Love, More Than Word – chapter 5

Tittle : Love, More Than Words – chapter 5

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Choi Minho
  • Park Minri
  • Han Yeon Young
  • Xi Luhan
  • Byun Baek Hyun
  • Oh Sehun

Support Cast :

  • Kim Kibum (Key)
  • Lee Taemin
  • Kim Seul-Mi
  • Joo Shin-Hye

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Life, Family, Sad.

Rating : PG- 13

Charismagirl’s note: The cast is not mine, but the plot absolutely mine! Do not copy this story without my permission! Read, like and comment as your pleasure. Enjoy^^~

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

♥~♥~♥

Yeon mematut dirinya di depan cermin, sesekali mendesah. Ia menyesal karena menangis terlalu lama tadi malam, bahkan ia rasa jam 2 tadi malam ia masih terjaga. Sekarang lihat, matanya tampak bengkak dan lingkaran hitam sudah tercipta meskipun samar-samar. Gadis itu membubuhkan bedak tipis ke permukaan wajahnya. Yah, sedikit membantu.

Gadis itu mengambil kacamata hitam yang tersimpan di laci cermin besarnya. Lantas memakainya.

Ia keluar dari kamar. Tersenyum tipis saat melihat kedua Eonni-nya tengah siap di meja makan untuk sarapan. Gadis itu mencoba menyapa dengan nada ceria. Berharap tidak ada yang menyadari suasana hatinya yang sedang buruk. Menutupi perasaan sedihnya kepada kedua orang itu. Ia mungkin akan cerita, tapi bukan saat ini.

Yeon bukan tipikal orang yang suka menyembunyikan perasaannya. Tapi untuk masalah yang satu ini, entah mengapa ia merasa harus kuat dan tidak menumpahkan begitu saja perasaan sedihnya kepada orang lain. Untuk yang satu ini–pengecualian.

“Yeoh-ah! Sarapan dulu!” panggil Shin-Hye, tidak terlalu nyaring namun cukup untuk sampai ke telinga Yeon.

Dwaesoyo Eonni, aku sarapan di luar saja. Aku sudah hampir terlambat.” Yeon memakai sepatu kets hitamnya lalu membuka pintu dorm.

“Yeon, biar aku antar!” Kali ini Minri angkat suara. Gadis itu terburu-buru sekali. Dan sekarang ingin berangkat sendirian? Naik apa dia?

“Err… Sehun Oppa sudah menunggu di bawah. Aku pergi dulu ya Eonni, annyeong,” jawab Yeon berbohong. Dia tidak punya ponsel pribadi, lalu bagaimana caranya menghubungi Sehun? Gadis itu meringis, tidak enak hati karena sudah berbohong pada Eonni-nya.

Gadis itu mempercepat langkah kakinya menuruni tangga, lalu bernapas lega setelah keluar dari gedung apartemen bertingkat itu. Matahari cukup cerah, mendukungnya untuk tetap memakai kacamata hitam itu agar bertengger di wajahnya yang agak kecil. Sekarang apa yang harus dilakukannya? Naik bis? Ya, ia harus segera menaiki angkutan umum itu sebelum terlambat sampai di gedung SM. Kemarin pelatih memberitahukan padanya bahwa akan ada pelatih baru yang sementara menggantikan pelatih lama untuk melatih dance para trainee.

Yeon setengah berlari menuju halte bis. Ia terlonjak ketika ada yang membunyikan klakson tepat di sampingnya, membuatnya perlu mengelus dada, menyelamatkan jantungnya yang malang. Kalau lupa ia sedang bergegas, pasti Yeon sudah meneriaki orang itu dengan kosakata makian yang ia punya.

Pengemudi dalam mobil Ferrari putih itu menurunkan setengah kaca mobilnya, lantas melambai meminta Yeon mendekat.

“Sehun Oppa?” tanya gadis itu tidak percaya. Ia tidak bersuara, hanya menggerakkan mulutnya. Sehun memberikan isyarat agar Yeon cepat-cepat masuk. Gadis itu melirik ke kiri dan kanannya sebelum masuk ke kursi bagian depan.

“Minri tidak mengantarmu, ya?” tanya Sehun setelah ia menjalankan mobilnya. Membelah jalanan Seoul yang mulai tampak ramai dipenuhi aktifitas penduduknya.

