Love, More Than Words – chapter 6

Tittle : Love, More Than Words – chapter 6

Author : Charismagirl (@charismaagirl)

Main Cast :

  • Choi Minho
  • Park Minri
  • Han Yeon Young
  • Xi Luhan
  • Byun Baek Hyun
  • Oh Sehun

Support Cast :

  • Kim Seul-Mi
  • Joo Shin-Hye
  • Kim Suho

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Life, Family, Sad.

Rating : PG- 13

Charismagirl’s note: Hyaaaa!! READERSSSS, I MISS YOU SO MUCH!!! DO YOU MISS ME?? *wish* Setelah sekian lama gak komunikasi sama readers, rasanya saya seperti menghilang ditelan Minho(?) sebenarnya ingin sekali secepatnya menyelesaikan FF ini, tapi apalah daya +.+”

The cast is not mine, but the plot absolutely mine! Do not copy this story without my permission! Read, like and comment as your pleasure. Enjoy^^~

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

Chapter 5

♥~♥~♥

Oppa, mengapa kau tidak mau melihatku? Kau tidak menyukaiku, ya?” tanya Seul-Mi dengan bibir mengerucut. Gadis itu menarik kursinya lebih dekat pada Minho agar ia bisa bergelayut manja di lengan Minho.

Saat ini hanya ada mereka berdua di fitting room. Sementara yang lain pergi entah kemana. Padahal sebentar lagi mereka akan tampil. Seul-Mi berada disini karena dia berlaku sebagai guess MC.

Minho tidak terlalu mendengarkan dengan apa yang gadis itu bicarakan. Ia larut dalam pikirannya sendiri. Ingatannya melayang pada beberapa hari yang lalu. Dimana ia dan Minri terakhir kali bertemu. Kira-kira bagaimana kabar gadis itu ya?

Ia masih marah. Tapi tidak ingin mengatakannya. Memang sikap Seul-Mi di restoran waktu itu benar-benar keterlaluan. Tapi tidakkah ia bisa bersabar sedikit?

Yang membuat Minho marah adalah ketika ia dan Seul-Mi sudah di jalan menuju pulang, namun tanpa sengaja Minho melihat Minri menghabiskan waktunya bersama Baek-Hyun di taman. Bahkan gadis itu menyenderkan bahunya, dan yang lebih memperparah keadaan, jarak mereka sangat dekat. Mereka berciuman. Sialan! Itu yang sempat Minho lihat sebelum menginjak pedal gas dalam-dalam sehingga menimbukan suara mobil menderu yang cukup keras.

Oppa, kau mendengarkanku tidak?” tanya Seul-Mi sambil mendekatkan wajahnya. Gadis itu tidak tahan melihat Minho berdiam sambil membuka setengah mulutnya seperti itu. Hingga akhirnya gadis itu menempelkan bibirnya di permukaan bibir Minho. Gadis itu sudah tidak punya malu untuk melakukannya dengan orang yang bukan kekasihnya. Dan ia melakukannya karena ia sangat mencintai pria di depannya ini.

Minho menegang. Ia baru akan melepas ciumannya saat pintu perlahan terbuka. Gadis yang selalu memenuhi pikirannya itu sedang berdiri di depan pintu. Wajahnya kelihatan sangat pucat. Sementara benda yang tadinya ia pegang–entah apalah itu–jatuh begitu saja. Minho membeku di tempatnya, sedangkan Seul-Mi yang membelakangi pintu tidak melihat kehadiran Minri.

Seul-Mi berbalik, namun tidak menemukan siapapun disana.

“Apakah tadi ada yang datang? Ah, otteokhe?!” gadis sialan itu tampak panik dengan gaya khasnya yang menyebalkan.

“Kim Seul-Mi, Berhentilah menggangguku!” ucap Minho dengan nada datar namun terdengar menakutkan.

Oppa…”

“Aku hanya menganggapmu dongsaeng! Dan aku memperlakukanmu dengan baik karena kau sepupu Jonghyun Hyung!!!” Kali ini terdengar lebih keras. Membentak.

***

Minri melangkahkan kakinya tanpa tujuan. Tidak peduli meskipun langit sudah mulai gelap. Cahaya matahari memendar, memancarkan sinaran berwarna jingga di daerah pusat kota Seoul. Sebentar lagi matahari itu tenggelam dan langit akan berwarna gelap. Mirip suasana hatinya sekarang–suram.

