All About Us – line 1

all about us {cover}

Tittle : All About Us – line 1

Author : Charismagirl

Main Casts :

  • Park Minri (OC)
  • Oh Sehun
  • Han Yeon Young (OC)
  • Wu Yi Fan [Kris]

Support Casts :

  • Park Chanyeol
  • Byun Baekhyun
  • EXO’s members
  • Others, find it by your self^^

Genre : Romance, Frienship, School Life, Family

Rating : Teen, PG-13

Length : Chapter

Note : Hello everyone, kembali lagi bersama saya charismagirl (yang ava-nya chibi Tiffany Oh! *gapenting*). Saya membawa FF dengan tema school life. Please leave comments as your pleasure! Komentar kalian sangat mengapresiasi. Mohon maaf kalau masih ada typo. Do not copycat without my permission! Kalau mau tanya-tanya silakan ke tw: @charismaagirl atau FB: Rima. Kali aja ada yg nanya berapa nomer sepatu Baekhyun #eh! … Ya udah deh, ENJOY~^^!!

Ketika persahabatan dipertaruhkan atas nama cinta.

Lantas dihadapkan pada dua pilihan antara cinta dan persahabatan.

Mana yang akan kau pilih?

∆∆∆

Langit tampak cerah. Seolah menyapa dengan riang penduduk di Kota Seoul. Bersiap menemani aktivitas penduduk. Kicauan burung teredam oleh suara mesin kendaraan yang mulai beroperasi. Dan kesibukan kembali tercipta.

Dua orang pelajar perempuan berjalan bersama menuju sekolah mereka. Ekspresi keduanya tampak kentara. Seorang gadis yang lebih pendek, dengan rambut kucir dua lebih terlihat sering memamerkan senyumnya. Dia juga banyak bicara, dia bercerita dengan semangat berapi-api. Sementara teman di sampingnya tampak kalem dengan rambut panjangnya tergerai. Ia hanya menanggapi dengan gumaman, tapi gadis yang banyak bicara itu tidak pernah tersinggung karena ia paham betul bagaimana karakter temannya itu.

“Minri-ya, apa kau ingin menonton pertandingan basket persahabatan di sekolah kita besok?” tanya gadis berkucir dua, namanya Han Yeon Young.

“Sepertinya tidak bisa, besok ada rapat OSIS.” Gadis dengan rambut tergerai, namanya Minri. Dia terggabung dalam organisasi sekolah dan menduduki jabatan sebagai sekertaris. Ia tidak banyak bicara namun ia berperan penting dalam organisasi tersebut.

“Oh,” ucap Yeon sambil mengerucutkan bibirnya. Merasa sedikit kecewa. Meskipun ia sudah menduduki bangku SMA kelas XI, kelakuannya tetap tampak kekanak-kanakan. Hal yang mengagumkan adalah banyak pelajar laki-laki yang mengejarnya. Tapi gadis itu tidak mudah untuk ditaklukan atau mungkin karena ia sudah mempunyai seseorang yang disukainya? Sepertinya iya.

Oh Sehun, kapten tim inti klub basket Seoul High School. Laki-laki itu sudah merebut hatinya sejak pertama kali Yeon melihatnya. Ketampanannya tidak dapat diragukan lagi. Hampir semua siswi mengidolakannya, dari para hoobae yeoja yang baru masuk sekolah itu sampai para sunbae yeoja. Sehun adalah namja populer.

Sehun, Minri dan Yeon sama-sama kelas XI. Hanya saja mereka berada dalam kelas yang berbeda. Minri dan Yeon kelas XI A, sementara Sehun kelas XI B. Itulah sebabnya mereka tidak pernah menyapa satu sama lain. Dan Yeon merasa kurang beruntung karena tidak berada dalam satu kelas bersama Sehun.

Minri mempunyai sepupu, namanya Park Chanyeol. Pria tinggi itu juga salah satu anggota tim basket. Chanyeol adalah penghuni kelas XI B sama seperti Sehun. Kalau tidak salah, Chanyeol itu juga punya banyak penggemar. Mungkin karena kemana-mana laki-laki itu selalu membawa ‘happy virus’, membuat orang-orang yang di dekatnya merasa senang. Bisa dikatakan kalau Chanyeol adalah orang yang humoris.

Berbeda dengan Sehun. Laki-laki yang memiliki ‘milky skin’ itu selalu tampak dingin. Namun, sekali saja dia mengangkat ujung bibirnya, bersiaplah mendengar teriakan histeris dari para penggemarnya, yang kadang-kadang membuat kuping kalian sakit.

Minri dan Yeon baru saja memasuki gerbang sekolah. Seperti biasa, Yeon menyapa pak satpam dengan penuh semangat. Bahkan tidak jarang mereka melakukan ‘high five’. Sepertinya Yeon juga bisa digolongkan sebagai pembawa happy virus.

