Kyu-line’s Story : Valentine Day

cover3story

Kyu-line’s story : Valentine Day

Author : Charismagirl

Cast :

  • Choi Minho – Park Minri
  • Cho Kyuhyun – Kim Eun Hee
  • Shim Changmin – Park In Hwa

Genre : Romance

Length : One-shoot

Rating : PG-15

A.N : Holaaa^^// walopun uda lewat dari valentine day, cerita ini tetep bisa dibaca kapan-kapan kok *eh. Btw, thanks to Rini & Rina eonni yang bersedia aku bully dan nistakan di FF ini #ketawa kyuhyun. Aku kan udah abis punya FF sequel, ada saran buat FF ntar? Comment juseyo… and Happy reading~!!

♥charismagirl storyline♥

Minri duduk malas-malasan di atas sofa ruang tengah. Gadis itu sedang memainkan PSP putih miliknya, benda favoritnya. PSP itu ia dapatkan dari seorang yang spesial pada hari ulang tahunnya. Dia sedang menikmati masa liburannya dan tidak tahu harus melakukan apa hingga akhirnya menutuskan menghabiskan waktu dengan bermain-main dengan benda kesayangannya itu.

Gadis itu tidak pernah bermain dengan mulut yang bungkam. Ia selalu menyumpah jika mengalami kekalahan. Membuat orang disekitarnya merasa kesal. Tapi sayangnya, gadis itu sama sekali tidak mempedulikannya.

Bruk!

Sebuah bantal besar mendarat dikepala Minri membuat gadis itu menjerit kesal lantas menghentikan permainannya.

“YAK! Kau pikir apa yang kau lakukan Eun Hee babo?!”

Oh, ternyata lemparan bantal itu bersumber dari Eun Hee yang sejak tadi hanya meredam kesabarannya untuk mendengarkan Minri mengomel tidak jelas pada benda elektronik yang sama sekali tidak bisa diajak bicara. Cukup sudah ia dibuat kesal oleh orang-orang terdekatnya hanya karena benda sialan itu.

“Aku hanya menyuruhmu diam! Berisik tahu?! Walaupun aku sering mendengar Kyuhyun melakukan hal yang sama denganmu tapi tetap saja sampai sekarang aku masih merasa terganggu. Aish! Mengapa sih ada benda seperti itu di dunia ini.”

Eun Hee duduk di samping Minri dengan wajah yang sulit diartikan. Minri mengira gadis itu mengomel panjang lebar karena perbuatan Minri, namun sepertinya ada hal lain yang membuat gadis itu kesal.

“Bilang saja kalau kau sering dibuat kesal oleh Kyuhyun yang sering mengabaikanmu karena PSP-nya,” ucap Minri dengan wajah tanpa dosa. Lantas melanjutkan permainannya.

Eun Hee hanya diam dengan pandangan kosong membuat Minri sedikit merasa bersalah karena mengajak gadis itu bercanda dalam waktu yang kurang tepat.

“Eun Hee-ya, jangan katakan kalau hal yang baru saja ku ucapkan membuatmu bungkam seperti ini. Seperti bukan dirimu saja.”

“Tidak. Aku hanya … merindukan Kyuhyun.”

Minri nyaris tertawa mendengar ucapan Eun Hee. Suatu hal yang langka ketika Eun Hee berkata bahwa ia merindukan kekasihnya. Gadis itu mempunyai gengsi yang terlalu tinggi.

“Kau kan bisa menelpon atau menemuinya. Jangan buat semuanya terasa sulit,” saran Minri.

“Aku tidak akan melakukannya. Aku hanya ingin membuktikan apakah Kyuhyun juga merindukanku. Mestinya dia yang lebih dulu melakukan hal itu.”

“Aish! Kau ini!” Minri menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Ia sudah kehabisan ide untuk mengembalikan jiwa setan gadis itu.

Eun Hee mengendikkan bahu lantas beranjak dari duduknya. Gadis itu berjalan menuju kamarnya tanpa bicara apa-apa lagi. Meninggalkan Minri sendiri di ruang tengah, membuat ruangan itu kembali sepi.

Minri dan Eun Hee tinggal dalam satu apartemen. Mereka berteman baik sejak mereka kuliah di universitas yang sama. Mereka seumuran. Hubungan mereka semakin dekat setelah mengetahui bahwa namjachingu dari masing-masing sudah kenal satu sama lain. Dunia ini sepertinya sempit ya?

Mereka tidak hanya tinggal berdua. Masih ada satu lagi namanya Park In Hwa. Gadis itu yang berada dua tahun diatas Minri dan Eun Hee. In Hwa tidak seperti Minri dan Eun Hee yang masih tampak labil. In Hwa gadis baik dan dewasa sehingga bisa menjadi tempat berbagi cerita. Tapi jangan salah, In Hwa juga bisa mendadak bersikap manja jika sedang bersama kekasihnya, Shim Changmin.

“Dimana Eun Hee? Tadi sepertinya aku mendengar suara gadis itu,” ucap In Hwa sebelum menyesap teh hangat buatannya.

“Di dalam kamarnya Eon, dia bilang sedang merindukan Kyuhyun.”

“Oh iya, Minri-ya, apa kau ingat hari ini hari apa?”

“Kamis. Memangnya kenapa Eonni?”

“Aish! Bukan itu. Hari ini hari valentine, ingat?”

“Ah jinjjayo?!!” Minri melompat dari duduknya lantas meraih ponselnya yang berada di atas meja. In Hwa mengerutkan kening karena bingung dengan kelakuan adiknya itu.

“Kau kenapa?” tanya In Hwa.

“Kalau hari ini valentine, berarti Minho tidak boleh lupa untuk memberiku satu keranjang coklat kesukaanku. Karena waktu itu dia pernah janji padaku. Ah, aku sudah tidak sabar.”

“Dasar.”

Ting tong!

Bel apartemen berbunyi. Minri dan Eun Hee saling menatap. Bel itu terdengar tidak sabaran karena si pemilik apartemen belum juga membukakan pintu.

“Cepat sekali,” gumam Minri.

Gadis itu berjalan menuju pintu. Ia mengintip dari lubang kecil yang berada di pintu. Seorang pria. Perawakannya memang Mirip dengan Minho. Pria itu menggunakan topi dan kacamata hitam. Seperti sedang melakukan sebuah penyamaran. Tapi sepertinya tidak mungkin kalau Minho datang secepat itu. Minho bukan sebangsa vampire yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan sangat cepat.