“Aku bisa pergi sendiri, aku bukan anak kecil lagi, dan aku tidak ingin merepotkan Minri Eonni terus-menerus,” sungut Yeon. “Kenapa Oppa bisa ada disini?” Gadis itu menghadapkan wajahnya pada Sehun.

“Hanya kebetulan lewat,” jawab Sehun. Kemudian membanting setir ke kanan setelah lampu lalu lintas berubah hijau. “Apa kau sudah tahu kalau Luhan Hyung pergi ke China?”

Yeon berhenti memandangi Sehun, ia membuang pandangannya ke jalan. Lalu menjawab, “Sudah tahu.”

Hening. Tidak ada yang bicara lagi, sampai lima belas menit mereka sampai ke tempat yang ingin dituju Yeon.

Oppa, sudah sampai. Terimakasih sudah mengantarku, annyeong.” Yeon membuka pintu mobil tepat di depan gedung SM, lalu menatap bangunan tinggi itu sebentar, sebelum memekik kaget karena ia lupa bahwa ia tidak boleh terlambat. Gadis itu berlari ke dalam gedung.

Sekitar 5 menit barulah Yeon tiba di ruangan yang ditujunya. Gadis itu mendekat ke pintu, kemudian mendengar suara yang agak ribut dari dalam, lantas memegang kenop pintu dan membukanya. Semua mata tertuju padanya, tapi entah mengapa pandangan mata mereka itu tampak berbinar senang. Memangnya apa yang sedang terjadi?

Annyeonghaseyo, ne joseo jwesonghamnida (Hello, maaf saya terlambat).” Yeon membuka pintu lalu menyembulkan kepalanya ke dalam. Ia membungkukkan badannya.

Gwaenchanayo, silakan masuk,” ucap seorang pria. Ah, pasti itu pelatih baru.

Kamsahamnida,” ucap Yeon seraya kembali menegakkan tubuhnya. “Omo! Taemin Sunbae?” Gadis itu menatap tidak percaya pada orang di depannya. Bagaimana mungkin seorang dancing machine SHINee akan melatih mereka? Ah, otteokhe?!

“Kau tidak ingin masuk barisan nona?” ucap Taemin membuyarkan kekaguman gadis itu padanya. Yeon mengangkat kedua bibirnya, mencoba tersenyum. Dia merasa sedikit gugup. Gadis itu meminta maaf lagi, sebelum masuk barisan, berbaur bersama trainee yang lain.

Yeon tahu betul siapa pria itu. Lee Taemin. Salah satu anggota boy-grup yang debut tahun 2008 lalu. Dia sedikit menyesal karena tidak bertemu Taemin lebih awal. Pria itu tampak hebat, kemampuan dance-nya sudah tidak diragukan lagi. Yeon tahu kalau Minri sering bertemu anggota-anggota SHINee karena Minho–kekasih Minri adalah salah satu anggotanya. Hubungan mereka pasti sangat dekat, pikir Yeon.

Sudah lebih dari setengah jam, gadis itu mengikuti instruksi yang diberikan Taemin. Sesekali mencibir karena gerakan yang dicontohkan Taemin terlalu sulit. Hey,Yeon masih pemula, kau tahu?!

Yeon terkesiap ketika nada dering ponsel–entah punya siapa–berbunyi. Lagu History milik EXO-M memenuhi ruangan. Tiba-tiba gadis itu melamun, teringat Luhan yang pergi hari ini. Ia bahkan tidak bisa mengantarkan pria itu Ke Bandara Incheon. Dan lagi, Luhan pamit dengan cara yang kurang baik.

Taemin kembali memberikan arahan kepada para trainee. Kemudian memusatkan perhatian pada seorang gadis yang sejak tadi tidak memperhatikannya. Taemin mendengus kesal. Meskipun Taemin masih muda, setidaknya gadis itu bisa menghargainya sebagai Sunbae. Kemudian Taemin mendeham keras.

“Siapa saja yang tidak ingin ikut latihan hari ini, boleh keluar sekarang. Pintu keluarnya ada di sebelah sana.” Tunjuk Taemin pada pintu ruang latihan. Suara Taemin yang nyaring terdengar seperti sedang marah.

