[FF] My Secret Admirer

Title       : My Secret Admirer

Author  : Reenesmee Potter

Main cast :  Han Sonya,  Kim Ryeowook, Lee Sung Kyu (Sunny), Park Junsu (Oke, supaya gak ada kesamaan marga, marganya Junsu kuganti).

Supporter Cast :

Genre : Romance, School Life, Friendships

Length : Oneshoot (2.405 kata, 9 halaman)

A/N : FF Ini pernah ku post di FB ku.. XDDD

Ini gantinya hari MINGGU karena author kemaren ga bisa post… Mianhae.. *bow*

PS : Semuanya adalah Author POV

“Sung Kyu-yah!!” seru Sonya di koridor sekolah. Ia pun menghambur ke tempat chingunya itu berdiri. Sung Kyu hanya menatap Sonya bingung.

“Wae?” tanyanya. Sonya malah menyodorkan sesuatu. Sebuah kotak warna baby pink dengan pita perak. Lalu dia mengeluarkan sebuah kotak lagi, kali ini berwarna sky blue dengan pita emas. Sung Kyu tetap bingung.

“Secret admirer itu,” jawab Sonya. “Dia terus menerus mengirimiku ini. Kadang-kadang surat, bunga, coklat, lollipop, haduh…” Sonya memegang kepalanya.

“Harusnya kau itu senang, kau tahu, secret admirer itu idaman semua perempuan..” kata Sung Kyu.

“Ya, ya. Nih, untukmu,” kata Sonya sambil menyodorkan kotak berwarna baby pink itu pada Sung Kyu. Sung Kyu mendelik.

“Wae? Kok malah diberikan padaku?” Tanya Sung Kyu bingung.

“Ne, si Secret admirer itu juga menitipkan sebuah kotak untukmu, aku sudah baca suratnya, katanya ada secret admirer lainnya yang menyukaimu,” jelas Sonya malas. Seketika itu Sung Kyu mendelik dan memekik.

“Mwoya? Mwoya? Aaaa~” seru Sung Kyu kegirangan. “Sonya-yah, kira-kira siapa yah? Aigoo… aku sangat menantikan hari ini!” kata Sung Kyu dengan wajah berseri-seri. Tiba-tiba langkah Sung Kyu terhenti di jendela kelas. Ia menatap lapangan basket. “Park Junsu…” gumamnya.

“Mwo? Aku tak salah dengar? Kau tadi barusan bilang apa? Park Junsu? Aigoo, Sung Kyu, kemana otakmu itu? Bukankah kau dan Park Junsu itu musuh bebuyutan? Kenapa kau malah mengaharapkannya sebagai ‘Secret Admirer’-mu itu?” kata Sonya bertubi-tubi. Sung Kyu langsung terlonjak.

“Andwae! Mana mungkin aku menyukainya? Ha? Jangan harap,” dengus Sung Kyu. Sonya akhirnya ikut menatap ke arah lapangan basket. Matanya tertancap pada sesosok namja imut idola satu sekolah. Kim Ryeowook.

Ya, Sonya sudah menyukainya sejak pertemuan pertama mereka di koridor kelas XI. Saat itu ia tidak sengaja menabrak Ryeowook karena sedang membawa banyak buku. Reyowook memang dingin padanya, namun tak bisa dipungkirinya ia sudah memiliki perasaan untuknya.ia tahu itu sia-sia, karena itu ia hanya bisa menyimpannya diam-diam. Ikut bergabung di fansclubnya? Hoho, cih maaf saja, itu bukan Sonya banget.

“Ya! Han Sonya! Jangan memandangnya terus! Lama-lama kau terhipnotis olehnya!” seru Sung Kyu, menyadarkan Sonya dari lamunannya. Memang, hanya Sung Kyu yang mengetahui perasaannya pada Ryeowook, dan Sung Kyu paham akan perasaan sahabatnya itu jadi ia tak pernah membocorkannya pada siapapun. Sonyapun menoleh ke arah Sung Kyu.

