[FF] The Cruel Marriage – TRAGEDY 1

Title : The Cruel Marriage

Author: Chinchi a.k.a Kim Sujin + ReeneReenePott

Cast:

  • Choi Minho
  • Jung Soojung
  • Choi Younghyeon (covered by Shanon William)
  • Bae Suzy

Minor cast:

  • Shim Syerin (OC)
  • Kim Heechul
  • Kim Soohyun
  • (Other still hidden in the story)

Genre: Romance, AU, sad.

Rating: PG-16

Length: Sequel

Disclaimer: The story pure belonged to me, but all of the casts belong to themselves. Don’t be a plagiator or reblog my fanfic without permission–chinchi–

N.Bseperti yang sudah di post Chinchi eon di FFindo, part ini gak banyak perubahannya. Hanya dirapihin aja.

RESPONSE PLEASE and HAPPY READING.

‘Benci dan cinta, percaya atau tidak selalu menuntut pengorbanan..’

|Chinchi+reenepott Present|
reenepott_storyline©2012

THE CRUEL MARRIAGE:

TRAGEDY 1

Minho’s POV

Flashback

Aku melihatnya sedang menunduk di taman itu, kedua telapak tangannya menutup wajahnya yang cantik. Bahunya bergetar samar, membuat hatiku entah mengapa merasa terluka. Dengan langkah perlahan, aku berjalan mendekatinya.

“Chagi, waeyo?” sentuhan di bahu membuatnya terperanjat, sesuai dugaanku. Ketika wajahnya menengok ke arahku dia sedang menangis. Mata beningnya ternodai bulir-bulir kaca cair yang hangat, kedua pipinya merona merah bukan karena merasa tersipu tapi sedih. Gadisku, menangis dan aku benci melihat air mata itu.

“Oppa….Mianhae, ak—aku hamil!” jadi ini yang membuat gadisku menangis? Tapi, mengapa? Aku malah senang dengan berita ini, aku akan mempunyai anak dari gadis yang aku cintai, dan dengan ini pula aku bisa menikahinya.

“Ssssttt, uljima. Mengapa kau menangis? Aku malah senang dengan berita ini, kalau begitu aku bisa mempunyai seorang anak darimu,” seketika kepalanya menegak sempurna, wajahnya yang tertutup helai rambut tersibak, memperlihatkan mata bening hitam yang berkilauan itu.

“Hajiman, oppa. Tapi, bukankah ini bisa mencoreng nama baikmu dan keluargamu. Ingat oppa, kita berbeda kasta. Aku hanya orang rendahan yang beruntung bisa menjadi kekasih seorang Choi Minho, pewaris tunggal Choi Company. Aku tidak akan bisa bersanding denganmu, jebal oppa. lebih baik kita putus saja, aku tidak mau kau kena masalah. Soal anak ini biarkan aku yang merawatnya, kau carilah yeoja berstatus baik-baik dari keluarga yang sepadan. Dari awal memang hubungan ini sudah—“

“KEUMANHAE!” aku mencengkram bahunya, ia sudah seperti orang kesetanan yang linglung. Kenapa ia dengan mudahnya meminta aku untuk mencari gadis lain sementara gadis yang sangat kucintai adalah gadis yang duduk di sampingku saat ini.

“Kau pikir aku ini namja seperti apa Soojung-ah? Kau pikir aku sama seperti namja lain, sehabis menghamili pacarnya lalu pergi dan tidak mau bertanggung jawab? Aku bukan namja nista macam itu, aku mencintaimu Soojung dan apapun yang terjadi tidak akan aku biarkan kau merawat anak itu sendirian. Dia bukan hanya anakmu tapi anak kita!”

“Oppa, kau tidak mengerti. Seharusnya memang ini kita hentikan! Aku..aku..”

“Jung Soojung! Aku tidak pernah perduli kastamu, siapa dirimu, dan apapun itu. Yang aku cintai di sini adalah Soojung yeoja periang, tegas, dan energik yang selalu tersenyum untuk semua orang. Dan satu lagi, aku akan menikahimu!”

Flashback end

Sudah 10 tahun Soojung, sudah 10 tahun sejak kau meninggalkan aku dan Younghyeon, anak kita. Pergi dengan lelaki lain dan membiarkan gadis kecil kita bertanya-tanya padaku kemana kau pergi. Sakit hati dan cinta ini masih terus berlanjut seiring berjalannya waktu, aku memang seorang pria yang menyedihkan, dan itu semua karena gadis itu. Gadis yang paling aku benci dan cintai.

