timingnya, bisa nyampe part 8 dan yang pasti aku harus semedi dulu… ==
      Cwe terakhir??? HAHAHA ITULAH YANG MENANDAKAN KALO FF INI ADA SEQUELNYAAA!!! YEEEEE!!! #apasehhh XDDD
      Gomawoo yak!! XDD

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.