Demi membunuh rasa penasarannya, Minri membuka pintu. Gadis itu belum bisa mengenali siapa yang datang karena pria itu menunduk. Tangan kanan pria itu membawa bungkusan dengan warna yang manis, merah muda. Warna kesukaan Minri. Dan satu tangannya lagi membawa–entahlah apa itu semacam bantal tapi berbentuk hati. Manis sekali.

Bukk!

Tiba-tiba pria itu melayangkan bantal berbentuk hati itu ke kepala Minri, membuat gadis itu terkejut dan lamunannya tentang hal romantis buyar begitu saja.

Pria itu membuka topi dan kacamatanya, membuat Minri mengenali pria itu. Gadis itu menatap horror pada pria di depannya karena pria itu melakukan hal yang sama seperti Eun Hee tadi. Minri menarik nafas sesaat sebelum menyambar pria itu dengan pekikan khasnya.

“CHO KYUHYUUUN!!”

“Minri-ya? Aish! Ku pikir kau Eun Hee…” ucap pria itu tanpa rasa bersalah lantas melengos masuk tanpa dipersilakan, membuat Minri ingin menjambak rambut pria itu kalau saja ia lupa kalau Kyuhyun lebih tua darinya dan juga merupakan kekasih dari sahabatnya.

“Kalian harus tanggung jawab kalau-kalau terjadi guncangan dengan otakku dan membuatku tiba-tiba menjadi bodoh!”

“Maksudmu siapa dengan kata ‘kalian’? Apa ada orang sebelum aku yang melakukan hal seperti yang aku lakukan padamu tadi?”

“Itu kekasihmu Eun Hee, dasar evil!”

Kyuhyun ketawa puas. “Kau juga evil. Seenaknya saja memanggil namaku seperti itu. Tidak sopan!”

Annyeonghaseyo Kyuhyun-ssi,” sapa In Hwa yang secara tidak langsung menghentikan perdebatan yang tidak berarti antara Kyuhyun dan Minri.

Annyeonghaseyo… Eun Hee dimana?”

Kyuhyun meletakkan barang bawaannya di atas meja. Lantas mengedarkan pandangannya ke sekitar.

Belum sempat ada yang menjawab, tiba-tiba Eun Hee keluar kamarnya. Gadis itu menatap Kyuhyun sesaat sebelum berlari menghambur dalam pelukan pria itu.

Oppaaaa!”

Minri tersedak dengan ludahnya sendiri. Sejak kapan Eun hee mulai memanggil Kyuhyun dengan sebutan Oppa? Kedengarannya begitu menggelikan.

Waeyo?” tanya Eun Hee datar, setelah melihat keanehan dari wajah Minri dan In Hwa. Gadis itu melepas pelukannya dengan Kyuhyun.

“Sejak kapan kau memanggilnya Oppa?” tanya Minri sembari menahan tawanya.

“Memangnya kenapa? Tidak boleh?”

“Bukan begitu… hanya saja terdengar aneh.” Minri menggaruk telinganya yang tidak gatal. Hiperbola.

Eun Hee baru akan membalas argumen Minri tapi Kyuhyun memegang kedua bahu gadis itu membuat mereka berhadapan. Kyuhyun mencium bibir gadis itu secara kilat, namun sukses membuat Eun Hee membeku sesaat. Gadis itu merasa malu pada kedua temannya yang juga ada di sana. Rasanya ingin sembunyi dalam kantong Kyuhyun saja. Dan asal tahu saja, senyum Kyuhyun memperparah keadaan.

Pria itu kemudian mengambil bantal berbentuk hati yang dia bawa.

“Untukmu,” ucap pria itu sambil menyodorkannya di depan Eun Hee yang sedang berusaha mengembalikan kesadarannya.

“Mereka lupa masih ada kita disini. Seperti dunia milik mereka berdua saja,” ujar In Hwa dengan nada menggoda.

Gomawoyo… Nan bogoshippeoyo,” ucap Eun Hee sembari tersenyum.

Nado,” Kyuhyun memeluk gadis itu. Kali ini lebih lama. Mereka benar-benar tidak mempedulikan keberadaan Minri dan In Hwa yang juga sedang berada di sana. “Ayo ganti bajumu, aku ingin mengajakmu pergi.”

Jeongmal?” Eun Hee menjauhkan tubuh pria itu lalu menatap wajahnya dengan mata yang berbinar-binar. Seperti pria itu baru saja membawa berita yang paling menggembirakan. Atau mungkin memang hal itu adalah hal yang menggembirakan bagi Eun Hee.

Eun Hee berlari kecil menuju kamarnya. Gadis itu tampak sangat bersemangat menerima ajakan Kyuhyun. Sudah lama mereka tidak kencan. Kendalanya tentu saja karena kesibukan Kyuhyun. Sebenarnya nasib mereka bertiga sama. Tapi Eun Hee lah yang paling jarang bertemu karena kegiatan Kyuhun begitu padat. Mereka hanya bisa berhubungan melalui saluran telpon. Itu pun kalau sempat.

Namun mereka tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Cukup saling menaruh kepercayaan dan memastikan bahwa hati mereka masing-masing sudah dimiliki oleh kekasih mereka.

Beberapa menit kemudian Eun Hee keluar dengan pakaian rapi. Rambutnya yang panjang ia ikat tinggi. Simple namun tidak menghilangkan kesan cantik pada wajahnya. Meskipun sering melihat Eun Hee berdandan, tetap saja Kyuhyun merasa gadis itu paling cantik di dunia menurut mata dan hatinya.

“Kau sudah siap?”

Eun Hee mengangguk mantap lantas meraih tangan Kyuhyun. Gadis itu sepertinya benar-benar merindukan Kyuhyun hingga rela menghilangkan rasa gengsinya dan bersikap begitu manis dan sedikit manja.

“Kami pergi dulu, annyeong….”

Annyeong…” balas Minri dan In Hwa hampir bersamaan.

Minri menatap pintu hingga sosok Kyuhyun dan Eun Hee hilang dibalik pintu itu. Minri menghela nafas. Kyuhyun yang sibuk bahkan sempat meluangkan waktunya untuk kencan berdua Eun Hee di hari spesial ini. Sementara Minho, pesan singkat darinya saja belum dibalas. Kemana saja dia?

***

Kyuhyun – Eun Hee’s side

Oppa, kita mau kemana?” tanya Eun Hee saat ia dan Kyuhyun berada dalam mobil hitam milik Kyuhyun. Sudah setengah jam perjalanan namun Eun Hee belum juga tahu kemana Kyuhyun akan membawanya.