Aku duduk sambil menghela nafas, mengitari pandangan menelusuri taman yang hampur 10 tahun tak kukunjungi, taman yang menjadi saksi bisu bagaimana aku dan Soojung pernah bertemu, seorang gadis di sampingku menyenderkan kepalanya ke bahuku. Sibuk memandang ke depan dengan tatapan kosong.

“Dad, this is the place when you met mom for the first time?”

“Younghyeon, appa bilang bicaralah bahasa Hangeul. Kau bukan di Amerika lagi, tapi Korea.” Kataku mengalihkan pembicaraan, pembicaraan yang sudah pasti akan mengoyak luka ini semakin dalam.

“Dad, aku tidak biasa pakai Hangeul. Rasanya aneh, dan aku tidak suka dad.”

“Kau baru saja bicara dengan Hangeul yeoja muda!”

“Ne, tapi dengan logat dan cara bicara yang berantakan. Siapa suruh aku dibesarkan di Amerika? Dad tahu, aku lebih menyukai Amerika dari pada Korea, though this is my birth place.”

“Suatu hari nanti kau akan tahu mengapa itu terjadi, nak. Sekarang, kita pulang halmeonimu pasti akan marah kalau kita belum sampai sesuai waktu yang dijanjikan!”

“I don’t want Dad!” gadis kecil itu menarik tanganku agar tak berdiri, raut wajahnya berubah cemas dan tampaknya aku tahu kenapa.

“Hyeon-ah, halmeoni sangat merindukan kita. Untuk itu kita pulang ke sini!”

“Apa Granny orang yang baik?” seperti dugaanku, dia takut pada neneknya sendiri.

“Ye, Halmeoni orang yang sangat baik. Dan ia sayang padamu princess. So, let’s go home!” aku merangkul tubuh mungilnya menuju mobil yang terparkir di luar taman.

“Dad, kau baru saja pakai bahasa Inggris!” gelaknya, aku memang pernah bilang untuk tidak pakai bahasa inggris saat berada di Korea, dan dengan cermatnya ia mengkoreksi.

“Kau juga, malah lebih sering,” ia meniup pipinya sehingga mengembung, sangat lucu.  Sampai aku sendiri gemas dan tidak tahan untuk mencubitnya. Younghyeon mengerang kecil, tangannya juga tidak mau tinggal diam. Ia menggelitik pinggangku.

Hari ini selalu penuh dengan tawa bersamanya, anakku. Gadis periang, energik, dan tegas sama seperti ibunya. Soojung, dimanapun kau berada kuharap entah kapan, kau akan kembali. Meskipun aku tahu harapan ini hanyalah kekosongan belaka. Tidak Minho, kau tidak boleh terus berharap pada gadis yang telah meninggalkanmu dan menelantarkan anakmu! Memangnya pernah dia menanyakan keadaan Younghyeon? Tidak, dan aku sangat membenci gadis itu. Aku sangat membencimu Soojung, aku kecewa padamu.

Author’s POV

Jingga mewarnai langit sore, matahari telah berufuk di barat kembali pada peraduan. Wanita paruh baya itu meminum cangkir berpola aster miliknya—lebih tepatnya teh yang menjadi isinya. Ditemani seorang pelayan tua yang usianya terlihat melebihi dirinya, ia menyandarkan punggung pegalnya pada sandaran kursi sembari memandang langit sore aktifitas khas seorang tua pada umumnya.

Pandangannya terlihat menerawang entah kemana, “memikirkan sesuatu nyonya Choi yang terhormat?” gadis berusia muda berkata sambil mengambil tempat duduk di samping wanita itu, seukir senyum licik terlihat di wajahnya.

“Ah, kau Suzy. Bagaimana harimu?” basa-basi yang jelas menyita waktu, si gadis bernama Suzy itu berdecak saat teh dalam cangkirnya melewati lidah. “Hmm, seperti yang biasa. Menyenangkan, oh ya apakah anakmu itu sudah pulang. Aku tidak sabar melihatnya,”

“Seharusnya 30 menit yang lalu kau sudah melihat wajahnya, tapi kurasa Younghyeon mengajak appa-nya itu mampir ke suatu tempat. Kebiasaan anak kecil.” Jelasnya santai.

