[FF] She Belongs With Me Because of Her – Part 1

Title       : She Belongs With Me Because of Her

Author  : Reene Reene Pott

Main cast : Choi Minho, Han Min Gi

Supporter Cast : cari sendiri, sama kok kayak yang di Go away… Paling cuma nambah dikit…

Rating : Teenage

Genre : Romance

Length : Sequel

A/N : Hiyaaaaa!!!! Ini dia sequel dari Go Away!! Uyeeaaaahhh… Ada yang menunggu? Ayolah, pasti ada dong.. *reader: kaga tuh* Ini ku post karena aku lagi sempet. Dikarenakan kemungkinan Sabtu dan Minggu aku akan sedikit sibuk jadi kemungkinan untuk bisa post FF hanyala 50 %!!! Ya suda, dari pada dengerin curhatan ga jelas dari author mendingan langsung baca aja… happy reading… Mian kalo author masih mendominasi si yeoja POV disini….

Part 1

Min Gi POV

Aku menghempaskan tubuhku ke sofa apertemen. Ini bukan apertemenku, melainkan apertemen Son Hee eonni yang sudah pergi genap 1,5 bulan yang lalu. Ya, aku diminta oleh eommanya Son Hee eonni, jadi aku tinggal di sini saja. Bagaimana aku bisa tahu Son Hee eonni? Tentu saja karena dia adalah kakak sepupuku yang sangat dekat denganku. Tapi, mengapa marga kami berbeda? Yah, jadi ceritanya appanya Son Hee eonni memiliki yeodongsaeng yang merupakan eommaku. Eommaku menikah dengan appaku yang bernarga Han, jadilah aku bermarga Han…

Ya, aku masih mahasiswa tingkat akhir. Usiaku dan Son Hee eonni hanya terpaut 4 tahun, dan kami sering bersama yang menyebabkan kami begitu dekat. Meski aku begitu dekat dengannya beberapa waktu terakhir ini kami sangat jarang berkomunikasi, mengingat eonni masih harus berperang batin setelah pulang dari Seoul terhadap ex-namjachingunya. Memang mustahil untuk dipercaya, mengingat Son Hee eonni adalah orang yang teguh, berpendirian kuat dan sangat bertanggung jawab, namun hatinya sudah terluka terlalu dalam. Itu menjadikannya kaku seperti robot dalam beberapa kondisi.

Aku bisa merasakan lubang menganga besar di hatinya ketika namja tak berperikemanusiaan itu mengatakan kata-kata yang menyakitkan sebelum ia boarding pass. Sesampainya di Paris, kalian tahu, ia seperti mayat. Kulitnya pucat dan dingin. Matanya sembab. Pasti ia menangis habis-habisan di pesawat. Ulah siapa? Namja babo itu. Waktu ia datang ke Paris kebetulan aku juga sedang di sana, liburan kelulusan SMA. Beberapa hari setelah itu aku kembali ke Daegu. Aku tinggal di rumahku sampai eonni kembali dan beberapa minggu setelah itu kecelakaan tragis menimpanya.

Kalian tahu, aku tak akan pernah memaafkan namja yang bernama Choi Minho itu. Aku pernah menemuinya saat pemakaman. Saat itu aku membatin, Son Hee eonni, seleramu terlalu tinggi. Ya, kalian pasti tahu, Choi Minho itu namja yang tampan. Tubuhnya tinggi, matanya besar dan wajahnya sempurna. Aku juga heran bagaimana eonniku itu bisa jatuh cinta dengannya, apakah karena wajahnya?

Saat itu, kuingat ia memegang sebuah buku bersampul cokelat. Ia membaca buku itu sambil menangis. Cih, memangnya Minho bisa menangis? Aku baru tahu. Waktu itu tanpa sengaja aku menabraknya. Hah, aku lupa aku mengatakan apa padanya, pikiranku sedang kalut saat itu.

Aku mengerang pelan. Lalu masuk ke dalam kamar Son Hee eonni. Berantakan. Pasti waktu itu ia bangun kesiangan. Lihat, sprei masih kusut, selimut belum ditata, bantal ada di ujung kanan sedangkan guling di ujung kiri. Handuknya masih menggantung di kursi depan meja rias, lemari belum ditutup, dan komik Naruto bertebaran di mejanya. Novel Harry Potter and The Goblet of Fire tebuka di tengah di atas tumpukan komik itu, beberapa map masih ada di atas ranjangnya.