“Aku hanya ingin memandanginya, tidak lebih,” jawab Sonya. Sung Kyu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Haiissh, kau tak pernah berfikir siapa yang menjadi secret admirer mu itu? Kau tak pernah berpikir itu… Dia?” sergah Sung Kyu sambil menunjuk ke arah lapangan basket dengan dagunya. Sonya terlonjak.

“Mimpipun tak akan pernah. Itu mustahil, Sung Kyu-yah,” jawab Sonya.

“Siapa tahu,” Sung Kyu mengangkat kedua bahunya. Bel masukpun berdering. Kedua yeoja itu kembali menenpati tempat duduknya masing-masing.

__

Bel pulang sekolahpun berdering. Sonya memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan santai. Sung Kyu sudah menunggunya di luar kelas. Sonya melangkah gontai keluar dan berjalan berdua bersama Sung Kyu ke gerbang sekolah.

Tiba-tiba sesuatu tertangkap ekor mata Sonya. Ia melhat Ryeowook berjalan berdua dengan ketua klub seni yang merupakan yeoja paling cantik di sekolah, Kwon Yuri. Mereka berjalan berdua sambil tertawa riang. Sonya terperangah. Ryeowook yang biasanya selalu menunjukkan ekspresi dingin ke semua orang kini menunjukkan ekspresi malu-malu, bahkan wajahnya memerah?

“See? Sung Kyu-yah, sudah kubilang mustahil kalau dia itu secret admirerku,” kata Sonya pada Sung Kyu sambil menatap ke arah Ryeowook dan Yuri. Sung Kyu pun menoleh dan mendapati pasangan itu. Ia mendelik, lalu secepat kilat menoleh ke arah Sonya. Matanya memerah.

“Sudah, aku mau pulang,” kata Sonya pendek lalu berlari menuju gerbang sekolah. Sung Kyu terdiam di tempat. Masih berusaha mencerna apa yang baru saja ia lihat.

“Ya! Han Sonya! Tunggu aku!” seru Sung Kyu lalu ikut berlari menyusul Sonya. Tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata hitam menatap kedua yeoja itu tepat setelah mereka berdua berlari.

__

Sonya terus berlari hingga sampai ke rumahnya. Sung Kyu mengikutinya dari belakang. Sonya membuka pagar dengan kasar lalu menghambur masuk rumah. Sung Kyu merutuk pelan.

“Ya, mentang-mentang ikut klub atletik, larinya jadi cepat sekali,” dengus Sung Kyu lalu menutup pagar dengan hati-hati, dan bergegas masuk ke dalam rumah Sonya. Ia terperangah mendapati Sonya tengah menangis di karpet. Ini pertama kalinya ia melihat Soanya menangis sampai seperti ini.

“Sonya-yah,” panggil Sung Kyu. Sonya tidak menjawab, ia masih terus terisak. Perlahan tangan Sung Kyu terulur, ia pun mendekap Sonya. “Sudahlah, mungkin ia bukan jodohmu. Ingat, yang namanya jodoh enggak kemana,” ya, walaupun kata-katanya terkesan bodoh, Sung Kyu terus menghibur Sonya.

“Ne, gomawo Sung Kyu-yah. Kau memang chinguku yang paling baik,” kata Sonya sambil tersenyum.

__

Keesokan harinya, tepat sebelum masuk kelas Sonya berpapasan dengan Ryeowook. Sonya hanya terdiam, ia hanya menganggap Ryeowook hanyalah angin lalu. Ia bergegas masuk kelas dan tersenyum mendapati Sung Kyu sudah ada di sana.

“Sung Kyu-yah!” sapanya. Sung Kyu hanya terdiam lalu menatap Sonya. “Waeyo?” Tanya Sonya heran. Sung Kyu tetap terdiam, ia memegang sebuah surat dengan kertas warna yang sama seperti kotak yang diberikan padanya kemarin; baby pink.

