[FF] Be Mine [3.3]

Title : Be Mine

Author : ReeneReenePott

Maincast : Choi Minho, YOU ( isi ___ dengan namamu)

Supporter Cast : Kim Jonghyun, Key, Lee Taemin, Lee Jinki, Kang Jiyoung (KARA), Song Sam Dong, Nam Jihyun,

Length : Trilogy

Genre : Romance, Fluff, HHJJF

Rating : PG – 13

Backsound : 2NE1 – Ugly, 2NE1 – Lonely, Super Junior – It’s You, BEAST – On Rainy Days, MLTR – Breaking My Heart, Jung Yong Hwa – Banmal Song (ini udah di susun berdasarkan plot)

__

Previous Chapter

“Ini… vodka…” gumam Jinki pelan. Aku mendelik.

“Mwoya? Vodka?! Aduh…” aku memegang kepalaku. Kenapa aku parahnya seperti ini sih? Baru saja minum segelas, langsung K.O seperti ini? Sialan bartender itu, dia sangat tidak professional. Ya, emosiku mulai tersulut sekarang..

“Minho-yah, cepat bawa dia kembali ke kamarnya. Kau kan pasangannya,” ujar Jonghyun yang ada di sampingku. Mwoya? Kenapa aku harus diantar olehnya?! Sirreo! Aku menghempaskan tanganku ketika tangannya menyentuhku. Apa-apaan dia ini?!

__

Chapter 3 – END

“Jangan sentuh aku!” cetusku padanya. Mataku tidak bisa fokus. Kenapa ada banyak Minho di sini? “Ya! Kau memakai jurus Seribu Bayangan dari Naruto, ya? Banyak sekali kau di sini!”

“Kau benar-benar harus kembali ke kamar, ___, kau benar-benar mabuk,” dia kok ngeyel sih? Aku harus ke Nice! Aku tidak mabuk, tahu!

“Aku mau ke Nice dulu!” raungku padanya, berusaha melepaskan tanganku yang hendak ia lingkarkan di lehernya. Ia menatapku tajam, dan ekspresinya lucu sekali. “Aku mau ke Nice dulu,” ujarku lagi, lemas.

“Kau kembali ke kamar. Ayo, kugendong,” tawarnya dan menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggungku. Aku sudah lemas. Aku suka kehangatannya seperti ini…

Beberapa saat kemudian, aku sudah dibaringkan di atas ranjang, tangannya menyelimutiku, benar-benar baik dia. Dan ketika ia melangkah menjauh, aku menahan tangannya. “Ya! Choi Minho! Kau tahu? Kau selalu membuatku sesak. Kau tahu itu?”

Ah, ekspresinya lucu sekali. Aku tersenyum, namun aku bingung, aku mau mengatakan apa lagi ya? “Yaahhh aku tahu aku yeoja yang biasa saja… kalau aku dekat denganmu pun kau pasti akan merasa risih..” ujarku hampir tertawa. Namun ekspresinya seperti serius sekali. Dia benar-benar lucu! Hahahaha….

“Tapi aku ternyata bodoh ya?? Masa aku mencintaimu, coba? Hahaha… hiks…” tiba-tiba air mataku jatuh begitu saja. Ya, dia yang membuatku berkali-kali patah hati, kan? Dia benar-benar nappeun! “Hiks… kau tak pernah melihatku… Aku hampir gila karena ulahmu, kau tahu?!” kataku lagi. “kau tersenyum padaku, kau menatapku dalam, kau seperti memberiku harapan, kau tahu?! Padahal tak ada harapan… hahhh….”

“Mianhae..” gumamnya pelan sambil mengelus rambutku. Wajahnya makin samar kulihat. Ahh.. aku tak peduli padanya.

__

Sudah berlalu beberapa minggu setelah kepulangan kami dari study tour. Dan kalian mau tahu? Aku tidak berani menatap wajah Minho selama seminggu kemudian setelah Key menceritakan kejadian di Paris waktu itu. Haish, kenapa aku mesti mabuk sih? Paboya!

Lagi-lagi aku memojokkan diri di perpustakaan. Aku ke sini bersama Jinki, tapi ya… dia sudah berkelana duluan. Sementara aku? Aku menikmati fasilitas manga Jepang yang tersedia di sini. One Piece, Naruto, Inuyasha, dan Dragon Ball lengkap edisinya di sini. Gyaahhh aku juga baru sadar kalau di sini terkoleksi pula komik Ko Ping Ho. Tuhan… aku damai di sini…

“Apa yang kau baca?” Jinki tiba-tiba berujar di balik punggungku. Aku terkejut, spontan buku komik Inuyasha nomor 50 yang ada dalam tanganku terpental ke wajahnya.

“Aish! Lee Jinki! Kenapa kemunculanmu sama seperti hantu sih?” protesku padanya yang dengan sigap menangkap komik lemparanku.

“Inuyasha? Kau suka ini?” tanyanya dengan alis terangkat. Aku mengangguk. “Lebih keren Ko Ping Ho,” aku menyambar komik Inuyasha yang ada dalam tangannya, dan membacanya lagi.

“Yeee… ambil sendiri saja sana!” tukasku padanya. Ia nyengir.

“Hei, aku mau bicara sesuatu,” ujarnya tiba-tiba serius. Aku menurunkan komik yang sedang kubaca, menaikkan alisku sebentar, lalu membacanya lagi.

“Bicara saja,”

“Kau pernah bilang, tidak akan menyukai salah satu dari kami berlima,” katanya hati-hati. Aku mencengkeram komik yang sedang kubaca. “Jangan lari dari topik ini, ___,” Oke. Kalian tahu kenapa Jinki bisa tahu? Minho menceritakan apa yang terjadi antara aku dengannya di kamar, lalu Key membeberkannya di depan mereka semua. Di depanku juga. Untung Jiyoung tidak ada.

Aku mendesah keras lalu menatapnya. “Aku bohong waktu itu. Kau puas?” sahutku sedikit ketus. Ia menatapku datar, tanpa ekspresi. “Kenapa aku bohong? Karena aku tidak ingin bersikap aneh di depan kalian,”

“Apa maksudmu bersikap aneh? Malu-malu? Pipi memerah? Kikuk? Kau selalu seperti iitu, ___-ssi,” desisnya. Aku menunduk.

“Ini pertama kalinya aku jatuh cinta, Lee Jinki,” ceritaku. “Sepanjang hidupku, aku tidak pernah tertarik pada namja. Dan kau tahu reaksiku saat aku menyadari bahwa aku menyukai Minho? Ah, ani, aku mencintainya?” aku menggantungkan pertanyaanku. “Aku bersumpah hanya menyimpan rahasia ini sendiri,”

“Wae?”

“Karena…” aku berpikir sejenak, bingung. “Kupikir lebih baik berteman dengannya, dari pada menuruti perasaanku ini,” ia menyeringai.

“Kau bodoh,”

“Baru tahu, ya?” godaku. “Sampai akhirnya Key dan Jonghyun memergokiku di taman sedang berkata seorang diri, ‘Saranghae, Minho-ah’. Mereka terus membully-ku. Dan, karena Key mulutnya ember, Taemin juga sudah mengetahuinya sehari setelah kejadian itu,”

“Tapi kau selalu memanggilnya Minho-ssi, bukan Minho-ah,” cerca jinki yang membuatku menyeringai.