“Heuh, anaknya. Mengapa kau membiarkan anak haram itu ikut pulang? Kaukan bisa menugaskan orangmu untuk merawatnya dan membiarkannya di Amerika.” Suzy memutar bola matanya bosan, gadis itu benci sekali membicarakan anak gadis Minho.

“Jaga omonganmu nona Baek Suzy, dia adalah cucuku dan calon pewaris Choi Company. Jika mulut liarmu itu masih menganga dan mengeluarkan hinaan yang sama, jangan salahkan aku kalau pelayanku akan menendangmu keluar!” ancam nyonya Choi tajam.

“Ups, Sorry. Tapi, mengapa kau begitu menyayangi anak itu sementara kau sendiri benci pada eomma-nya?” pertanyaan Suzy seketika membawa nyonya Choi menerawang kembali pada masa lalu. Saat dimana ia berubah kejam hanya untuk menghancurkan seorang gadis yatim piatu yang sama sekali tidak bersalah.

Flashback

Soojung menangis sambil bersimpuh di depan nyonya Choi, isakannya begitu terdengar menyakitkan. Bila orang lain akan mengumpulkan rasa simpati mereka untuknya, bahkan wanita di depannya itu tidak akan melakukan hal yang sama, tidak ada kesudian serta belas kasih untuk Soojung baginya.

“Nyonya, ku mohon jangan gusur panti asuhan itu, kasihanilah anak-anak tak berdosa yang tinggal di sana. Ku mohon nyonya, aku berjanji akan melepas Minho dan pergi sejauh mungkin dari kehidupannya.” Alis Nyonya Choi terangkat, bibirnya naik ke sudut kanan menciptakan seringaian jahat.

“Joa, kau hanya harus mengikuti permainanku. Aku akan berpura-pura menyetujui pernikahanmu dengan Minho, kemudian setelah anak harammu itu lahir tinggalkan dia bersama Minho, bilang padanya bahwa selama ini kau berselingkuh dan telah menemukan namja yang lebih baik darinya. Untuk selanjutnya terserah kau mau apa, yang pasti tinggalkan mereka berdua!” sentak wanita itu. Lihat bagaimana kejamnya dia, hanya karena sebuah kasta yang membedakan anaknya dengan gadis itu ia tega berbuat sepicik itu. Tapi, itu baru permulaan. Bukan ular kalau dia hanya punya 1 rencana untuk memisahkan keduanya, ia akan memastikan sendiri bahwa keduanya benar-benar tidak dapat bertemu untuk selamanya.

Soojung terpaksa mengikuti segala permainan Nyonya Choi, ia menikah dengan Minho dan setelah 9 bulan mengandung, anaknya lahir. Seorang bayi perempuan yang manis dan cantik.

“Yeobo, kau mau melihat anak kita, tidak? Dia sangat yeppo seperti eommanya.” Kata Minho, tangannya merangkul pundak istrinya yang terduduk di ranjang pasca melahirkan.

“Mianhae oppa, aku tidak mau melihat anak itu,” serasa dihimpit batu, Minho dan Soojung merasa sesak. Minho tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya yang dengan gamblang menolak melihat darah dagingnya sendiri, sementara Soojung sangat menyesal mengatakan hal itu, namun ini ia lakukan agar semakin mudah untuk Minho membencinya.

“Yeobo, waeyo? Kau tidak boleh bicara begitu.”

“Oppa, tolong tinggalkan aku sendiri. Aku lelah, ingin istirahat.” Jawabnya dingin. Minho semakin bingung dengan tingkah istrinya, tapi daripada memancing keributan ia lebih memilih diam dan melangkah keluar. Meninggalkan Soojung dalam tangis kecilnya di balik selimut.

“Mianhae oppa, mianhae aegi-ya. Eomma terpaksa, kalau tidak anak-anak panti itu akan kehilangan tempat tinggalnya, eomma juga tidak ingin kalian berada dalam masalah hanya karena eomma. Saranghae yeongwonhi.”