Mereka sudah agak jauh dari pusat kota. Sehingga yang terlihat di samping jalan adalah pohon-pohon dan rumah kecil yang bisa dihitung jumlahnya.

Kyuhyun hanya memokuskan diri terhadap jalan sembari tersenyum tipis. Ia ingin memberikan kejutan pada Eun Hee. Kyuhyun ingin menjadikan setiap momen mereka berdua berkesan.

“Jangan bertanya Eun Hee-ya, aku tidak akan menjawabnya.”

Eun Hee mengendikkan bahu. Sudah tidak peduli lagi kemana Kyuhyun akan membawanya karena gadis itu percaya pada Kyuhyun bahwa pria itu pasti ingin menunjukkan hal yang tidak terlupakan pada Eun Hee. Karena Eun Hee  yakin bahwa Kyuhyun selalu melakukan hal yang terbaik untuknya.

Tiba-tiba jalannya mobil menjadi lambat. Eun Hee menoleh pada Kyuhyun dengan memasang wajah bingung. Eun Hee yakin kalau ini bukan bagian dari rencana. Kyuhyun tidak mungkin menghentikan mobilnya di jalan yang begitu sepi ini ‘kan?

Kyuhyun memasang wajah kesal, sembari memukul pelan setir mobil.

“Ada apa?” tanya Eun Hee dengan nada khawatir yang kentara.

Mobil yang mereka tumpangi semakin lambat hingga akhirnya berhenti, tepat setelah Kyuhyun menepikan mobilnya.

“Sial! Bensinnya habis.”

Mwo?!

Eun Hee membulatkan matanya. Sebenarnya tidak masalah kalau Kyuhyun batal memberikan kejutan. Tapi masalahnya adalah mereka sedang berada di jalan yang sepi. Sedikit sekali mobil lewat sehingga mereka pasti sulit meminta bantuan dan… bagaimana cara mereka pulang? Ck!

***

“Choi Minho menyebalkan!” Minri menatap layar ponselnya menunggu balasan dari pria bernama Minho itu, namun malangnya tidak ada.

“Mungkin saja ia sedang sibuk Minri-ya,” ucap In Hwa menenangkan.

“Tapi biasanya sesibuk apapun dia pasti sempat menjawab pesanku, Eonni. Oh iya, apa Eonni tidak jalan-jalan dengan Changmin Oppa?”

“Belum tahu. Tapi katanya dia akan kemari,” jawab In Hwa dengan senyum yang mengembang. Tampak sekali kalau gadis itu sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan kekasihnya.

“Wah! Sepertinya hanya aku yang tidak menikmati hari ini.”

Minri berbaring di sofa lantas memejamkan matanya. Gadis itu berencana untuk tidur saja dari pada ia terus memikirkan pria itu. Lama-kelamaan ia bisa sakit kepala.

Terlintas dipikirannya bahwa Kyuhyun dan Eun Hee pasti sedang bersenang-senang. Arggghh! Menyebalkan.

Sepi. Suara televisi terdengar melemah. Sepertinya In Hwa memelankan volumenya agar Minri tidak terganggu. Sungguh baik. Beberapa saat kemudian Minri mencium harum makanan kesukaannya. Coklat. Gadis itu akan berpenciuman sangat tajam jika menyangkut dengan makanan kesukaannya. Gadis itu menghirup harum aroma coklat bercampur susu sambil memejamkan matanya. Takut kalau nanti setelah membuka mata aroma coklatnya akan hilang. Ataukah mungkin sekarang dia sedang bermimpi?

Aroma coklat itu semakin tajam, lalu sedikit mengejutkan Minri karena sesuatu yang keras beradu dengan hidungnya. Gadis itu membuka matanya dan mendapati sekotak besar coklat di hadapannya.

Dengan mata yang berbinar Minri menatap coklat itu, lantas mendongak menatap orang yang membawa kotak coklat itu bersamanya.

“Minho-ya…” ucap Minri lirih.

In Hwa yang berada tidak jauh dari mereka berdua hanya bisa tertawa geli.

“Kau tidak sedang bermimpi Minri-ya,” ujar In Hwa meyakinkan gadis itu.

“Hai,” sapa pria itu dengan suara beratnya yang khas. “Maaf kalau aku tidak sempat membalas pesanmu.”

“Bodoh! Kau hampir membuatku gila!” Minri merebut kotak coklat ditangan Minho dengan semena-mena. Lantas membukanya dan memasukkan ke dalam mulutnya. Tanpa mempedulikan bahwa coklat itu belepotan di sisi mulutnya.

“Minri-ya, setelah ini kita harus pergi. Kau mau kan?” tanya Minho sambil memainkan ujung rambut gadis itu.

Minri hanya bisa menggumam kecil dan menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Minho. Mulutnya terlalu sibuk dengan coklat-coklat pemberian Minho. Tapi tiba-tiba gadis itu mendongak menatap Minho, seperti ada yang ingin dikatakannya.

“Ada apa?” tanya Minho.

Eonni tidak apa-apa aku tinggal sendirian di apartemen ini?” Minri mengabaikan pertanyaan Minho. Gadis itu justru menanyai In Hwa membuat In Hwa seketika tertawa.

“Astaga bocah! Kau pikir aku tidak bisa menjaga diriku sendiri? ck! Lagi pula apartemen ini dijamin aman. Sudah kalian pergi saja.”

“Baiklah,” jawab Minri sembari tersenyum konyol lantas melanjutkan makan coklatnya. Belum setengah ia menghabiskannya, Minho merebut kotak itu dari tangan Minri dan dengan sigap menyapukan tisu di bibir gadis itu.

“Sudah cukup. Kita harus bergegas.”

“YAK! Tapi aku belum selesai…”

“Nanti saja dilanjutkan lagi. In Hwa-ssi, kami pergi dulu.”

Tanpa menunggu persetujuan dari si empunya tangan, Minho menarik tangan Minri dan membawanya keluar apartemen menuju mobil. Minri hanya bisa menatap kesal pada Minho yang sama sekali tidak menoleh padanya. Minri bahkan belum mengganti bajunya dan ia tidak membawa apa-apa termasuk ponselnya. Astaga Minho!

Minho membuka pintu mobil bagian depan lalu mendorong pelan tubuh Minri agar gadis itu segera duduk. Kemudian Minho memutari mobilnya dan duduk di bangku kemudi. Pria itu meraih dagu gadisnya dengan satu tangan lantas menyatukan bibir mereka berdua. Minri memejamkan matanya ketika Minho memperlakukan bibirnya dengan lembut. Nyaris memuja. Gadis itu tidak bisa mendengar apa-apa selain detak jantungnya sendiri.