Annyeonghaseyo Baekhyun Sunbae,” sapa Yeon ketika ia dan Minri berpapasan dengan kakak kelas mereka bernama Baekhyun. Laki-laki itu ikut tergabung dalam klub musik. Dan Minri mengakui kalau suaranya sungguh indah. Baekhyun selalu membawa MP3-nya kemana-mana.

Baekhyun menyapa balik dengan senyum khasnya. Meskipun ia adalah kakak kelas, ia tidak pernah menyombongkan diri. Bahkan ia sering membantu adik kelasnya, jika mereka butuh bantuan. Tapi sayangnya banyak yang memanfaatkan kebaikannya itu, sehingga Suho–teman satu kelasnya–sering memperingatkannya. Baekhyun tidak bodoh, hanya saja laki-laki itu terlalu baik.

Minri yang kebetulan melakukan kontak mata dengan Baekhyun, ikut menyapa laki-laki itu meskipun hanya dengan sebuah anggukan kecil.

Setelah itu Minri dan Yeon melanjutkan langkah mereka. Namun Yeon tiba-tiba saja berhenti membuat Minri ikut berhenti, meskipun tidak se-mendadak Yeon.

“Hari ini kelas XI B olahraga, ya?” tanya Yeon, entah bertanya pada Minri atau menggumamkan untuk dirinya sendiri.

Minri mengarahkan pandangannya  ke lapangan basket. Ada beberapa orang anak kelas XI B yang memakai pakaian olahraga disana. Padahal jam pelajaran masih 15 menit lagi. Mungkin karena itu adalah hobi mereka, makanya mereka lebih rajin daripada murid yang lain, yang mungkin ada sebagian yang tidak menyukai pelajaran olahraga sama sekali.

Minri mengangkat bahu terkesan tidak peduli. Lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan Yeon yang masih betah berdiri di depan kelas sepuluh yang sudah mulai ramai.

“Ya… tunggu aku!” Yeon menyejajarkan langkahnya dengan Minri, tapi masih menatap lapangan basket atau salah satu pemain basket yang sedang berlarian kesana kemari.

“Beruntung sekali ya, Ahri-ssi. Ia dan pacarnya Kai itu berada dalam kelas yang sama. Lihat saja, Ahri selalu setia menemaninya saat laki-laki itu bermain basket, membawakan handuk dan minumannya. Ah, aku jadi iri,” ujar Yeon panjang lebar.

“Kau juga ingin melakukannya untuk salah satu dari mereka?” tanggap Minri tetap menatap lurus ke depan jalan.

“Tentu saja! Aku–”

“Awaaaass!!” teriak salah satu murid yang berada di lapangan.

Wush! Angin berhembus keras di depan wajah Minri. Bola karet berwarna jingga itu lewat tepat di depan wajahnya, hampir mengenai hidungnya. Untung saja dewi fortuna masih berada dipihaknya sehingga ia tidak perlu disapa oleh benda keras itu sepagi ini.

Sehun mengambil bola basketnya, melewati kedua gadis itu begitu saja. Hanya melirik Minri sekilas, tanpa mengucapkan apa-apa. Sepertinya pria itu perlu diajari sopan santun. Apakah dia tidak bisa mengucapkan kata maaf? Meskipun bukan ia pelakunya, setidaknya ia mewakili teman-temannya yang hampir membuat hidung Minri tergerak posisinya.

Minri menghempaskan napas keras-keras, lantas menatap Yeon yang masih berdiri terpaku. Sepertinya gadis itu terlihat sangat terkejut dengan kejadian barusan.

“Yeon-ah, gwaenchanayo? Apa bola itu mengenai wajahmu?” tanya Minri sembari menghampiri Yeon yang memegang kedua pipinya.

“Bukan bola itu, tapi angin saat Sehun lewat tadi seakan menampar pipiku.”

“Sakit?”

Aniyo, menyenangkan.”

Minri memutar bola matanya. Terkadang Yeon bersikap terlalu berlebihan pada idolanya itu. Walaupun dalam hati Minri menyetujui pendapat Yeon kalau laki-laki itu memang pantas menjadi populer. Dan dia tampan juga. Minri baru menyadarinya saat pria itu lewat di depannya tadi. Aih! Bicara apa dia.

“Sebaiknya kau mencuci mukamu Yeon-ah, karena sebentar lagi kita masuk pelajaran Fisika. Jangan sampai kau memegangi pipimu terus sementara Lee Sonsaengnim menjelaskan tentang Optik. Kau bisa kena lempar penghapus papan tulis.” Minri memperingatkan.

***

Kelas XI A sedang berlasung pelajaran fisika. Suasana pagi membuat siswa masih tahan untuk menegakkan kepalanya menatap papan tulis. Meskipun sebagian dari mereka tidak benar-benar memahami yang disampaikan Lee Sonsaengnim, guru fisika yang paling terkenal tegasnya.