“Aku tidak mungkin memanggilnya ‘Minho-ah’ dengan nada sama seperti para haksaeng memanggilnya ‘oppaaaaa..’,” aku menirukan cara memanggil mereka dengan lebay. Jinki terbahak.

“Kau benar-benar berbakat menjadi seorang aktor, ___,” Jinki mengacungkan kedua jempolnya padaku. Aku menyeringai.

“Yah, aku tahu aku tidak terlalu buruk,” balasku pede.

“Jadi karena itu, kau menghindarinya akhir-akhir ini?” aku menoleh menatapnya bingung.

“Mwo? Menghindarinya? Aniya, aku tidak menghindarinya. Hanya menetralisir hatiku saja,” jawabku santai. Jinki mengerutkan keningnya tak percaya. “Kau tak percaya? Tanya pada Minho, aku pernah menyapanya di koridor,”

“Hanya menyapanya dengan salam ‘Annyeong’ seperti yang kau lakukan pada haksaeng tak dikenal yang tersenyum padamu pagi-pagi?” aku tersenyum.

“Itu sudah standar-ku, Jinki-yah,” balasku santai. “Kau juga kusapa seperti itu, kan?” lanjutku.

“Tapi tidak dengan Jiyoung,” sergah Jinki antusias. “Kau mau jadi lesbian?”

“Mwo?” untung aku sadar ini perpustakaan, Lee Jinki. Kalau tidak kepalamu sudah hancur berkeping-keping. “Kepalamu terbentur apa, Jinki?” tanyaku sambil menyentuh belakang kepalanya. Ia menepis tanganku risih.

“Kau berbeda saat menyapanya,” aku tersenyum manis.

“Karena kami sudah akrab dari kecil,” jawabku yakin. Jinki menaikkan sebelah alisnya ragu. “Kalaupun aku lesbi, kenapa aku bisa menyukai Minho?” ujarku menahan tawa.

“Aku juga mau tanya, kenapa kau mengikutiku ke perpustakaan? Bukannya makan siang bersama yang lain? Bukankah itu kebiasaanmu?” tanyanya lagi. Aku menutup komik yang kupegang dan menggantinya dengan komik lain.

“Kurasa kau bisa menebaknya, Jinki-ssi,” desisku kesal. Anak ini sudah membahas hal itu sejauh ini, menanyakan hal yang sudah fakta lagi? “Tentu saja aku menghindari Minho!”

“Terus-terusan?” desak Jinki. Aku menatapnya santai.

“Sampai aku merasa percaya diri untuk menghadapinya,” sahutku dengan senyuman tipis.

__

Baiklah, sesuai permintaan Jinki, saat istirahat kedua aku tidak pergi ke perpustakaan bersamanya. Kemana aku? Ke roof top, pastinya. Tempat yang nyaman dan tersembunyi. Jarang haksaeng lain yang datang ke sini, atau nyaris tidak pernah. Gadgetku sudah terpasang dengan rapi dan siap digunakan. Apalagi kalau bukan earphone dan I-pod?

Aku mendongak menatap langit biru dengan awan tipis sementara jariku otomatis menekan tombol yang kuyakini tombol ‘Play’. Yeah. I love this song. FT Island – Heartache. Oh God, rasanya nyaman sekali. Aku memejamkan mata sambil tersenyum. Tanpa sadar aku ikut bernyanyi pada bagian reffrain-nya.

“Saranghaetdeon naui maeumsoge jageun kkum hanamaneul namgyeodugo… neomu swipge nareul tteona beorin neorul ijeneun ihae haryeo hae… du beon dasi nan geu nugudo saranghal suneun eobsul kkeoya… iksuk haejyeo ganeun seulpeum soge gatyeobeorin nae moseup…”

“Hey…” aku menegang mendengar suara berat itu. Aku menoleh menatapnya sebentar lalu menoleh lagi dengan kikuk.

“Hm…” sahutku. Ia duduk tepat di sampingku, membuat lenganku menempel seluruhnya dengan lengannya yang hangat. Damn! Jantungku…

“Sulit sekali menemukanmu sekarang,” ungkapnya pelan. Aku mencoba untuk tidak terlalu peduli.

“Benarkah?” tanyaku. “Mungkin kau yang suka melesat pergi duluan?” gurauku santai.

“Ku akui, sungguh, suaramu tidak buruk,” tiba-tiba ia mengalihkan topik. Aku mengangkat sebelah alisku sambil meliriknya. Baiklah kalau ini maumu.

“Hahaha… thanks,” ujarku tulus. Ia tersenyum, membuatku tak tahan untuk tidak tersenyum. “Kalau begitu aku juga ingin mendengarmu bernyanyi,” wow! Berani sekali ya aku? Hahaha…

Tiba-tiba ia mencopot earphoneku yang sebelah kanan, dan memasangkannya ke telinga kirinya. “Baiklah, kalau kau ingin mendengarku bernyanyi… mana I-podmu?” ia mengadahkan tangannya dan aku memberikan benda balok tipis itu padanya. Ia mencari lagu sebentar, lalu tersenyum. “Aku suka lagu ini…”

Petikan gitar mulai mengalun lewat earphone yang tersangkut di telinga kiriku, sementara telinga kananku siaga mendengar suaranya. Aku tahu lagu ini, aku sering mendengarnya sat kesepian.

“Jangeul jjoja jollin nuneul tteo, jamsi humyeon tto naeiliya, ggamjjaghal sae jinangan haruga heomunhae, gaseumi morael samkijiman… Jeonsin eobsi sigani heullo,dugeundaedeon uri gamjeongi, insuhaejyeo dangyeonhadeut neuggyeojilgga, genhan geokjeongae seoreowo…”

Suaranya yang berat dan hangat itu menghipnotisku. Hey.. dia juga bisa bernyanyi! “Sopeulhejin insadeul, deomdeomhi sangcheo juisseul haengdongdeul, apeuge haryeo han ge aninde, mebeon mianhan maeman… Neul geu jarijae isseonal ji kyeojwoseo, neul naega badeul binan daesinhaeseo, amu maldo eobsi nal gamssajun ne museubul ijen, nega geoulcheorom bichuryeo hae…”

Dia terus menyanyikan lagu itu, ya, SHINee – Honesty. Benar-benar manis. Aku tak dapat mengalihkan pandanganku darinya. Benar-benar tak bisa. “Gilgodo gininyeonwi ggeune, eodiyeo daheul ji moreul jogchagyeong ggeute, seoro beweogamyeo manheun geoseul neuggyyeo, gaseumeneun ijhyeojiji snhgessji, nunenun namgyeojyeo eosgo issgaessji, nawi gippeumi neoege hengbogi dwindamyeon, gomawo…”

Bahkan bagian rapp yang ia nyanyikan juga sempurna. Kami bertatapan sejenak. Aku melongo, ia menatapku peuh harap. “Otte?” aku terdiam, lalu mengacungkan kedua jempolku padanya.

“Jincha daebak,” aku tersenyum tulus. Benar deh, aku tidak bohong. Suaranya keren! Ia tersenyum.

“Gomawo…” ia terdiam sejenak. “Itu… lagu untukmu,”

“Mwoya?”

__

“Ya! Lee Taemin!” desisku keras kepada mahkluk yang ada di sampingku ini, yang sedari tadi menyenggol-nyenggol lenganku. Park sonsaengnim sedang menerangkan pelajaran, bila ada yang tidak memperhatikannya ia bisa ngamuk lagi! Kemarin kami sekelas sudah kena damprat, masa hari ini lagi sih? Namun namja imut di sampingku ini hanya nyengir kuda. Aku mendengus dan memfokuskan diri kembali ke pelajaran yang sedang di ajarkan ini.