Kalau boleh, ia ingin waktu berjalan lebih lambat agar ia dan Minho bisa berlama-lama berdua. Perbedaan profesi membuat Minri mau tak mau harus mengerti keadaan kekasihnya itu. Saling mngerti itulah yang membuat hubungan mereka bisa bertahan sampai sekarang.

Minho menjauhkan wajahnya, mengembalikan keadaan seperti semula.

“Manis,” Minho tersenyum hangat lalu menjilat bibirnya sendiri.

Tanpa diinginkan Minri, pipinya merona.

By the way, Happy valentine, dear.

***

Changmin – In Hwa’s side

In Hwa menggonta ganti channel televisi. Setelah Minri pergi, In Hwa merasa benar-benar bosan dan kesepian. Tidak ada hal menarik yang dilakukannya di apartemen. Bahkan acara televisi pun rasanya tidak ada yang menarik perhatiannya, hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk mematikannya saja.

In Hwa menajamkan pendengarannya ketika mendengar sesuatu hal yang mencurigakan, seperti suara pintu yang dibuka paksa.

Kalau pun itu tamu, mereka tentu menekan bel yang sudah disediakan tanpa perlu bersusah payah menghancurkan pintu apartemen mereka.

In Hwa mengambil tongkat baseball yang ada di belakang pintu. Lantas mengendap-ngendap menuju pintu depan. Ia tidak memantau dari dalam lagi. Gadis itu membuka pintu perlahan lalu mengayunkan tongkatnya tepat ke kepala seorang misterius yang menggedor pintu apartemennya.

“Aaaarrh!” keluh orang itu yang ternyata adalah seorang pria. Dan sungguh mengejutkan In Hwa kenal betul siapa pria itu.

“Changmin Oppa?” ucap In Hwa takut-takut.

In Hwa menurunkan tongkatnya dan menjatuhkannya di lantai. Sementara pria misterius yang membuat In Hwa tadinya takut, menatap gadis itu dengan senyumnya meskipun sesekali meringis karena masih merasakan efek pukulan dari gadis itu. In Hwa tidak main-main saat memukul Changmin tadi.

Mianhaeyo…” lirih In Hwa.

Gwaenchana,” sahut Changmin meyakinkan. Pria itu meletakkan barang bawaannya ke atas meja lantas menghampiri In Hwa untuk memeluk gadisnya itu. “Bogoshippeo,” ucap Changmin.

In Hwa tidak berkata apa-apa. Ia hanya memposisikan dirinya senyaman mungkin berada dalam dekapan Changmin yang hangat. Menghirup aroma tubuh pria yang sangat dirindukannya itu. Sementara Changmin mengelus punggung gadis itu. Sepertinya mereka tidak berniat melepaskan pelukan mereka itu.

“Kenapa mengetuk pintu seperti tadi? Kau menakutiku tahu,” ujar In Hwa sambil mengerucutkan bibirnya–lucu.

“Aku memang berencana menakutimu.” Changmin menyengir. “Ngomong-ngomong pukulanmu kuat juga. Untung saja aku tidak amnesia.”

Changmin tertawa. In Hwa menjauhkan tubuhnya dan memukul Changmin pelan. Kemudian gadis itu kembali duduk di sofa dan melihati barang bawaan Changmin dengan pandangan bingung.

“Ini semua untuk apa?”

“Aku berencana membuat kue tart bersamamu. Ayo!” Changmin menarik tangan In Hwa dan membawanya menuju dapur. Tidak lupa pula bersama bungkusan bahan-bahan makanan yang tadi ia bawa.

“Kau serius?!”

***

Kyuhyun – Eun Hee’s side

“Masih jauh ya?” tanya Eun Hee penasaran.

Setelah tahu bahwa mobil Kyuhyun benar-benar kehabisan bensin. Eun Hee mengusulkan untuk jalan kaki saja. Karena kalau kembali pun rasanya tidak bisa. Dari pada mereka datang dengan sia-sia, lebih baik menggunakan cara yang lain.

“Sepertinya sebentar lagi sampai,” ucap Kyuhyun dengan wajah yang penuh rasa bersalah. Secara tidak langsung Kyuhyun adalah penyebab mereka harus berjalan kaki jauh di kaki gunung seperti ini.

Ya, Kyuhyun mengajak Eun Hee ke kaki gunung. Ada satu tempat yang indah yang ingin Kyuhyun tunjukkan pada gadis itu. Namun sialnya, ia lupa bahwa bensin mobilnya habis. Dengan terpaksa mereka berdua jalan kaki.

Kyuhyun melirik gadisnya yang sudah tampak lelah, melihat wajah gadis itu membuat Kyuhyun semakin merasa bersalah saja. Kyuhyun lalu ia jongkok di depan Eun Hee dengan tiba-tiba.

“Naiklah!” titah Kyuhyun. “Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai kakimu terluka.”

“Aku tidak apa-apa. Ayo lanjutkan…”

“Tidak, sebelum kau naik ke punggungku. Aku mohon Eun Hee-ya,” ucap Kyuhyun dengan nada putus asa yang kentara. Eun Hee tahu Kyuhyun pasti juga lelah, makanya ia lebih memilih untuk menolak tawaran pria itu. Tapi melihat Kyuhyun memohon seperti itu membuat Eun Hee benar-benar tidak tega dan terpaksa menerima tawaran Kyuhyun.

“Tapi aku berat…”

“Eun Hee-ya,” ucap Kyuhyun dengan nada menakutkan.

“Baiklah.”

Eun Hee berangsur naik ke punggung Kyuhyun, lantas melingkarkan lengannya di leher pria itu. Lalu dengan mudahnya Kyuhyun berdiri dan melanjutkan perjalanan mereka.

Eun Hee menghirup aroma sampo Kyuhyun yang menguar dari rambut pria itu. Bibirnya terangkat membentuk senyum simpul. Eun Hee baru menyadari bahwa Kyuhun bersikap sangat baik padanya hari ini. Eun Hee menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun sambil menatap wajah pria itu dari samping.

“Apa kau akan melakukan hal ini padaku tiap hari valentine?” tanya Eun Hee penuh harap.

“Kalau kau mau aku bisa melakukannya tiap hari,” ucap Kyuhyun seenaknya.

Eun Hee memukul bahu Kyuhyun pelan. Gadis itu tidak habis pikir dengan ucapan Kyuhyun. Lagi pula hidup Kyuhyun tidak hanya untuknya. Eun Hee tahu itu.

