All About Us – line 3

all about us {cover} Tittle : All About Us – line 3

Author : Charismagirl

Main Casts :

  • Oh Sehun
  • Park Minri (OC)
  • Han Yeon Young (OC)
  • Wu Yi Fan (Kris)

Support Casts :

  • Park Chanyeol
  • EXO’s members
  • Others, find it by your self^^

Genre : Romance, Frienship, School Life, Family

Rating : Teen, PG-13

Length : Chapter

Note : Hello everyone, I’m back! Do not copycat this story… Ya udah deh, ENJOY~^^!!

Prolog | line 1 | line 2

∆∆∆

Sehun melaju di tengah keramaian Seoul bersama Minri. Membelah jalanan dengan motornya yang besar. Minri meletakkan tangannya di pahanya sendiri meremas kuat rok sekolahnya. Berusaha mempertahankan keseimbangan agar ia tidak terjengkang ke belakang. Jujur saja, motor yang Sehun kendarai sudah berada dalam kecepatan lebih dari rata-rata. Minri tahu kalau Sehun adalah pengendara yang handal, tapi kalau ia tidak berpegangan ia bisa jatuh. Aish!

“Sehun-ssi, bisakah kau menurunkan kecepatanmu?”

“Kenapa? Kau takut?” tanya Sehun tanpa berniat sedikitpun menurunkan kecepatan motornya.

Minri tidak menjawab. Tidak mungkin kalau ia tidak takut. Tapi kalau ia menjawab bahwa ia takut, mungkin Sehun akan menurunkannya di jalan. Ya, itu kemungkinan terburuk yang pernah terpikir di benak Minri.

“Pegangan yang kuat kalau kau takut jatuh,” ucap Sehun teredam karena helm-nya tertutup.

Ne?” tanya Minri tidak yakin.

“Pegangan, kalau kau mau lingkarkan lenganmu di pinggangku. Begitu lebih baik.”

MWO?! Pekik Minri dalam hati. Lebih baik apanya? Berada dalam jarak sedekat ini saja sudah membuat perasaannya campur aduk. Dan sekarang Sehun menyuruhnya melingkarkan lengan di pinggang Sehun? Astaga!

Sehun melepas tangan kirinya yang memegang stir, lantas menuntun tangan Minri agar berpegangan pada pinggangnya. Sehun sendiri merasa bodoh karena ia mengambil tindakan yang terlalu berani. Meminta gadis itu pulang bersamanya saja sudah menguras seluruh keberaniannya. Dan sekarang apalagi? Ada apa dengan diri Sehun sebenarnya.

Perlahan tangan Minri sebelah kiri meremas tepi kemeja Sehun. Kemudian gadis itu mengangkat tangan kanannya ragu.

Sehun menunduk sebentar melihat tangan gadis itu yang masih menggantung, lantas menekannya agar kedua tangan gadis itu terlingkar sempurna di pinggangnya. Sehun kembali menatap lurus ke jalan dan memegang stir dengan kedua tangannya. Sehun tersenyum tipis. Entah mengapa ia merasa senang. Dirinya seperti berada di atas awan, ringan dan menyenangkan. Ia mengabaikan jantungnya yang memberontak tidak karuan. Dan hal bodoh yang dia inginkan lagi adalah bertahan di posisi seperti ini dalam waktu yang lebih lama. Aish! Sehun pasti sudah tidak waras.

Minri menggigit bibir bawahnya. Tidak pernah terpikir olehnya bisa dalam posisi seperti ini. Apalagi Sehun adalah orang yang baru dikenalnya karena keperluan event sekolah. Tidak! Dia tidak boleh punya perasaan apapun pada Sehun. Laki-laki ini milik Yeon. Meskipun belum sekarang.

***

Yeon menatap lurus ke depan jalan tanpa bicara apa-apa. Sementara Kris yang berada di sampingnya hanya sesekali melirik Yeon. Tampaknya Yeon masih kesal karena harus dibawa paksa oleh Kris ke rumah Kris untuk mengajari Kris kimia. Ya, di-pak-sa.