Suasana mendadak dingin. Lamunan Yeon buyar. Segera ia membungkukkan badan.

“Aku minta maaf, aku sangat menyesal. Maaf,” ucap Yeon lalu berlari ke luar ruangan. Air matanya hampir tumpah, tapi sempat ia tahan hingga ia tiba di tempat kesukaannya. Taman belakang yang penuh dengan mawar merah.

Menangis sejadi-jadinya.

Otteokhe?!

***

“Jadi kau keluar dari kelasku dan memilih membolos disini?”

Buru-buru Yeon menghapus air matanya, lalu berdiri dan membungkuk sopan. Jantungnya hampir melompat keluar saking terkejutnya.

Mianhamnida, Sunbae,” ucap Yeon pelan.

Taemin mendecak tidak percaya sembari menggelengkan kepalanya. Kemudian ia mengambil tempat duduk di samping Yeon, sementara gadis itu menggeser duduknya, memberikan lebih banyak ruang untuk Taemin.

“Kau pikir semudah itu keluar dari kelasku?” Tanya Taemin dengan nada serius, mengharuskan Yeon untuk waspada. Yeon memang melakukan kesalahan tadi. Tidak memperhatikan Taemin. Tiba-tiba ia takut dilaporkan pada manajer. Status trainee-nya akan terancam.

“Maksud Sunbae?

“Skuad Jump 50 kali!”

Yeon membulatkan matanya, menelan ludah dengan susah payah. Gadis itu berdiri perlahan. Berat hati. Namun akhirnya melakukan juga.

Taemin menghitung. Pria itu menahan tawanya agar tidak meledak. Sebenarnya ia hanya ingin mengerjai hoobae-nya saja. Wajah gadis itu ketika terkejut, benar-benar lucu.

Yeon menghitung sendiri di dalam hati. Saking konsentrasinya ia sampai lupa keadaan di sekitarnya. Hingga sampai hitungan yang ke 50, gadis itu menghela nafas. Yeon menyelonjorkan kakinya di rerumputan setelah selesai menjalankan hukuman dari pelatih dance sementara. Ia tidak menyadari bahwa Taemin sempat pergi membeli minum, lalu kembali lagi ke tempat semula. Taemin menyodorkan air mineral itu pada Yeon.

Mianhamnida, Sunbae.” Yeon kembali membungkuk dan menyembunyikan air matanya. Gadis itu kembali teringat pada Luhan. Ia tidak akan sesedih ini jika Luhan pergi dengan meninggalkan senyum manisnya, tapi kemarin Luhan benar-benar dalam keadaan marah besar!

“Sudahlah. Jangan minta maaf terus menerus.”

Mianhae… mianhae…” Yeon mengangkat wajahnya yang sudah penuh dengan air mata, membuat Taemin panik.

Mwo? Kau menangis karena aku hukum? Yeon Young-ssi, aku hanya bercanda. Ayolah, jangan membuatku takut seperti ini.” Taemin mengitari pandangannya ke sekitar, berharap tidak ada orang yang melihat mereka berdua.

Bukannya diam, tangisan Yeon malah semakin mengencang. Gadis itu menunduk, bahunya bergetar.

Taemin mengangkat tangannya di udara, ingin merangkul gadis itu. Tapi menarik tangannya lagi karena merasa bukan haknya menyentuh gadis itu. Taemin kembali mengangkat tangannya di udara, cukup lama. Hingga akhirnya ia meletakkan di bahu gadis itu. Menepuknya pelan. Sebentar saja, sebelum menarik tangannya kembali.

Setelah beberapa menit berlalu, Yeon sudah bisa tenang. Entah dapat dorongan dari mana, Taemin berani bertanya pada gadis itu.

“Kenapa kau tampak sesedih ini? Apakah hal ini pula yang menyebabkan kau tidak konsentrasi saat latihan?”

“Luhan Oppa, dia berubah. Sepertinya ia tidak sayang padaku lagi.”

“Kau punya hubungan khusus dengan Luhan Hyung?” Tanya Taemin seraya mengerutkan kening.

Ne?” Yeon menampakkan wajah bodoh, sebelum akhirnya menepuk jidatnya sendiri. Baru ingat bahwa tidak ada yang tahu hubungannya selain anggota EXO, Minri dan Minho. Sekarang bertambah satu lagi.