Dadanya masih sesak akibat kejadian tadi, dan parahnya ia tidak bisa menumpahkannya menjadi air mata atau menangis sejadi-jadinya. Ia tampak linglung, beberapa kali orang-orang berteriak kesal padanya karena ia tidak melihat ke depan jalan sehingga dengan mudah menabrak orang atau apapun yang ada di depannya, termasuk tong sampah.

Langkahnya terhenti tepat di sebuah kedai ramen. Ia masuk dan disambut oleh penjual ramen itu. Minri tidak terlalu memperhatikan penjual itu, namun ia tahu kalau penjualnya adalah seorang wanita. Ia langsung duduk di meja yang berada di pojok. Kedai ini tidak menyediakan kursi, jadi para pelanggan hanya duduk di lantai. Tapi bukankah itu menyenangkan?

Ajumma, aku minta dua botol soju!” Minri mengacungkan tangannya menarik perhatian penjual ramen yang ia panggil Ajumma itu.

Tidak lama pesanannya tiba. Ia tidak berniat sama sekali untuk makan ramen disini, tapi setidaknya ini tempat yang tepat untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut. Dengan susah payah gadis itu membuka botolnya, setelah terbuka ia langsung meminumnya dari botol. Tampaknya tidak ingin bersusah payah menuangnya ke dalam gelas. Gadis itu mengernyitkan keningnya, kemudian terbatuk-batuk, tidak terbiasa dengan minuman beralkohol itu.

Minri meminumnya lagi, mengabaikan rasa terbakar di tenggorokkannya. Tanpa terasa ia menghabiskannya.  Gadis itu mengangkat botolnya yang kosong, lantas meminta lagi pada penjualnya. Botol-botol soju itu datang lagi. Ia masih bisa meneguknya, meskipun perutnya sudah mulai mual.

Matanya menyipit saat melihat beberapa pria tidak dikenal menghampirinya. Mereka duduk di depan Minri lantas menggodanya. Minri mulai merasa risih saat pria itu berani mencolek dagunya. Kurang ajar!

“Pergi! Atau ku patahkan leher kalian!” Minri menggebrak meja, menarik perhatian beberapa pelanggan.

Para pria itu menjengit kaget, lantas mencibir ketika sang pemilik kedai ramen meminta mereka menjauh. Ajumma itu menghampiri Minri.

“Maaf nak, sebentar lagi kami tutup. Kau bisa pulang sendirian?” tanya Ajumma itu.

Minri hanya menggumam tidak jelas. Gadis itu justru meletakkan kepalanya di atas meja. Sementara Ajumma itu menggelengkan kepalanya pelan. Sepertinya gadis itu tidak bisa pulang sendirian. Kemudian Ajumma itu meraih ponselnya yang kebetulan berada di atas meja, lantas menekan nomor yang panggilan terakhir.

“Permisi Tuan, nona pemilik ponsel ini sedang mabuk berat. Bisakah anda menjemputnya di kedai ramen….”

***

Minho benar-benar kalut. Beberapa kali ia melakukan kesalahan di panggung. Pikirannya saat ini benar-benar kacau. Ia mengacak rambutnya frustasi, lantas menghempaskan tubuh di sofa.

“Sebaiknya kau istirahat di kamarmu, Minho-ya.” Onew berlalu ke kamarnya. Sang leader itu merasa lelah sehingga ia tidak bisa menemani Minho atau mendengarkan keluhan adiknya itu. Oleh karena itu Onew hanya memintanya untuk segera beristirahat.

Minho tetap merebahkan diri di sofa itu. Tiba-tiba terkesiap saat ponsel di sakunya berdering. Minho mengeram kesal, berniat memutuskan panggilan, siapapun itu termasuk manajernya. Ia merogoh saku celananya. Ia baru saja akan melemparkan ponselnya saat nama yang sangat familiar terpampang di layar ponselnya.

Yeoboseyo?” sapa Minho dengan suara tercekat. Entah mengapa ia merasa begitu gugup. Ia menelan ludahnya, menunggu suara yang familiar dan sangat dirindukannya. Beberapa saat kemudian raut wajanya mengeras. Masalah serius menimpa gadis itu.

Minho bangkit dari kursi, mengambil kunci mobil lantas melangkah pergi. Taemin yang baru keluar dari dari dapur, cukup terkejut melihat Minho sepanik itu.