“Secret admirerku…” kata Sung Kyu. “Ia ingin menemuiku waktu istirahat kedua nanti, di lapangan basket,” jawabnya lemah. Sonya mendelik.

“Apakah ditulis siapa penulisnya?” Tanya Sonya. Sung Kyu hanya menggeleng.

“Bagaimana ini Sonya? Aku gugup sekali…” kata Sung Kyu. Sonya tersenyum.

“Rileks..” katanya. “Baiklah, apakah kau sudah mengerjakan PR kimia?” Tanya Sonya. Kedua mata Sung Kyu membulat.

“Omo! Aku lupa! Sonya-yah, pinjam!!” seru Sung Kyu. Sonya terkekeh lalu menyerahkan buku PRnya pada Sung Kyu yang pada detik itu juga menyalinnya dengan kecepatan ekspress.

“Palli! Kimia pelajaran pertama!” seru Sonya. Ia mengecek jam tangannya yang berbentuk strawberry. “Palli! 15 menit lagi!” serunya lagi. Sung Kyu menambah kecepatannya. Akhirnya dalam waktu kurang dari 10 menit, PR kimia itu sudah selesai di salinnya.

“Hoshh… hossh… pegel…” keluh Sung Kyu.

“Makanya, ada PR dikerjain,” kata Sonya. Kemudian ia terkekeh dan meronggoh sakunya. Ia menemukan 2 batang lollipop. “Mau?” tawarnya. Sung Kyu menggeleng.

“Bentar lagi masuk, nanti Jang sonsaengnim ngamuk di kelas,” balas Sung Kyu. “Nanti saja waktu istirahat,”lanjutnya.

__

Bel istirahatpun berbunyi. Sonya yang hendak mengambil buku catatannya di loker bergegas keluar kelas.

“Ya! Han Sonya! Tadi bagi lollipopnya!” seru Sung Kyu lalu mengikuti Sonya menuju loker. Setelah langkah mereka sejajar, Sonya member Sung Kyu sebatang lollipop. Ketika membuka lokernya, ia kembali terperangah. Ditemukannya setangkai mawar merah dan sepucuk surat di atas buku catatannya. Sung Kyu yang tidak sengaja melihat itupun mendelik.

“Omo!” pekiknya tertahan. “Kau, mau membaca suratnya?” Tanya Sung Kyu. Sonyapun mengangguk.

“Tinggalkan saja mawarnya, nanti dibawa pulang,” kata Sonya. Sung Kyu mengangguk. Sonya menyelipkan surat itu kedalam buku catatannya, menutup loker lalu berjalan kembali ke kelasnya. Lagi-lagi ia berpapasan dengan Ryeowook. Namun Sonya hanya berpura-pura tidak melihatnya. Sesampainya di kelas, Sung Kyu yang paling heboh tentang isi surat itu.

“Apa dia mau ngajak jalan? Ato bikin puisi yah?? Ah Sonya-yah, bagaimana menurutmu?” tyanya Sung Kyu.

“Molla. Mari kita lihat,” jawab Sonya. Ia melepas perekat di amplop itu, menarik isinya keluar. Ketika ia menarik kertas surat itu keluar, sebuah kalung dengan liontin berkilauan jatuh bersamaan dengan kertas yang ia tarik.

“Omo!” pekik Sung Kyu lagi. Liontin itu sangat indah, berbentuk huruf RS dan disetiap lekuknya dihiasi batu-batuan serupa berlian. Kening Sonya berkerut.

“RS? Orang ini berpikir aku mau masuk rumah sakit?” gumam Sonya. Namun seketika kepalanya dijitak oleh Sung Kyu.

