Choose One

Choose One : I or Basketball?

Author : charismagirl

Rating : PG-15

Length : Oneshoot

Cast :

  • Choi Minho
  • Park Minri (OC)
  • Choi Siwon
  • Kim Kibum (Key)

A.N : Annyeonghaseyo!! Author balik lagi membawa sebuah sekali tembak /plakk, bawa oneshoot maksudnya ._. Dan ini pemainnya ada di FF I’m Yours, Nappeun Namja chapter 1 | chapter 2. Nah, ini ceritanya udah kuliah gitu. Dan saya menampilkan Key, yuhuu!! Btw, Love Like Lollipop lagi buntu ide, jadi yang nunggu diharapkan bersabar karna kemungkinan agak lama, bulan ini bener-bener sibuk! *sigh*, gomawoyo~ (maaf sebelumnya karena postingannya yang kemaren cuma gambar *salahkan koneksi internet!/plakk)

∆∆∆∆∆

Seorang gadis tengah duduk di tribun penonton. Kedua tangannya menopang dagunya sendiri. Riuh penonton bersorak begitu tim basket putra unggulan Konkuk University berjalan di lapangan. Menyapa penonton dengan tersenyum dan mengangkat salah satu tangan mereka. Tidak sedikit yeoja-yeoja yang memekik kegirangan saat namja yang memakai kostum basket itu tidak sengaja melakukan kontak mata dengan mereka.

“Ck! Lagi-lagi tebar pesona.” Gumam yeoja yang dari tadi hanya duduk, menatap namja-nya yang sekarang sudah mempunyai lebih banyak fans, bahkan banyaknya melebihi fans yeoja saat di sekolah.

“Onew oppa!” pekik yeoja disampingnya yang tidak henti menatap namja dengan eye-smile yang mengagumkan. Minri melirik yeoja itu dengan ekor matanya. dia bahkan bertepuk tangan sambil berdiri saking bersemangatnya.

Beda lagi dengan yeoja cantik dan anggun di samping kirinya, Hyora. Gadis yang memakai rok selutut warna hitam dan di kepalanya terpasang bando dengan warna senada itu hanya mengulum senyumnya, matanya tidak beralih pada namja berambut coklat yang dulunya imut–sekarang terlihat begitu manly, Lee Taemin.

“Minho oppa sedang menatapmu,” Ahra menyenggol lengan Minri dan hanya ditanggapi dengan gumaman kecil, jelas tidak mungkin terdengar oleh siapapun bahkan telinganya sendiri. lapangan basket indoor itu sudah terlalu berisik terlebih di dominasi penonton yeoja, karena mereka ingin menyaksikan permainan mengagumkan dari tim basket putra unggulan Konkuk University, atau mungkin juga mereka ingin melihat sang kapten yang sangat tampan, Choi Minho.

Minri tahu dia sedang ditatap oleh namja itu. Tidak terlepas senyum dari bibir Minho. Senang sekali melihat yeojachingu-nya duduk disana. Dan itu bisa memberikan semangat tersendiri untuknya memenangi pertandingan semifinal ini.

Priitt!!

Pluit tanda pertandingan dimulai pun berbunyi. Dan mereka mulai mengejar bola kulit berwarna orange itu. Sudah bisa diduga kalau permainan mereka mengagumkan. Dribble bola terkontrol dengan sangat bagus, Taemin dapat menembus pertahanan lawan dan memasukkan bola ke dalam ring. Dua point untuk Tim Konkuk.

Lima belas menit berjalan, Tim Konkuk mendominasi permainan. Minho baru saja mendapat bola operan dari Jonghyun. Minho membawanya sampai ke depan ring dan… slam dunk! Teknik yang mudah dilakukan oleh namja tinggi seperti dia. Seperti biasa, dia mencium jari telunjuknya dan mengarahkan ke udara lalu menepuk dada kirinya dengan genggaman tangan kanannya. Sontak, para yeoja memekik gembira saat Minho tersenyum.

Minri beberapa kali menguap. Membosankan juga melihat permainan mereka yang terus-terusan menang. Well, memang poin mereka tidak begitu jauh berbeda dengan lawan. Tapi tetap saja akhirnya mereka yang menang. Gadis ini ingin sekali melihat permainan mereka penuh tantangan. Eh, sepertinya babak final akan membuat mereka sedikit kewalahan. Bukankah Tim Sang-Ji University juga terkenal hebat.

Gadis itu berdiri dari duduknya, dan sedikit membenarkan kemeja kotak-kotak bernuansa biru itu yang sedikit kusut karena dia duduk. Dia menatap kedua yeoja disampingnya secara bergantian. Mereka masih terlihat sangat antusias dengan permainan yang bahkan mereka belum tentu mengerti dengan apa yang terjadi di lapangan, yang mereka tahu namjachingu mereka sedang bermain disana.

“Mau kemana Minri-ya?” Tanya Hyora saat menyadari temannya yang satu itu ingin meninggalkan tempat yang ramai ini.

“Aku bosan melihat pria itu terus tebar pesona.”