Hyung! Kemana?” tanya Taemin sedikit berteriak. Minho yang sudah sampai pintu depan terpaksa menghentikan langkahnya.

“Keluar sebentar,” jawab Minho tanpa menatap Taemin, kemudian membuka pintu dan benar-benar pergi dari sana.

***

Minho menaikan masker yang tadi hanya melingkar di lehernya. Ia masuk ke dalam kedai ramen. Matanya langsung tertuju pada seorang gadis yang tampak merebahkan kepalanya di meja. Ia mengenalnya, gadis berambut coklat itu.

Minho duduk di depan gadis itu. Sepertinya gadis itu tidak menyadari kehadiran Minho. Ia menatap nanar gadis di depannya. Keadaannya benar-benar menyedihkan. Dan Minho merutuk dirinya sendiri karena sudah melukai gadis itu. Dia pasti melihat Seul-Mi mencium Minho tadi ‘kan?

Dengan susah payah Minri mengangkat kepalanya, menegakkan duduknya. Ia merasa ruangan ini berputar-putar, membuat perutnya mual saja. Ia kembali mengangkat botol itu untuk tegukan terakhir tapi pria di depannya lebih dulu merebut botol kaca itu. Ia menurunkan maskernya lantas meminum soju milik gadis itu sampai tandas.

“YAK! Apa yang kau lakukan hah?! Itu tadi minumanku!” bentak Minri, membuatnya lagi-lagi menarik perhatian. Meja yang terisi hanya sisa dua, dan sebentar lagi kedai itu akan segera tutup.

Minho tidak berkata apa-apa lantas menarik tangan gadis itu agar ia berdiri. Minho membayar semua pesanan gadis itu, mengernyit kaget karena ia terlalu banyak minum. Astaga! Minri tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Minho menarik paksa gadis itu agar masuk ke mobilnya. Dengan susah payah karena gadis itu terus berontak minta dilepaskan dan bersikeras ingin pulang sendirian.

Blam!

“Hey Tuan! Lepaskan aku! Kalau kau menculikku kau tidak akan mendapat keuntungan banyak,” racau Minri. Gadis itu berada dalam pengaruhi soju yang baru saja dikonsumsinya. Kepalanya hampir terantuk dasbor mobil kalau saja Minho tidak sigap menahan tubuhnya.

“Lebih baik kau bunuh aku tuan, agar aku tidak bertemu dengan pria itu lagi,” ucap Minri lirih nyaris dikalahkan oleh deru mobil yang berlalu-lalang di luar.

“Minri-ya, sadarlah ini aku.”

Minri mengangkat kepalanya, menatap pria di sampingnya dengan mata menyipit. Setelah memastikan bahwa pria itu adalah orang yang membuatnya seperti ini. Ia berusaha membuka pintu mobil. Sia-sia. Pintunya dikunci, dan ia tidak punya cukup tenaga untuk memberontak minta keluar. Kepalanya terlalu pusing.

“Buka pintunya, Choi Minho,” ucap Minri dengan nada datar. Tidak ada respon, lantas membuatnya berucap dengan nada hampir sama dengan teriakan, “Cepat buka pintunya!!”

“Minri-ya, kita perlu bicara…,” ucap Minho hampir putus asa.

“Bicara? Apa lagi yang ingin kau bicarakan HAH?! Semuanya sudah jelas, bahkan terlalu jelas. Kau mencium gadis manja sialan itu di depan mataku sendiri. Kau pikir aku bodoh? Kau juga menyukainya ‘kan?!!”

“Dengar,” Minho memojokkan gadis itu ke kaca mobil, membuat gadis itu sedikit kaget. “Kau pikir apa yang kau lakukan dengan Baek-Hyun? Kau kira aku tidak cemburu melihatmu berciuman dengannya?”

“Kapan ak–Hmmpp!!” ucapan gadis itu terpotong ketika Minho menempelkan bibirnya dengan ganas, menumpahkan semua kekesalan dan kemarahannya. Sebelum ia menyadari bahwa gadis itu sudah tidak sadarkan diri.

***

Hampir setengah jam sudah berlalu. Minho tetap memakirkan mobilnya di depan kedai ramen yang sudah tutup setengah jam yang lalu pula. Untung saja tidak ada polisi yang berjaga sehingga mobilnya tidak perlu dibawa dengan mobil derek. Ia menunggu gadis itu sampai sadar. Sepertinya ia kelelahan sehingga ia tertidur.