“Tadi kau istirahat kemana?” bisik Taemin padaku. Aku meliriknya sekilas, lalu kembali fokus ke pelajaran di depan.

“Ke roof top. Wae?” balasku berbisik juga. Ia hanya tersenyum. Mencurigakan, benar tidak?

“Aniyo,” ia malah bungkam. Aku memutar kepalaku ke tempat duduk Jonghyun dan Key. Oh, bagus. Mereka cekikikan tanpa suara. Aku yakin pasti ada yang mereka sembunyikan.

“___! Perhatikan pelajaran!” aku tersentak begitu Park sonsaengnim menyerukan namaku. Aku menoleh menatapnya lalu menunduk.

“Ne!” sialan kalian!

__

“Kau menyukainya… Kau menyukainya…” aku melemparkan tatapan membunuh kepada namja bermata sipit yang cerewetnya bisa melebihi halmoeni yang menyerukan kalimat-kalimat mengesalkan di sampingku sedari tadi.

“Dari dulu, tuan Key, bahkan aku sudah mencintainya,” desisku kesal. Ia menyeringai puas. Aku terus melangkah menelusuri koridor, sementara Key masih mengikutiku sambil menggumamkan kata-kata yang bisa membuat wajahku semerah kepiting bakar. Plus, apakah dia tidak tahu, tatapan para yeoja di sekelilingku yang seakan ingin membunuh , mencincang-cincang, atau menggilingku?

“___ menyukai Choi mpphh..” aku membekap mulutnya begitu sosok jangkung itu muncul di ujung. Key langsung melepaskan tanganku, membuatku menoleh menatapnya.

“Kau bisa diam tidak?” desisku kesal. Ia menyeringai lagi, membuatku semakin gondok dengan tampangnya.

“Dia kan sudah tahu, untuk apa ditutup-tutupi lagi?” katanya. Aku melirik ke arah Minho, lima langkah… empat langkah… tiga langkah… dua langkah… satu langkah… dia membuang muka?

Aku menunduk frustasi. Kenapa aku ini? “Minho-yaaaa~” suara Jiyoung yang cempreng terdengar oleh gendang telingaku dari kejauhan. Aku menoleh, mendapati Minho tengah tersenyum hangat pada Jiyoung.

Nyutttt

“Aku harus segera pulang, baju kotor, piring kotor dan setumpuk jemuran belum aku kerjakan,” ujarku singkat pada Key dan berlari ke pintu gerbang secepat kilat. Kumohon… jangan menangis sekarang, jangan menangis sekarang…

__

Bruk

Aku menghempaskan tubuhku di salah satu kursi bus setelah melepas ranselku kasar. Mataku terpaku ke pemandangan di luar jendela, sementara tanganku bergerak memasang earphone yang tersambung ke I-podku. Sedari tadi sesak ini tak kunjung hilang. Ada apa denganku?

Seharusnya aku tidak bermimpi terlalu tinggi. Menjadi temannya seharusnya aku sudah bersyukur. Aku mencintainya sementara ia tidak mencintaiku. Apa yang bisa kulakukan? Tidak ada kan? Selain menerima kenyataan itu dan memunguti kepingan hatiku yang sudah hancur lebur.

Kenapa harus lagu ini sih? Dengan kasar aku menggerakkan jariku untuk menemukan lagu Kyuhyun – 7 Years of Love. Galau. Hiyah, bahasanya jaman sekarang banget. Sudahlah ___, kau tidak pantas untuk seorang Choi Minho, mimpi apa kau hingga bisa dekat dengannya?

Lagu berhenti tepat ketika bus terhenti juga. Aku bergegas turun, karena letak rumahku sudah tak jauh lagi dari kawasan ini. Dengan langkah gontai dan earphone masih terpasang di telinga, aku mencoba untuk tidak terlihat seperti mayat hidup di depan orang-orang.

“___!” sebuah suara samar-samar terdengar di sela lagu yang sedang kudengarkan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak ada siapa-siapa. Aku menoleh ke belakang, baru ku temukan sesosok tinggi berjaket dan hoodie hitam berlari kecil menghampiriku. Kedua mataku membulat saat sosoknya dengan jelas kulihat dari dekat.

“Song Sam Dong?” tebakku kaget. Sam Dong memandangku sambil tersenyum.

“Aku menemukan sosokmu turun dari halte, jadi ku hampiri saja,” jelasnya tanpa kuminta. Aku tersenyum tipis.

“Kau sedang apa di daerah ini?” tanyaku basa-basi.

“Yah, sedang jalan-jalan saja. Jihyun yang memintaku untuk menemaninya keliling kota, lalu mengantarnya pulang,” aku mendelik mendengar penuturannya.

“Mwoya? Astaga, anak itu benar-benar…” desisku kesal. “Mianhae kau sudah dibuat repot,”

“Tak apa, aku senang membantu orang,” ungkapnya sambil tersenyum. Aku balas tersenyum padanya.

__

Well, tak seperti biasa, kenapa mereka tak menyapaku, ya? Key dan Jonghyun itu. Apa aku sudah berbuat salah pada mereka? Aku hanya menatap kedua mahkluk itu bingung dari tempat dudukku yang ada di belakang Key. Ah, mungkin mereka tak melihatku.

“Akhirnya, Key dan Jonghyun sunbae sadar juga, bahwa gadis sepertinya tak pantas di ajak berteman,” beberapa suara berbisik di belakangku. Nde?

“Iya, sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini dari dulu, untunglah Key dan Jonghyun sunbae sudah sadar. Dan semoga yang lainnya juga,” hatiku seperti dihantam batu. Benarkah yang mereka katakan?

Aku tertawa hambar dalam hati. Apakah mereka baru menyadarinya? Ternyata benar, seharusnya orang sepertiku tak pantas menjadi teman mereka. Ya, begini lebih baik dari pada dulu, kan?

“Annyeong, ___-ah,” Taemin menyapaku ramah. Hah, karena aku teman sebangkunya ia jadi ramah padaku? Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis.

“Annyeong,” jawabku. Aku langsung berdiri dan melangkah keluar kelas, tanpa menghiraukan tatapan bertanya dari Taemin. Aku terus melangkah, tanpa sadar aku sudah sampai di roof top. Dengan helaan nafas berat, aku melangkah ke tepinya dan duduk di atas pembatas. Nampak ingin bunuh diri, ya? Tentu saja tidak.

Kedua mataku memanas. Benarkah yang tadi kudengar? Jadi mereka sudah tak sudi lagi berteman denganku, begitu? Ya, mungkin mereka baru menyadarinya. Aku tak layak untuk berteman dengan siapapun.

Kruukkkk

Ah, aku baru ingat kalau aku belum sarapan. Tapi biarlah, aku merasa aku tidak akan baik-baik saja kalau aku makan. “Hiks… hiks…” entah kapan air mata ini keluar, bersama isakan yang sedari tadi kutahan.

“Hiks… Hiks…” Ya Tuhan, kenapa isakan ini tak bisa berhenti juga?

__

Srrr

Aku mengambil air keran dan membasuh wajahku. Setelah puas menangis, aku menuju ke tempat ini. Toilet perempuan. Astaga, mataku sangat bengkak! Kalau aku kembali ke kelas, apa yang akan mereka katakan ya? Apa yang harus kulakukan kalau begini?