Minri makan di kantin kampus bersama Ahra dan Hyora. Tadinya dia sendirian karena kedua temannya itu menonton pertandingan sampai selesai. Sesekali Minri bermain dengan PSP putih miliknya. Permainan di game ini lebih menarik dari pada dia membicarakan namja menyebalkan yang pastinya menyumbang banyak poin untuk pertandingan hari ini.

Lima namja yang dibicarakan Ahra dan Hyora tiba di kantin. Mereka masih lengkap dengan seragam basket dan handuk yang tergantung di leher mereka. Rambut mereka yang sedikit basah karena keringat entah mengapa membuat mereka terlihat tampan.

Mereka berlima menghampiri tiga yeoja itu. Ahra tersenyum menyapa mereka berlima, lalu dia menyodorkan air mineral pada namjachingu-nya, Onew.

Hyora yang menyimpan minuman kaleng di tasnya langsung menyerahkan minuman itu pada Taemin.

“Ah! Sayang sekali Yoonsa tidak disini.” Ucap Jongyun seraya meneguk air putih yang tersedia di depannya. Memang, karena Yoonsa adalah hoobae mereka, itu berarti dia masih duduk di bangku sekolah. Suatu hari nanti mereka bisa mengundangnya untuk menonton pertandingan final. Mungkin.

Minho langsung duduk disamping Minri yang kebetulan duduk di paling pojok. Gadis itu menoleh sebentar saat merasakan kulitnya bersentuhan dengan lengan Minho. Lalu dia menggeser sedikit posisi duduknya dan kembali berkutat dengan game-nya.

“Bagaimana permainanku hari ini uh?” tanya Minho pada gadis disampingnya yang lama kelamaan terlihat kesal menatap layar PSP-nya.

“Permainanmu buruk.” Jawabnya singkat.

Aniyo, permainan Minho oppa bagus sekali. Bahkan pemain lawan kewalahan menghadapimu, oppa.” Jelas Ahra.

“Ne, kami bahkan memenangkan pertandingan ini, yang setengahnya adalah poin dari Minho. Bagaimana bisa kau bilang permainannya buruk?” tanya Jonghyun penasaran.

Minri mendongak, menatap pria di depannya. Kemudian beralih menatap Minho yang berada disampingnya.

“Karena pria ini terus-terusan tebar pesona.”

“Kau cemburu?” tanya Taemin tiba-tiba.

Minri mendesis kesal membuat Minho tersenyum puas.

“Benar kau cemburu?” senggol Minho.

“Ya! jangan dekat-dekat, kau bau keringat.” Minho semakin mendekat dan mencium pipinya kilat, seketika wajahnya merona. Meskipun hanya beberapa detik, tetap saja memalukan. Teman-teman yang lain terkikik geli dengan pasangan aneh itu.

“Meskipun bau keringat, aku tetap tampan kan?” Minho tersenyum pada yeoja disebelahnya, yang sejak dulu senyum itu adalah senyum yang mematikan bagi Minri. Bisakah sekali saja dia tidak terpesona? Sepertinya tidak bisa. Dan dia pasti tahu jawabannya.

“Cepatlah kalian mandi. Kalian membuat bau-bau aneh disini.”

Minho menghampiri gadisnya yang sejak tadi berdiri didepan gerbang, menunggunya untuk pulang bersama-sama. Sepertinya dia masih kesal dengan Minho, atau kah mungkin dia cemburu?

Minri berjalan pelan saat menyadari Minho sudah disampingnya. Dia terus berjalan memandang lurus ke depan tanpa berucap sepatah kata-pun. Minho yang menyadari kecanggungan ini langsung memegang tangannya dan berhenti berjalan. Minri pun ikut berhenti dan menatap wajah Minho dengan pandangan datar. Kebetulan sekali mereka berada di ujung jalan sebelum belokan jadi disini terlihat sepi, sangat sedikit orang yang lewat.

“Kau kenapa?” tanya Minho lembut, “Tidak biasanya kau berdiam seperti itu.”

“Aku diam? Bukannya ini hal biasa,” Sahutnya, “Kalau aku meminta sesuatu, apa kau akan memenuhinya?” Gadis itu tiba-tiba memberinya pertanyaan yang menurut Minho tidak biasa.

“Kalau aku bisa, aku akan memenuhinya. Memangnya apa?” tanya Minho penasaran, sepertinya gadis ini akan meminta hal yang aneh.

“Bagaimana kalau kau berhenti bermain basket.”

Kepalanya seperti baru saja dipukul dengan benda keras. Minho benar-benar kaget lalu menatap gadis itu tidak percaya. Bukankah gadis ini tahu kalau Minho tidak mungkin meninggalkan hobinya yang menyenangkan ini. Terlebih dia sudah menjadi kapten tim.

“Kau memilih basketball atau aku?” Minri memegang kedua lengan Minho dan menatap kedua mata besar milik pria itu.

“Pilihan itu sama saja seperti kau memberiku pilihan untuk menghirup gas beracun atau tidak bernafas sama sekali.”

“Kau memilih berhenti bermain basket atau memperbolehkanku kembali bermain basket?” Minri tersenyum sumringah, dia tidak tau dapat ide dari mana hingga melontarkan pilihan yang ini, dan sepertinya menyenangkan.