Tiba-tiba terdengar suara pintu berderit terbuka, Soojung menyibak selimutnya dan menemukan Nyonya Choi yang berdiri di sana. “Aku mau, malam ini kau mengakui semuanya pada Minho. Menjalankan rencana klimaks,” tahu apa yang dimaksud ‘rencana klimaks’ mata Soojung membulat sempurna. Dia saja belum pulih dari masa sehabis melahirkan, “Tapi nyonya, aku belum—“

“Kau ingat siapa rajanya dalam permainan ini Jung Soojung, aku bisa berbuat apa saja padamu dan keluarga kecilmu di panti.” Satu gertakan itu mampu membuat sekujur tubuh Soojung menggigil. Dia tak berani membayangkan bagaimana nasib anak-anak panti kesayangannya harus menderita karena dirinya.

Nyonya Choi tidak mau berlama-lama mendekam dalam satu ruangan bersama Soojung dan akhirnya memutuskan pergi sambil menghentakkan sepatu haknya penuh keangkuhan.

Hidup memang kadang tidak adil, dan sekarang hal itulah yang menimpa Soojung. Rasanya nasib selalu mempermainkan dirinya, padahal ini realita tapi mengapa rasanya semua yang terjadi dalam hidupnya seperti drama-drama dalam televisi namun, dengan tokoh utama dirinya.

Maka malam itu juga, Soojung berbicara 4 mata dengan Minho tentang semuanya. Kepalsuan bahwa ia berselingkuh dan tidak mencintainya lagi, tentu saja lelaki yang baru berusia 18 tahun itu shok, marah, dan kecewa. Tapi, ada satu hal yang sampai sekarang tetap ia pertahankan, pernikahan beserta hatinya yang masih mencintai Soojung.

Flashback end

Nyonya Choi seketika merasa penyesalan menggerogoti hatinya, padahal tak ada sedikitpun sebelumnya perasaan seperti ini. Apakah ia baru sadar sekarang bahwa hal yang dilakukannya dulu adalah suatu kesalahan?

Menghancurkan hidup seorang gadis yang tidak bersalah dan membunuhnya? Mengingat hal itu membuat dirinya pusing. “Heuh, sudahlah Suzy. Tak usah membahas tentang yeoja itu. Sekarang yang harus kita fokuskan adalah bagaimana caranya supaya Minho mau menikah denganmu.”

“Yeah, aku mengikutimu Eommonim.”

‘Aku akan mengikutimu untuk saat ini, lalu aku akan menghancurkanmu seperti halnya kau yang menghancurkan keluargaku. Jung appa, eomma, Soo-ya. Dendam kalian akan kubalaskan!’ Suzy membatin, seringainya semakin melebar.

# # #

Younghyeon tersenyum hangat pada ayahnya dari seberang jalan, mereka berhenti sebentar untuk membeli ice cream. Dan anak perempuan berusia 10 tahun itu tidak bisa berhenti untuk berteriak agar ayahnya membeli rasa yang strawberry sesuai keinginannya, padahal ayahnya belum terlalu tua untuk pikun.

Entah mengapa rasanya lama sekali, tiba-tiba ia jenuh dan ingin menyusul ayahnya. Maka dengan nekad, Younghyeon turun dari mobil untuk menyusul ayahnya. “Dad~!” sahutnya riang. Dia tidak memperhatikan dari arah sampingnya melaju sebuah mobil dengan kecepatan tinggi.

“AWAAAS~!”

‘CKIIIIIIIT’

‘BRAAAAAAAAAKK’

Younghyeon gemetar hebat, peluh dingin mengalir di pelipisnya bersamaan dengan air mata yang entah kapan sudah membludak memenuhi pelupuknya. “Saengi, gwenchana-yo?” Younghyeon menengadah, melihat seorang gadis cantik berusia lebih muda dari ayahnya tengah memeluk tubuhnya. Kalau bukan karena gadis itu, Younghyeon mungkin sudah tertabrak.

Tiba-tiba gadis itu dipeluknya, ia menangis meraung-raung karena ketakutan. Dan yang bisa gadis itu lakukan hanyalah semakin mempererat pelukannya sambil berbisik kalimat menenangkan.

“Krystal-ah!” gadis yang memeluk Younghyeon menoleh ke sumber suara, seorang gadis berusia sama sepertinya berteriak dari seberang dengan nada tidak sabaran. Ia menghampiri gadis bernama Krystal itu dan memekik padanya, “kau ini seenaknya saja pergi, kau tahu aku mencarimu kemana-mana tapi kau malah di sini dan…siapa anak kecil ini?” Syerin menunjuk Younghyeon dalam pelukan Krystal, matanya memicing tajam dengan raut wajah curiga.