Tidak ada alasan untuk mengelak, hingga Yeon menceritakan semuanya pada Taemin. Yeon sendiri merasa bahwa Taemin bukan orang yang salah kalau mengetahui masalah ini. Pria itu pasti bisa menjaga rahasianya, kan?

Taemin mengerti. Pria itu memberi masukkan sepengetahuannnya. Hingga akhirnya Yeon menyimpulkan sendiri.

“Jadi Luhan Oppa cemburu padaku? Makanya dia bersikap seperti itu? Yeon pabo!”

***

Minri duduk sendirian di kantin kampus. Menyumpah-nyumpah saat karakter manga yang ia mainkan dalam PSP-nya, kalah. Gadis itu hampir melempar PSP putihnya ke atas meja, tapi terhenti mengingat betapa sulit ia mendapatkan benda persegi panjang itu.

Gadis itu sudah selesai kuliah. Tapi ia belum ingin pulang ke dorm, karena merasa jenuh. Ia ingin mendapatkan suasana baru. Suasana normal layaknya mahasiswa biasa. Gadis itu sedikit menegakkan duduknya ketika seorang pria menarik perhatian beberapa mahasiswi. Mereka mengarahkan kamera ponselnya pada pria itu.

“Park Chanyeol?!” pekik Minri tidak sengaja meloloskan kata itu dari mulutnya.

Chanyeol terus berjalan menghampiri Minri, sesekali tersenyum pada mahasiswi yang menatapnya penuh minat, terang-terangan dan tanpa rasa malu. Ish! Dasar wanita!

“Ternyata aku cukup populer ya, disini.” Chanyeol menyombong, lantas membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Populer kepalamu!” Minri mencibir. Masih bertahan diposisi duduknya lalu menyeruput milk shake yang sejak tadi menemaninya. Chanyeol duduk seenaknya lalu merebut minuman itu dari Minri, tanpa izin meminumnya sampai habis.

“YAK! Aish!” Sekarang mereka menjadi pusat perhatian oleh penghuni kampus yang sedang berada di kantin, dan beberapa yang baru datang. “Untuk apa kau kesini?” Tanya Minri akhirnya, ia tidak bisa berlama-lama membiarkan Chanyeol disini. Lalu menjadikan Minri sasaran empuk para gadis genit itu. Bisa saja kan setelah ini Minri diinterogasi macam-macam. Atau lebih parah dimintai pertolongan meminta tanda tangan pria bernama Park Chanyeol ini.

“Minho Hyung memintaku membawamu ke dorm SHINee. Kau tidak membawa mobil, kan?”

Minri mematikan PSP-nya lalu menatap Chanyeol dengan pandangan bingung. Pertama, kenapa dia bisa tahu kalau Minri sedang tidak membawa mobil. Kedua, untuk apa Minho meminta Chanyeol menjemputnya. Lalu ketiga, tumben sekali pria jangkung ini mau disuruh.

“Ya, kau dengar tidak?” Chanyeol mengguncang tubuh gadis itu yang kemudian menepis tangan Chanyeol di pergelangan lengannya.

“Kau diberikan apa oleh Minho, hingga mau bersusah payah seperti ini?” Tanya Minri sembari menyipitkan mata, bertanya penuh selidik.

“Koleksi komik slam dunk yang belum aku punya,” bisik Chanyeol

“Apa?! Tidak mungkin. Ia tidak akan memberikan buku-buku tercintanya itu pada orang lain.”

Chanyeol mengendikkan bahu lantas berkata, “Ia bilang akan merelakan apapun, demi kau.”

“Cih! Dia bisa bangkrut kalau minta tolong denganmu terus-menerus.”

“Ayo!” paksa Chanyeol. Pria itu menarik tangan Minri lalu membawanya ke mobil. Tidak peduli meskipun gadis itu kepayahan membawa tas ransel dan PSP-nya.

***

Minri membuka pintu dorm setelah Chanyeol bersedia mengantarnya sampai ke depan pintu. Gadis itu sudah memaksa Chanyeol untuk tidak perlu mengantarnya sejauh ini, tapi ternyata pria itu lebih keras kepala.