Andwae! Kau tidak boleh bermain basket, karena kau tahu itu berbahaya. Kau bisa saja terkena lempar bola karet yang berat itu atau mungkin terjatuh saat bertabrakan dengan pemain lawan satu sama lain.”

“Bagaimana kalau kita membuat perjanjian saja?” Minri menaikkan sebelah alisnya menunggu Minho yang sejak tadi masih pusing memikirkan gadisnya yang tidak terduga ini.

“Perjanjian?”

“Ne! Aku akan meminta izin pelatih untuk kembali menjadikan aku pemain sementara untuk semifinal saja. Kalau aku menang di semifinal putri, kau harus memperbolehkanku terus bermain basket. Tapi kalau aku kalah, kau boleh melakukan sesuka hatimu.”

“Termasuk menikahimu dalam usia muda?”

“Ishh!” Minri menjitak kepala Minho, tidak menyangka dengan respon aneh keluar dari mulut pria itu.

“Kau–“

Cup! Minho mendaratkan bibirnya pada bibir yeoja di depannya, banyak bicara membuat Minho ingin membekap bibir mungil itu. Sepertinya ide bagus kalau dia membekap dengan mulutnya saja.

“Ah! Jinjja! Kenapa kau menciumku? Aku belum selesai bicara.” Ucap Minri kesal setelah berhasil mendorong paksa tubuh Minho.

“Bisakah kau berhenti bicara dan berhenti meminta hal aneh padaku?” Pinta Minho masih dengan nada rendah. Matanya menatap lurus-lurus pada manik mata yeoja berambut coklat itu.

Minri mengerjapkan matanya pelan. Dia menurunkan tangannya kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Minho yang masih memikirkan apa saja yang diucapkan yeoja itu, termasuk permintaannya yang tidak wajar, juga pilihan antara dia dan bola basket.

Pria itu menendang udara kosong. Dia yakin kalau dia tidak bisa memilih salah satu dari mereka. Emm, mungkin bisa, tapi sulit.

“Permisi pelatih.” Minri masuk ke dalam ruang latihan basket putri, ada beberapa hoobae disana. Mereka menyapa Minri dengan sopan.

Annyenghaseyo sunbae, kau ingin ikut tim lagi?” tanya Jinra senang. Minri hanya menjawab dengan senyuman. Dia dan pelatih berdiri di tepi lapangan sedang pemain yang lain tetap menjalani latihan.

“Pelatih, aku ingin ikut pertandingan semifinal. Bolehkah?” Gadis itu terlihat serius dengan ucapannya.

“Karena hanya ada kita berdua, panggil oppa saja” Ucapnya seraya tersenyum. “Kau ingin masuk tim lagi? kami akan menerimamu dengan tangan terbuka.” Jawab pelatih yang berusia dua puluh enam tahun itu. Tubuhnya yang tinggi tegap, garis wajahnya yang tegas serta senyumnya yang memikat membuatnya terlihat muda. Itu juga yang membuat para pemain bersemangat untuk latihan.

“Kamsahamnida oppa, tapi aku hanya ikut semifinal saja.” Gadis itu membungkuk sopan.

Wae Minri-ya?”

“Aku punya alasan tersendiri. Sekali lagi, terimakasih banyak, oppa.” Dia permisi ingin pergi, tiba-tiba langkahnya kembali terhenti, “Tapi sepertinya aku perlu latihan intensif, karena sudah cukup lama aku tidak memegang bola karet itu.”

“Tenang saja, aku akan membantumu.”

Suara decitan sepatu dan bola basket sangat terdengar di gedung indoor basketball Konkuk University. Seorang yeoja tengah berlarian di lapangan, sejak satu jam yang lalu dia berada di tempat ini. Dia benar-benar fokus dengan apa yang dilakukannya. Sudah lama tidak latihan fisik membuatnya sedikit kewalahan berlari, melompat dan hal lain yang perlu dilakukannya.

Siwon, pelatih muda itu melihat dengan serius pada yeoja itu. Bukan terpesona, dia hanya memperhatikan muridnya itu, karena dia adalah pelatih dan dia bertanggung jawab dengan murid yang dilatihnya.

Pria tinggi itu menghampiri Minri yang sedang berdiri di garis penalty. Dia akan melakukan shoot. Siwon berdiri di belakangnya dan sedikit membenarkan posisi tangannya yang sedikit ke bawah. Gadis itu terkesiap begitu menyadari Siwon sudah ada di belakangnya.

Oppa…

“Tidak akan masuk ke dalam ring jika kau terlalu tegang seperti itu.” Senyum mengembang di wajah pria itu, senyum khas yang tidak akan dimiliki oleh siapapun.

“Tempatkan bola di atas jarimu dan berikan tumpuan pada kakimu, bukan melompat, hanya saja merendahkan badanmu lalu regangkan lagi, seperti pegas, kau pernah melihatnya bukan.” Jelas Siwon. Gadis itu mengangguk dan mencobanya. Dia tersenyum tipis saat melihat bola itu meluncur dengan mulusnya melewati ring yang ada di depannya.