“Ya! Kau babo. Itu inisial nama,” jawab Sung Kyu. “Sudah, cepat baca surat itu, mungkin ada petunjuk tentang kalung ini,” lanjutnya. Segera Sonya membuka lipatan surat itu. Ia mendelik membaca surat itu. Demikian juga Sung Kyu.

Mungkin kau merasa aneh,penasaran terhadap siapa aku ini.

Kau tahu, aku sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu.

Aku selalu memperhatikanmu dari jauh, melihatmu tersenyum, tertawa, bercanda dengan chingdeulmu.

Aku hanya berpikir, pernahkah kau memperhatikanku?

Aku bukan tipe namja romantic bak Romeo,

Aku juga bukan tipe namja aktif yang langsung menyatakan perasaanku padamu.

Saat kita berpapasan tadi, kenapa sikapmu menjadi dingin seperti itu?

Apa yang telah kuperbuat padamu?

Kumohon, maafkanlah aku.

Aku ingin kau tetap tersenyum seperti selama ini jika bertemu denganku.

Kau tahu, semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu.

Bisakah kau berkata apa salahku padamu?

Aku tahu, kita tak pernah bicara secara langsung.

Namun, bisakah kau memakai kalung yang kusertakan denga surat ini ketika kau sudah memaafkanku?

Dan, aku ingin berkata padamu,

Aku ingin mengatakan ini sejak dulu.

Saranghae…

 

Bisakah kau memakai kalung itu kalau kau mau menjadi yeoja chinguku?

 

Sirence,

Your Secret Admirer

 

PS: Temui aku di halaman parkir sepulang sekolah

 

Sonya terperangah setelah membaca isi surat itu. Surat itu ditulis tangan, tapi masalahnya ia tak mengenal tulisan yang begitu rapi untuk ukuran seorang namja.

“Bukan namja romatis? Ini hal paling romantic yang pernah aku lihat!” pekik Sung Kyu. “Omo, Sonya, kau beruntung sekali!” katanya sambil mengguncang-guncang bahu Sonya. Sonya hanya terdiam. Ia masih mencerna isi surat itu. Tepatnya pada bagian meminta maaf itu. Perlahan tangannya mengambil kalung yang tergeletak itu. Diperhatikannya kalung itu secara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (?) *reader: ini serius, thor, gosa ngelawak! Dasar…author condition… mooredoo author sangtaeee~~* *author: emangnya aku sangtae? Jiahh… gara-gara onew nih..*

“RS? Inisial nama katamu?” Tanya Sonya pada Sung Kyu. Sung Kyu hanya mengangguk. “S… Sonya… R…”

“Ryeowook?” kata Sung Kyu spontan. Sonya mendelik, namun bel masuk sudah berdering.

Sonya terus merenung, pelajaran Jang sonsaengnim samasekali tidak masuk di otaknya. Ia trus menggenggam kalung itu di bawah meja, berpikir keras untuk memakainya atau tidak. Tiba-tiba…

BRUK!

“Park Junsu! Lee Sung Kyu! Bisa diam tidak?!” Jang sonsaengnim menggebrak meja sambil menatap tajam ke dua haksaeng yang duduk bersebelahan itu. Sonya tersentak lalu menatap Sung Kyu dan Junsu. Kedua orang itu kini saling membuang muka.

Tapi, Sonya dapat melihat setelah Sung Kyu membuang mukanya, Junsu malah kembali menatapnya. Dan… tatapan apa itu?

Bel istirahat kembali berbunyi, Junsu langsung pergi keluar kelas. Semua haksaeng memandangnya heran, termasuk Sung Kyu.

“Sung Kyu-yah, bukannya secret admirermu akan menemuimu pada istirahat kedua? Kkaja,” kata Sonya sambil menarik tangan Sung Kyu, pergi ke lapangan basket. Mereka berdua berjalan ke arah lapangan basket. Di tengah-tengah lapangan, terlihat seorang namja memegang setangkat mawar merah. Sonya mendorong punggung Sung Kyu, menyuruhnya berjalan menghampiri secret admirernya.