Gadis itu terkesiap saat menemukan beberapa orang di ruang tamu, salah satunya adalah gadis yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Yang lebih mengejutkan, gadis itu tengah memeluk Minho dengan erat. Minho yang kebetulan membelakangi pintu tentunya tidak mengetahui keberadaan Minri. Apakah pria itu memanggilnya untuk menunjukkan ini? Tiba-tiba dadanya sedikit berdenyut.

Key menyadari kehadiran Minri lantas menyapa menyapa gadis itu, sementara Jonghyun memberikan isyarat pada Minho bahwa ia harus melepaskan pelukannya karena Minri sudah tiba. Ya, sebaiknya pria itu segera melepaskan pelukannya sebelum Minri memutuskan untuk pergi.

“Hai, Minri-ssi,” sapa Minho setelah ia membalikkan badannya dan tersenyum canggung.

Nuguseyo?” tanya gadis asing itu dengan wajah juteknya.

Ige mwoya?! Minri hampir kehilangan keseimbangan untuk berjalan mendengar Minho menyapanya dengan formal seperti itu. Ketika pertama kali bicara saja, pria itu sudah berani bicara banmal pada Minri. Lantas, atas alasan apa pria itu memanggilnya dengan embel-embel –ssi?

Minri melangkahkan kakinya masuk lalu sejenak menundukkan kepala, hanya sekedar menyapa tanpa harus berkata apa-apa.

“Kim Seul-Mi, sebaiknya kita ke dapur. Aku baru saja selesai membuat kue.” Key menyudahi keheningan dengan menarik tangan gadis itu, meskipun kelihatan sekali bahwa gadis bernama Seul-Mi itu tidak mau jauh-jauh dari Minho.

Shireoyo, aku baru saja bertemu dengan Minho Oppa.” Seul-Mi merengek, tapi akhirnya mengalah setelah Key memberikan tatapan tajamnya. Siapa sebenarnya gadis itu? Hingga ia berani memanggil Minho dengan sebutan Oppa? Minri rasa ia akan tahu jawabannya setelah menanyakan jawabannya langsung dengan Minho.

Kini ruang tengah itu sepi. Hanya ada Minri dan Minho. Minho mendelik ke arah dapur. Setelah memastikan keadaan aman, pria itu segera menarik tangan Minri memintanya untuk duduk.

“Gadis menyebalkan!” Gumam Minho.

Mnri menghadapkan wajahnya pada Minho, mengerutkan kening karena bingung. Minho baru ingat kalau ia harus menjelaskan sesuatu pada gadisnya, segera menatap Minri balik.

“Kau pasti bingung, kenapa tadi aku bicara formal padamu, kan?”

Minri mengangguk.

“Aku hanya tidak ingin orang lain tahu tentang kedekatan kita. Sejauh ini hubungan kita baik-baik saja jika tak banyak orang yang tahu, kan? Dia sepupu Jonghyun Hyung yang baru datang dari Hokkaido, Jepang. Namanya Kim Seul-Mi. Dia bekerja sebagai model. Kami sudah saling mengenal cukup lama. Itulah mengapa dia tampak sangat dekat dengan kami. Ku harap kau mengerti. Tapi tenang saja, dia tidak akan lama tinggal di Seoul.”

Minri membulatkan mulutnya, lalu mengangguk mengerti. Minho tersenyum, ia bahkan lupa memberikan senyuman untuk gadisnya hari ini. Kemudian pria itu menarik pinggang Minri hingga mendekat. Minri tidak memprotes perlakuan Minho, ia merindukan kekasihnya, mereka sering sibuk sehingga jarang bertemu. Minri menyandarkan kepalanya di bahu Minho, kemudian menghela nafas. Merasakan kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhnya ketika tangan pria itu merangkul pinggangnya.

“Untuk apa kau memanggilku kesini?” tanya Minri tanpa berniat menjauhkan kepalanya dari bahu Minho.

“Aku ingin mengajakmu makan siang bersama.”

“Makan siang?!” Sahut seorang gadis yang entah sejak kapan ia berada di belakang sofa dengan jarak beberapa meter. Sontak Minho dan Minri menjauhkan tubuh mereka, lalu menoleh ke belakang.

“Aku ikut ya, Oppa? Kita sudah lama tidak bertemu, jebal…, tidak apa-apa juga kan kalau aku ikut. Lagi pula hubungan kalian kan hanya teman, jadi setidaknya aku bukan pengganggu kalian.” Ucap gadis itu cepat.