“Kau pernah mencoba melakukan slam dunk?” Tanya Siwon.

Aniyo, oppa. Badanku tidak cukup tinggi untuk meraih benda itu. Padahal aku ingin sekali melakukannya.” Tunjuk Minri pada ring yang bertengger.

“Mau aku bantu?” Siwon berjalan menuju tiang dekat papan ring. Gadis itu mengerutkan kening. Dia belum mengerti maksud Siwon tadi.

“Lakukan lay up seperti biasa–tepat di depanku berdiri dan aku akan membantumu melakukan slam dunk, otte?” Gadis itu mengangguk. Dia mendribble bola beberapa kali sampai tiba di depan Siwon dan dia melakukan lay up seperti instruksi, saat itu pula Siwon mengangkat pinggang Minri, mencoba membantu gadis itu agar bisa melompat lebih tinggi dan berhasil mencapai ring.

Tepat sasaran. Gadis itu bisa memasukkan bola dengan mudah dan bergantung di ring yang terbilang tinggi karena ini lapangan internasional. Setelah itu dia melompat ke bawah. Tetesan keringat ikut terjatuh seiring hentakannya yang cukup keras.

Pria yang juga terbilang tinggi, yang sekarang menjabat sebagai kapten tim inti basket namja menghampiri gadisnya dan pelatih. Dia menyapa ramah pada pelatihnya itu. Siwon balas menyapa. Beberapa saat kemudian, Siwon menepi dari lapangan meneguk air mineral yang tersedia dalam tas, lalu dia mengambil handuk dan dia kembali menghampiri Minri dan Minho yang sepertinya sedang bicara serius.

“Minri-ya, latihannya cukup sampai disini. Permainanmu sangat bagus hari ini.” Siwon memegang puncak kepalanya sebentar, mungkin hanya sepersekian detik, tapi hal itu sukses membuat Minho mengatupkan rahangnya. Dia rasa dia boleh cemburu sekarang. Sejak dulu dia tidak suka kalau yeoja-nya disentuh oleh siapapun termasuk pelatihnya sendiri.

“Kamsahamnida oppa, kau sangat membantu.” Minri membungkukan badannya sopan. Gadis itu kembali mengambil bola yang tergeletak begitu saja. Tidak menanyakan juga mengapa namja-nya datang kemari. Harusnya pria itu bisa mengatakan sendiri apa tujuannya datang kemari.

“Kau kelihatan dekat sekali dengan Siwon hyung. Membungkuk sembilan puluh derajat dan melakukan instruksi yang dimintanya bahkan kau mau rambutmu disentuh olehnya.” Sindir Minho.

“Sejak kapan kau menjadi stalker dan melihati aku latihan?” tanya gadis itu tanpa menatap Minho. Pria itu merebut bola ditangan Minri dan menyembunyikan dibalik punggungnya.

“Kalau hanya melakukan seperti Siwon hyung lakukan, aku juga bisa.” Tukas pria itu dengan wajah angkuhnya.

“Nada bicaramu aneh.” Sahut gadis itu. Dia mencoba merebut kembali bola dari tangan Minho. “Lagi pula kalau aku memintamu untuk melatihku, itu sama saja kau bunuh diri bukan? Membiarkanku menang dari taruhan kita, begitu?”

“Ishh!” Minho melempar bola ke belakangnya dengan sembarang, membuat yeoja yang hampir meraih bola itu kehilangan keseimbangan dan tersungkur tepat di atas badan Minho.

“Kau serius ingin ikut semifinal?” Tanya Minho yang sudah berada jarak dekat dengannya. Sebenarnya gadis itu ingin sekali berdiri, dia merasa tidak enak dengan badannya yang berkeringat. Tapi Minho menahan pinggang gadis itu dengan satu tangannya.

Ne.” Jawab gadis itu sekenanya, dia berusaha melepaskan diri dari namja-nya yang terlihat menakutkan malam ini.

Minho menghela nafas dan melepaskan gadis itu. Minri meletakkan tangan di lantai dan mengangkat tubuhnya. Belum sempat Minri berdiri tanpa diduga Minho membalikkan badannya hingga gadis itu berada di bawah tubuhnya. Kedua tangan pria itu terletak di samping wajah Minri yang baru akan protes dengan apa yang Minho lakukan sekarang karena sikunya sedikit sakit karena terbentur  lantai.

“YA! APPO–“ Teriak gadis itu, namun segera Minho menempelkan bibirnya dengan kasar, melampiaskan rasa kesal dan bercampur cemburu. Gadis ini sudah membuatnya gila.

Minri mendorong tubuh pria tinggi itu dengan sisa-sisa tenaganya. Dia tahu pria ini sedang cemburu, dia senang bisa membalasnya barang sedikit. Dan hal ini pula meyakinkannya kalau Minho mencintainya.

Gadis itu berdiri dan mengambil tasnya yang tergeletak di tepi lapangan. Dia berjalan menuju pintu keluar.

“Jangan bicara padaku sebelum pertandingan selesai.” Gadis itu melenggang pergi, senyuman tipis terukir dibibirnya. Oh ayolah Minho, katakan sesuatu. batinnya.