Sung Kyu bingung, namja itu lebih tinggi darinya, namun ia ingin mengetahui siapa namja itu.

“A… annyeong,” sapanya. Namja itu berbalik, dan Sung Kyu langsung mendelik. Ia shock. Termasuk Sonya. Namja itu adalah Park Junsu. “MWO?” pekik Sung Kyu. Junsu hanya tersenyum. Dan senyum itu mampu melumpuhkan segenap sendi-sendinya.

Tiba-tiba Junsu berlutut. “Would you be mine?” tanyanya sambil memegang setangkai mawar merah. Wajah Sung Kyu semerah kepiting rebus sekarang.

“Ya! Junsu-yah kau mau mempermainkanku ya?” Tanya Sung Kyu dengan suara tertahan. Junsu hanya tersenyum.

“Tentu saja tidak. Akulah secret admirermu,” katanya lembut. “Kau tahu, aku bersikap usil padamu karena ingin menarik perhatianmu,” lanjutnya. Sung Kyu terperangah.

“Jadi, maukah kau jadi yeojachunguku?” tanyanya sambil menggenggam tangan Sung Kyu. Jantung Sung Kyu berdebar bak gendering perang.

“Terima! Terima! Terima!” seru anak-anak satu sekolah. Termasuk Sonya. Sung Kyu hanya terdiam. Junsu jadi salah tingkah.

“Ayolah, Sung Kyu, jawab aku,” kata Junsu memelas. Sung Kyu hanya menunduk, wajahnya sudah meraaaaaaah sekali. Namun toh dia mengangguk pelan.

“YYYEEEAAAHHH!!!” seru Junsu sambil menarik Sung Kyu ke dalam dekapannya. Sonya tersenyum, anak-anak berseru senang, segerombolan yeoja berlalu pergi karena patah hati, dan segerombolan namja menatap hampa ke arah pasangan yang baru jadian itu.

Sonya beranjak ke kantin, kali ini dia makan sendiri, karena chingunya sedang makan berdua dengan namjachingu barunya. Tangan kirinya masih menggenggam kalung dari si secret admirernya, berpikir apakah ia harus memakainya atau tidak. Namun karena ia berpikir ia suka memaafkan orang lain, jadi ia memasang kalung itu di lehernya. “Ingat ya secret admirer, aku hanya memaafkanmu, bukan mau jadi yeojachingumu,” gumam Sonya pelan. Lalu ia meneruskan makannya.

Ryeowook sengaja berjalan melewati meja Sonya ketika mengambil makanan. Ia sempat mendengar apa yang telah dikatakan Sonya pada kalung itu, senyum tipis terukir di bibirnya.

Bel masuk berdering, kantinpun mulai sepi. Seluruh murid kembali masuk ke kelasnya masing-masing, melanjutkan 2 jam pelajaran terakhir untuk hari ini.

Sonya melirik ke arah Sung Kyu dan Junsu. Hah, katanya ia tak mungkin menyukai Junsu, kenapa sekarang malah menjadi yeojachingunya? Batinnya. Tapi dibiarkannya chingunya itu, ia kembali melanjutkan mengerjakan tugas yang diberikan Cho sonsaengnim.

__

Bel pulang sekolah bordering, Sonya mengemasi buku-bukunya ketika Cho sonsaengnim pergi meninggalkan kelas. Entah kenapa ia merasa malas hari ini. Ia meraba-raba laci mejanya, memastikan tidak ada yang tertinggal. Tiba-tiba ujung jarinya menyentuh sebuah kertas, segera diambilnya kertas itu. Oh, surat dari si secret admirer. Ia baru ingat, si secret admirernya ingin menemuinya sepulang sekolah di parkiran. Sonya memiringkan kepalanya sejenak, mengambil tasnya, lalu melangkah menuju parkiran.