“Bukan itu maksudku…”

Kyuhyun memalingkan wajahnya dengan tiba-tiba. Membuat wajah mereka sangat dekat. Kyuhyun menghentikan langkahnya dan mencium bibir Eun Hee.

“Sayang sekali aku tidak bisa lama-lama menciummu dengan posisi seperti ini,” keluh Kyuhyun saat ia melepaskan tautan bibir mereka. Selain lehernya yang pegal, punggung dan tangannya juga karena Kyuhyun masih menggendong Eun Hee.

“Kau bisa melakukannya kapanpun kau mau,” lirih Eun Hee. Sama sekali tidak bermaksud membuat Kyuhyun mendengarnya.

“Dan membuatku tidak bisa berhenti?” Kyuhyun terkekeh.

“Eh?!”

***

Minho – Minri’s side

Minho menghentikan mobilnya saat ia tiba di tempat tujuannya. Pria itu tersenyum puas melihat hamparan pasir putih di depan matanya.

Pantai. Salah satu tempat favorit Minri. Tempat mereka pertama kali bertemu. Dan tempat yang menyimpan banyak kenangan manis antara Minho dan gadisnya.

Saat pertama kali bertemu, mereka sama sekali tidak saling mencintai. Ya, bisa dikatakan kalau love at first sight tidak berlaku pada mereka berdua. Bahkan Minri merasa hari itu adalah hari yang sial.

Jadi begini, Minho dan Minri sama-sama sedang menikmati liburan mereka masing-masing. Saat itu Minri asik bermain dengan ombak. Sementara Minho juga berlari dengan alasan berbeda. Ia dikejar Taemin. Saking asiknya berlari, Minho tidak melihat ada Minri di depannya hingga ia menabrak tubuh Minri. Entah bagaimana caranya Minri jatuh dengan posisi telentang dan Minho menindihnya. Mereka berdua terhempas ke air. Benar-benar tidak logis!

Namun yang mengejutkan, bibir mereka bersentuhan. Minri refleks mendorong Minho dan menyumpah. Minri menyapu bibirnya dengan kasar. Gadis itu merasa ada yang ganjal, lantas menatap jari tangannya yang terdapat cairan merah kental. Sial! Sampai berdarah, pantas terasa perih. Pikir gadis itu.

Baiklah, Minho sama sekali tidak merespon apapun. Pria itu hanya menatap Minri dengan pandangan datar, membuat Minri ingin sekali menonjok wajah Minho saat itu juga.

Lalu saat Taemin berhasil menghampiri Minho, Taemin langsung mengalihkan pandangannya menatap Minri. Taemin memekik mengejutkan lantas menarik tangan Minri menuju van mereka, tanpa mencurigai bahwa gadis itu fans atau bukan. Disana, Minri dibantu Key mengobati lukanya. Sementara Minho dari jauh memandangi gadis itu. Manis. Tapi Minho lebih merasa bahwa gadis itu sedang memanfaatkan keadaan.

Dan kalimat pertama yang di dengar Minho dari gadis itu adalah… “Pria yang tidak ku kenal merebut ciuman pertamaku, sial!”

“Eunghh…”

Minho menoleh ke samping saat mendengar Minri melenguh pelan. Sepertinya gadis itu sudah bangun. Sejak awal perjalanan sampai tiba di tempat tujuan Minri hanya tidur. Dan Minho pikir sebutan putri tidur cocok untuk gadis itu. Minri akan tidur jika sudah mendapatkan tempat yang nyaman. Ck! Tapi tak apa, Minho tidak akan memprotes kebiasaan baru gadis itu, karena dengan begitu Minho bisa lebih leluasa menatap wajah gadisnya.

Minri mengerjapkan matanya beberapa kali mengumpulkan seluruh kesadarannya. Gadis itu tidak percaya dengan pemandangan di depannya sampai ia perlu mengucek matanya dan mencubit pipinya sendiri.

“Hyaaa!! Pantai!”

Minri menoleh pada Minho sembari menyengir lebar, sama sekali bukan gayanya seperti biasa. Kemudian Minri memeluk pria itu singkat sebelum keluar dan melepas sepatunya sembarang, lalu berlari ke pasir putih yang lembut.

Minho menggeleng pelan melihat sikap kekanakan yang ditampakkan gadis itu. Namun Minho juga tidak bisa menyembunyikan senyuman bahagianya saat melihat gadis itu tertawa sambil merentangkan tangannya. Seperti menikmati belaian angin di tubuhnya.

Minho turun dari mobil lalu menggulung celananya. Minri melambaikan tangannya memanggil Minho. Pria itu menghampiri Minri dengan setengah berlari. Lantas terkesiap saat Minri mencipratkan air ke bajunya. Oh, mengajak perang rupanya.

“Kejar aku!” Minri sempat menjulurkan lidahnya sebelum berlari menjauhi Minho.

Tidak ada orang lain disana selain mereka berdua. Pantai itu berada di tempat terpencil, namun pemandangannya tidak kalah indah dengan pantai yang berada di Jeju. Entah mengapa Minho berpikir ingin membelikannya untuk Minri.

Awalnya Minho hanya berlari biasa, namun akhirnya menambah kecepatannya karena tidak sabaran ingin menyejajarkan langkahnya dengan gadis itu. Minho tidak membalas perlakuan Minri, tapi ia memeluk gadis itu dari belakang. Cukup erat. Sampai-sampai gadis itu merasa agak sesak.

“YAK! Lepaskan aku!”

“Salahmu. Kau pikir aku tidak bisa membalas huh,” ucap Minho tepat di tengkuk Minri membuat gadis itu bergidik.

***

Kyuhyun – Eun Hee’s side

“Eun Hee-ya, kita sudah sampai.”

Kyuhyun menurunkan gadis itu perlahan. Lalu meregangkan tulang-tulangnya yang sedikit pegal. Kyuhyun memegang tangan Eun Hee dan mengajak gadis itu ke tepi danau.

Tempat yang dituju Kyuhyun adalah sebuah danau. Danau itu terletak di kaki gunung dan berdekatan dengan villa milik orang tua Kyuhyun.

Eun Hee sama sekali tidak menolak saat Kyuhyun mengajaknya ke tepi danau itu. Airnya begitu jernih, sampai-sampai ikan di dalamya kelihatan sedang berlalu lalang. Di sekitar danau itu terdapat bunga-bunga yang sangat terawat. Beruntung sekali Eun Hee datang ketika bunga itu sedang bermekaran, jadi ia bisa melihat keindahan dari warna-warni bunga itu.