Yeon meletakkan kedua sikutnya di atas meja, lantas menjadikan telapak tangan sebagai tumpuan dagunya. Matanya menyipit, sesekali dahinya mengernyit. Aih! Kapan pelajaran fisika menjadi daftar pelajaran favoritnya? seperti bahasa inggris.

Tiba-tiba bunyi speaker di depan kelas membuyarkan konsentrasi siswa yang berada dalam kelas. Biasanya kalau speaker dinyalakan, ada pemberitahuan yang akan disampaikan melalui pengawas harian.

“Panggilan kepada Park Minri dan Do Kyung Soo dari kelas XI A, harap secepatnya ke ruang OSIS.”

Suara salah satu pengawas harian itu terdengar sampai dua kali lewat speaker. Minri meliukkan badannya ke belakang, lantas memberikan isyarat pada Kyung Soo agar segera keluar. Tapi laki-laki itu mengendikkan bahunya seakan takut meminta izin kepada Lee Sonsaengnim. Sebenarnya mereka sudah sejak tadi pagi mendapat peberitahuan bahwa pagi ini ada rapat. Hanya saja mereka takut tidak diizinkan.

“Siapa yang merasa dipanggil, silakan keluar kelas,” ucap Lee Sonsaengnim.

Kyung Soo dan Minri mengangkat tangan kiri mereka dengan ragu-ragu. Kemudian Lee Sonsaengnim menatap wajah mereka berdua, sebelum mengangguk memberikan izin.

“Silakan.”

Minri berdiri, membereskan peralatan tulis-menulis, menyisakan kotak pensil dan 1 buah buku agenda di atas meja.

“Jangan lupa catat semuanya. Nanti aku minjam catatanmu, oke?” ucap Minri kepada Yeon, sebelum ia beranjak dari tempat duduknya dan membawa alat tulis beserta buku agenda. Diikuti Kyung Soo yang juga keluar kelas dengan membawa barang yang sejenis.

Minri dan Kyung Soo berjalan beriringan menuju ruang OSIS yang terletak cukup jauh dari kelas mereka berdua. Mereka harus melewati lapangan basket dan beberapa ruang kelas X untuk sampai ke sana.

Minri mengarahkan pandangannya ke lapangan basket. Jam pelajaran hampir berakhir, tapi para pemain basket itu masih setia berlarian disana. Minri memusatkan perhatiannya pada seorang laki-laki yang sedang mengiring bola basket, membawanya kemudian memasukkan ke dalam ring dengan mudah. Keringat mengucur di dahi dan ada pula menetes dari ujung rambutnya. Entah mengapa laki-laki itu tampak sangat keren.

“YA! Kelinci kutub! Tumben sekali kau keluar kelas. Kau membolos, ya? Tidak ku sangka murid pintar seperti kalian juga bisa membolos,” celetuk Chanyeol asal, namun sukses membuat lamunan Minri buyar. Justru sekarang gadis itu merasa sangat kesal. Apa katanya? Kelinci kutub? Membolos?! Hal yang tidak pernah terpikir sedikitpun dalam benaknya untuk membolos.

Minri melirik ke kanan dan kiri. Untung saja tidak banyak orang. Hanya beberapa pemain basket dan dua orang siswi yang lewat di koridor. Sebutan Chanyeol untuk Minri terdengar memalukan sekali, apalagi kalau banyak orang yang tahu. Kemudian ia menatap Chanyeol dengan pandangan sengit.

“Dia memanggilmu kelinci kutub?!” pekik Kyung Soo nyaris tidak percaya.

“Sudahlah, jangan dihiraukan,” ucap Minri, lantas merapatkan giginya dan bergumam, “Ku bunuh kau Park Chanyeol!!”

Chanyeol hanya memasang sign v, seakan minta berdamai. Lantas melanjutkan permainanya. Sementara Minri dan Kyung Soo melanjutkan perjalanan mereka ke ruang OSIS.

“Orang menyebalkan itu, tidak ku sangka dia adalah sepupumu,” ucap Kyung Soo kalem.

“Kau benar! Dia memang menyebalkan, aku bahkan tidak percaya kalau dia sepupuku.”

Tak lama mereka sampai. Kyung Soo membuka pintu perlahan, lantas masuk diikuti Minri. Mereka berdua membungkuk minta maaf atas keterlambatan mereka. Dan tentu saja Suho–ketua OSIS–memaafkan mereka berdua, mereka berperan penting dalam organisasi ini.

Rapat dimulai.

“Sabtu ini akan ada event besar. Kepala sekolah meminta kita mengatur kegiatan. Semacam festival untuk memperingati ulang tahun sekolah kita.” Suho membagikan proposal sementara yang sudah ia buat tadi malam. Pemberitahuan kepala sekolah kemarin membuatnya kelimpungan. Belum lagi masalah anggaran dana, rencana acara, dan divisi peralatan. Semuanya membuat Suho pusing.