“Ya ampun, Syerin-ah. Mianhae kalau membuatmu kerepotan mencariku, maksudku keluar tadi ingin mencari mesin kopi otomatis. Dan baru saja aku menyelamatkan anak yang hampir tertabrak ini!” Krystal berkata.

Syerin seketika langsung melunak, ia memandang wajah Younghyeon lama. “Aigoo, kasihan sekali kau. Mana appamu, saengi?”

Younghyeon hanya diam tapi sebagai ganti ia menunjuk dengan dagunya ke sebuah kedai ice cream yang sepi. Mata bulatnya terbelalak ketika tidak melihat sosok ayahnya lagi, kemana dia?

“Dad? Daddy!” Younghyeon berteriak, ia mengitari sekelilingnya berharap ayahnya ada di sana, tapi percuma lelaki itu bahkan tak terlihat dimanapun. “Apa yang kau cari, saeng?” Krystal bertanya, ia mendapat toyoran dari Syerin di kepalanya. “YA!”

“Aish! Kau itu pabbo sekali, dari tadi dia berteriak ‘Daddy’ tentu saja itu artinya anak ini mencari appanya.”

“Begitu, kah?”

“My dad was gone. Where I can find him?” tangis Younghyeon kembali pecah, ia takut kalau ayahnya meninggalkannya, dia bahkan tak tahu neneknya tinggal dimana. Seoul yang asing terlalu besar bagi gadis itu.

“Syerin, dia bicara apa?” Krystal melirik Syerin dengan sudut matanya. Ia tidak mengerti ucapan Younghyeon karena anak itu bergumam dan Krystal benci gumaman yang berisi suara tidak jelas.

“Dia bilang appanya pergi, ia tidak tahu dimana harus mencarinya.”

“Mwoya?! Appa macam apa itu, tidak bertanggung jawab!”

“Ya! Mungkin appanya sedang mencari anak ini, lebih baik kita mengantarkannya pulang.”

“Ne, mungkin. Saengi, apa kau ingat dimana appamu terakhir kali? Atau dimana kau tinggal?” Tanya Krystal. Sesaat Younghyeon berpikir, ia ingat mobil ayahnya. Mungkin beliau sedang menunggunya di sana.

“Last, my dad go to ice cream stand. And now he isn’t there, but I know where he parking his car.”

“Krystal, bisa kau suruh dia berbicara Hangeul, aku tidak suka berbicara dengan bahasa luar kecuali memang diperlukan!” sergah Syerin.

“Hey, girl. Can you speak Hangeul, please?” pinta Krystal, ia berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan Younghyeon. “Tolong antarkan aku ke tempat parkir mobil appaku, eonni. Aku takut ia pergi.” Ujar Younghyeon cepat. “Memangnya kau tahu dimana appamu memarkirkan mobilnya?”

“Ne, eonni. Di sana!” Syerin melihat arah yang ditunjuk Younghyeon, lalu menariknya cepat. “Ya! Syerin-ah pelankan sedikit langkahmu, kau itu memakai rok tapi jalanmu besar-besar sekali!” Krystal berlari menyusul gadis itu.

“Kita harus cepat, kau mau appa anak ini pergi dan melaporkan hal ini ke polisi, lalu saat mereka menemukan anak ini bersama kita, mereka akan mengira kita menculik anak, ini! Aku tidak mau masuk penjara, rasanya pacaran saja aku belum pernah mengalami!”

Apa yang dikatakan Syerin mungkin ada benarnya, tapi dikira penculik anak dan dijebloskan ke penjara apa tidak terlalu berlebihan? Kalau mereka menjelaskan semuanya mungkin tidak akan sampai seperti itu.

“Eonni, itu berlebihan!” simpul Younghyeon.

“Saeng, memangnya umurmu berapa? Kau bahkan 17 tahun lebih muda dariku, asam, manis, pahitnya kehidupan belum pernah kau rasakan. Kau tidak tahu seperti apa jalan pikir orang tua itu, mereka selalu berpikiran negative dan menakutkan hal-hal yang belum tentu terjadi, seperti takut anak yeojanya tidak dapat jodoh dan menjadi perawan tua. Berlebihan, kan?” Krystal bergidik mendengar kemana arah pembicaraan temannya itu, kalau sudah seperti ini Syerin pasti akan mencurahkan seluruh isi hatinya. Anak yang malang, batinnya. Krystal berharap Younghyeon bersabar mendengarkan cerita Syerin yang akan menghabiskan waktu 2 jam tanpa jeda.