“Ya! Park Minri! Kau tahu aku tidak bisa sehari saja tidak melihatmu.”

Gadis dengan kaos hitam lengan panjang dan celana jeans senada sedang duduk santai di salah satu café yang ada di Kampus. Dia mengutak atik ponselnya, menunggu seseorang yang sudah membuat janji dengannya. Jujur, dia tidak suka menunggu berlama-lama. Tapi hal pembicaraan ini cukup penting.

Seorang namja dengan poni lempar dan warna rambut yang sedikit keemasan membuatnya begitu langsung dikenali oleh gadis ini, terlebih dia juga salah satu anggota tim basket yang cukup terkenal. Memang, namja-namja itu terkenal, termasuk namjachingu-nya. Namja yang bernama Kim Kibum atau yang sering dipanggil Key mengambil tempat duduk di depan gadis itu.

Minri meletakkan ponselnya dan menyapa Key. Baiklah, to the point saja, dia akan langsung mengatakan apa yang ingin ditanyakannya.

“Key-ya, aku ingin bertanya padamu, jawab saja dan jangan balik bertanya.” Key mengerutkan keningnya. Dan disambut senyum sekilas dari gadis itu.

“Apa yang terjadi jika kapten keluar dari tim?”

“Maksudmu Minho?” Dia berdeham lalu melanjutkan, “Mungkin sama saja seperti kami main dengan satu kaki. Well, Jonghyun hyung dan Taemin juga hebat, begitupun Onew hyung, tapi kami akan sulit menentukan formasi yang sudah fix. Sulit jika salah satu dari kami pergi atau tidak ikut main.”

Minri menganguk mengerti. Dia seperti melakukakan wawancara selebritis, hanya saja dia tidak mempunyai kamera dan alat perekam lain.

“Sebenarnya hanya itu saja yang ingin ku tanyakan.” Key sedikit melongo dan memutar bola matanya, “Tapi apa benar pria yang suka tebar pesona itu sangat diperlukan?”

“Aigoo! Sudah ku bilang kalau kami akan semakin kuat jika dia ikut bermain. Lagi pula apa kau lupa kalau dia sudah menyumbang setengah dari jumlah poin kami?”

Arasseo, arasseo, kau tampak menakutkan Kibum-ah,”

“Panggil aku Key!” ucapnya di sela tatapan tajam yang membunuh, justru membuat gadis itu ingin tertawa.

Senyum Minri hilang seketika saat Minho menghampiri mereka–Key dan Minri–yang tadi membicarakan tentng dirinya. Pria bermata besar itu baru akan membuka mulutnya, tapi Minri mengangkat tangannya dan menghadapkan telapak tangannya di depan wajah Minho, matanya seolah berkata ‘ingat yang ku katakan tadi malam’. Pria itu mendesis dan menghadap Key.

“Katakan pada Minri kalau aku menunggunya untuk pulang bersama.”

Hah? Mereka sedang apa? Mengapa Minho tidak langsung bicara padanya saja. Key membuka setengah mulutnya, tidak habis fikir dengan apa yang dilakukan Minho. Well, untuk kali ini saja Key mengikuti permainan mereka. Key akan mengulangi perkataan Minho, tapi Minri lebih dulu menyela.

“Katakan padanya kalau aku tidak bisa pulang dengannya, karena aku masih harus latihan bersama tim yeoja.”

“YA! Kalian benar-benar…” Key pergi dari tempat itu. Minri mengendikkan bahu dan meninggalkan Minho yang masih terpaku.

Pertandingan dimulai, peluit berbunyi dan seluruh anggota tim berlarian di lapangan. Saling mem-block lawan, melakukan yang terbaik sebisa mereka.

Beberapa menit berjalan dan tim Konkuk masih tertinggal beberapa point, Minho terus saja mengikuti pandangannya menuju gadis itu. Dia tidak tahu harus merasa senang karena gadis itu kalah, atau merasa kecewa dengan kekalahan tim Universitasnya. Persetan dengan kalah atau menang. Yang terpenting, gadisnya harus dalam keadaan baik-baik saja saat pertandingan berakhir nanti, tidak ada cedera atau lecet, sedikitpun.

Sorak penonton akhirnya terdengar saat gadis itu bisa memasukkan bola ke dalam ring dan mengejar ketinggalan dari point mereka. Dan Minho tidak sedikitpun membuka suaranya. Hingga Onew menegurnya.

“Minho-ya, kau sedang menikmati pertandingan atau menilai permainan Minri? Seperti kau pelatihnya saja.” Onew kembali melihat ke lapangan, dimana para pemain sudah menepi dari lapangan diberi kesempatan istirahat tiga menit sekedar memberikan cairan dalam tubuh agar tidak dehidrasi dan membicarakan strategi bersama pelatih muda Konkuk University yang tinggi dan tampan.

Hyung, apa menurutmu Minri itu cocok bermain di tim?” Mereka bicara tanpa menatap satu sama lain.

“Tentu saja! Kau lihat saja, dia memberi banyak point dari pada pemain lain. Tapi… ku lihat dari sini, fisiknya mudah lelah.”