Brakkk

“Halo, nona…” seorang yeoja yang sepertinya sunbaeku melangkah masuk dengan senyum sinis. Tidak hanya sendiri ternyata, bersama keempat temannya. “Ternyata kau di sini,”

“Loh, matamu bengkak? Habis menangis ya? Menangis karena namja-namja tampanmu tak mengiraukanmu lagi? Hahahaha….”

“Makanya, sebelum bertemu mereka, harusnya kau itu berkaca dulu! Kau itu sama sekali TAK PANTAS berteman—apalagi sampai menarik perhatian mereka, kau tahu?!” aku hanya menatap mereka datar.

“Lalu apa urusan kalian?” tanyaku tenang. Salah satu dari mereka langsung menatapku dengan sorot mata kebencian.

“Kau selalu saja mengganggu mereka. Akan sangat lebih baik kalau kau menghilang, bukan?” ujar salah satunya. Keningku berkerut. Apa maksud mereka?

“Kalian mau apa?!” pekikku ketika tanganku dicengkeram dan tubuhku di seret masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi. “Ya! Sakit!” pekikku meronta. Namun mereka seolah tak mendengarku, malah mendudukkanku di atas kloset dan mengikat tanganku dengan tali tambang yang entah mereka dapatkan dari mana. “HEI!”

“Kalau kau menghilang, akan sangat baik bagi kami, hahahaha…” setelah tangan dan badanku, mereka menali kakiku hingga aku tak bisa bergerak sama sekali. Untuk menyentakkan tubuh saja sangat sakit.

“Baiklah, sebagai sentuhan terakhir,” yang depan menatapku senang, “Kau harus diam,” ujarnya sambil memplester mulutku.

“hahahaha.. beres deh. Kita kunci, matikan lampunya, dan pasang peringatan kalau toilet ini rusak,” astaga, jahatnya!

“Ayo! Kita tinggalkan gadis tak tahu diri ini!” aku berteriak, bermaksud membuat mereka berbalik. Tapi apa daya, mereka mengunci tioilet ini dari luar, dan mematikan lampunya. Ya ampun, gelap sekali…

“MMM!!!!” pekikku lagi, berusaha menyentakkan tubuh. Atau membuat suara gaduh agar ada yang membebaskanku. Tapi nihil.

Sepertinya sudah berjam-jam aku di sini, ah, atau entah berapa lama. Tubuhku lemas, perutku sangat sakit karena tak terisi apa-apa. Tenggorokanku sudah sakit, astaga..

Dan entah kapan, aku merasa sudah ada di awang-awang…

__

5 hari kemudian…

Brakkk

“Ya Tuhan! Pantas saja kau tidak masuk sekolah selama 5 hari!” sebuah suara terdengar olehku. Namun aku sama sekali tak dapat mengatakan apa-apa, hanya merasa lega bahwa tubuhku sudah terlepas dari tali itu dan plester di mulutku juga sudah dilepas.

“Ya Tuhan! Dia pucat sekali! Kenapa bisa begini sih?” Tuhan… terimakasih… aku sudah keluar dari toilet ini…

__

Yang kuingat sekarang, aku baru saja mencium bau obat-obatan dan hawa yang dingin. Aku tidak lagi duduk, namun berbaring dan diselimuti sebuah selimut tebal. Kupikir, aku sedang berada di UKS sekarang. Tapi bau obat-obatan di UKS sama sekali tidak menyengat seperti ini. Dimana aku?

“Nafasnya sudah normal,” sebuah suara wanita berujar, “Dia akan baik-baik saja,”

Aku berusaha membuka mata. Namun sekali aku mencobanya, aku langsung merasa pusing karena cahaya yang sangat terang langsung menyerbu mataku. Aku mengedip-ngedipkan mataku, berusaha membuat pupil mataku bisa terbiasa dengan cahaya terang ini. Makin lama penglihatanku bisa makin jelas.

“Eomma?” tanyaku pada wanita paruh baya yang duduk di sampingku. Aku mengedarkan pandangan, baru menyadari bahwa aku sudah ada di sebuah ruangan di rumah sakit.

“Syukurlah kau sudah sadar, sayang,” eomma mengelus rambutku penuh kelegaan.

“Kenapa aku bisa ada di sini?” tanyaku polos. Tentu saja setelah aku di temukan terkurung di bilik toilet, bodoh!

“Beberapa chingu-mu yang membawamu ke sini. Mereka menemukanmu terkurung dalam toilet selama 5 hari…” eomma menggenggam kedua tanganku hangat, “Eomma dan appa sangat khawatir mengetahui kau tidak pulang,”

“Ne…” hanya itu reaksiku. Memangnya apa yang bisa aku lakukan kalau begini?

Cklek…

“Annyeonghaseyo ahjumma, ___ eonni,” oh, Jihyun. Ia datang sepulang sekolah, ya? “Kau sudah sadar, eonni?”

“Ne, aku sudah merasa lebih baikan,” aku menyipitkan mata melihat seorang namja yang mengekor di belakang Jihyun. “Sam Dong-ssi? Kau juga ikut?”

“Ne, aku juga ingin menjengukmu,” jawabnya sambil tersenyum. Jihyun menyodorkan parsel buah yang ada di tangannya.

“Igeo, eonni makan yang banyak, sudah 5 hari kau bertahan tanpa suplai makanan apapun,” cerocosnya. “Lebih baik kau pindah ke Kirin eonni, di sekolah itu kau hanya di-bully,”

“Hush, Jihyun-ah, dia baru sadar kok kau sudah menyeramahinya,” eomma menyenggol lengan Jihyun. Aku terkekeh geli.

“Tanggung, Jihyun-ah. Tinggal setahun aku di sana,” balasku santai.

“Setahun yang penuh percobaan…” Jihyun mendesah kesal. “Sam Dong oppa, kutinggal ya? Ayo ahjumma, kita cari makan,” tiba-tiba Jihyun menarik tangan eomma ke luar kamar. Aku hanya bisa menatap mereka bingung, lalu menoleh menatap Sam Dong.

“Aku duduk di sini ya…” Sam Dong menarik kursi yang tadi dipakai eomma. Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Silahkan…”

“Kau benar-benar baik-baik saja?” tanyanya serius. Aku tersenyum dan mengangguk.

“Ne, aku sangat-sangat baik, kau tidak percaya?”

“Bukan itu maksudku. Tapi… apakah kau akan baik-baik saja bila terus bersekolah di sana?” tanyanya lagi. Aku mengerutkan kening.

“Aku berhasil melewati 2 tahun pertama. Kurasa aku akan baik-baik saja bila terus bersekolah di sana,” ungkapku tenang. Ia menghembuskan napas berat, sebelum menatap mataku lurus-lurus.

“Saranghae, ___-ah, would you be my girlfriend?” tubuhku menegang mendengar penuturannya. Aku meringis, bukan karena sakit atau apa, tapi karena sulit menelan ludah.

“Mwoya?” gumamku. Sam Dong meraih kedua tanganku dan mengecupnya lembut.

“Aku serius, ___-ah, would you be my girlfriend?”

“Mianhae…” aku langsung menarik kedua tanganku daring genggamannya. Ia nampak sangat kecewa.

“Wae?” tanyanya. Aku ikut sedih melihat sorot mata itu, tapi sedari dulu eomma selalu mengajariku untuk tidak berbohong pada perasaan sendiri.