Mereka sampai di samping sebuah mobil bercat hitam metalic. Tapi, tidak ada siapapun di dalam mobil itu, kemungkinan dugaan Syerin bahwa ayah Younghyeon sedang mencari anak gadisnya itu, ia berdoa dalam hati semoga ayahnya benar-benar tidak lapor polisi seperti dugaannya.

“Syerin-ah, bisakah kau menjaga anak itu dulu. Aku mau ke toilet dulu.” Krystal menjeda Syerin yang sedang bercerita pada Younghyeon, membuat gadis itu mendelik kesal padanya.

Tak berapa lama setelah Krystal pergi, Minho datang. Wajahnya penuh dengan kecemasan, saat dilihatnya Younghyeon tengah berdiri di samping mobil dengan seseorang menggandeng tangan anaknya, “Hyeon-ah!”

“Dad~!” Younghyeon berlari kepelukan ayahnya, Minho melihat anaknya memasang wajah pura-pura galak. Ia mencubit pipi Younghyeon gemas, “Ih, yeoja nakal. Kemana saja kau? Kan appa sudah bilang untuk tunggu di mobil, kenapa malah keluar?”

“Habis, kau lama sekali dad.” Minho menjawil hidung Younghyeon. Ia beralih menatap Syerin yang berdiri diam memandanginya, “apakah anda yang telah menolong anakku, Agassi?” kontan Syerin menggeleng, ia tertawa hambar. “Bukan aku, tapi chinguku. Anakmu hampir saja tertabrak mobil tadi, tapi syukurlah Krystal cepat datang dan menyelamatkannya.”

“Jinjja, apa benar itu Hyeon-ah?”

“Benar dad, tapi aku tidak apa-apa kok!”

“Lalu, kemana yeoja bernama Krystal itu agassi? Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya?”

“Oh, baru saja dia pergi ke toilet. Kurasa sebentar lagi dia akan kembali.” Ponsel Syerin tiba-tiba berdering, nama ‘Krystal Jung’ menghiasi kontaknya. “Yeobosaeyo? Krystal-ah, waeyo?” jawabnya.

“Syerin-ah, aku kembali ke rumah lebih dahulu. Harabeoji tiba-tiba saja menelpon memintaku pulang cepat, kau pulang sendiri, ya? Atau mau kutelponkan Heechul oppa?” Krystal berbicara dengan terburu-buru menyisakan kebingungan pada Syerin. Dengan satu tarikan nafas Syerin mendesah, “Aniyo, kau tidak usah memintanya menjemputku. Kau tahu sendiri aku dan dia seperti apa? Aku tidak mau berurusan dengan si ‘Cinderella’ itu!” kemudian sambungan terputus.

“Mianhae, tapi chinguku sudah kembali ke rumah . Ada pekerjaan yang menantinya, apa kau punya pesan untuk disampaikan padanya tuan? Karena aku juga harus pulang sekarang.” Minho terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya berujar, “cukup dengan kata ‘terimakasih’. Kalau begitu kami permisi agassi, semoga bisa bertemu lagi lain kali. Annyeong,” Minho memboyong Younghyeon agar masuk ke mobil, ia membungkuk sebentar pada Syerin kemudian berlalu bersama mobilnya.

“Huh, aku pulang sendirian. Mana sudah hampir malam, terpaksa mencari taksi!” umpat Syerin.

# # #

“Oppa~!” Suzy bergelayut manja di lengan Minho ketika pemuda itu datang kehadapan ibunya. Younghyeon melihat tingkah Suzy dengan tatapan jijik sekaligus muak, “oppa, bogoshipda!”

“Naddo,” balas Minho, YAIKZZ rasanya isi perut Younghyeon ingin keluar ketika ayahnya mengucapkan hal itu. Orang dewasa sungguh menjijikkan. Sebenarnya pun Minho enggan membalas perkataan Suzy, tapi saat ini dia sedang dalam tahap mencoba mencintai gadis yang berstatus tunangannya itu. Sudah lama Minho dan Suzy saling mengenal, saat di Amerika dulu mereka merupakan teman satu kampus, keseringan bertemu membuatnya menjadi akrab.

