Love Story

cover love story

Love Story

Author : Charismagirl

Cast :

  • Xi Luhan
  • Kim Jong-In
  • Do Kyung-Soo
  • Oh Sehun

Rating : PG 13-17

Length : Drabble

Genre : Romance

Note : RENEE!! aku ngikut jejakmu bikin ginian :3 Ini adalah kumpulan beberapa drabble yang judulnya saya ambil dari Album XOXO. Saya tidak tahu arti lagu sebenarnya, cuma sambil dengerin lagu itu tiba-tiba tercipta ide macam ini. ^o^/ happy reading… jangan lupa komen ya~ (ps: ini bukan yaoi)

♫ Baby Don’t Cry

♫ Don’t Go

♫ Baby

 ♫ My Lady

***

Baby Don’t Cry

(Xi Luhan – Han Yeon Young)

Di suatu malam yang dingin. Di sebuah taman yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Seorang gadis tengah duduk di sebuah bangku panjang yang terletak di sana. Menunggu seseorang yang sudah membuat janji dengannya.

Gadis itu sesekali menggosokkan kedua telapak tangannya untuk menciptakan kehangatan pada tubuhnya. Angin berhembus pelan, menyapu permukaan wajahnya yang tampak pucat. Membelai lembut rambutnya yang berwarna coklat.

Derap langkah kaki terdengar olehnya. Sontak membuat kedua ujung bibirnya terangkat. Gadis itu menoleh dan menemukan seorang yang ditunggunya tengah berjalan ke arahnya sembari tersenyum.

Gadis itu bahkan sudah tidak sabar memeluk pria itu. Tapi ia hanya berdiri diam, menunggu pria itu menghampirinya. Hingga ketika pria itu telah berada di depannya, gadis itu segera membentangkan kedua tangannya lantas melingkarkannya ke seputar pinggang pria itu.

Gadis itu menenggelamkan dirinya pada pelukan hangat yang berasal dari pria itu. Kemudian memanfaatkan kesempatan itu untuk menghirup aroma tubuh yang sangat dirindukannya. Perutnya seakan dipenuhi kupu-kupu yang berterbangan karena terlalu senang. Terasa menggelitik.

Setelah sekian lama tidak bertemu. Setelah merasakan hari-hari yang cukup menyiksa tanpa pria itu. Kini ia percaya hidupnya akan kembali normal dan bahagia.

Mereka belum bicara satu sama lain. Mereka hanya sempat saling melempar senyum sebelum tenggelam dalam pelukan yang berdurasi cukup lama.

Miss me nona Han?” ucap pria itu akhirnya memecah keheningan di antara mereka berdua.

I can’t tell, how much I…” gadis itu tidak bisa meneruskan kalimatnya. Suaranya terdengar serak dan sulit dikontrol.

Pria itu, Luhan. Melepaskan pelukan mereka lantas mengangkat dagu gadis itu dengan tangan kanannya. Pria itu menyunggingkan senyum terbaiknya, membuat gadis di depannya merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia karena telah mendapatkan pria yang sempurna baginya.

“Aku tahu apa yang kau rasakan. Kau tidak perlu mengatakannya Han Yeon Young.”

Yeon hanya menikmati pesona pria itu sampai-sampai ia lupa berkedip. Tapi kemudian ia terkesiap ketika Luhan mendekatkan wajahnya.

Degupan jantung Yeon terasa begitu menyiksa sang pemilik tubuh. Ia bahkan takut degupan itu terdengar sampai ke telinga Luhan.

Dan akhirnya bibir mereka bertemu. Gadis itu mulai memejamkan matanya. Menikmati setiap detik momen berharga yang tercipta. Memuji dalam hati betapa bibir Luhan memperlakukan bibirnya dengan lembut seolah takut sedikit saja berbuat kesalahan Luhan bisa melukainya.

Tanpa sadar, gadis itu meneteskan air matanya di sela ciuman hangat mereka. Tiba-tiba teringat akan siapa dirinya sebenarnya. Yang hanya seorang gadis biasa, kemudian mengenal Luhan melalui sebuah pertemuan yang tidak sengaja. Dan perbedaan diantara mereka semakin membuatnya merasa seperti ditusuk belati berkarat. Luhan seorang idola dan ia bukan siapa-siapa.

Luhan melepaskan ciuman mereka. Lantas menatap gadis itu dengan kening berkerut. Ke khawatiran tergaris di wajahnya yang tampan. Kemudian Luhan mengangkat tangannya, menyapu permukaan wajah gadis itu dengan jempolnya.