“Aku tidak bisa,” ungkapku jujur. “Mianhae, tapi ada orang lain,”

“Si kapten basket itu, kan?” aku menatap matanya kaget.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Pada saat di restoran seusai pertandingan waktu itu, kau selalu memandang ke arahnya,” ungkapnya pelan. “Aku selalu berharap kau akan melupakannya, dan melihatku,”

“Mianhae, Sam Dong-ssi, aku hanya…”

“Tak punya cukup ruang untukku. Aku tahu,” potongnya sambil tersenyum. “Tapi setidaknya ijinkan aku dekat denganmu?”

“Dengan senang hati,”

__

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Taemin ketika aku baru saja meletakkan tasku di atas kursi. Aku tersenyum menatapnya.

“Aku sangat baik,” jawabku seadanya. Ia menyipitkan matanya.

“Kau tak bermaksud mengurung diri di toilet, kan?” bicara apa anak ini?

“Untuk apa, bodoh? Meskipun aku berada dalam posisi yang paling di benci setiap orang, tapi aku masih waras untuk lebih mementingkan pelajaran daripada mengurung diri di toilet selama lima hari,” jelasku sedikit kesal. Taemin setengah tertawa, lalu menepuk bahuku lembut.

“Sabar yah, tapi siapa yang mengurungmu,?”

“Molla, aku sudah tak memikirkan mereka lagi. Oh ya, apa ada catatan atau PR yang tertinggal selama 5 hari ini?” tanyaku padanya ringan. Ia menunduk dan mengeluarkan 3 buah buku.

“Lihatlah tampangnya, benar-benar memuakkan. Aku pasti sudah ingin pindah sekolah bila jadi dirinya,” seorang yeoja berbisik-bisik lagi di belakangku. Aku menghembuskan napas, lalu menimpali dalam hati. Apakah pindah sekolah tidak pakai uang? Gampang sekali berkata pindah sekolah.

“Kau benar-benar membuat khawatir, tahu? Coba saja kalau tidak ada seorang siswa yang memberitahukan ada toilet rusak kepada kepala sekolah, toilet itu tidak akan pernah di buka,” Taemin berkata lagi. Aku menoleh cepat menatapnya sambil tersenyum tipis.

“Dan itulah akhir hidupku. Jadi hantu toilet perempuan, hahaha..”

“Ya! ___-ah! Kau membuat bulu kudukku berdiri!” seru Taemin kesal. Seperti biasa, Key dan Jonghyun menyuekiku. “Kau mau jadi seperti Myrtle Merana, hah?” aku terkekeh geli

“Dan akan ada 5 orang yeoja yang akan kuganggu bila itu benar-benar terjadi padaku,” gumamku serius. “Eh, Taemin-ah, bagaimana kabar Jiyoung?”

“Ah, yeoja itu? Dia sudah jadi pacar Minho—sepertinya,”

JLEBBB

“Ah, jinchayo? Aku belum memberi selamat padanya ya…” ujarku pura-pura tersenyum. Taemin menatapku kesal.

“Kalau kau ingin menangis, menangis sajalah! Aku tahu, kau langsung patah hati, kan?” balas Taemin. Aku hanya bisa menunduk, menyembunyikan mataku yang makin pedih.

“Jangan berkata apa-apa Taemin, aku sedang berusaha keras agar air mataku tidak jatuh,” jawabku pelan sambil mengusap bulir-bulir air mata yang menetes ke pipiku. “Aku tidak ingin mataku bengkak dan menjadi bahan tertawaan satu sekolah,”

“Aku juga patah hati sih, tapi mau bagaimana lagi? Jiyoung lebih nyaman bersama Minho, jadi aku hanya bisa merestui mereka,”

“Ne, kurasa aku memang harus melupakan perasaan ini,” gumamku membulatkan tekad.

__

Kling

Kling

Suara dering pintu membuatku sadar bahwa ada pelanggan yang datang ke cafe ini, Chocolate Bun Cafe. Aku hanya bisa menegakkan tubuh, bersiap hingga dipanggil.

“Annyeonghaseyo, mau pesan apa?” chinguku, Nana melayani pelanggan itu. Sepasang kekasih, sepertinya. Aku hanya mengangkat bahu tak peduli. Setelah beberapa menit, Nana kembali ke meja belakang kasir sambil membawa notes yang berisi pesanan pelanggan itu.

“Nanti kau yang mengantarkan pesanannya ya, aku ada urusan sebentar di belakang, oke?” pinta Nana padaku. Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Beres!” aku menyerahkan order itu ke dapur dan menunggu hingga pesanannya siap. Berselang beberapa menit, sepiring tart ukuran sedang dan dua jus jeruk sudah ada di atas nampan. Diantarkan ke meja pasangan itu, ya?

Aku melangkah sambil membawa pesanan ini dengan hati-hati. Lalu menyapa pasangan itu. “Permisi, anda memesan tart dan dua jus jeruk?” tanyaku ramah. Sepasang kekasih itu menoleh, dan rasanya aku seperti di sambar petir.

“___-ah? Kau bekerja di sini?” Jiyoung menatapku kaget dari atas hingga ke bawah. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

“Kalian yang memesan ini kan?” Jiyoung dan namja di depannya itu—namanya Minho, aku tahu—mengangguk mengiyakan. Aku meletakkan piring dan gelas itu ke atas meja dengan hati-hati.

“Sejak kapan kau bekerja di sini?” tanya Jiyoung lagi. Sementara Minho yang kulirik membuang muka, aku membalas senyum Jiyoung tulus.

“Sejak SMP,” jawabku singkat. “Silahkan dinikmati pesanannya…” sapaku ramah dan langsung melesat kembali ke tempat karyawan.

“Astaga, namja itu sangat tampan ya. Tapi sayangnya dia sudah punya yeojachingu, cantik pula,” aku melirik chingu sesama karyawanku ini. Dasar wanita!

__

Jadi, sekarang sudah ada tiga orang yang mengetahui profesi asliku. Lee Taemin, Kang Jiyoung, dan Choi Minho. Hufft…. kupikir itu tak akan berpengaruh untuk mereka. Mau aku bekerja kek, menganggur kek, itu tak akan menjadi masalah bagi mereka.

“Wah, wah, wah, sendirian di kelas, Nona ___?” sebuah suara yeoja yang tak asing bagiku terdengar. Aku mendongak, dan benar saja, mereka kan kawanan yang mengunciku di toilet waktu itu!

“Sayang yah, Cuma lima hari! Harusnya seminggu, biar kau mampus!” ujar salah satu dari mereka. Aku menyeringai.

“Iya, sayang banget. Dan kalian berhasil mengerjai siapa lagi kali ini?” sindirku sedikit kesal. Mereka langsung terbahak bagai setan.

“What? Hello… Miss ___ yang tak tahu diri, tentu saja korban kami kali ini adalah kamu lagi! Taemin masih ada di dekatmu, jadi, misi kami selanjutnya adalah menyadarkan dirimu agar menjauh dari Taemin!” mereka melantur ya? Dasar gila…

“Kalian mau apa sih? Aku tak pernah mengganggu kalian,” desahku kesal. Mereka tertawa lagi bagai mak lampir.

“Tapi kau benar-benar membuat kami semua muak dengan tingkahmu yang menjijikkan itu! Memonopoli mereka sendiri!”