Aku membereskan map-map, komik-komik dan novel lalu menaruhnya di rak yang ada di samping lemari. Selimutnya kulipat, bantal dan guling kutaruh ditempat yang seharusnya, dan handuknya kugantung. Sudut mataku menangkap komputer yang ada di mejanya. Kondisinya mati. Ya, dia memang sangat jarang menyentuh komputer kecuali masalah pekerjaan. Aku memandang keseluruhan kamar itu, lalu menutup pintunya. Lebih baik malam ini aku tidur di kamar yang satunya saja.

Aku membuka kamar itu, ugh, berdebu. Terbukti kamar ini tidak pernah dibuka karena penghuninya hanya satu. Kamar ini memang lebih sempit, hanya ada sebuah single bed, lemari kecil dan sebuah meja. Aku menyibakan tirainya, dan membuka jendelanya. Sinar matahari sore menyeruak memasuki kamar itu. Aku melepas sprei, sarung bantal-guling,  serta selimutnya untuk di cuci.

Aku melangkah ke dapur, mencari sapu dan pel, lalu bergerak ke samping untuk memasukkan cucian ke dalam mesin cuci. Aku membersihkan kamar itu, lalu mencari sprei cadangan di lemari Son Hee eonni. Setelah mendapatkannya, kupasang di single bed itu. Ruangan kecil itu kini kesannya lebih bersih dan hidup. Aku menghirup napas sejenak sebelum kembali ke dapur untuk memasak makan malam bagi diriku sendiri.

Aku membuka kulkas. Meski tinggal sendiri, kulkasnya sangat penuh. Aku memilih membuat mi ramen yang praktis, kalau sendiri aku malas memasak yang susah-susah. Baru aku mau menyalakan kompor, seseorang memencet bel.

Ting tong…

Aku merenyit. Siapa yang datang ya? Apa eomma? Entahlah, yang penting kubuka dulu saja pintunya. Aku berlari kecil untuk meraih gagang pintu.

Cklek…

“Annyeonghaseyo…” sapa Nah Ra eonni. Tampak ada beberapa namja berdiri di sebelahnya. Aku kembali merenyit.

“Annyeong eonni, nugu?” tanyaku. Nah Ra eonni hanya tersenyum tipis.

“Mereka rekan kerja Son Hee,” jawabnya pelan. Kemana semangat hidup Nah Ra eonni? Kenapa ia tampak lesu seperti ini?

“Oh, ayo masuk,” kataku mempersilahkan mereka. “Eonni, apa kau masih bersedih? Eonni jangan sedih terus, kalo Son Hee eonni tahu dia pasti juga sedih di sana,” kataku spontan. Yah, aku memang cerewet. Nah Ra eonni hanya tersenyum.

“Aniya. Eonni hanya kecapekan beberapa hari ini,” katanya menenangkanku.

“Jagiya, jangan memaksakan diri,” kata seorang namja merangkul pundak Nah Ra eonni.

“Ini namjachingu eonni?” tanyaku. Nah Ra eonni hanya mengangguk. Namja tadi tampak terkejut.

“Hyun Jae imnida,” katanya buru-buru. “Ini Jae Jin,” katanya lagi sambil menunjuk namja yang lainnya. Aku mengangguk mengerti. Namun tiba-tiba seseorang kembali membunyikan bel. Aku segera melangkah membuka pintu.

Cklek…

Aku mematung. “Neo?” hanya itu yang dapat kuucapkan. Kenapa namja itu ada di sini? Masih beranikah dia? Apa tidak cukup baginya menyakiti Son Hee eonni?

“Annyeong,” sapanya. “Boleh aku ikut bergabung?” tanyanya, lalu tersenyum.

 Deg…

Andwae, Min Gi, jangan terjebak lagi. Kau sudah tahu apa yang telah dilakukannya pada Son Hee eonni, karena itu jangan terpikat olehnya. Aku mendongak membalas menatapnya.

“Kau masih berani datang kesini?” jawabku sinis.

“Nah Ra yang mengundangku,” jawabnya santai lalu melenggang masuk ke dalam apertemen. Namja ini, jangan mentang-mentang ia lebih tua atau dia yang paling… agh..

“Hei, sebenarnya siapa tuan rumah di sini? Jangan sembarangan masuk,” tegurku dingin. Minho hanya melirikku sekilas lalu duduk di sofa. Terpaksa aku pun menutup pintu dan kembali ke meja makan.

“Tak apalah, Min Gi-yah, kau tahu, ia sangat kesepian,” kata Nah Ra eonni.

“Bukankah ia memiliki adik?” tanyaku menyelidik. Nah Ra eonni hanya memutarkan kedua matanya.