Why, baby?”

You’re too perfect. Aku takut tidak pantas bersamamu dan akan mengecewakanmu.”

“Aku sungguh mencintaimu , tidak peduli bahwa kau siapa dan aku siapa. Dan aku sudah menaruh kepercayaanku padamu. Jangan takut mengecewakanku kalau kau saja takut untuk mendekati hal semacam itu.

”Aku merasa beribu-ribu kali pun aku berterimakasih pada Tuhan, semuanya terasa belum cukup karena Tuhan sudah terlalu baik padaku. Mempertemukanku pada pria sepertimu.”

***

Don’t Go

(Kim Jong-In – Park In-Hwa)

Seorang gadis berkucir kuda tengah berlarian di bandara Incheon, Seoul. Matanya menyusuri tiap manusia yang berlalu lalang yang tertangkap di pandangan matanya. berharap salah satu dari mereka adalah orang yang dia cari.

Ia baru mendapat kabar tadi pagi bahwa Kai, lelaki yang dicintainya, atau boleh ia sebut sebagai kekasihnya itu mengatakan bahwa ia akan pergi ke luar negeri. Mendadak sekali.

Gadis itu bahkan tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Ia tidak mempedulikan orang-orang di sekitarnya yang menyumpah kesal karena gadis itu menabrak tubuh mereka sembarangan tanpa meminta maaf sedikitpun.

In Hwa merosotkan tubuhnya ke lantai saat ia sudah tidak sanggup lagi untuk melangkah kan kakinya apalagi berlari.

Gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya, menyembunyikan wajahnya yang menyedihkan yang penuh akan air mata.

Ya, gadis itu menangis sejadi-jadinya. Menarik perhatian beberapa orang yang berada di bandara itu. Sebagian kecil merasa prihatin akan keadaan gadis itu, sebagian lagi tidak peduli dan merasa itu bukan urusan mereka.

Mengapa? Mengapa Kai meninggalkannya tanpa pamit? Mengapa Kai harus meninggalkannya dengan cara seperti ini?

Sebuah tangan menyentuh pundak kanannya membuat gadis itu terkesiap, lantas mendongak.

Kai. Dia belum pergi.

In Hwa segera berdiri dan melingkarkan tangannya ke leher pria itu. Gadis itu melakukannya dengan sedikit berjingkit karena tubuh Kai yang jauh lebih tinggi darinya.

“Kenapa kau melakukan ini padaku Kai?” tanya In Hwa dengan suara bergetar.

“Aku harus pergi In Hwa-ya…”

“Dengan cara seperti ini? Dan tidak memikirkan bagaimana perasaanku?!!” In Hwa menaikkan nada bicaranya dan mendorong tubuh Kai.

Pria itu mengalihkan wajahnya ke arah lain. Menghindari tatapan gadis itu. Matanya terasa memanas ketika melihat air mata yang menetes di permukaan wajah gadis itu. Ia merasa pria yang paling jahat karena telah membuat gadisnya sendiri menangis.

“Aku sengaja tidak memberitahumu sebelumnya, karena aku takut kau akan sedih.”

“Kau salah Kai! Kau salah!! Justru lebih baik jika kau mengatakan padaku sebelumnya meskipun akhirnya aku memang akan bersedih. Setidaknya beri aku kesempatan untuk menghabiskan banyak waktu bersamamu dan menciptakan kenangan indah kita berdua untuk dua tahun ke depan-”

Kai memeluk In Hwa dengan tiba-tiba hingga membuat gadis itu berhenti bicara. Kai mengelus punggungnya dengan lembut.

Don’t go… Kai-ya,” gumam In Hwa.

“Aku minta maaf… Aku harus..”

In Hwa menggigit bibir bawahnya. Gadis itu memejamkan matanya. Berusaha tegar. Baru kali ini ia mendengar Kai begitu tertekan. Baru kali ini ia mendengar Kai bersedih.

In Hwa merasa egois. Ia tidak harus memaksakan kehendaknya. Jika memang Kai harus pergi, maka In Hwa harus merelakannya. Lagi pula Kai pasti akan kembali. In Hwa yakin.

Suara operator pesawat membuyarkan lamunan In Hwa. Kai melepaskan pelukan mereka dengan pelan.

Kai mengecup bibir In Hwa sekilas. Lalu berbalik, tanpa berkata apa-apa lagi. In Hwa menatap punggung Kai lama. Sampai Kai berjarak beberapa meter darinya, tiba-tiba In Hwa memanggil Kai dengan keras.