Minho menghela nafas. Sudah dia duga kalau gadis itu tidak sekuat dulu. Gadis berambut coklat itu berhenti main di tim karena Minho yang memintanya, karena pria itu tidak ingin gadisnya terluka dan alasan yang lebih logis, dia ingin agar gadisnya fokus terhadap hal-hal yang berbau akademik. Yah, meskipun tidak dapat dipungkiri kalau dia sendiripun sulit untuk meninggalkan ini. Teringat permintaan Minri beberapa hari yang lalu, membuat Minho memijat kepalanya seraya berfikir. Apa mungkin dia harus berhenti juga?

Fikirannya buyar saat mendengar bunyi peluit. Pertandingan di lanjutkan, sorak penonton masih membahana. Terdengar di telinga Minho dua pria sedang bicara tidak jauh dari posisi duduknya sekarang.

“Itu yang nomer punggung sembilan, siapa?” ucap pria yang pertama.

“Oh, itu Minri sunbae. Memangnya kenapa?”

“Dia terlatih sekali, dan juga cantiknya kelewatan. Mana mungkin gadis secantik itu mau menguras keringat dan membiarkan tubuhnya lecet karena terjatuh sedang gadis yang lain kebanyakan merawat diri dan bolak balik tempat spa atau salon.” Ucap pria yang lain dengan panjang lebar. Minho menatap dua pria itu tajam. Berani sekali mahasiswa baru itu membicarakan seniornya seperti itu.

Mereka yang sadar ditatap–saling menyenggol lengan satu sama lain. Mereka ingin berbisik, tapi tidak bisa diruangan seribut ini. Hingga akhirnya mereka bicara nyaring dengan tidak sengaja, dan masih dapat ditangkap oleh telinga Minho.

“Dia siapa?” mereka bicara berdua sesekali melirik Minho yang duduk di tribun agak ke bawah dan mengabaikan Minho yang masih melihati mereka berdua dengan tajam. Pria pertama mengerti, siapa yang dimaksud oleh temannya.

“Kau lupa? Dia kapten tim namja. Ku dengar dia menjalin hubungan dengan Minri sunbae.

Jinjja? Ah sayang sekali, padahal aku sudah menyukai Minri noona,”

“Gila kau! Beraninya memanggilnya noona.” Mereka tertawa bersama dan kembali fokus terhadap jalannya pertandingan.

Dia bahkan sudah memiliki fanboy, ck!

Minho menggertakkan giginya dan berhenti menatap mereka, matanya kembali mengarah pada gadisnya. Bersamaan dengan itu gadisnya terjatuh diiringi sorak kecewa dari penonton. Sontak Minho berdiri, membuat Jonghyun yang duduk disampingnya mendongak menatap pria tinggi itu.

Dan Minho kembali duduk saat Minri kembali melanjutkan pertandingan.

“Minho-ya, berhentilah tegang seperti itu. Dia hanya sedang bertanding, bukannya menghadapi kematian.”

Sorak penonton kembali terdengar saat Minri memberikan tiga angka di menit-menit akhir, kemudian terdengar bunyi peluit panjang dari wasit dan kemenangan untuk tim Konkuk.

“Arghh!” Minho mengerang dan meninju pahanya sendiri dengan kepalan tangan kanan.

“Kau aneh sekali. Mereka menang–Minho.”

Pria bermata besar itu menunggu gelisah di depan ruang olahraga. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dengan mata yang hanya menatap lantai keramik, mengabaikan yeoja-yeoja yang lewat membicarakan pria tampan itu yang terlihat begitu keren sekarang. Yeah, dia selalu menjadi topik hangat.

Gadis yang ditunggunya melenggang santai melewatinya, saat itu pula Minho menarik lengannya dan membawanya ke taman universitas yang tidak jauh dari ruang olahraga. Gadis itu mengerutkan kening karena bingung, namun dia tidak memberikan perlawanan pada Minho.

“Kau menang!” seru Minho seraya melepaskan cengkraman tangannya dilengan gadis itu.

“Jadi kau memilih aku tetap bermain, atau kau berhenti?” ucap gadis itu datar tanpa ekspressi.

“Aku…berhenti saja.” Minho menelan ludahnya dengan keras, seperti berusaha menyingkirkan duri-duri yang mengganjal saat dia mengatakannya. “Tapi biarkan aku mengikuti pertandingan final, untuk terakhir kalinya.”

Minri berfikir sejenak, setelah itu mengangguk kecil.

“Terimakasih,” Minho mencium pipinya singkat, membuat gadis itu sedikit merona, dia kembali memegang tangan gadis itu dan mereka melangkah menuju gerbang keluar.

“Kita mau kemana?” tanya gadis itu.

“Pulang. Memangnya kenapa?”

“Aku harus berterimakasih pada Siwon oppa.” Minri berhenti berjalan membuat Minho ikut berhenti.

“Ishh! Pulang saja, atau kau mau ku cium?” ancam Minho namun diiringi tatapan tajam dari gadisnya.

Minri kembali duduk di barisan penonton. Menyaksikan pertandingan final. Dia mengajak Yoonsa–hoobae-nya yang juga yeojachingu Jonghyun. Lima pria itu tidak henti-hentinya tersenyum, eh ralat, hanya empat pria yang tersenyum sedang Minho sedang meratapi pertandingan terakhirnya.