“Ne, tapi adiknya sedang di pedekate,” jawab Nah Ra eonni sambil melirik namja yang bernama Jae Jin itu. Seketika wajah namja itu berubah menjadi merah semerah tomat. Aku mendesah keras.

“Ne, baiklah, kau, Choi Minho, kau boleh bergabung dengan kami,” kataku agak keras. Namja itu—ya ya, kutahu namanya Minho—langsung tersenyum sumringah dan bergabung di meja makan. Aku hanya menatapnya sebal. Bagaimana tidak? Dia duduk tepat disebelahku!

“Jadi, kita makan apa?” tanyanya polos. Aku memiringkan kepalaku. Aku jadi tidak yakin ada namja berumur 28 tahun yang bisa sepolos ini.

“Aku belum masak, pabo,” jawabku. Ia nampak terkejut.

“Jadi kita masak bersama nih?” lanjutnya.

“Ehm, Min Gi-ssi, tiba-tiba aku ada urusan, aku pulang duluan yah,” namja yang bernama Jae Jin itu beranjak keluar. “Gamsahamnida,” katanya sebelum menutup pintu. Aku hanya bengong.

“Jagi… katanya mau main?” tba-tiba Hyun Jae… sunbae—aku bingung harus memanggilnya apa—menarik-narik tangan Nah Ra eonni. Persis anak kecil.

“Nee… ayo kita pergi,” jawab Nah Ra eonni menyetujui. Loh… loh?? “Min Gi-yah, eonni pergi dulu, kalian yang rukun-rukun yah..” katanya lalu beranjak pergi dengan Hyun Jae sunbae. Jadi di sini hanya ada kami berdua sekarang. Aku dan Minho. Sungguh menyebalkan.

“Kau mau masak apa?” Tanya mahkluk menyebalkan ini—Minho, maksudku—sambil melihat-lihat isi kulkas. “Bagaimana dengan kimchi soup saja?” lanjutnya.

“Haaah, terserah kau sajalah,” jawabku.

Author POV

Minho tak bisa berhenti tersenyum melihat Min Gi mendumel beberapa kali ketika mereka memasak bersama. Ya, ada yang aneh menurut Minho. Ia selalu ingin di dekat yeoja itu, membuatnya sebal, yang juga membuatnya berdebar untuk kedua kalinya. Ya, kedua kalinya setelah Son Hee.

“Ya! Kau taruh dimana bubuk cabe itu? Aissh, jangan taruh kembali ke lemari! Aku masih membutuhkannya!” pekik Min Gi pada Minho dengan tangan berkacak pinggang. Matanya menatap sebal ke arah Minho. Minho hanya terkekeh.

“Tidak kukembalikan kok, nih,” jawabnya enteng sambil memberikan sebotol bubuk cabe ke tangan Min Gi. Ia terus menerus menatap punggung Min Gi yang sedang memasak. Senyum lebar terukir di bibirnya.

“Tada, sudah jadi,” seru Min Gi sambil meletakkkan panic kecil berisi sup kimchi ke atas meja, membuat Minho tersadar dari lamunannya. Ia mengambil sendok dan mencicipi sup itu.

“Hmm… massita,” gumamnya. Lalu menyendok lagi.

“Ya! Kau ini, cuci tangan dulu!” sergah Min Gi. Minho mendumel dalam hati, kenapa yeoja itu persis eommanya? Namun akhirnya ia beranjak ke wastafel juga dan mencuci tangannya. Min Gi melepas celemeknya dan menyiapkan nasi untuk mereka berdua.

“Min Gi-yah, kenapa nasiku sedikit sekali?” protes Minho setelah kembali dari wastafel. Min Gi meliriknya tajam.

“Ya! Ini sudah banyak tahu!” balasnya.

“Tapi kurang banyak untukku,” balas Minho lagi.

“Haahh, ya sudah, kalau kurang silahkan tambah sendiri!” dengus Min Gi dan mulai melahap makanannya.

Mereka makan dalam diam. Tak ada yang berani membuka pembicaraan, yang terdengar hanyalah denting garpu dan gelas. Setelah selesai makan, Minho membantu Min Gi mencuci piring. Awalnya Min Gi menolak, namun ia di paksa Minho jadi mau-tak mau mereka mencuci piring berdua. Min Gi berusaha sesantai mungkin, karena dengan jarak sedekat itu ia bisa mencium bau parfum Minho, dan beberapa kali tangannya dan tangan Minho bersentuhan. Ia tak bisa meredakan debaran jantungnya sendiri, ia jadi mulai berpikir, apakah ini yang dirasakan Son Hee? Apakah Son Hee yang menghendaki agar hal ini terjadi?