Seorang namja tengah menunggunya di depan sebuah mobil spot warna hitam. Sonya menaikkan alisnya sedikit, ragu apakah namja itu yang mengiriminya surat. Yang diherankannya sekarang, kenapa tak ada satupun anak yang ada di sini? Merasa telah dibohongi oleh si pengirim surat, ia akhirnya melangkah berbalik. Namun tiba-tiba seseorang menahan tangannya.

“Kajjima,” katanya pelan. Kening Sonya berkerut. Lalu ia membalikkan tubuhnya. Ia mendelik melihat Ryeowook ada di situ.

“Eumm…” Sonya hanya bisa bergumam pelan. Ia tak bisa memandang mata Ryeowook sekarang. Ia menatap ujung sepatunya, bingung harus melakukan apa.

“Jadi, kau sudah memaafkanku?” katanya. Sonya menoleh bingung.

“Maaf untuk apa?” kata Sonya bingung.

Kau menhindariku kahir-akhir ini. Dan kurasa… aku harus meminta maaf padamu,” katanya lagi. Sonya berpikir sejenak. Bagaimana dia tahu kalau akhir-akhir ini Sonya memang menghindarinya? “Aku si secret admirermu…” kata Ryeowook lagi. Kali ini Sonya mendelik. Wajahnya mulai memanas.

“Tapi… kau dan Yuri sunbae…” Sonya menghentikan perkataannya. Ia bingung harus memanggil Ryeowook apa. Sunbae?

Ryeowook tersenyum. “Kau cemburu?” tanyanya. Sonya mendelik.

“A.. aniyo…” katanya gugup.

“Kau menyukaiku?” tanyanya lagi. Sonya membuka mulutnya, namun tak ada kata-kata yang keluar. “Benarkah? Kau menyukaiku?” Tanya Ryeowook lagi. Kini Sonya megap-megap. Dia bingung harus jawab apa. Sementara itu Ryeowook menyeringai semakin lebar. Tiba-tiba ia memeluk Sonya.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Aku kan belum bilang suka!” protes Sonya.

“Tapi wajahmu sudah mengatakannya,” katanya sambil mencubit hidung Sonya. Sonya terdiam. Ryeowook kembali mendekap Sonya. “Saranghae…”

“Nado…” jawab Sonya. Namun secepat kilat ia melepaskan pelukan itu dan berlari pergi.

“Ya! Hei! Jangan lari kau!” dengan sigap Ryeowook sudah menahan tangan Sonya. Wajahnya sudah memerah. Ryeowook terkekeh.

“Ayo pulang, ku antar,” kata Ryeowook.

“Siapa yang mau di antar olehmu?” Tanya Sonya.

“Ck, kkaja!” Kali ini Ryeowook menariknya dan mengantarnya pulang.

END

[FF] My Secret Admirer

4 thoughts on “[FF] My Secret Admirer

  1. Shin Rayeo says:

    KYAAA!! asiknya jadi Sonya.. *cemberut*
    tapi, tapi liontinnya.. KYAAA!! bagus banget T.T ngiri pisan…

    Sung Kyu – Junsu, dari musuh jadi kekasih, hate => love ya?
    Sonya-ya, cemburu buta itu nggak baik untuk kesehatan(?) lho.

    mianhae kalo reader yang satu ini tiba-tiba jadi berisik ._.v
    jeongmal mianhaeyo kalo comment ini terlihat seperti junk di matamu. m(_ _)m

    anyway, ceritanya bagus kok. fluff.
    Like it! :Dd

    *double check comment* eh, panjang juga. tumben.

  2. Dinna SoneElfShawol says:

    Wah, jadi pengen… mksdnya aku pengen ada si Secret Admirer di kehidupanku, ternyata nggak ada… XD
    Tapi tetep deh ceritanya Daebak !!! Salut deh ama Authornya…
    d^_^b

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.