Sebenarnya Eun Hee bukan tipikal gadis yang begitu menyukai hal-hal yang berbau wanita. Tapi semua hal yang berhubungan dengan Kyuhyun membuatnya suka. Entah apapun itu. Sepertinya hidupnya pun bergantung pada Kyuhyun sekarang.

“Berada di danau ini membuatku merasa nyaman dan rileks.”

Eun Hee melepaskan pegangan tangannya dengan Kyuhyun lantas duduk di rerumputan hijau. Matahari sedang tidak dalam keadaan terik jadi mereka bisa sepuasnya berlama-lama berada di lapangan terbuka dan menikmati keindahan yang diciptakan oleh Tuhan semesta alam.

Perlahan Eun Hee merebahkan dirinya di rumput, lalu memejamkan matanya. Kyuhyun juga ikut berbaring di samping gadis itu. Dan ia lebih memilih untuk menatap wajah gadis itu.

“Kyu, apa kau pernah mengajak wanita lain ke sini sebelumnya?” tanya Eun Hee masih dengan mata yang tertutup.

“Kau yang pertama dan satu-satunya Eun Hee-ya.”

Eun Hee tidak merespon apa-apa namun Kyuhyun bisa melihat bahwa bibir gadis itu terangkat, melengkung indah membentuk sebuah senyuman. Tangan Kyuhyun tergerak memegang puncak kepala gadis itu lantas mengusapnya lembut.

Eun Hee membuka matanya dan menatap Kyuhyun lama. Tiba-tiba raut wajah gadis itu berubah muram. Kyuhyun tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu, tapi melihatnya sedih membuat Kyuhyun juga sedih.

“Aku takut tidak bisa berhenti mencintaimu.”

“Bukannya itu hal yang bagus?”

“Bagaimana kalau suatu hari ada gadis yang menarik perhatianmu, lalu kau memutuskan ku. Lagi pula kita belum tentu ditakdirkan hidup bersama.”

“Dengar, manusia memang tidak tahu siapa pendamping hidupnya nantinya. Tapi aku akan terus berharap, kalau perlu aku mengemis pada Tuhan agar kita disatukan sampai kita menua, sampai maut memisakan kita.”

Eun Hee menurunkan tangan Kyuhyun yang ada di kepalanya, lalu menggenggam tangan itu.

“Aku percaya padamu. Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun mendekatkan wajahnya, membuat Eun Hee memejamkan mata. Gadis itu merasa sedang berada di musim panas. Dan Kyuhyun membuatnya semakin gerah. Namun, gadis itu segera membuka mata ketika merasakan dahinya dikecup lembut oleh Kyuhyun sementara bibirnya sama sekali tidak tersentuh.

“Jangan buat aku menidurimu sebelum waktunya.”

Eun Hee sontak tertawa. Lalu duduk sejenak sebelum berdiri dan mengulurkan tangannya di depan Kyuhyun.

“Aku percaya kau tidak akan melakukannya. Ayo ke dalam villa. Aku lapar.”

***

Changmin – In Hwa’s side

Changmin sedang mempersiapkan bahan-bahan membuat kue, sementara In Hwa hanya duduk di kursi sambil memperhatikan Changmin. Pria itu berbohong tentang ajakannya memasak bersama. Karena nyatanya Changmin sama sekali tidak mengizinkan In Hwa untuk memegang alat masak sedikitpun.

In Hwa ingin sekali membantu Changmin, karena ia tahu bahwa Changmin belum pernah membuat kue sebelumnya. Kemampuan memasaknya yang masih berada di bawah rata-rata membuat In Hwa ragu apakah hasil buatan Changmin layak untuk dikonsumsi.

“Yang lain pergi kemana?” tanya Changmin.

“Entahlah, sepertinya mereka pergi ke suatu tempat yang bagus.”

Changmin meletakkan pisaunya lantas berjalan menghampiri In Hwa. Pria itu jongkok di samping In Hwa dan mendongak, menatap gadis itu lembut.

“Maaf, aku tidak bisa mengajakmu pergi ke tempat yang bagus seperti mereka. Aku takut kau diganggu penggemar…”

Gwaenchana, Oppa. Semua tempat yang ku pijak pasti lebih indah dari pemandangan indah sekalipun asalkan ada Oppa di sampingku.”

“Hey… sudah bisa merayu rupanya.”

Changmin mencubit hidung gadis itu pelan, kemudian mengarahkan tangannya ke puncak kepala In Hwa, mengacak rambutnya pelan. In Hwa hanya bisa diam merasakan kehangatan tangan Changmin. Gadis itu menatap Changmin terang-terangan. Tidak peduli Changmin menyadarinya atau tidak.

In Hwa memegang tangan Changmin lalu mengajak pria itu untuk berdiri. Lalu In Hwa menarik kerah baju Changmin pelan, membuat pria itu mengerti lantas menurunkan wajahnya sampai sejajar dengan In Hwa. Wajah keduanya berangsur mendekat, sampai akhirnya ujung hidung mereka bersentuhan. Mereka baru akan melakukan lebih jauh saat Changmin mengarahkan serbuk tepung ke wajah In Hwa.

Oppa!! Apa yang kau lakukan?!”

In Hwa menarik mangkuk tepung lalu mengambilnya satu genggaman lantas mengejar Changmin yang sudah lebih dulu menjaga jarak. Mereka saling melempari sampai seluruh wajah tertutup tepung. Mereka sudah tidak mempedulikan keadaan dapur yang sangat berantakan.

Kebahagiaan menyeruak ke permukaan membuat mereka berdua tidak bisa berhenti memamerkan tawa bahagia memenuhi apartemen saat itu.

“Sepertinya kau siap dimasukkan ke dalam oven,” ucap Changmin sambil mendekap In Hwa membuat gadis itu tidak bisa lagi bergerak.

“Lalu kau akan memakanku?” tanya gadis itu sambil tertawa.

“Iya.”

“Eung?”

Hening sesaat, sebelum mereka berdua kembali tertawa.

***

Minho – Minri’s side

Minri berhenti berlari lantas mengatur napasnya ketika ia memutuskan untuk berhenti mengejar dan menyiram air laut di tubuh Minho. Gadis itu sudah cukup puas dengan membuat seluruh tubuh Minho basah, walau sebenarnya ia juga ikut-ikutan basah.

Minri melepaskan kemejanya, menyisakan tanktop hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Gadis itu baru saja akan berbaring di tepi ketika Minho menarik tangannya dan mengajaknya berenang. Tenggelam sampai setengah badan.