“Apaan sih?” tanyaku bingung. Mereka sepertinya rada-rada deh…

“Kau itu sudah memuakkan, menjengkelkan.. eurrghh aku benar-benar jijik padamu!” seru salah stau dari mereka. Aku menatap mereka bingung.

“Kalau kalian jijik padaku, untuk apa kalian di sini? Bukankah kalian malah tambah jijik?” ungkapku datar. Mereka mendengus kesal. Salah satunya menyambar tasku dan membuangnya keluar jendela.

Tiungg

Byurrr

“HEI!” teriakku tidak terima. “Dasar kalian brengsek! Mau cari mati denganku, b*tch?!?” makiku kesal. Mereka terlihat sangat shock dengan kata-kata yang baru kulancarkan barusan, lalu perlahan-lahan wajah mereka memerah karena marah.

“KAU ITU YANG CARI MATI!” teriak mereka dan langsung menjambak rambutku. Aku berusaha stay cool.

“Jadi hanya ini ya, kelebihan kalian? Hanya main jambak-jambakan? Yang jantan dong!” seruku meremehkan. Lihat, emosi mereka makin tersulut kan?! Aku berlari keluar kelas dan menuruni tangga. Kurasa tasku mendarat ke dalam kolam. Untung saja buku Taemin masih ada di laci, jadi tidak ikut jadi korban. Tapi I-podku, hueeee T^T

“Kau benar-benar membuat kami muak, ___!”

“Whoaaa..” aku merasakan tubuhku terhuyung tepat di depan tangga.

Brukk…

Duk..

Duk..

Duk..

Apa hasilnya? Aku jatuh menggelinding di tangga.

“Adaw… untung saja tidak ada tulang yang patah,” well, mungkin karena aku biasa main perosotan di jurang (??) aku jadi kebal bila terjun begini ==”

Namun kata-kataku terhenti ketika sesuatu yang hangat membanjiri hidungku dan meluber keluar. Aku yakin ini bukan ingus, dan begitu kusentuh, warnanya merah pekat dan berbau anyir. Jadi inilah kelebihanku. Bila di film-film atau kehidupan nyata, bila jatuh dari tangga pasti patah tulang. Kenapa aku malah mimisan?

Lupakan deh. Lebih baik aku mencari tasku yang malang terjun ke dalam kolam ikan. Sambil menutupi hidungku yang bisa mengundang vampire (??), aku berlari kecil keluar gedung. Well, kenapa harus ada mereka pula sih?

Lima namja itu berceloteh ke arah berlawanan dariku. Dengan Jiyoung di sisi Minho, jumlah mereka bertambah menjadi enam. Aku menunduk sambil membekap setengah wajahku dan mempercepat lariku. Setelah sudah ada di depan kolam ikan, kulihat tanganku sudah berlumuran darah. Kalau mimisan mah gampang. Yang penting tasku.. ah! Itu dia! Ternyata hanya setengah yang masuk ke kolam. Syukurlah…

Aku menyambar tasku dan membuka isinya. Hanbya beberapa buku yang basah, ah, itu lebih baik daripada seulruh tasku basah kuyup. Dan.. oh tidak! Jejak darah tertinggal di tasku gara-gara tangan kiriku menyentuhnya!

Tapi yang paling kukhawatirkan sekarang adalah benda persegi panjang hasil jerih payahku. Apalagi kalau bukan I-pod putih kesayanganku? Huee…

Tanganku meraba-raba ke dalam tas, dan begitu mendapatkannya aku langsung mencoba untuk menyalakannya. Nihil. I-podku hanya berkedip-kedip selama beberapa saat sebelum mati lagi tanpa bisa dinyalakan. Mereka benar-benar kejam! Huwaa…

“Hiks… hiks…” hyah! Kenapa aku nangis lagi sih? Aku hanya bisa memeluk lutut. “Hiks.. hiks..” lama-lama mataku terasa pedih juga. Ya Tuhan, kenapa sekarang aku sangat sering mendapat tekanan batin sih?

__

“Semangat, ___!” Taemin mengepalkan tangannya padaku saat jam pulang sudah lewat agak lama. Namun aku bersikeras tetap di tempatku. Kenapa? Tentu saja aku baru bisa pulang kalau mimisanku sudah berhenti!

“Nee…” jawabku pasrah. Aku hanya bisa menatap langit-langit dengan posisi kepala mendongak beberapa derajat. Kata penjaga UKS, jangan mendongak terlalu tinggi, karena darahnya bisa salah masuk ke otak. “Aku baru sadar kau masih di sini, Taem,” ungkapku ketika sosok rambut jamur itu masih terlihat.

“Eh? Hehehe… aku hanya… ash, baiklah, aku pulang, oke?” ujarnya kikuk. Aku menaikkan sebelah alisku, lalu mengangguk.

“Semoga selamat sampai tujuan…!” seruku padanya. Mataku bengkak lagi, mimisanku belum berhenti, lengkaplah sudah penderitaanku.

“Nee.. kau juga, setelah mimisanmu berhenti segeralah pulang!” ujarnya keras dari balik pintu kelas. Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. Syukurlah aku masih memiliki teman di sini. Sampai sekarang Key dan Jonghyun menghindariku, begitupula Minho. Jinki memang lebih banyak diam, namun ia jadi jarang berbicara denganku. Dan aku pun tak ingin terlalu pusing memikirkan masalah ini.

Aku mengecek lagi kapas yang menyumbat lubang hidungku. Kurasa sudah tidak berdarah lagi. Dengan sebuah desahan panjang aku meraih tas dan memakainya. Tanganku meraba laci, memeriksa apakah ada barang yang tertinggal. Tapi tanganku tiba-tiba menemukan sebuah surat.

Mawar pertama ada di papan tulis. Ambil dan baca petunjuknya, maka kau akan menemukanku

Apa arti tulisan ini? Apa ini dimaksudkan untukku? Dengan ragu aku bangkit dari tempat dudukku, dan melangkah maju menuju papan tulis. Benar, ada setangkai mawar merah dan sepucuk kertas yang sama bentuknya tersemat di bingkau kayu papan tulis itu. Aku mengambil kertas itu dan membaca yang tertulis di situ.

Keluar, belok ke kanan. Di depan pintu perpustakaan, terselip di gagang pintu.

Well, kurasa tak ada salahnya mengikuti permainan ini. Aku melangkah ke tempat yang dituju, dan mendapat petunjuk lagi.

Naik ke atas tangga, setelah itu belok kiri. Ikuti jejak mawar.

Dimana ini? Menuju ke kelas 3? Aku langsung tercenung begitu jejeran mawar merah ada di hadapanku. Apaan sih ini? Kakak kelas mau mengerjaiku lagi? Cara apa sih ini? Aku memiringkan kepala sejenak. Tiga mawar sudah ada di tanganku, bersama dengan 3 petunjuk. Dan jejak bunga mawar ini? Banyak sekali. Kalau kelopaknya sih masih bisa maklum. Tapi ini kan utuh bersama dengan tangkainya. Apa tidak mahal ya, membeli bunga sebanyak ini? Dasar kakak kelas aneh!

Aku mengikuti yang ada dipetunjuk sambil memunguti mawar-mawar itu. Sayang kalau dibuang kan? Kalau mereka memintanya kembali, pasti tidak akan rugi. Langkahku terhenti di mawar terakhir, yang terselip sebuah petunjuk lagi. Ini sudah ada di pangkal tangga kan? Tangga yang menuju ke roof top? Mereka mau mengerjaiku seperti apa ya di roof top?