“Hei, cuciannya sudah selesai tuh,” suara berat Minho manyadarkan Min Gi dari lamunannya.

“Oh, yeah, eh, gomawo,” jawabnya kikuk.

“Haaah… aku bosan,” kata Minho. Ia berjalan menuju sofa dan menghidupkan televisi. “Hei! Filmnya bagus nih! Ayo sini!” seru Minho, menepuk-nepukkan sofa di sebelahnya, menyuruh Min Gi duduk di situ. Kebetulan Min Gi juga suka film itu, jadi tanpa ragu ia duduk di samping Minho. Seekor naga berwarna biru safir muncul di layar.

“Eragon? Hoaaa… aku suka film ini!” gumam Min Gi. Matanya terus memperhatikan film yang ditontonnya.

“Hah? Naganya Shade kok aneh gitu? Ih, jelek banget,” celetuk Min Gi. Tiba-tiba ia merasakan pundaknya memberat dan desah nafas pelan dengan hangat menerpa lehernya. Ia menoleh seketika, dan kedua matanya langsung membulat mendapati Minho tertidur di pundaknya. Ia celingukan, bingung harus melakukan apa, namun ia tak mau terus menerus dalam kondisi seperti itu, jantungnya berdebar keras membuat ia tak bisa tenang. Ia memandangi wajah close up Minho yang sedang tidur. Sontak wajahnya memerah.

“Aigoo, kenapa aku ini?’ gumamnya. Akhirnya ia memindahkan kepala Minho dari pundaknya dan menidurkannya di sofa. Ia ingin membangunkannya, namun, ia tak tega melihat wajah Minho yang sepertinya kecapekan *author: gitu doang capek?*. Ia beranjak ke kamar Son Hee, mengambil selimut dan menyelimuti Minho yang tengah tertidur. Lalu ia melirik jam “Woah, sudah jam segini rupanya,”

Akhirnya Min Gi pun mematikan televisi dan masuk ke kamarnya.

TBC

Oke, aku ingin bertanya, apakah ini kependekan? Mian author Cuma bisa nulis sampe segini dulu, mian juga kalo masih banya typonya, alurnya yang gaje pisan, acakadut, ampuun dah terkadang aku suka meringis sendiri baca FF gaje ini…

Sebenernya mau kubuat si Minho ngigo si Son Hee gitu trus si Min Gi ditarik ke pelukannya jadi mereka berdua tidur sambil pelukan gituhh… tapi ga usah deh…

Next part author janji bakalan Minho POV!!!!!!!!!!!! *orang udah dibikin kok…*

Oh ya, FF ini sepertinya akan dinaikkan ratingnya, karena kadang-kadang aku suka panas sendiri kalo ada pasangan malu-malu kucing gitu… *dasar yadong* Ya sudah deh, siap-siap aja yah dapet kejutan listrik (?) nya… kke~~

Jadi, gimana, gimana, ada yang mau nunggu kelanjutannya? Ayoo dooong… yang udah baca, Gomawoooo sangat dah, dan kalo udah baca KOMEN euy!!!! *bow*

[FF] She Belongs With Me Because of Her – Part 1

4 thoughts on “[FF] She Belongs With Me Because of Her – Part 1

  1. Onni baca.. gakependekan tapi dialognya kurang. banyakin. *maksa* ahaha..*kata memed : onni ga liat udah byk geto?*

    Jadi jadi.. ini mingi siapa? sohee siapa? aku tau sohee da di go away 1 udah baca di shawolindo tea. tapi mingi.. nugu2. jgn bilang couple minho selanjutnya. ah tidak…

    akibat belum baca go away tamat >>rusuh sendiri.
    yaudah kayanya mesti kudu baca ulang lagi ini mah. cicil cicil dari sekarang baca go away. ntar onni komen pastinya.kk~

    1. Hahaha… kedikitan yah eon??? abis… ini sebenrnya intro tapi kupaksain jadi part 1… *pletakk*
      Memang~~~ abis aku kesian ama Minho kaga ada couple di Go Away… dtinggal aku… *pletakkk dzzzieng*
      Yah, mungkin karena sangking sayangnya sama minho makanya di jodohin sama Min Gi… sepertinya begitu.
      Ahh… Go Away… nangis sendiri bikin itu. Nyelekit….
      oke okeeeeeee…. ditunggu komennya~~~ XDDDD

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.