Minri menatap Minho sembari mengangkat alisnya, seolah-olah bertanya apa keputusan Minho.

“Seul-Mi-ya, lebih baik kau makan siang dengan kami saja.” Onew sedikit tidak tahan karena gadis itu terus mengganggu Minho–ikut bicara.

Andweyo! Aku ingin makan di luar bersama Minho Oppa.” Sepertinya gadis itu benar-benar tidak ingin mengubah keputusannya. Tanpa ada yang tahu Minri memutar bola matanya, sedikit kesal.

Gwaenchanayo, biarkan Seul-Mi-ssi ikut.”

Minho menatap gadis di sampingnya dengan pandangan tidak percaya. Sementara Minri segera berdiri.

“Baiklah,” ucap Minho pasrah. Kemudian terdengar pekikan senang dari gadis asing itu.

***

Minho dan Seul-Mi duduk berdampingan sementara Minri berada di seberang Minho. Tampaknya pria itu tidak nyaman dengan kehadiran Seul-Mi. Sepupu Jonghyun itu terus saja lengket dengan Minho, sambil sesekali bergelayut manja. Minri ingin sekali memarahi Minho yang hanya bisa pasrah menerima perlakuan gila gadis yang lebih mirip anak balita itu.

Minri mencoba memusatkan perhatian pada makanan di depannya. Dengan cepat ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya agar jika habis, ia bisa pergi dari sini. Minri sedikit membanting sendoknya saat gadis itu semakin bersikap manja. Minta disuapi? Apa-apaan dia!

Dari gelagat gadis itu, sangat tampak kalau dia menyukai Minho. Terang-terangan ia bersikap manja dihadapan Minho. Tapi, apakah Minho menyadarinya? Entahlah. Tapi Minri yakin kalau Minho menyadarinya.

Kalau saja Minri lupa bahwa gadis itu sepupu Jonghyun, ia bersumpah akan menumpahkan minuman ke wajah gadis yang pura-pura inosen itu. Cih!

“Aku selesai. Maaf Minho-ssi aku harus segera pergi.” Minri mengambil tisu lalu mengelap mulutnya. Ia menyampirkan tasnya ke sebelah kanan, kemudian berlalu pergi tanpa menunggu persetujuan Minho. Seakan tergesa-gesa.

“Minri-ya!” panggil Minho di luar kendali. Lantas Minri menghentikan langkahnya.

Oppa, habiskan makanannya! Ini enak sekali.” Minri kembali mendengar suara gadis itu. Tanpa ragu ia meneruskan langkahnya keluar restoran.

Minri berlari menjauh, sesekali menggerutu karena tingkah menyebalkan dari gadis bernama Seul-Mi itu. Ia terus berjalan tanpa tujuan hingga suara familiar seorang pria memanggilnya.

***

Gomawoyo, Baek Hyun-ah.” Minri menyambut sekaleng minuman coklat hangat yang diberikan Baek Hyun. Mereka berdua sedang duduk di kursi sebuah taman yang berada di pusat kota.

Baek Hyun tersenyum, lantas ikut meneguk minumannya. Tidak begitu banyak orang di daerah itu sehingga Baek Hyun dengan leluasa menurunkan maskernya. Mereka bicara cukup banyak, karena Minri kembali bertanya pada Baek Hyun tentang pelajaran vokal. Mereka bahkan tidak membahas darimana mereka tadi sehingga bisa bertemu di depan taman ini.

Hingga akhirnya mereka kehabisan bahan pembicaraan. Minri memutuskan untuk memejamkan matanya, menikmati senja. Lagi-lagi bersama Baek Hyun. Dia baru menyadarinya.

Hening.

Minri menyandarkan kepalanya ke bangku taman. Kepalanya hampir terbentur ke kursi kayu itu kalau saja Baek Hyun tidak menyelamatkan kepala gadis itu. Benarkah dia tertidur? Pelan-pelan Baek Hyun menyandarkan kepala gadis itu dibahunya. Tidak ada reaksi, membuat Baek Hyun yakin kalau gadis itu benar-benar tidur.