Sekelebat bayangan kejadian di taman itu kembali menghantuinya. Aish! Harusnya Minho tidak usah melihat mereka berdua. Lebih baik ia tidak tahu, agar hatinya tidak terasa sesakit ini.

Minho merasa bodoh. Kemana kepercayaan yang selama ini mereka banggakan? Menguap begitu saja karena kehadiran orang ‘ketiga’? Apakah perasaan yang mereka jalin beberapa tahun yang lalu sudah berubah? Lantas apa yang harus mereka berdua lakukan. Ia menyadari kalau mereka berdua sama-sama keras kepala. Jadi, dimana letak titik terang atas masalah ini?

Minho menoleh ketika mendengar gadis itu mengerang pelan. Gadis itu memegang kepalanya dengan kedua tangan lantas menunduk. Mungkin ia masih pusing, tapi setidaknya ia sudah sadar dan pengaruh soju sudah berkurang. Minho yakin.

Minri mendelik pada Minho yang tengah menatapnya. Kemudian mengarahkan wajahnya ke depan jalan yang sudah sepi. Mereka bergeming.

“Kita akhiri sampai disini saja,” ucap Minri, mempertahankan nada suaranya agar tidak terdengar lemah.

“Kenapa? Kau lebih nyaman bersama Baek-Hyun?” Minho mengangkat satu ujung bibirnya. Tertawa meremehkan.

“Jangan bawa-bawa nama Baek-Hyun.”

See? Kau bahkan membelanya.”

“Aku tidak membela siapa-siapa!”

“Lantas?”

“Aku hanya tidak ingin jadi orang ketiga antara KAU dan Seul-Mi itu. Kalian saling suka bukan? Itulah sebabnya kau membiarkan gadis itu terus berada di sampingmu. Karena kau memang tidak merasa terganggu. Jadi sebaiknya kita berakhir, dan kau tidak perlu lagi berepot-repot memikirkanku.”

“Park Minri!!”

Minri menekan tombol otomatis membuka kunci untuk seluruh pintu dan jendela. Dengan segera ia melompat keluar dari dalam mobil.

“Selamat tinggal.”

Bunyi pintu mobil berdebam keras saat Minri menutupnya. Minho melihati gadis itu sampai sosok tubuhnya hilang di kegelapan malam.

Pria itu memukul stir dengan gusar, lantas mengumpat.

“Sial!”

***

Minri sedikit terhuyung ketika ia baru tiba di dorm. Suasana sudah sepi. Pasti Yeon dan Shin-Hye sudah tidur. Minri harus berpegang pada dinding karena jujur saja ia masih merasa pusing. Terlebih menyadari kenyataan bahwa ia dan Minho sudah berakhir membuat dadanya sesak dan tubuhnya semakin lemas.

Eonni!” Suara Yeon menyadarkan Minri dari lamunannya.

Yeon menghampiri Minri yang hampir terduduk di lantai.

Gwaenchanayo?” tanya Yeon dengan nada cemas. Gadis itu memundurkan wajahnya ketika mencium bau soju yang menyengat dari hidung Minri.

Minri tidak menjawab pertanyaan Yeon, ia terus berjalan tergopoh-gopoh menuju kamarnya. Sementara Yeon sekuat tenaga membopong Eonni-nya itu. Selama ia hidup bersama Minri, Yeon tidak pernah melihat Minri seperti ini. Yeon mendengar Minri menggumam, namun tidak terlalu jelas. Kalimat yang bisa ia tangkap hanya ‘Minho, kita sudah berakhir’. Apa yang berakhir? Yeon sungguh tidak mengerti. Aish! Membuat kepalanya pusing saja.

Yeon membaringkan Minri di kasur, lantas melepaskan sepatu dan jaket gadis itu. Yeon mengatur suhu ruangan, sebelum meninggalkan ruangan itu.

Tanpa Yeon ketahui, Minri terisak sambil memegang dadanya. Sakit.

***

Yeon menyusuri koridor lantai dasar SM Building. Setelah sebelumnya bertanya-tanya pada orang yang lewat, apakah mereka melihat EXO-K? Untunglah ada yang mengetahui keberadaan mereka sekarang. Ya, Yeon ingin menemui salah satu dari mereka. Semoga saja ia tidak terlambat, dan bisa bertemu dengan orang itu.