Namun, ketika kelulusan Suzy kembali ke Korea sementara Minho, tetap di Amerika mengurus perusahaan cabang Choi company di sana. Dan sekarang mereka bertemu lagi dalam status yang berbeda, bukan hanya itu saja Minho dihadapkan pada sikap Suzy yang berbeda. Dulu gadis itu sangat menjaga kesopanan dan adab sebagai perempuan, tapi kini dia lebih ‘agressif’.

“Mengapa oppa baru datang, sih?” keluhnya.

“Mianhae, tadi ada sedikit gangguan di jalan. Sudahlah yang penting aku sekarang ada di sini!”

“Kalau begitu, oppa bergegaslah ke atas, ganti baju, lalu kita makan malam bersama. Aku sudah menyiapkan masakan kesukaan oppa!”

Younghyeon tersenyum sinis ke arah Suzy, pintar. Pikirnya. Dengan setengah berlari Younghyeon menuju ke kamarnya yang ditunjukkan langsung oleh seorang pelayan padanya. Ia melompat ke ranjang lalu berteriak membenam dalam bantal.

“Iiih, kenapa dad bisa bertunangan dengan yeoja centil itu, sih? Apapun yang terjadi sebisa mungkin aku harus membuat pertunangan ini batal? Tidak perduli apapun yang terjadi, aku tetap tidak suka Suzy. Aku hanya mau eomma kandungku, bukan orang lain!”

# # #

Seorang pria paruh baya terbaring lemah di sebuah ranjang rawat, di sampingnya dengan setia seorang pria lebih muda menemani. Pria paruh baya itu membuka matanya perlahan, si pria yang menungguinya nampak terkejut lalu melangkah mendekati sisi pembaringan.

“Tuan, anda sudah bangun. Hari ini tuan muda Minho pulang, mau saya panggil, kan?”

“Tidak perlu pak Kim, aku hanya ingin….”

# # #

Mata Krystal membesar, ia masih tidak mampu memahami berita yang diberi tahu oleh kakeknya ini. Belum sempat ia duduk, kakeknya sudah memberi tahu hal yang begitu mengejutkan baginya. “Kau akan dijodohkan dengan anak rekan kerja harabeoji.”

“Harabeoji, apa maksud harabeoji? Aku tidak mau dijodohkan, bukankah aku sudah pernah bilang padamu bahwa aku sudah mempunyai kekasih?”

“Ne, kau memang pernah mengatakannya. Tapi, harabeoji sudah mendapatkan namja yang lebih pantas dari kekasihmu itu. Dan kau harus menikah dengannya.”

“Andwae, aku tidak mau dijodohkan. Aku mencintai Soohyun, harabeoji. Tidakkah harabeoji mengerti?”

“Krystal! Jangan pernah membantah perkataan harabeoji!”

“Tapi aku tidak mau, aku sudah mencintai Soohyun. Aku yakin Soohyun pun sama saja dengan namja yang harabeoji berniat jodohkan denganku, sama-sama kalangan atas seperti keinginan harabeoji. Dan aku lebih memilih Soohyun dari pada namja itu!” Krystal berlari menuju ke lantai dua meninggalkan kakeknya yang masih diam menatap punggung cucu kesayangannya itu.

‘Aku tahu, aku adalah harabeoji terjahat yang pernah ada. Tapi, aku hanya ingin mempersatukanmu dengan keluarga kecilmu yang terpisah, meskipun awalnya aku tak ikhlas kau kembali pada keluarga Choi yang telah banyak menyakitimu tapi, harabeoji tahu jauh dalam hatimu kau ingin bertemu mereka, nampyeon dan anakmu..’

Pria lansia itu beralih memandang jendela yang menampilkan gelapnya suasana malam. Mengingat suatu memori yang benar-benar membuatnya terluka saat itu.

Flashback

Langkah pria tua itu terhenti di sebuah ruang rawat berpintu tralis besi bak rumah tahanan. Namun, tahanan dalam ruangan itu berbeda. Mereka adalah pasien pesakitan mental, lebih sederhananya gangguan kejiwaan. Ia nanar memandang penghuni ruang itu, seorang gadis berusia 17 tahun mendekam di sana, rambut panjang hitamnya menghalangi wajah cantiknya.