“Apa aku harus mengingatkanmu bahwa aku tidak bisa berenang?” tanya Minri takut-takut sambil menatap ke sekitarnya yang terhampar lautan yang begitu luas.

“Aku tahu.”

Minho menggendong Minri, refleks Minri melingkarkan kaki ke pinggang Minho. Mereka saling menatap sebelum menautkan bibir mereka. Hanya sebentar, sebelum Minho menghempaskan tubuh gadis itu ke air. Dan tertawa puas.

Minri tersedak air laut. Lalu menepi tanpa berkata-apa. Ia jongkok dan menenggelamkan kepalanya di lutut. Minho yang awalnya hanya melihati gadis itu mendadak khawatir. Minho segera berlari menghampiri gadis itu.

“Minri-ya, gwaenchana? Aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku hanya ingin mengajakmu bermain…”

“….” Tidak ada respon dari gadis itu. Minho mengguncang bahu Minri pelan, sementara kekhawatirannya semakin bertambah.

“Aku mohon katakan sesuatu.”

“Kena kau!” Minri mendorong Minho hingga pria itu terduduk di pasir.

“Aih! Kau membuatku takut tahu? Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu padamu.”

Minho berbaring di pasir. Menerawang jauh ke kaki langit yang sudah mulai berubah orange. Tidak terasa mereka sudah cukup lama berada di pantai itu. Minho tidak ingin melewatkan sunset sebelum mereka pulang.

“Minho-ya, gomawo…”

Minho menatap Minri lantas tersenyum. Pria itu hanya mengangguk mengiyakan, lalu kembali duduk sembari merangkul bahu gadis itu.

“Aku akan selalu memberikan yang terbaik. Karena kau memang pantas atas itu semua.”

“Meskipun aku bukan wanita paling baik dan paling cantik di muka bumi ini?”

“Bagiku kau sudah punya segalanya yang aku butuhkan.”

Minri memalingkan wajahnya dari Minho dan memutuskan untuk menatap langit saja.  Minri yakin rona di wajahnya muncul semena-mena. Memalukan.

Tak lama terjadilah sunset. Matahari perlahan turun. Seakan tenggelam ke dalam birunya air laut. Langit berangsur menggelap, setelah matahari sepenuhnya tenggelam.

Minri menghadapkan wajahnya pada Minho. Lantas terkejut saat Minho berada dalam jarak yang sangat dekat dengannya. Hanya beberapa saat sebelum Minho benar-benar menciumnya. Gadis itupun memejamkan matanya. Tangannya tergerak memegang tengkuk Minho. Sementara Minho menahan pinggang gadis itu agar mendekat. Cukup lama mereka bertahan di posisi itu sebelum Minri merasa kehabisan nafas dan mendorong tubuh Minho.

“Ayo pulang. Cuaca mulai dingin,” ucap Minri sembari menggosok kedua telapak tangannya dengan sesekali ditiup.

Minri berjalan menuju mobil Minho. Gadis itu memungut sepatu yang tadi dilemparnya sembarangan. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat ia tepat berada di depan pintu mobil. Wajah gadis itu berubah derastis antara bingung dan terkeujut.

Minho menyadari akan hal itu hanya memasang senyum tipis.

“Minho-ya! Aku tidak membawa baju ganti… aish! Ini semua karena kau mengajakku buru-buru pergi dan tidak mengatakan kemana tujuan kita,” ucap Minri dengan wajah kesalnya. Gadis itu kembali meniup tangannya, memberikan kehangatan bagi tubuhnya yang malang.

“Aku membawanya, tenang saja.”

Minho berjalan menghampiri gadis itu.

“Aku tahu kau pasti membawa bajumu, tapi aku bagaimana?!”

“Aku juga membawa bajumu, Minri-ya.”

“Mwo? Bagaimana bisa…”

“Sudah cepat ganti baju, nanti kau masuk angin.” Minho mendorong tubuh Minri pelan ke dalam mobil. “Oh iya, pakaian dalamnya juga ada.” Pria itu terkekeh puas.

“YAK!” Wajah gadis itu mendadak merah padam.

“Aku perlu penjelasan dimana kau mendapatkan baju-bajuku… beserta pakaian dalamnya,” ucap Minri sebelum masuk ke dalam mobil dan mengganti bajunya yang basah dengan yang kering.

***

Kyuhyun – Eun Hee’s side

Kyuhyun dan Eun Hee kembali berjalan kaki menuju jalan pulang. Tangan mereka berdua bertautan dan mengayun seirama dengan langkah kaki mereka berdua. Rasa lelah sudah tidak terasa, karena tertutupi oleh kebahagiaan yang tidak tergantikan.

Tiba-tiba In Hwa berhenti, membuat Kyuhyun ikut berhenti.

“Ada apa?”

“Sepertinya kita tidak perlu berjalan lebih jauh lagi.”

Kyuhyun mengikuti arah pandangan Eun Hee. Sebuah tempat pengisian bensin. Benar-benar suatu keberuntungan.

“Ayo kita pulang.”

***

Minho – Minri’s side

“Jadi kau sudah merencanakan jauh-jauh hari?” tanya Minri tidak percaya.

Minri dan Minho sudah berada dalam mobil menuju jalan pulang. Sekarang mereka sudah memasuki daerah perkotaan. Dan sebentar lagi mereka sampai di tempat tinggal Minri.

“Iya,” jawab Minho singkat.

“Sedetail itu?” Minri menggelengkan kepalanya pelan. Hanya karena ingin pergi dengan Minri, Minho harus merencanakan keperluannya sedetail itu. Wah.

“Apapun untukmu.”

“Tiba-tiba aku takut mengecewakanmu.”

Minri menurunkan pandangannya ke dasbor mobil. Menurutnya Minho memperlakukannya dengan cara yang berlebihan. Bukannya tidak ingin, hanya saja banyak hal yang lebih penting Minho lakukan selain memikirkan kesenangan dan apa yang Minri inginkan.

Minho memegang tangan gadis itu dengan satu tangannya, membuat Minri mendongak, menatap pria itu dari samping. Minho tetap fokus pada jalanan. Pria itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum tenang, membuat Minri merasa lebih baik.

“Aku menaruh seluruh kepercayaanku padamu, sejak aku memutuskan untuk menjadikanmu kekasihku.”

***

Kyuhyun dan Eun Hee berjalan di koridor gedung apartemen tempat tinggal Eun Hee. Mereka menatap bingung Minri dan Minho yang sudah lebih dulu tiba disana. Mengapa mereka tidak masuk saja? Ucap Eun Hee dalam hati.