“Sabtu ini?” Tanya Kyung Soo kaget. Laki-laki itu membulatkan kedua matanya yang memang sudah berukuran lebih besar dari orang korea kebanyakan. Dan itu membuat wajahnya terlihat lucu.

“Lalu apa rencana Sunbae?” Tanya Minri sembari membolak-balikan kertas proposal yang masih kurang jelas itu.

“Meminta dana, merencanakan event dan merekrut beberapa anggota klub. Karena acara ini mendadak, kita perlu meminta bantuan anggota klub agar tugas kalian lebih cepat selesai.”

Argetseumnida Sunbae (Mengerti Sunbae),” ucap Minri. Dan beberapa anggota OSIS yang lain ikut mengangguk.

Suho membagikan tugas kepada seluruh anggota. Ada yang bertugas menghubungi klub sains, klub musik dan klub olahraga.

Sunbae, apa aku tidak bisa ditempatkan di lain selain klub olahraga?” Tanya Kyung Soo tidak bersemangat. Sepertinya ia tidak suka berhubungan dengan orang-orang di klub olahraga.

“Semuanya sudah pas, kecuali ada yang ingin bertukar denganmu,” ucap Suho kalem.

“Minri-ssi, kau mau kan bertukar denganku? Aku klub musik dan kau klub olahraga. Bukannya kau juga menyukai olahraga khususnya basket, ya ‘kan?”

Minri menatap Kyung Soo dengan kening berkerut seakan berkata ‘apa-apaan kau?’. Sementara Suho menunggu keputusan Minri dengan sabar. Suho tahu kalau Kyung Soo tidak suka berhubungan dengan klub olahraga karena salah satu anggotanya–Kai–adalah orang yang merebut hati gadis yang ia suka. Oh, masalah klasik. Suho jadi kasihan dengan Kyung Soo, tapi Minri juga tidak bisa di tempatkan di sembarang tempat. Dia adalah seorang gadis, sedangkan klub olahraga semua beranggotakan laki-laki. Suho ragu kalau gadis itu mau menerimanya, makanya Suho menempatkan Minri di klub musik saja.

“Kau mau menukarkan tempatmu Minri-ssi?” Tanya Suho dengan nada sedikit memohon. Ia takut event itu tidak berjalan lancar kalau pengurusnya saja bermasalah.

Minri menatap Suho dengan pandangan enggan, lantas beralih menatap Kyung Soo yang sedang memasang ‘puppy eyes’. Heh?! Dilarang memasang wajah seperti itu di depan Minri, karena ia selalu saja merasa kasihan hingga akhirnya mengalah. Sama seperti yang sering Yeon lakukan padanya. Aihs! Minri mengeluh dalam hati.

“Baiklah,” ucap Minri pasrah. Kemudian terdengar teriakan senang dari Kyung Soo. Suho hanya menggelengkan kepalanya pelan, tidak habis pikir. Tapi sebenarnya ia senang karena ada anggota yang menyenangkan di OSIS–seperti Kyung Soo. Hal ini membuat Suho tidak terlalu jenuh.

Coba bayangkan kalau semua anggotanya seperti Minri? Bisa-bisa Suho mati secara perlahan karena terlalu stress.

“Terimakasih atas kehadirannya pada rapat kali ini. Kerjakan tugas dengan  baik….”

***

Bel pulang sekolah sudah berbunyi lima menit yang lalu, namun Minri dan Yeon masih berada di kelas. Yeon bersikeras menyuruh Minri membawa catatan fisikanya, tapi gadis itu tidak mau. Ia berkata bahwa kalau catatan Yeon ia bawa pulang, ia pasti malas mencatat di rumah. Lebih-lebih ada tugas tambahan yang perlu dilakukannya. Mengenai event sekolah.

“Sudah.” Minri mengembalikan catatan Yeon. Dengan cepat Yeon menyambut dan memasukkannya ke dalam tas.

“Apakah semua orang sudah pulang? Apakah Sehun-ssi juga sudah pulang?” Yeon melongokan kepalanya ke luar. Masih banyak siswa dan siswi yang lewat, namun gadis itu tidak menemukan Sehun disana.

“Berhentilah mengagumi laki-laki itu. Dia akan besar kepala kalau tahu ada ‘fans’ yang sefanatik kau.” Minri melengos pergi melewati Yeon yang masih melihat ke pintu kelas XI B. Kemudian menyerah setelah mengetahui tidak ada lagi orang yang keluar dari kelas itu.

“Tapi dia itu namja yang hebat, Minri-ya,” ucap Yeon sambil mengerucutkan bibir, lantas menyamakan langkahnya dengan Minri.

“Kau sudah melihatnya setiap hari. Apa kau tidak bosan?” Tanya Minri iseng.