Ada hal yang ingin Yeon tanyakan dan ini sangatlah penting.

Dengan segala kebodohannya, ia baru menyadari bahwa Luhan sedang marah padanya. Pria itu cemburu, benar? Yeon tersenyum sendiri memikirkannya. Kalau pria itu benar cemburu, berarti ia sangat menyayangi Yeon. Kenyataan ini membuat Yeon ingin melompat-lompat dari tempat berdirinya sekarang.

Yeon baru akan memasuki ruangan ketika orang yang dicarinya lebih dulu keluar dari ruangan itu.

“Suho Oppa!” Sapa Yeon riang.

Ne?” Suho menoleh.

Oppa tahu kan, kapan EXO-M kembali ke Korea?” tanya gadis itu sembari memajukan langkahnya, menengok ke dalam ruangan. Kosong.

“Besok.”

Jinjjayo?!” pekik gadis itu dengan mata berkilat-kilat senang. Kemudian berdeham, memulihkan lagi keadaannya yang terlalu antusias itu. Lantas melanjutkan, “Bisakah Oppa sampaikan pada Luhan Oppa agar menemuiku di tepi sungai Han besok malam? Karena saat ini aku tidak mungkin meminta bantuan pada Minri Eonni,” ucap Yeon sengaja dipelankan pada kalimat akhirnya.

“Tentu! Nanti akan ku sampaikan setelah mereka tiba. Kau pasti merindukan Luhan, ya? waktu itu Luhan ke China lebih awal dari pada yang lain.” Suho tersenyum menggoda, membuat wajah Yeon seketika merah padam.

Oppa!” pekik Yeon bermaksud menghentikan Suho yang masih menggodanya.

“Apa masih ada yang ingin kau sampaikan lagi? Maaf Yeon-ah, aku masih ada urusan,” ucap Suho tiba-tiba saat ia teringat sesuatu.

Aniyo, Gomawoyo Oppa.”

Suho dan Yeon berjalan ke arah tujuan mereka masing-masing. Tepat saat Yeon baru saja akan menaiki lift, suara seseorang yang familiar memanggilnya.

Ne? Museun iriya, Sehun Oppa?”

“Aku ingin mengajakmu keluar besok malam, kau bisa?”

Yeon mengerutkan keningnya–berpikir. Besok dia ada janji bersama Luhan. Ah, tiba-tiba Yeon punya ide. Bagaimana kalau ia meminta Sehun menemuinya di sungai Han saja agar Luhan dan Sehun bertemu dan Yeon bisa melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri kalau mereka berbaikan. Yeon harus membuat mereka kembali akrab.

“Temui aku di tepi sungai Han saja Oppa, bagaimana?”

Geurae,” jawab Sehun sambil tersenyum, lantas pamit.

Yeon merasa lebih tenang dan yakin bahwa sebentar lagi Sehun dan Luhan punya hubungan baik seperti dulu. Seperti saat sebelum Sehun menyatakan cinta pada Yeon.

***

Minri menatap kosong keluar jendela. Saat ini ia berada di ruang latihan dan ia datang 1 jam lebih dulu. Ia menikmati suasana sepi. Dimana hanya ada dia dan bayangannya.

Minho… nama pria itu terus berputar-putar di kepalanya meskipun ia berusaha keras untuk mengenyahkannya. Seakan seluruh tubuhnya sudah dipenuhi oleh jejak pria itu, sentuhan tangannya, rangkulan di pinggangnya dan ciuman di bibirnya. Setiap pergerakannya membuat ia teringat pria itu. Pengaruh pria itu sudah terlalu besar. Dan rasanya ingin mati saja. Mungkin setelah mati barulah ia bisa lupa dengan pria itu dan rasa sakit ini.

Tanpa ia inginkan cairan bening mengalir di pipinya untuk kesekian kalinya. Gadis itu menunduk, membiarkan air matanya mengalir. Berharap air mata itu membawa perih di hatinya. Dulu ia tidak percaya bahwa dalam drama–putus cinta bisa membuat orang bunuh diri. Menurutnya hal itu berlebihan. Tapi sekarang ia merasakannya. Entah mengapa ia ingin mengakhiri hidupnya juga. Bodoh bukan?

Suara pintu terbuka membuyarkan gadis itu dari lamunannya. Secepat mungkin ia menghapus air matanya. Tapi sayang, orang itu lebih dulu melihatnya.