Seharusnya Minri dan Yoonsa tidak hanya berdua, tapi Ahra, dan Hyora semestinya juga hadir menyaksikan namjachingu-nya di pertandingan final. Tapi entah kemana kedua gadis itu, tadi mereka meminta Minri untuk lebih dulu masuk dan sampai sekarang Hyora dan Ahra belum juga tiba.

Para pemain masih mempersiapkan pertandingan. Kedua kapten sudah berdiri di tengah. Kemudian wasit melambungkan bola seraya meniup peluit pertanda pertandingan baru dimulai. Bersamaan dengan itu, Ahra dan Hyora tiba dengan membawa banner besar bertuliskan ‘SHINEE Jjang!’. Hemm, sedikit informasi, mereka berlima menamai tim basket mereka adalah SHINEE, yang merupakan sub-team dari tim basket Konkuk University.

Minri membuka setengah mulut seraya membulatkan matanya, jadi ini yang mereka lakukan hingga tiba saat pertandingan hampir  mulai, apa-apaan mereka? Ini berlebihan. Batinnya.

Minri menyadari ada seorang gadis di belakang Hyora, dia belum pernah bertemu dengan gadis itu.

“Dia Yonhae, kekasih Key.” Bisik Hyora sebelum Minri sempat menanyakannya. “Kami bertemu diluar, untung saja dia bertanya pada kami.” Sambungnya.

Anyeonghaseyo,” Mereka berdua saling menyapa.

Ahra juga menyapa Minri singkat lalu menyerahkan banner bagian ujung pada Minri hingga banner itu terbuka sempurna. Dengan berat hati dia memegangnya. Baiklah, dia menyerah kalau Ahra sudah menatap tajam seperti itu. Heran sekali, kenapa Onew bisa menyukai gadis galak seperti ini.

Satu yang ada difikirannya sekarang, Minho pasti tertawa gelak kalau melihatnya ikut melakukan hal gila seperti ini.

Sorak gembira diiringi tepuk tangan keras membahana di indoor basketball Konkuk University, dengan penuh perjuangan akhirnya tim Konkuk menang. Minri terus menatap namja tinggi itu tanpa peduli dengan keributan disekitarnya. Keringat mengucur di sekitar pelipis namja itu, rambutnya sedikit basah akibat keringat. Lagi-lagi dia terpesona, kenapa saat inipun pria itu terlihat begitu tampan? Memang bisa setampan apa lagi dia. Ck! Benar-benar membuatnya gila. Kalau dia saja yang sering menatapnya masih saja terpesona, apalagi yeoja-yeoja yang baru melihatnya.

Mereka berlima beserta tim cadangan berdiri di atas panggung kecil yang sengaja disediakan untuk pemenang. Onew dan Taemin mengangkat tinggi-tinggi piala mengkilap itu sedang Minho sudah memegang microphone, bersiap mengucapkan kata sambutan atau terimakasih mungkin.

“Terimakasih dukungan kalian,” Tepuk tangan meriah tidak henti-hentinya mengiringi kemenangan mereka, termasuk jeritan para yeoja yang membuat telinga kalian sedikit mendengung. “Aku akan mengatakan sesuatu, mungkin ini adalah kabar buruk,” Minho mendeham membuat semua penonton diam dan mendengarkan seksama, sepertinya ini akan menjadi berita menarik. “Aku akan berhenti menjadi kapten tim.”

Semua berseru kecewa, ada pula yang bertanya-tanya karena kebingungannya.

“Pertama, aku ingin mengucapkan terimakasih pada Minri, karena telah mengizinkanku main untuk terakhir kali.” Minho mencari sosok gadisnya di tribun penonton, dan matanya tertumbuk pada yeoja berbaju kaos biru dengan rambut diikat tinggi seperti biasa, kali ini dia tidak menjepit poninya hingga poni itu sebagian hampir menutup matanya, sederhana tapi tetap cantik

Semua mata mengikuti arah pandangan Minho, membuat Minri setengah mati mencari oksigen untuk bernafas, karena dia bersumpah saat itu juga dia seperti diinterogasi.

“Park Minri, bisa kau kesini sebentar?” ucap Minho dengan microphone. Entah mendapat dorongan dari mana, gadis itu berdiri dan berjalan menuju panggung. Jujur kakinya lemas. Kalau saja dia tidak ingat disini banyak orang, dia yakin dia sudah pingsan.

“Perlu kalian tahu, dia adalah kekasihku.” Minho merangkul bahu gadisnya yang cukup terkejut dengan perkataannya. Minri menoleh dan saat itu juga pandangan mereka bertemu. Kalau Minho tidak salah lihat, gadis itu tersenyum padanya.

“Ku harap kalian yang para yeoja, tidak perlu lagi terpesona padaku, karena aku sudah bukan kapten tim dan kalian tidak akan sering melihat wajahku. Aku tidak ingin gadis ini cemburu berat dan akan membunuhku. Ah tidak tidak, maksudku dia akan meninggalkanku dan aku segera terbunuh oleh kesengsaraan.” Wajah gadis itu sudah cukup memerah, malu sekaligus terpesona dengan kalimat yang berlebihan keluar dari namja tampan itu.