Baek Hyun menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah gadis itu. Lagi-lagi dia terpesona. Berada dalam jarak sedekat ini membuat Baek Hyun hampir kehilangan akal sehatnya. Ia nyaris mengecup kening gadis itu, tapi untunglah otaknya masih berfungsi dengan benar.

Ia baru saja mendengar deru mobil yang lewat di depan mereka berdua. Tampak terburu-buru.

Minri menegakkan tubuhnya, menyadari bahwa tadi ia sempat tertidur.

Mianhaeyo,” ucap gadis itu sembari membenarkan rambutnya.

Gwaenchana, kau bisa meminjam bahuku kapanpun kau mau.”

***

Sudah seminggu semenjak kejadian itu. Minri tidak bertemu Minho lagi. Setahu Minri, pria itu terlalu sibuk dengan gadis manjanya. Sebenarnya Minri tidak terlalu mempermasalahkannya, mengingat seminggu terakhir Minri juga dalam masa sibuk. Jadi, kalaupun pria itu punya waktu sementara Minri tidak, mereka tidak bisa bertemu juga, kan?

Hanya saja ada sedikit hal yang membuat Minri khawatir. Masihkan pria itu memikirkannya saat bersama gadis manja itu? Mungkinkah perasaan pria itu berubah karena lebih terbiasa dengan kehadiran wanita yang bukan kekasihnya? Tapi Minri percayakan semuanya pada Minho, pria itu tidak mungkin menyia-nyiakan hubungan mereka yang sudah cukup lama. Minri cukup menyesali mengapa ia tidak menghubungi pria itu selama mereka tidak bertemu, harusnya sesibuk apapun mereka, masih bisa menyapa satu sama lain meskipun hanya melalui pesan singkat. Eh, tapi kenapa pria itu juga tidak menghubunginya, ya?

Kebetulan hari ini Minri sedang free, ia menanyakan pada Key tentang kegiatan SHINee. Dan pria itu mengatakan bahwa mereka akan perform special stage di Inkigayo, berarti mereka berada di gedung SBS, kan?

Minri baru saja akan menelpon Minho, menanyakan dimana letak fiiting room yang mereka gunakan. Tapi dengan segera gadis itu menekan tombol merah, untung saja panggilan belum terhubung. Ia kembali memasukkan ponsel ke saku jaketnya.

Gadis itu tersenyum geli melihat barang bawaan yang ia bawa. Waktu itu dia meminta saran pada Shin-Hye, benda apa yang sebaiknya diberikan Minri kepada Minho, mengingat mereka sudah tidak berjumpa selama seminggu. See? Gadis itu malah meminta Minri memasakkan makanan. Ck! Menyusahkan! Tapi sepertinya akan berkesan. Awas saja kalau pria itu sampai memuntahkannya, karena Minri sudah rela memegang spatula dan membuat beberapa jarinya tergores manis oleh pisau.

“Minri-ya!” gadis itu mendongak saat mendengar ada yang memanggilnya. Key? Sedang apa dia disini? Bukannya sebentar lagi mereka tampil? Harusnya dia berada di fitting room bersama member lainnya.

“Dimana Minho, Key-ya?” ujar Minri seolah tak perlu lagi membalas sapaan Key.

“Dia di fitting room. Ruangannya di lantai 2 koridor kiri. Nanti juga ada papan namanya.”

Thanks.” Minri melanjutkan langkahnya. Sesekali bersiul riang. Setelah menemukan ruangan yang tepat. Ia membuka pintu perlahan.

Tiba-tiba matanya memanas. Kakinya benar-benar terasa lemas. Rantang makanan yang ia pegang terlepas begitu saja. Dan yang memperparah keadaan, hatinya seperti ditusuk ribuan pisau berkarat. Sakit. Perih. Dan rasanya ingin mati saja. Mata mereka sempat bertemu tapi pria itu tetap saja melakukannya. Mencium wanita yang bukan kekasihnya. Di depan kekasihnya sendiri.

TBC

© Charismagirl

Huwooo~ apa yang terjadi? ._.//plakk. Kim Seul-Mi hanya tokoh imajinasi-_-v Oh iya masalah Luhan dan Yeon belum selesai loh yaa ==a ya udah deh ditunggu komennya. Sorry for typo and thanks for read ^^

Love, More Than Word – chapter 5

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.