Kai tampak menghentikan langkahnya. Tapi pria itu berpikir cukup lama untuk berbalik. In Hwa menunggu Kai dengan tidak sabar, sampai akhirnya Kai berbalik.

“Cepat kembali ya!” seru In Hwa sembari tersenyum.

Melihat In Hwa senyum secerah itu membuat Kai ikut tersenyum. Ada perasaan lega ketika ia meihat senyum gadis itu. Senyum itu seperti sebuah tetesan embun di kekeringan hatinya. Menyejukkan. Dengan begini ia bisa pergi dengan nyaman tanpa harus berperang batin.

In Hwa mengibaskan tangannya, seperti menyuruh Kai pergi. Kai bisa ketinggalan pesawat, pikir In Hwa.

Kai tertawa pelan. Lantas kembali berbalik meneruskan langkahnya.

Kai memang harus pergi. Dan In Hwa berjanji pada dirinya untuk menunggu pria itu. Sekarang, ia hanya perlu menaruh kepercayaan pada pria itu dan mengikut sertakan hatinya bersama pria itu, untuk ia jaga.

I love you, Jong-In.”

***

Baby

(Do Kyung-Soo – Kim Sung-Ran)

Kyung-Soo mengangkat kedua ujung bibirnya ketika sepasang tangan tengah menutup kedua matanya dengan jahil. Tangan lembut itu, aroma tubuh itu, ia tahu. Ia bahkan sudah tahu terlalu detail tentang gadis itu, hingga dalam jarak beberapa meter saja ia sudah tahu akan kehadiran gadis itu–Sung Ran.

“Kau bisa membuat tanganku teriris Sung-Ran-ah…” ucap Kyung-Soo dengan suara khasnya yang lembut.

Sung-Ran mengerucutkan bibirnya sembari mendengus kesal. Dia tidak bisa mengejutkan Kyung-Soo, ya? Apa semudah itu menyadari kehadirannya?

“Kau tidak kaget ya?” ucap Sung-Ran, mengutarakan perasaannya.

Kyung-Soo meletakkan pisaunya dan berjalan menuju wastafel. Ia mencuci tangannya lantas mengeringkannya dengan serbet. Kemudian ia menghampiri Sung-Ran yang sejak tadi menatapnya.

Kyung-Soo memegang kedua bahu gadis itu sembari balas menatapnya. Senyum lembutnya tidak pudar sama sekali, membuat Sung-Ran sedikit merasa risih.

Pria itu mengarahkan tangannya menyentuh wajah gadis itu, menyingkirkan beberapa helaian rambut yang cukup mengganggu pemandangannya untuk menatap wajah cantik gadis itu.

“Apa kau tahu, kalau aku sudah hapal dengan kebiasaanmu, bahkan derap langkah kakimu itu.”

Kyung-Soo mendorong tubuh Sung-Ran pelan sampai gadis itu tertahan di dinding. Pria itu meletakkan satu tangannya di samping wajah gadis itu sebagai tumpuan. Sementara tangannya yang lain tiba-tiba menyelip di sela pinggang gadis itu, merapatkan tubuh mereka berdua.

Sung-Ran meremas ujung dress-nya ketika Kyung-Soo semakin mendekatkan wajahnya. Wajah tampan nyaris tanpa cela itu benar-benar berada di depan matanya. Menguncinya dengan tatapan yang begitu mempesona. Membuat Sung-Ran tidak bisa mengalihkan fokusnya lagi selain pada wajah pria itu.

Cause you’re my baby,” ucap Kyung-Soo tepat di depan bibir gadis itu sebelum menempelkannya dengan lembut. Mempermainkan bibir atas dan bawah gadis itu secara bergantian. Sung-Ran terlalu gagu untuk membalas. Meskipun ia dan Kyung-Soo sudah menikah sejak beberapa bulan yang lalu, Sung-Ran benar-benar menjaga jarak atau lebih tepatnya gadis itu belum siap untuk melakukan hal yang dilakukan oleh pasangan suami istri pada umumnya.

Apa itu berarti mereka belum pernah melakukan malam pertama? Jawabannya iya.

Dan Kyung-Soo memakluminya. Gadis itu masih terlalu muda untuk menyandang status sebagai ibu rumah tangga. Jadi, Kyung-Soo tidak akan memaksa gadis itu. Ia berjanji pada dirinya untuk menunggu sampai gadis itu siap.