Yeon hanya menampakkan senyum lebarnya pada Minri, lantas melambaikan tangan setelah mereka berada di luar gerbang. Yeon berkata bahwa hari ini ia akan ke suatu tempat sehingga mereka tidak bisa pulang bersama. Padahal Minri jarang sekali dapat kesempatan seperti ini–pulang bersama temannya. Minri memang biasanya tidak pulang sendirian. Ia pulang bersama sepupunya. Hampir selalu pulang bersama. Ibu Minri yang memaksa mereka agar pulang bersama, padahal Minri lebih memilih naik mobil sendiri atau naik angkutan umum. Tapi sayang kedua orang tua Minri tidak mengizinkannya.

Tiitt!!

Suara klakson yang nyaring hampir membuat Minri terjengkang ke belakang. Siapalagi kalau bukan sepupunya si tiang listrik itu. Minri baru akan meneriaki orang yang membunyikan klakson di sampingnya. Tapi keburu menutup mulutnya kembali saat menyadari bukan saat yang tepat kalau ia marah-marah disini. Bisa-bisa ia diamuk oleh para fans Chanyeol. Cih! Apa yang mereka lihat dari laki-laki menyebalkan itu?

Chanyeol menurunkan kaca mobilnya sampai setengah, lantas meminta Minri agar cepat masuk dengan nada memerintah.

“Tutup kaca mobilmu, bodoh!” ucap Minri sebelum ia masuk ke dalam mobil dan duduk dibagian kursi penumpang.

Chanyeol sempat melambai-lambai kepada beberapa gadis yang sedang menunggu jemputan, sebelum menutup kaca jendela mobil dan menjalankan mobilnya. Membelah jalanan yang ramai Kota Seoul.

“YAK! Kenapa kau duduk di belakang? Aku tampak seperti supir pribadimu, tahu?” keluh Chanyeol.

Minri memainkan ponselnya, terkesan tidak peduli.

“Kenapa kau tidak membiarkanku pulang sendiri saja, sih?!”

“Kau pikir semudah itu? Kau tahu, aku akan dapat omelan beruntun dari ayah dan ibumu karena membiarkanmu pulang sendirian. Dan mobil ini bisa disita secara tidak terhormat. Apa kata siswa dan siswi nanti kalau seorang Chanyeol pulang naik angkutan umum?”

Pletak!

Minri menjitak kepala Chanyeol tanpa permisi, membuat laki-laki itu memekik kesal.

“YAK!” Chanyeol mengelus kepalanya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap memegang stir mobil.

“Aku hanya ingin membangunkanmu dari mimpi. Kau bisa jatuh kalau berkhayal terus. Kau pikir kau sepopuler apa disekolah?”

“Aku memang populer ‘kok. Tanya saja pada siswi-siswi di sekolah, mereka pasti tahu siapa itu Park Chanyeol.” Laki-laki itu mengangkat kerah bajunya sejenak, tampak menyombong.

“Ishh!” Minri hanya mencibir. Tidak mendebat Chanyeol lebih jauh. Karena jujur saja, berdebat dengan Chanyeol ini tidak ada habisnya. Ia selalu punya cara membuat Minri kalah.

Minri teringat dengan tugasnya. Menghubungi ketua klub olahraga. Haruskah ia meminta nomor ponsel ketua klub pada Chanyeol yang berisik ini.

“Chanyeol-ah, apakah Sehun itu orang yang mudah diajak bicara?” tanya Minri.

“Dia lebih banyak diam, sulit sekali mengajaknya bicara panjang lebar. Memangnya kenapa? Kau suka padanya, ya?” Chanyeol tersenyum menggoda. Nampak sekali ia bahagia menggoda sepupunya itu, mengingat Minri tidak pernah dekat pada siapapun, kecuali para anggota OSIS. Itupun hanya sekedar rekan.

Minri memasang wajah datar. Kalau tahu tanggapan Chanyeol seperti ini lebih baik ia tidak usah bertanya. Menanyakan hal umum seperti itu saja sudah digoda habis-habisan, apalagi kalau Minri meminta nomor ponsel Sehun? Bencana kalau begitu.

Mereka baru saja tiba. Chanyeol menurunkan Minri di depan rumah Minri, setelah itu Chanyeol memakirkan mobilnya ke dalam garasi.

“Aku pulang~!” Teriak Minri sambil memasuki rumahnya yang besar itu. Ia melihat ada kedua orang tuanya di ruang makan, lantas menyapa. Ia duduk di kursi favoritnya lalu menghela napas.

“Kau kenapa? Ada masalah di sekolah?” tanya ayahnya sembari menyumpit makanan yang berada di depan.

“Ada event baru Yah, benar-benar mendadak. Kami hanya punya waktu lima hari untuk menyiapkannya.” Minri menegakkan duduknya saat melihat udang goreng tersedia di meja. Gadis itu menelan ludahnya lantas mengambil sumpit.