“Aku lebih memilihnya, ku harap kalian mengerti.” Minho mencium singkat pipi gadis itu. Sebenarnya tujuannya mengecup bibir gadis yang berstatus sebagai yeojachingu-nya, tapi terlambat sepersekian detik karena gadis itu keburu memalingkan wajahnya. Dia yakin wajahnya sudah seperti kepiting asap. Diluar perkiraan, Minri mengambil microphone dari tangan Minho.

“Aku tidak memintanya untuk berhenti, hanya sekedar memberinya pilihan. Mungkin aku terdengar egois, tapi aku yakin melakukan hal yang sama jika berada di posisiku. Aku hanya sekedar memberinya pelajaran untuk tidak tebar pesona yang berlebihan.” Sebagian mahasiswi ada yang tertawa, ada juga menatap iri pada Minri karena Minho sudah menurunkan rangkulannya dari bahu ke pinggang gadis itu.

“Untuk itu…” Minri menoleh pada Minho yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun.

“Minho-ya, kau boleh bermain basket sesuka hatimu.” Gadis itu tersenyum singkat, nyaris membuat Minho kehilangan kendali. Kalau saja dia sudah tidak waras, dia yakin gadis itu sudah dia cium.

Jinjja?

Langit senja menyilaukan menjadi latar dua orang yang sedang berjalan di taman. Warna orange yang berkilauan memendar berbaur dengan awan yang terlihat sangat indah.

Tangan mereka saling bertautan dan begitu serasi, seperti mereka baru saja menemukan pasangan puzzle untuk bagian dirinya.

By the way, kenapa kau berubah fikiran?”

“Karena mereka membutuhkanmu, dan sebagian hidupmu ada pada permainan itu.”

“Terimakasih jagiya.

“Mwo? Kau bilang apa?”

“Setelah lulus, kita akan menikah kan?”

“Siapa yang akan menikah denganmu?”

“Ish, benar-benar!” Minho langsung mengunci tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. Bibirnya menyentuh lembut penuh kasih sayang.

“Ngomong-ngomong, kalau aku terus latihan dengan Siwon oppa, sepertinya menyenangkan.”

“Minri-ya…” ucap Minho nyaris putus asa.

“Aku bercanda.” Gadis itu tertawa gelak dan berlari. Minho mengangkat kedua ujung bibirnya. Tidak akan ada pria yang boleh menyentuh gadisnya selain dia. Dan dia tidak akan membiarkan gadis manapun yang menyentuhnya. Selain gadisnya.

Dan satu lagi, jika kau menyuruhku memilih, aku akan memilihnya, dari pada apapun, dia lebih berharga dan aku pastikan hatiku seluruhnya sudah ada padanya. Kalian tahu, dia sudah mencurinya.

FIN

Otte? Jelek kah? Karena Love Like Lollipop belum ada lanjutannya, jadi aku publish yang ini saja ya, udah agak lama terpendam (?) di kompi. Sedikit curhat, aku gak tau apa tulisanku itu jelek atau kenapa, karena masih banyak yang view tapi komennya dikit. Komen itu susah banget ya? Ya sudah tidak apa-apa, aku gak maksa untuk reader komen. Jadi kalau ada yang baca syukur, kalau nggak ya udah. Jangan kira aku sombong ya karna balesan komenku sekarang singkat atau terkesan dingin (#lagi ketularan temen yang sifatnya dingin), dan aku akan balas komen yang seharusnya aku balas, makasih.

Choose One

13 thoughts on “Choose One

  1. julietteCHOI says:

    huaaaaaaa XD
    selalu terpesona saya kalo ngebayang c MINHO brcucuran(?) keringat #eh ^^
    daebak ff 😀 #bow

  2. Pilih aku atau basket?? Ini cerita hidup bgd. Kadang pacar egois minta qt milih antara dia dan hobi! Jelas pilihan sulit, yg tentu aja berakhir pada suatu keputusan yg egois jg!
    INI PERNAH AKU ALAMIN!!! /DON’T ASK\

    Minri (annyeong, mamot-eon br bc ffmu. *Tutup muka*), koreksi dikit yah.. Fikiran, em, bukannya pikiran y dek? Trus, aku mw tny, klw ‘mengulum senyuman’ itu yg ky gmn?

    1. charismagirl says:

      HUAA~ mamoth eon komen /plakk
      hehe… iya typo iitu eon, mianheeeyo

      yaaa, emm… sebenernya aku juga gak tahu persisnya, tapi menurut imajinasi aku sih, kayak senyum tapi tak kelihatan. salah yaa, hehe *sembunyi dibelakang Minho*
      aku akan berusaha lebih baik lagi 🙂

      makasih eonni komennya, *cipok*

  3. Minho suka banget nge ppoppo. Aku mau donggg!!! #plakk, ditampar Hyukppa.
    Aku rada bingung ma jalan cerita FF nya eonni. Kupikir Minho bakal milih aku. #digampar Shawol.

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.