Ciuman hangat ini adalah ciuman kedua mereka setelah mereka di sahkan menjadi suami istri. Yang pertama tentu saja di atas altar ketika mereka melaksanakan pernikahan.

Pria itu mengarahkan tangan Sung-Ran ke belakang tengkuknya. Ia bermaksud memberikan kesempatan pada gadis itu agar ciuman ini bukan berasal darinya saja, tapi Sung-Ran juga berhak melakukan hal yang sama seperti yang Kyung-Soo lakukan.

Kyung-Soo merasakan gadis itu malu-malu dalam bergerak. Tapi setidaknya gadis itu sudah memberikan respon positif atas yang baru saja dilakukannya. Gadis itu bahkan meremas lembut rambut Kyung-Soo.

Ngiingg!

Suara mendengung yang berasal dari teko lisrik yang biasa mereka gunakan untuk merebus air baru saja berbunyi membuat Kyung-Soo berhenti dan menghampiri benda sialan yang sudah mengganggunya itu.

Sung-Ran mengambil napas sebanyak-banyaknya ketika Kyung-Soo melepaskan ciuman itu. Wajahnya memerah dan bulir keringat sedikit membasahi pelipisnya. Degupan jantungnya kian memacu makin cepat. Sung-Ran tidak beranjak sedikitpun dari sandarannya di dinding dapur.

Kyung-Soo kembali kembali menghampiri Sung-Ran setelah ia menyelesaikan urusannya. Pria itu menyapu ujung bibir gadis itu dengan jempolnya. Kemudian dengan tiba-tiba mengangkat tubuh gadis itu dengan bridal style.

“Kyung-Soo…” gumam gadis itu ketika ia tahu kalau Kyung-Soo melangkahkan kakinya menuju kamar mereka berdua.

“Ya?”

“Sepertinya bercinta itu tidak semenakutkan yang ku pikirkan.”

“Apa itu berarti kau…” Kyung-Soo tertawa pelan saat menyadari wajah gadis itu semakin merah padam. Membuatnya terlihat semakin cantik di mata Kyung-Soo. “Padahal aku ingin mengajakmu tidur saja,” ucap Kyung-Soo yang mutlak membuat gadis itu mempermalukan dirinya sendiri.

“Mwo?!” pekik gadis itu dengan wajahnya yang lucu.

Kyung-Soo tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Sung-Ran memukul pelan lengan Kyung-Soo karena hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.

“Tapi kalau kau mau… mari kita ciptakan Kyung-Soo kecil.”

Pasangan muda itu menciptakan kebahagiaan mereka sendiri. Berharap kata bahagia selamanya itu tidak hanya ada di dongeng-dongeng, melainkan di dunia nyata. Dan semua orang bisa bahagia dengan cara mereka masing-masing.

***

My Lady

(Oh Sehun – Park Minri)

Minri berusaha mengimbangi langkah Sehun ketika pria itu menarik tangannya dan membawanya ke taman belakang rumahnya sendiri.

Di rumah Minri itu sedang ada pesta, yaitu pesta untuk merayakan hari ulang tahunnya. Dan kekasihnya yang bernama Sehun itu justru membawanya jauh dari keramaian. Orang-orang pasti bingung jika Minri tiba-tiba menghilang dari pestanya sendiri.

“Aku ingin bicara denganmu,” ucap Sehun setelah ia berhasil membawa gadis itu ke tempat yang sepi. Dimana hanya ada mereka berdua saja.

“Kau kan bisa bicara di dalam, mengapa harus membawaku ke tempat seperti ini? Disini gelap tahu?!” omel gadis itu lantas hendak beranjak meninggalkan Sehun sebelum tangan Sehun menahannya. Lalu secara tiba-tiba menyandarkan gadis itu di salah satu pohon besar yang ada disana.

“Aku mohon… sebentar saja. Ini serius.”

Minri mengerjapkan matanya dengan cepat saat merasakan atmosfer berbeda di sekitarnya. Tatapan pria itu seakan mengintimidasinya, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan sekedar menarik napas saja terasa sulit.

“Bi-bicaralah,” ucap gadis itu akhirnya.

“Dengar, kita sudah menjadi pasangan kekasih selama beberapa tahun. Sekarang, dengan pertimbangan yang cukup dan memikirkan konsekuensinya aku ingin kau menjadi istriku.”