Naik, dan buka pintu roof top.

Dasar bodoh! Kenapa malah ikutan sih? Hanya orang gila yang cari mati jika kakak kelasnya berniat mem-bullynya. Ya tidak? Aku menatap mawar-mawar dan petunjuk yang ada di tanganku dengan ragu. Apakah sebaiknya aku kembalikan mawar ini, lalu kabur? Atau aku naik ke atas dan menerima untuk di-bully lagi? Hash! Tapi I-podku sudah jadi korban, apa yang harus kulakukan nih kalau begini?

Baiklah, karena aku orangnya tidak dapat memendam rasa penasaran, kurasa aku bisa mengikuti permainan ini. Dengan ragu aku menaiki tangga, dan membuka pintu roof top.

Criiingg

Tidak ada siapa-siapa. Waduh! Jangan-jangan mereka menjebakku di atas atap lagi? Hiyah! ___, kau memang polos dan bodoh sekali! Sekarang aku bagaimana turunnya? Loncat dari atap? Hohoho, aku kan bukan kucing yang punya 9 nyawa!

Lebih baik aku coba dulu membuka pintunya. Aku melangkah berbalik dan mencoba menggerakkan gagang pintu.

Cklek…

Bisa dibuka nih? Tapi… kenapa aku tak menemukan siapa-siapa? Oke, di otakku sudah ada beberapa kemungkinan. Satu, surat petunjuk itu sebenarnya tidak ditujukan padaku, jadi si pengirim tidak mau menunjukkan siapa dirinya. Kedua, kemungkinan rencana ini hendak dilakukan besok, makanya tidak ada siapa-siapa. Ah, kenapa aku jadi melantur begini sih? Lebih baik aku pulang saja deh!

“___,”

Aku menghentikan langkahku ketika mendengar namaku disebut. Dia bukan hantu, kan? Tolong, aku sudah di-bully kakak kelas, aku tidak ingin di-bully lagi oleh hantu penjaga sekolah ini…

“___,”

Well, kenapa rasanya aku mengenal suara berat ini ya? Cepat-cepat aku berbalik.

“___,”

“Ya?” jawabku polos. Namja tinggi, memakai seragam sekolah. Hei… apakah dia yang mau mem-bullyku? Tiba-tiba…

Clinggg

Aku terpana. Langit sudah oranye kehitaman, membuat apa yang kulihat sekarang terlihat sangat indah. Lilin-lilin tersusun rapi, entah membentuk apa. Aku melongo. Apaan ini yah? Kedua mataku membulat begitu namja itu melangkah mendekat padaku. Astaga, aku tidak salah lihat, kan?

“M-Minho?” tanyaku pelan. Ia tersenyum. Astaga… aku baru sadar kalau aku sudah sangaaat lama tidak melihat senyumnya. Dan… shit! Apa lagi yang terjadi dengan jantungku?

“Annyeong,” hah?

“Uhuk… uhuk…” pabo! Kenapa aku malah tersedak liurku sendiri? “Kenapa… kau bisa ada di sini?” tanyaku, berusaha mencairkan suasana. Ia mengerutkan keningnya.

“Loh, kan aku yang membuat semua ini, kenapa kau bertanya begitu?” jawabnya yang membuatku melongo. Jadi? Ini? Aku tidak ditujukan untuk…

“Jadi aku tidak di-bully lagi?” ups… aku langung meletakkan jariku di depan bibirku. Jadi? Mawar-mawar ini? Bukan untuk menjerumuskanku, kan?

“Untuk apa aku mem-bullymu?’ tanyanya bingung. Aku terdiam. “Mawar itu… terimakasih sudah memungutnya,” aku melirik mawar-mawar yang ada dalam genggamanku ini. “Kupikir kau hanya mengikuti petunjuknya dan meninggalkan mawarnya,”

“Sayang tahu,” sahutku tenang. “Jadi, kau yang ingin bertemu denganku, atau aku yang salah dapat petunjuk?” tanyaku padanya. Senyumnya mengembang lagi.

“Tentu saja bertemu denganmu. Ada hal yang ingin kukatakan…”

“Apa?” tanyaku santai. Aku tidak berani berharap, tapi… tempat ini romantis sekali. Dan aku berbicara dari jarak 3 meter dengannya. Aneh ya?

“Aku ingin membalas kata-katamu saat mabuk di Paris dulu…” what? Haduh… kenapa jadi begini sih? Lebih baik aku di-bully deh daripada dihadapkan dalam situasi seperti ini!

“Eh? Ah, jangan pikirkan… aku waktu itu tidak bermaksud…” aku langsung memotong ucapannya.

“Aku juga menyukaimu…” ujarnya tiba-tiba. Aku terpaku dan menatapnya lagi.

“Ini bukan April Mop, kan? Ini masih bulan… Juni?” tanyaku setengah sadar. Ia menatapku tajam.

“Apa kau selalu begini? Selalu menghindar dari masalah?” tanyanya tiba-tiba dengan nada marah. Aku tersentak. Kenapa situasinya jadi menakutkan seperti ini ya?

“Eh? Aku kan Cuma…”

“Cepat, respon ucapanku tadi!~” pintanya sambil mendekat.

“Hiks… hiks…” lah, kenapa aku malah nangis sih? Ya! ___ pabo! Apaan nih?

“Kenapa kau malah nangis?” tanyanya bingung. Tiba-tiba ia sudah berdiri tepat di depanku. Tapi apa daya, air matanya tidak mau berhenti.

“M-mian…” ungkapku terbata. Aku mengusap kedua pipiku yang sudah basah kuyup. “Aku hanya… terlalu kaget.”

“Kau selalu seperti ini, ya? Tak pernah mau jujur dengan perasaanmu? Kau memang tak pernah berbohong, tapi kau tak pernah mau mengungkapkannya,” aku menunduk mendengar penuturannya. “Kalau kau mau, aku ingin mendengar perasaanmu sesungguhnya,”

Aku terdiam. “Tapi tolong jangan tertawakan aku,” ia terkekeh. Tuh kan, malah tertawa?

“Tentu saja tidak. Kau itu bodoh ya?” aku tersenyum tipis sebelum mengalihkan mataku dari matanya. Kini aku hanya sedikit menunduk memandang name tagnya.

“Aku men… cintaimu dari pertama masuk sekolah. Tapi aku tak pernah berani mengungkapkannya. Kenapa? Karena tatapan anak-anak seperti akan membunuhku melihat kalian mau berteman denganku,” ceritaku pelan. “Dan… Key mengetahuinya. Begitupla Jonghyun dan Taemin. Mereka selalu menggodaku. Setelah Jiyoung datang dan terang-terangan menunjukkan ketertarikan padamu… kupikir memang aku harus mundur,”

“Kau bodoh, kau belum maju berperang tapi sudah menyerah duluan,”

“Pengecut, ya? Aku memang pengecut,” yah! Kenapa air mataku mengalir lagi. “Tapi aku tidak berani. Aku tak pantas berada di dekatmu, apalagi sampai berani menyampaikan perasaanku padamu. Sungguh tak pan… mmph..”

Hangat.

“Siapa yang bilang begitu?” tanyanya. Entah dari kapan, aku sudah ada dalam pelukannya. “Would you be mine?”

Blush

“Nde?”