“Kenapa tidak masuk?” tanya Kyuhyun.

“Hai Hyung!” sapa Minho senang.

“Pintunya dikunci dan aku tidak membawa kunci cadangan. Aku sudah memencet bel tapi tidak ada yang membuka pintu. Sepertinya In Hwa eonni pergi,” jelas Minri.

“Oh.”

Eun Hee merogoh saku cardigannya lantas meraih kunci apartemen dan membuka pintu itu. Mereka berempat segera masuk.

Eun Hee menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Kakinya terasa pegal. Lalu Kyuhyun ikut duduk di samping Eun Hee. Kyuhyun tersenyum minta maaf pada gadis itu.

Suasana apartemen tampak sepi membuat Minri yakin bahwa In Hwa benar-benar pergi. Gadis itu melepas sepatunya lalu berjalan menuju ruang tengah. Sayang sekali, tebakannya salah. Ternyata In Hwa tertidur mennyandar di atas meja. In Hwa tidak sendiri. Di sampingnya ada Changmin yang juga merebahkan kepalanya di atas meja. Mereka berdua berhadapan. Ada satu hal yang menarik perhatian Minri. Sebuah kue tart yang diletakkan tidak jauh dari mereka berdua.

Kue itu tampak manis dengan krim merah muda. Tiba-tiba ide jahil terlintas dikepala Minri. Gadis itu mencolek krim kue lalu menempelkannya di hidung In Hwa.

Eun Hee yang melihat hal itu langsung duduk tegap. Minri dan Eun Hee saling menatap sebelum tersenyum setengah. Eun Hee juga ikut menghias wajah Eun Hee dengan krim. Gadis itu bahkan lupa dengan rasa lelahnya.

Minho dan Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya sembari tertawa pelan. Ternyata Minri dan Eun Hee tidak jauh berbeda dari mereka berdua.

Eun Hee dan Minri menghentikan aktivitasnya saat In Hwa bergerak gelisah. Minri lebih dulu menjauh dan bersembunyi di belakang Minho sementara Eun Hee membiarkan dirinya tertangkap basah.

“YAK! Apa yang kau lakukan dongsaeng evil!”

Mendengar keributan yang cukup berarti, Changmin juga membuka matanya. Pria itu mengucek matanya pelan lantas ikut tertawa melihat wajah In Hwa.

Oppa! Bukannya membelaku malah ikut-ikutan mereka. Ih!” ucap In Hwa dengan nada merajuk. In Hwa berdiri lantas berjalan menuju kamar mandi.

Changmin melayangkan tatapan tajamnya pada Minri dan Eun Hee secara bergantian yang justru dibalas dengan cengiran serta sign v ditangan mereka berdua.

“Kalian membeli kue ini?” tanya Minho sembari duduk di sofa.

Aniyo. Kami membuatnya,” jawab Changmin dengan nada bangga.

“Wah!” seru Kyuhyun antusias.

Diam-diam Changmin memasang smirk-nya. Tepat disaat Minri dan Eun Hee akan duduk di bagian sofa yang lain, Changmin melumuri tangannya dengan krim kue dan menyapukan ke wajah dua gadis itu tanpa aba-aba.

“Hyaaaa!!” pekik Minri dan Eun Hee bersamaan.

Hyung!” Minho cukup terkejut dengan perlakuan Changmin sebelum tertawa keras. Ia tidak marah, karena ia tahu maksud Changmin memang untuk bersenang-senang. Tiba-tiba ia ingin ikut juga.

“Minho-ya!”

Belum sempat Minho berpikir, potongan kue tart mendarat di kepalanya. Well, itu ulah gadisnya sendiri–Minri yang sekarang tertawa. Sementara Eun Hee berbalik mencari keberadaan Kyuhyun. Ternyata Kyuhyun lebih dulu menahan tangan Eun Hee di belakang, membiarkan krim di tangan Eun Hee mengenai bajunya.

“Kyu-ya, lepas!”

Eun Hee menatap Minri, meminta pertolongan. Minri mengerti, lalu membantu Eun Hee dengan memasukkan potongan kue ukuran besar ke mulut Kyuhyun membuat pria itu tersedak dan refleks melepaskan pegangan tangannya pada Eun Hee. Kedua gadis itu melakukan high five. Kali ini mereka bekerja sama.

In Hwa baru saja kembali dari kamar mandi. Matanya sontak melebar. Menatap tidak percaya pada keadaan apartemen yang ia tinggali yang sekarang lebih mirip kandang ayam. Gadis itu menepuk kepalanya pelan dan menggeleng.

“Valentine tergila sepanjang sejarah,” ucap In Hwa pelan.

Eonni ayo ikut!”

In Hwa akhirnya ikut bergabung. Merelakan kue tart yang ia buat menjadi potongan tidak beraturan yang melayang kesana kemari mengotori apartemen, tepatnya dibagian ruang tengah. Dan tentu saja mereka harus bertanggung jawab mengembalikan keadaan apartemen seperti semula.

Keributan tidak dapat dihindari. Suara tawa bahagia mewarnai ruangan itu. Persahabatan, cinta dan persaudaraan membaur jadi satu.

Jika aku memikirkan mereka, disitulah aku menemukan kebahagiaan.

FIN

Otte? -.- gaje sumpeh! Kehabisan ide buat ending. Tadinya mau cerita romantis masing-masing doang. Tapi ga asik kalo mereka semua engga ketemu, jadilah sperti itu. Appan pada lempar kue tart-__- Rina eon, mianheyo.. HAHAHA.. comment juseyo ^^/ give me suggest about next FF chapter :3 gomawooo *bow*

62326_437295304076_93388574076_5375786_1780195_n

Kyu-line’s Story : Valentine Day

2 thoughts on “Kyu-line’s Story : Valentine Day

  1. Yahhhh kenapa Wookie tiba-tba nongol mukanya di lembar terakhir… -_-”
    Kocak mampus. Aduh, enak yak jalan kaki b2 gitu ama Kyu. Aiiihhhh masih bayangin betapa gantengnya itu anak (Minho mo dikemanain woy)
    Aiihhhh XDD
    AIHHH XD
    Cakeppp!! (?)

    1. charismagirl says:

      gappa dong-_- dia kan pengen masuk kyuline juga *plak

      kocak?! oke. lain kali sekalian aja gua bikin kyu dorong mobilnya sampe rumah .. uwo

      emang ganteng u.u/ udah deh kyu aja. minho buat akuuuu sendiri. AHAHAHA

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.