“Minri-ya, ganti bajumu dulu, baru setelah itu kau makan. Kau membuat bau-bau aneh disini.” Seorang wanita berumur empat puluhan baru saja memasuki ruang makan. Wanita itu tampak anggun dengan rambut yang digulung keatas. Wajahnya yang cantik membuat wanita itu terlihat lebih muda dari umurnya.

Mianhaeyo Eomma,” ucap Minri sembari menampakkan senyum tidak bersalah lantas mengambil langkah panjang menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Kira-kira lima menit, gadis itu kembali ke meja makan. Dan siap menyantap makanan kesukaannya.

“Jadi apa yang sudah kau persiapkan untuk event baru itu?” tanya tuan Park.

Minri menelan makanannya sebelum menjawab, “Aku belum tahu.”

“Kenapa? Harusnya kau sudah punya bayangan atas apa saja yang ingin kau lakukan bersama tim-mu.”

“Sebenarnya Appa, aku tergabung dalam divisi olahraga. Dan aku hanya mengenal Chanyeol si tiang listrik itu.”

“Bukannya bagus? Kau suka olahraga ‘kan?” tuan Park meneguk minumannya. Lalu melanjutkan, “Lagipula klub olahraga biasanya banyak beranggotakan laki-laki. Kau bisa memilih salah satu dari mereka untuk kau jadikan kekasihmu,” ucap tuan Park diakhiri dengan tawa.

Appa~!” Minri meletakkan sendok dan garpunya dengan gusar. “Aku bekerjasama dengan klub olahraga untuk melaksanakan tugas, bukan mencari kekasih.”

“Minri sudah punya laki-laki yang disukainya, Samcheon (paman),” sahut Chanyeol yang baru saja tiba di ruang makan. Laki-laki itu sudah menggenti baju sekolahnya. Sekarang ia mengenakan kaos hitam lengan pendek dipadu dengan celana pendek kain.

Jinjja?” tanya Appa Minri penuh minat.

“Jangan percaya padanya. Apa yang Chanyeol katakan sungguh tidak benar.” Minri menengahi. Seenaknya saja Chanyeol bicara. Kalau saja Minri lupa bahwa di meja makan masih ada ayah dan ibunya, ia bisa melempari Chanyeol dengan udang-udang goreng yang ada di piringnya, beserta sendok tentunya.

“Tadi siang kau bertanya tentang ketua klub olahraga ‘kan? Si Seh–hmpp!!” Minri memasukkan satu sendok penuh nasi beserta udang yang sudah ia siapkan–ke dalam mulut Chanyeol, membuat laki-laki itu tidak bisa melanjutkan bicaranya lagi.

“Aku selesai,” ucap Minri, lantas mendorong kursinya ke belakang. Ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya.

Apa-apaan Chanyeol? Menyebalkan! Batinnya.

***

Minri berbaring di kasurnya yang empuk. Dan dia mengklaim kalau tempat tidur adalah tempat favoritnya. Astaga!

Ia mengganti posisi menjadi tengkurap, lantas menjulurkan tangannya, meraih buku agenda yang terletak di atas di ujung kasur. Kemudian membukanya.

“Perencanaan pertandingan, pembagian waktu tanding, persiapan lapangan… Aish! Bagaimana aku melakukan semua ini sendirian?” Gadis itu mendorong kesal buku agendanya, lantas kembali berbaring telentang. Ia menatap langit-langit kamarnya yang bernuansa biru muda. Seperti berada di atas awan, pikirnya.

Sehun? Sepertinya ia harus menghubungi Sehun secepatnya. Tapi nomor ponselnya… AH! Yeon?! Gadis itu pasti memilikinya, pekik Minri dalam hati.

Minri meraih ponsel dalam saku celananya. Ia mengoperasikan ponsel touch-screen itu dengan telunjuknya–mencari nomor kontak yang harus ia hubungi.

Yeoboseyo?” ucap Minri ketika sambungan telpon terhubung dan si pemilik ponsel sudah mengangkatnya.

“Ada apa Minri-ya?” sahut seorang gadis diseberang sana.

“Err… aku ingin meminta bantuanmu. Bisakah kau memberikan nomor ponsel Sehun padaku–AH! Aku ada perlu dengannya, masalah event baru di sekolah kita.” Minri mempercepat bicaranya saat menyelesaikan kalimat akhir. Dia takut kalau Yeon salah paham padanya.

“Oh, tentu saja. Tunggu sebentar,” ucap Yeon terdengar seperti biasa–dengan nada ceria. Minri menunggu, sembari menghela napas lega. Dia kira Yeon akan marah, atau mengira Minri akan merebut idolanya itu. Terdengar bunyi keypad yang sedang diketik, tak lama kemudian terdengar bunyi ‘biipp’ dari ponsel Minri, menandakan pesan baru saja masuk.