“Ayolah…”

“Baiklah, dengan senang hati…” aku tersenyum padanya. Entah kenapa aku percaya matanya tidak berbohong. Setidaknya itulah yang kuharapkan. “Lalu… Jiyoung?”

“Kau tahu, kami semua bersekongkol untuk menjauhimu, karena kau menyebalkan,” tuturnya yang membuatku kaget.

“Mwo?”

“Tapi Taemin bersikeras agar hanya dia sendiri yang tidak menjauhimu. Yah, sekalian jadi pengontrol kami kalau terjadi sesuatu padamu,”

“Mwoya?! Astaga, kalian jahat sekali… Jadi selama ini aku terlibat dalam sandiwara, begitu? Aku tak percaya ini…”

“Kau lagi lebih jahat padaku, masa aku digantung?”

“Apaan yang digantung?” tanyaku bingung.

“Kau itu menggantung perasaanku, tahu!”

“Hah? Kok bisa?”

“Iya, kan kau sering kabur kalau bersamaku, dekat dengan namja lain pula!” aku melongo menatapnya. Kenapa dia ini? ”Kau tak mengerti juga? Song Sam Dong itu loh!” serunya.

“Ohh..” aku membulatkan mulutku. “Jadi kau cemburu, begitu?”

“Kurang lebih sih iya,”

“Dasar!”

“Oh ya, Taemin berkata aku pacaran dengan Jiyoung ya? Salah besar itu! Yang ada malah Taemin yang pacaran sama Jiyoung!” ujarnya tiba-tiba. Nde?! Dasar Lee Taemin!

“Pantas saja dia tenang-tenang saja saat melihat kalian berduaan,”

__

“Bagus, Tuan Key, kau membuatku di bully hingga menggelinding dari tangga,” desisku kejam pada mahkluk setengah botak yang duduk tepat di depanku ini. Ia berbalik kaget.

“Mwo?”

“Lupakan,” sahutku ketus. Ia menatapku cemas.

“Kok kau bisa menggelinding dari tangga sih?” tanya Taemin. Aku menoleh menatapnya sambil tersenyum.

“Aku di dorong,”

“Oleh?” tanya Jonghyun tiba-tiba. Jadi mereka semua sudah balik nih, ceritanya?

“Udah selesai yah,sanciwara ‘menjauhi ___’ nya?” tanyaku sinis. Mereka hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala yang kuyakin sama sekali tidak gatal.

“Ya! Cepat jawab! Siapa yang menggelindingkanmu dari tangga?” loh, kok Key malah marah sih?

“Ya… orang yang sama dengan yag mengurungku di toilet itu. Entah siapa,” jawabku enteng. “oh ya, LEE TAEMIN!” aku menyerukan nama namja yang ada di sampingku ini. Ia tersentak memandangku.

“Ya! Aku ada di sampingmu tahu!”

“Sejak kapan kau pacaran dengan Kang Jiyoung, hah?!” desisku kesal. “Mana pajak buatku?”

Taemin hanya nyengir bersalah. “Mianhae, aku tidak memberitahumu. Tapi kalau kau tahu, gagal deh rencana membuatmu menangis, hehehe..”

“Jadi waktu itu sengaja ya? Dasar!” pekikku sambil menjitak kepalanya. “lalu bagaimana bisa kau jadian dengannya?”

“Waktu itu, dia baru saja ditolak Minho,” aku mendelik. Ditolak?

“jadi Jiyoung pernah menembak Minho?” tanyaku kaget yang disambut anggukan dari Taemin.

“Lalu, aku mendekatinya, dan.. yah, begitulah. Cerita biasa anak SMA,”

“Oh ya, ___, kau tahu ingatanku sangat kuat. Waktu kita sarapan pagi di Berlin, kau berkata kau mimpi buruk. Mimpi apa?” tanyanya tiba-tiba.

Blush

“Ya! Kenapa wajahmu merah?” sekarang Jonghyun yang bertanya.

Blush

“Sudahlah!” sahutku kesal. “hanya mimpi aneh saja,”

“Mimpi apa? Pasti ada sangkut pautnya dengan Minho,” celetuk Taemin. Aku menyikut lengannya kesal.

“Annyeong…”

“Wah, panjang umurnyaa..” gumam Key saat melihat Minho mengambil tempat duduk di sampingnya.

“Ada apaan memangnya?” tanya Minho bingung. Aku menggigit bibir sambil nyengir aneh.

“Lagi menginterogasi ___, yeojachingu-mu, tentang mimpi buruknya di Berlin waktu itu,” tukas Key sambil menatapku tajam.

“Oke, oke! Aku akan ceritakan, tapi jangan tertawa, oke!” aku terdiam sejenak. “Aku bermimpi… aku jadi seorang istri dan memiliki satu orang anak,” ceritaku singkat dan pelan. Mereka membulatkan mata mereka.

“Mwoya? Istri dari siapa?” tanya Taemin takjub. Aku melirik namja jangkung yang duduk di samping Key. Menyadari tatapanku, ia melengkungkan senyum bangga.

“Ah, jodoh kan tidak kemana,”

“Dasar narsis!” tiba-tiba ia mendekatkan bibirnya ke telingaku dan membisikkan sesuatu.

“Di mimpi itu, kita melakukan adegan panas, kan?!” aku langsung menoyor kepalanya. “Aduh!”

“Ya! Diamlah! Ternyata pikiranmu mesum sekali,” seruku tak terima. Jonghyun menatap Minho penasaran.

“Ada apa sih?”

“Aniya. Hanya hubungan privat antara suami-istri,” jawab Minho sambil melirikku. Aku melotot membalasnya.

“Diam!”

“Astaga, astaga, astaga, hahahaha…”

“Diam Key, ini kelas, bukan pasar,” dengusku kesal. Aku merasakan sesuatu baru terpikir lagi olehku. “Kenapa kau bisa tahu kalau aku bermimpi…”

“Aku, namjachingu-mu. Pastilah mimpinya sama,” Minho tersenyum lebar menatapku. Aku mendengus kesal.

“Dasar mesum,”

—END—

S-E-L-E-S-A-I!!! yeahhhh…. Awalnya, FF ini maunya jadi oneshoot. Setelah mengalami perubahan plot yang cukup membuat pening, akhirnya jadilah begini adanya#plakk Rada aneh kah alurnya? HUahaa… namanya juga authornya rada-rada. Huakaka.. #dorr XDD

[FF] Be Mine [3.3]

6 thoughts on “[FF] Be Mine [3.3]

  1. JIAHHHHHHHHHHHHH … gara2 mabuk VODKA … ” AQ ” jd Mengutarakan perasaan pd minho nih … aishhhh OTTOKHE …..?

    huahhhhh jahat masa ” AQ ‘ di bully sih ?????????????
    5 hr di kurung di toilet ? KURANGGGGGGGGGGGGGGG …. hiks hiks

    AKHirnya …. minho jd pacar ” AQ ” ….

    author … part kali ini bkn speachless deh … terpana ma jalan cerita nya …

    1. Kurang apa? Kurang lama? Kurang sadis? (Jiwa psikopat muncul) hehehehehe XDD
      Hehe, gomawo yaaaaa setiap komenmu menakjubkan hehe XDD
      Gomawo sekali lagi ^^

  2. Miina Kim says:

    Nice…
    Akhirnya mereka berdua ‘ketemu’ setelah maen Tom and Jerry melulu
    Song Sam Dong, nganggur, nih…? Buat author aja, ya,…
    Aku sama Jinki… *gak nyambung

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.