“Nona Jung ditemukan dalam keadaan pingsan di sebuah gudang kosong. Wajahnya kotor terkena abu, dan setelah terjaga ia terus berteriak histeris memanggil nama seseorang, ‘Choi Minho’.” Cerita seorang penjaga yang berdiri di sampingnya.

Pria tua itu perlahan masuk, ia duduk di tepi ranjang gadis bernama Jung Soojung itu. Air matanya mengalir, cucu yang selama ini menghilang belasan tahun ia temukan dalam keadaan sakit jiwa. Apa yang bisa lebih mengenaskan dari itu, ia merengkuh tubuh Soojung yang malang dalam dekapannya. Berharap gadis itu akan kembali normal setelah menerima kehangatan kasih sayang kakeknya.

Flashback end

Akhirnya Kakek Jung tahu, apa yang menyebabkan cucunya dulu bisa menjadi seorang pesakitan mental. Dan semua itu dia dapat dari tuan Choi JoongGeun, ayah dari Minho. Selama ini ayah Minho selalu bersembunyi di balik layar, ia selalu berpura-pura sibuk dengan bisnis di luar negri. Tapi, ternyata telinga, matanya tidak pernah lepas dari keluarganya, dengan kata lain ia tahu tentang pernikahan Minho dengan Soojung, dan rencana busuk Nyonya Choi lewat mata-matanya.

Maka dari itu, Tuan Choi meminta kakek Jung untuk mempertemukan kembali Soojung dengan Minho sebagai Krystal. Selama ini kakek Jung sengaja mengubah nama Soojung menjadi Krystal karena takut masih ada yang berniat mencelakai cucunya, dan dengan permintaan tuan Choi yang bisa terbilang gila—karena Krystal akan kembali dalam bahaya karena rencana itu—permulaan beliau menolak, tapi mengingat bagaimana Krystal yang mencintai Minho begitu juga dengan Minho. Ia setujui permintaan itu dengan jaminan Krystal selamat.

Tapi, sepertinya semua akan sulit. Karena sekarang Krystal tengah mencintai pria lain. Temannya semasa kuliah di London, Kim Soohyun.

# # #

Younghyeon sedang berjalan menelusuri koridor rumah neneknya yang luas untuk bertemu dengan kakeknya, tanpa sengaja ia mendengar suara percakapan seseorang yang dirasanya sangat familiar. Perlahan-lahan gadis itu mengendap, bersembunyi di balik tembok sambil menguping pembicaraan.

“Ne, ahjussi. Choi Minho sudah kembali dari Amerika, kau tahu dia membawa serta anaknya yang merepotkan itu.”

“…”

“Sejauh ini semua masih aman terkendali, dan apa rencana selanjutnya?”

“…”

“Yeah, aku tidak sabar untuk menghancurkan keluarga Choi. Akan kubuat mereka lebih menderita sama seperti dulu, saat dengan kejamnya mereka membunuh keluargaku.”

“…”

“Ya sudah, aku akan menelponmu lagi ahjussi. Ne annyeong.”

Darah Younghyeon seakan berhenti mengalir, sial! Jeritnya dalam hati. Jadi sebenarnya Suzy itu ingin menghancurkan keluarganya. Itu tidak bisa dibiarkan, ia harus segera memberitahu ayahnya. Gadis cilik itu mengambil ancang-ancang untuk pergi, tapi ia tidak memperhatikan langkahnya. Guci di sampingnya tersenggol dan pecah, menciptakan bunyi yang berhasil mengusik perhatian Suzy.

‘PRAAANG’

“YA! NUGUSAEYO?!”

‘uh..oh, kau akan mati Hyeon-ah!’

To be Continued…

[FF] The Cruel Marriage – TRAGEDY 1

9 thoughts on “[FF] The Cruel Marriage – TRAGEDY 1

  1. oohh~ ff yg ini, udah baca~
    pantesan gak asing sama posternya, yg di post di ffindo toh~
    chinguuu~ lanjutiiin, aku udah baca ampe part berpa y lupa! udah nungguin lama tapi gak ada mulu ^,^ ya?
    ditunggu loh~ fighting!!!

    1. Bukan dibikin ulang, cuma ngelanjutin aja. Kemungkinan kamu baru baca sampe part 4, soalnya aku lanjutin fic ini dari part 5 dan rentang waktunya lama banget ^^
      makasih ya udah komen ^^

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.