“Sudah Yeon. Terimakasih.” Minri baru akan memutuskan sambungan telpon, tapi tidak jadi. “Oh iya Yeon. Jika Sehun tidak sibuk, sore ini aku akan mengadakan pertemuan dengan Sehun. Kau mau ikut tidak?” tanya Minri dengan nada menggoda. Dia yakin Yeon tidak akan menolak tawarannya.

Jinjjayo?!” pekik Yeon dari seberang sana, sehingga Minri perlu menjauhkan ponselnya. Kemudian Minri tertawa pelan.

“Sudah dulu, ya? Nanti ku hubungi lagi kalau Sehun sudah menyetujuinya.”

Klik!

Minri memutuskan sambungan telpon lalu bernapas lega–lagi. Setidaknya ada yang menemaninya menemui laki-laki dingin itu.

***

Suara nada dering dari ponsel Minri membahana di dalam kamarnya. Gadis itu meraba-raba kasurnya. Ia ingat kalau ia meletakkan ponselnya tidak jauh dari tempat ia tidur. Ya, tadinya gadis itu tidur siang.

Minri menekan tombol hijau tanpa mengetahui siapa yang sudah menghubunginya. Yang dia tahu, orang ini sudah mengganggu tidur siangnya. Minri masih belum bersuara karena jujur saja ia masih sangat mengantuk.

“Minri-ya! Kau masih tidur? Astaga! Kau bilang ingin menemui Sehun jam 5? Dan ini sudah kurang 15 menit dari jam 5?!” pekik seorang gadis yang berada dibalik telpon.

“Oh kau Yeon?” Minri mengeliatkan badannya sebentar lantas melanjutkan, “15 menit itu masih lama Yeon. Lagi pula kafe yang kami janjikan tidak jauh dari rumahku,”

“Ya, terserah. Tapi sekarang aku sudah berada di depan rumahmu.”

Mwo?!” Minri langsung terduduk dari posisi berbaringnya. Aish! Anak itu.

***

Minri menuruni tangga rumahnya dengan setengah berlari. Ia melihat Yeon dan Chanyeol berada di ruang tamu. Sepertinya pembicaraan mereka menarik sekali. Ketika melihat Minri, Yeon berdiri. Yeon tampak cantik. Apakah dia berdandan hanya untuk bertemu Sehun? Entahlah.

“Kau yakin hanya berpakaian seperti itu?” tanya Yeon dengan kening berkerut.

“Memangnya kenapa?” tanya Minri balik. Minri memperhatikan dirinya sejenak. Celana panjang hitam, hoodie biru kebesaran dan tas yang berisi agenda beserta alat tulis. Minri rasa sudah lengkap. Memangnya apa yang kurang?

“Tidak apa-apa,” ucap Yeon sambil tersenyum. “Kajja!” Yeon lebih dulu melangkah menuju pintu keluar.

“Kau ingin kencan bersama Sehun ‘kan? Kenapa mengajaknya juga?” tanya Chanyeol, tanpa mempedulikan raut wajah Minri yang berubah horror. Park Chanyeol! Apakah dia berulah lagi? Apa yang sudah dia katakan pada Yeon tadi?

“Kencan kepalamu!” Minri menyumpah, lantas meninggalkan Chanyeol yang asik memainkan ponselnya.

“Yeon-ah! Chamkamanyo!

Yeon menunggu Minri yang menghampirinya dengan berlari. Lantas melanjutkan langkah mereka setelah Minri berada di samping Yeon.

Langit masih cerah. Beberapa orang tampak sedang berjalan-jalan menikmati suasana sore hari. Jalan pun terlihat ramai dengan kendaraan berlalu lalang.

Minri mendongak, menatap papan nama sebuah kafe, memastikan bahwa ini benar tempat yang mereka janjikan. Dentingan bel menandakan bahwa mereka berdua sudah memasuki kafe. Minri mengambil tempat duduk di pojok.

Yeon memesan strawberry shake, sementara Minri chocholate shake. Mereka berdua menunggu Sehun sambil sesekali menyesap minuman mereka.

Yeon melambaikan tangannya ketika melihat Sehun datang dari pintu masuk. Lantas sehun menghampiri mereka berdua. Sehun mengambil tempat duduk di seberang Minri.

“Hai ketua klub olahraga,” ucap Minri formal. Ia mengambil agenda dalam tasnya dan menunjukkan kepada Sehun.

“Kau sudah tahu ‘kan? Event untuk ulang tahun sekolah kita? Aku sebagai salah satu anggota OSIS mendapat tugas dalam divisi olahraga. Dan aku harus bekerjasama dengan ketua klub olahraga.”