Orang itu adalah pria yang akhir-akhir ini muncul saat ia sendirian–Baek Hyun. Pria itu masuk ke dalam ruangan. Lantas berdeham keras dan memasang wajah ceria. Seolah-olah tidak melihat air mata gadis itu sebelumnya. Bersikap seakan-akan bahwa ia tidak tahu apa-apa.

“Minri-ya, aku punya dua voucher gratis makan es krim. Kau mau?” tanya Baek Hyun dengan senyuman di bibirnya, membuat matanya ikut tersenyum.

“Aku suka es krim,” jawabnya berusaha tersenyum. “Tentu saja!”

Baek Hyun menghampiri Minri lantas menepuk bahunya. “Kau tampak lelah, jangan terlalu memaksakan diri, ya?”

Bukannya menjawab–Minri malah memeluk Baek Hyun singkat. Air mata yang tadi ia pertahankan agar tidak keluar, akhirnya lolos juga. Hanya beberapa detik, gadis itu kemudian melepaskan pelukannya

Gwaenchana?” tanya Baek Hyun dengan wajah bingungnya.

“Aku hanya terlalu senang. Sudah lama aku tidak makan es krim,” ucap Minri sedikit berbohong. Gadis itu tidak berniat menghapus air matanya lagi. Ia tertawa pelan, justru terdengar seperti ringisan.

Baek Hyun ikut tertawa. Meskipun ia tahu suasana hati gadis itu sedang tidak baik, tapi ia berusaha tertawa. Apapun dilakukannya asalkan gadis itu bahagia, walaupun tidak bersamanya.

***

Suasana malam di sungai Han tampak ramai. Lampu-lampu menerangi jalan di sekitar sungai kala itu. Yeon tengah menunggu dua orang yang sudah membuat janji dengannya. Gadis itu memakai palto yang panjang sampai lutut, melingkarkan syal seputar lehernya, membuatnya merasa hangat.

Gadis itu tersenyum tipis melihat kegiatan orang-orang disekitarnya. Ada keluarga yang tampak harmonis, ayah, ibu dan anak kecil. Ada pula sepasang kekasih. Dan Yeon melihat ada banyak cinta di sekitar sini.

Yeon menghirup udara malam. Semerbak wewangian taman tercium sampai indera penciumannya saat angin berhembus. Dan gadis itu tidak bisa menghentikan senyum bahagianya. Luhan… sebentar lagi ia akan bertemu Luhan. Seperti sudah sangat lama tidak bertemu, ia merindukan pria itu begitu dalam.

Yeon terkesiap saat seseorang memeluknya dari belakang. Membuyarkan lamunannya sekaligus rasa rindunya pada Luhan.

“Aku tidak percaya kau benar datang Yeon-ah…”

“Lu-han Op-pa,” ucap Yeon terbata-bata.

Yeon melihat Luhan di depannya. Sementara orang yang memeluknya dari belakang, sedikit melonggarkan pelukannya. Mungkin orang itu agak terkejut mendengar respon dari Yeon. Ya, saat ini Luhan berada di depannya, tapi entah mengapa Yeon tidak bisa bergerak sedikitpun.

BUG!

Luhan memukul orang itu hingga tersungkur, setelah ia menarik kerah bajunya dan menjauhkan orang itu dari Yeon, membuat pelukannya pada Yeon terlepas begitu saja.

“Jadi ini yang ingin kau tunjukkan padaku?” tanya Luhan sinis, tanpa menatap Yeon. Ia hanya memfokuskan pandangannya pada pria di depannya, yang tadi memeluk Yeon tanpa ragu.

Oppa, ini tidak seperti–”

“Apa maksudmu melakukan semua ini padaku, OH SEHUN?!” Luhan menarik Sehun–pria yang tadi memeluk Yeon–agar pria itu berdiri. Sehun tidak berniat melawan. Ia hanya balas menatap Sehun dengan pandangan yang sulit diartikan.

BUG!

Tamparan keras untuk kedua kalinya terdengar, membuat Yeon menjerit tertahan. Sementara beberapa orang yang lewat hanya melihati mereka dengan pandangan bingung, tanpa berniat ikut campur dengan apa yang mereka lakukan karena  lagi pula sebagian wajah mereka tertutup oleh masker.

Oppa! Hentikan!” jerit Yeon.

Luhan melepas tangannya pada Sehun, lantas menghampiri Yeon. Menatap gadis itu tajam, membuat Yeon sontak menunduk. Takut.