Minri membulatkan matanya membuat wajahnya yang cantik itu tampak lucu dan menggemaskan, membuat Sehun berusaha menahan diri untuk tidak mencium gadis itu secara tiba-tiba. Setidaknya bukan sekarang.

“Oh ayolah.. Aku sudah belajar berhari-hari untuk mengatakan hal ini padamu dan kau hanya memberikan respon seperti itu padaku. Katakan sesuatu sayang…”

Minri mengernyitkan keningnya saat mendengar Sehun berkata seperti itu padanya. Bukan tidak suka, ia hanya tidak terbiasa.

“Kau membuatku tidak bisa berkata-kata Sehun-ah,” ucap gadis itu. “Dan berhenti menatapku seperti itu! Kau seperti sedang menginterogasi penjahat daripada menatap kekasihmu.”

“Jangan salahkan aku, karena kau terlalu menarik untuk ditatap. Bahkan rasanya merugikan sekali kalau aku melewatkan momen seperti ini untuk tidak menatapmu.”

“Sehun-ah…”

Sehun memegang tangan gadis itu dengan lembut. Lalu mengecupnya.

“Menikahlah denganku,” ucap Sehun sembari tersenyum. Meyakinkan gadis itu bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya.

“Aku tidak menyangka kalau kau akan memintaku menjadi istrimu secepat ini. Kita masih muda tahu?”

“Itulah mengapa aku ingin secepatnya menjadikanmu milikku karena aku tidak ingin kau memalingkan wajahmu pada pria lain lagi, karena aku ingin kita hidup dan tinggal bersama dengan ikatan resmi, yaitu pernikahan.”

Minri menahan air matanya agar tidak keluar. Kebahagiaan dalam dadanya tiba-tiba membludak keluar seperti air bah yang siap tumpah kapan saja.

Hari ulang tahunnya benar-benar terasa spesial karena Sehun.

I do.

Dua kata yang terucap dari bibir gadis itu seketika membuat perasaan Sehun lega sekaligus bahagia. Kedua bibirnya terangkat untuk menampilkan senyum terbaiknya. Dengan segera pria itu memeluk gadisnya dan menghirup udara di bahu gadis itu.

“Terimakasih sudah mempercayakan semuanya padaku.”

Sehun melepaskan pelukannya. Lalu beralih memegang dagu gadis itu dengan satu tangannya. Lantas menempelkan bibir mereka berdua. Sementara Minri berjinjit, berusaha menyeimbangkan tingginya dengan Sehun. Meskipun ia sudah memakai high heel, tapi ia tetap tidak bisa mengimbangi pria itu.

Sehun memiringkan kepalanya, mengeksplor lebih jauh ciuman mereka berdua. Sehun mengajak lidah Minri beradu, membuat gadis itu hanya bisa mendesah tertahan. Langit yang gelap dan angin yang berhembus menjadi saksi antara mereka berdua.

Kebahagiaan itu adalah ketika kau menjadi milikku. Sesederhana itu.

***

Yeahhh!! FIN ^o^ Apa kalian merasa ini pembunuhan karakter? *plak!* Ahhh!! Itulah imajinasi saya u,u/ Luhan manly banget yak, trus Kai jadi woles gitu dan DIO??!! Kyahhh!! Dio manis banget astaga ini karena bibir sexynya dio makanya saya kasih dia kissing scene yang heboohhh!! (maklum saya pencinta bibir sexy :o) dan si milky skin Sehun tetap menjadi milik saya #dibunuh

(kalo punya ide bagus, yg lain mungkin nyusul. hahaa)

Oke sekian, makasih udah baca *peluk satusatu(?)*

Love Story

2 thoughts on “Love Story

  1. Gak suka EXO sih, tapi penasaran sama drabble-nya eonni ngehehehe :3

    dan sukses ngakak2 gajelas di bagian “Baby”. Gatau kenapa ya, di situ saya ngakak sekali sodara-sodara XD

    dan curiga, jangan2 bias eon di EXO itu Sehun ya? Abisnya Sehun dipasangin sama Park Minri LOOOOL. Oke deh segitu aja, lucu eon drabblenya cuteee :3

    1. charismagirl says:

      ngehehe :3

      hmmppt xD itu bagian paling vulgar *plak!* kissing scenenya lebih spesifik(??)
      ngakak ya-_-

      Huwahaha kamu bener kok :3
      tapi sebenernya aku bingung mau Sehun apa Baekhyun. nyahaha… duaduanya aja kali ya 😮

      thanks vania :3

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.