“Iya, aku tahu,” jawab Sehun singkat. Ini pertama kalinya Minri mendengar suara Sehun yang berat itu, membuat Minri sedikit asing.

Minri berdeham.

“Jadi kapan kau bisa mempersiapkannya? Jadwal pertandingan, persiapan peralatan, dan anggaran keperluan.”

“Secepatnya akan ku urus,” jawab Sehun menatap lurus-lurus pada mata Minri membuat gadis itu sedikit risih.

Sementara Yeon yang berada di samping Minri, beberapa kali menguap. Entah mengapa ia merasa begitu bosan dengan arah pembicaraan mereka berdua.

“Baiklah, kalau sudah selesai kau bisa menyerahkan proposalnya padaku.” Minri berdiri, membuat Yeon terkesiap, lantas ikut berdiri.

“Senang bekerjasama denganmu Sehun-ssi.” Minri membungkuk. Gadis itu terkejut ketika Sehun mengulurkan tangannya, seperti menuggu untuk bersalaman. Minri hanya menatap tangan itu dengan pandangan datar.

Tiba-tiba Yeon menyambut uluran tangan Sehun.

“Senang bertemu denganmu Sehun-ssi.”

Sehun mengangguk dan membungkukkan badannya. Jujur saja, keadaan saat ini benar-benar canggung membuat Yeon agak kesal.

Minri dan Yeon lebih dulu meninggalkan meja, menuju pintu keluar. Yeon memegang pergelangan tangan kanannya dengan tangan kiri. Ini pertama kalinya ia melakukan kontak fisik dengan Sehun.

“Yeon-ah, apa yang Chanyeol katakan padamu saat di rumahku tadi?” tanya Minri, membuyarkan konsentrasi Yeon yang sedang memperhatikan telapak tangannya.

“Dia hanya menceritakan cerita lucu padaku. Memangnya kenapa?” kali ini Yeon menatap lawan bicaranya.

“Tidak apa-apa,” jawab Minri sembari tersenyum tipis.

***

Keesokan harinya.

Seoul High School kembali ramai. Para warga sekolah mulai berdatangan. Siswa-siswi, para guru, petugas sekolah, tukang kebun sampai pak satpam sudah siap dengan tugas mereka masing-masing.

Beberapa murid tampak ramai berada di koridor depan kelasnya masing-masing. Sementara di dalamnya ada murid yang kebagian tugas kebersihan sedang membersihkan kelas.

Petugas kebersihan kelas XI A sudah menyelesaikan tugasnya sehingga penghuni kelas XI A sudah boleh memasuki kelas. Seperti biasa Yeon mengoceh pada Minri. Gadis itu menceritakan tentang mimpi yang ia dapat tadi malam. Katanya ia mimpi di kejar naga. Ada-ada saja. Minri hampir tertawa gelak dibuatnya.

Bel masuk berbunyi.

Kelas XI A masih dalam suasana ribut, hingga 10 menit berlalu, guru pengajar datang bersama seorang siswa yang asing.

Hening.

Semua mata tertuju ke depan–pada seorang siswa tinggi, dengan warna rambut agak pirang. Dari wajahnya sepertinya ia bukan orang korea asli. Beberapa siswi dibuat takjub atas kehadirannya. Tidak sedikit dari mereka yang menggumamkan kata tampan untuk laki-laki di depan kelas itu.

“Murid-murid sekalian, hari ini kalian akan mendapatkan teman baru. Ia adalah siswa pindahan dari China,” Kim Sonsaengnim mulai bicara.

Tanggapan siswa dan siswi membuat suasana kelas kembali ribut. Kemudian kembali tenang setelah Kim Sonsaengnim meminta mereka untuk tenang.

“Silakan perkenalkan dirimu,” pinta Kim Sonsaengnim.

Hello everyone, my name is Wu Yi Fan, you can call me Kris. I’m from China. Nice to meet you.”

TBC

© Charismagirl

Kepanjangan? Membosankan? Dan yang terakhir lanjutkan atau tak perlu? ^o^ orang udah ada end juga haha #plak *ketawa Kyuhyun*. Jangan lupa ninggalin jejak ya, saya gak gigit juga kok^^ share if you want, klik twitter or facebook. Thanks^^

(ps : diusahakan update seminggu sekali.)

All About Us – line 1

5 thoughts on “All About Us – line 1

  1. NGAHAAAAAAAA NGEPOST JUGA DIKAU. NYEHEHEHEHEHE
    ISH Sehun dingin banget.Si Kelinci Kutub dibuat naksir Kris, ntar Sehunnya mulai beraksi.. HAHAHAH #apa ini.
    Lanjutannya, aku nangkring di blog mu yah. WUSSSSSHHHH~~~~~

    1. charismagirl says:

      IYA REENNN aku ga tahan ga ngepost ini 😮
      -__- kelinci kutub cuma boleh naksir theun

      silakaaaaannn~ xD

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.