“Biar ku ulangi pertanyaanku Yeon. Ini yang ingin kau tunjukkan padaku? Bahwa kau dan Sehun memiliki hubungan khusus?!”

Aniyo–”

“Aku mencintai Yeon, Hyung,” ucap Sehun. Yeon hanya membelalakkan matanya tidak percaya.

“Dan tidak mempedulikan bagaimana perasaanku?” Luhan melangkah mundur. Entah mengapa hatinya terasa seperti di remas-remas. Di satu sisi, ia ingin bahagia bersama gadisnya. Di sisi lain, ia tidak ingin membuat hubungannya dengan Sehun memburuk.

***

Minri dan Baekhyun baru saja pulang sehabis makan es krim. Baekhyun terus mencoba bercanda, tetapi gadis di sampingnya hanya menanggapi dengan senyum . padahal menurutnya candaanya itu sudah dalam tingkat lucu sekali. Chanyeol saja yang lebih dari sekali mendengarnya masih bisa tertawa  terbahak-bahak.

Baekhyun berhenti bicara saat gadis itu menarik ujung bajunya.

“Sepertinya aku mengenal mereka,” ucap Minri .

Baekhyun menyipitkan matanya, mencoba mengenali tiga orang yang sedang berdiri. Mereka bertiga tampaknya sedang berseteru. Ya, Baekhyun mengenal salah satu dari mereka. Tidak salah lagi kalau yang memakai palto coklat tua itu Sehun, karena saat ia bertemu Sehun dua jam yang lalu Sehun berpakaian seperti itu. Sedangkan wajah yang lainnya tidak tampak jelas. Mereka memakai masker.

“Itu Yeon?! Astaga! Apa yang mereka lakukan?” pekik Minri lantas berlari menghampiri mereka. Sementara Baekhyun mengekor di belakangnya–ikut berlari. Minri sempat melihat laki-laki yang lebih pendek melayangkan tinjunya pada laki-laki yang lebih tinggi.

“Luhan Oppa. Apa yang terjadi?” Tanya Minri saat ia tahu bahwa laki-laki itu adalah Luhan. Gadis itu menatap tidak percaya pemandangan di depannya. Luhan benar-benar memukul wajah Sehun.

“Tanyakan pada mereka,” ucap Luhan terdengar dingin dan menusuk. Seperti keadaan air di sungai Han saat itu. Luhan melengos pergi. Sementara Yeon memanggil nama Luhan dengan lirih. Minri menghampiri Yeon dan merangkul gadis itu.

“Kau tidak apa-apa?”

“Luhan Oppa memukul Sehun Oppa, otteokhe eonni? Mengapa semuanya menjadi rumit?!” jerit Yeon frustasi.

“Sebaiknya kita pulang dan bicarakan hal ini nanti.” Minri merangkul Yeon dan membawanya pergi, sebelum itu ia sempat berbalik menatap Baekhyun dan Sehun. “Kami pergi.”

Baekhyun menepuk pundak Sehun sebentar lantas berjalan lebih dulu.

“Kita bicara di dorm saja,” ujar Baekhyun.

Hyung! Aku bilang pada Luhan Hyung kalau aku menyukai Yeon.” Perkataan Sehun membuat Baekhyun berhenti. Baekhyun mengerutkan alisnya seolah berkata ‘apa maksudmu?’. Beberapa saat kemudian Baekhyun mengalihkan pandangannya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

“Seberani itu kah? Menyatakan cinta pada orang yang sudah memiliki kekasih?”

“Entahlah Hyung, semuanya terjadi begitu saja. Pasti sulit dimengerti bagimu Hyung, mencintai orang yang sudah memiliki kekasih.”

“Kau salah. Aku tahu karena aku juga sedang merasakannya. Mencintai orang yang sudah mencintai orang lain.”

“Apa maksudmu Hyung?!”

TBC

© Charismagirl

Err.. otthe? Ceritanya makin gaje kah? Typo bertebaran? Alur berantakan? Gak sesuai harapan? Konflik bertambah lagi?!! #pingsan

Saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena publishnya selalu ngaret. Kesibukan saya bertambah dan bertambah lagi. Hiks *curhat*.. beginilah adanya kemampuan saya. Mohon komentarnya ya~

Big thanks for you READERS :*

Love, More Than Words – chapter 6

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.