Sebenarnya Kris tidak terlalu buta dalam pelajaran kimia. Hanya saja ia senang membawa Yeon ke rumahnya. Membuat mereka mengenal lebih dekat satu sama lain.

“Ya! Kalau kau mempertahankan ekspresi wajahmu seperti itu. Aku yakin kau adalah satu-satunya perempuan yang pernah memasang wajah jelek di depanku,” ucap Kris asal. Tidak peduli bahwa gadis di sampingnya semakin merasa mendidih.

“Jelek? Bagus. Supaya kau tidak perlu suka padaku,” jawab Yeon sekenanya.

“Siapa juga yang suka padamu? Pede sekali.” Kris menghentikan mobilnya tepat disaat lampu lalu lintas berubah merah.

Yeon melirik ke sekelilingnya. Tidak ada hal yang menarik untuk dilihat sebelum matanya menangkap dua orang yang dikenalnya. Sehun dan Minri. Dia kenal betul dengan motor yang dikendarai Sehun. Tapi yang membuatnya bingung mengapa mereka bisa pulang berdua?

Yeon menatap kedua orang itu cukup lama. Sampai Kris kembali mengajaknya bicara dan lampu lalu lintas berubah hijau.

***

Minri turun dari motor Sehun dengan hati-hati. Sekarang Minri sudah berada tepat di depan teras rumahnya. Sehun mengantarnya sampai ke dalam. Jarak dari gerbang utama ke rumahnya cukup jauh karena halamannya sangat luas. Lebih mirip lapangan golf.

Gadis itu membenarkan rok dan bajunya yang agak acak-acakan. Begitu pula dengan rambutnya yang sudah tidak terarah, tidak beraturan. Sehun mengulurkan tangannya membantu gadis itu merapikan rambutnya.

“Eh?” Minri mundur selangkah, dia terlalu kaget dengan perlakuan Sehun yang tiba-tiba seperti itu. Sehun berdehem lantas menurunkan tangannya.

Kamsahamnida, Sehun-ssi,” ucap Minri sembari membungkukan badannya sedikit. Gadis itu menatap langit. Memang langit tampak mendung tapi mendung belum tentu akan turun hujan ‘kan? Aish! Kenapa ia tidak bisa berpikir seperti ini tadi? Kalau ia berpikir seperti ini pasti ia menolak ajakan Sehun untuk mengantarkannya pulang. Laki-laki ini sudah mempengaruhi pikirannya hanya dalam beberapa saat. Sial!

Sehun baru akan menyalakan motornya saat sebuah mobil sedan hitam mendekat ke arah mereka berdua. Mobil itu berhenti di depan rumah Minri. Pintu mobil dibuka oleh pelayan yang sudah menunggu di depan pintu utama. Seorang pria paruh baya keluar dari sana. Pria itu tampak bugar, tegas dan tampan di usianya yang sudah menginjak 45 tahun. Tuan Park. Sehun membungkuk hormat, sementara Tuan Park menghampiri mereka berdua.

Appa, perkenalkan ini temanku, namanya Oh Sehun.”

“Temanmu? Wah, anak muda tubuhmu tegap dan wajahmu juga tampan,” ucap Tuan Park terang-terangan, membuat Sehun tersenyum canggung lantas menunduk, merasa tersanjung. “Kau mau singgah sebentar?” tanya Tuan Park.

Aniyo, dia langsung pulang. Iya kan, Sehun-ssi?” jawab Minri cepat, bahkan saat Sehun baru membuka mulutnya untuk menjawab tapi gadis itu membuatnya mengurungkan niat untuk bicara.

“Kenapa buru-buru? Ayo masuk dulu!” ajak Tuan Park penuh semangat membuat Sehun merasa tidak enak hati untuk menolak.

Appa…” ucap Minri nyaris putus asa saat ayahnya merangkul bahu Sehun dengan akrab dan membawa laki-laki itu masuk ke dalam rumah. Minri menghela napas lantas ikut masuk ke dalam.

Sehun dipersilakan Tuan Park untuk duduk di ruang tamu, sementara Minri naik ke lantai dua–kamarnya. Sehun menatap ke sekelilingnya. Ada banyak figura foto yang tergantung, yang figura yang paling besar adalah foto yang memuat tiga orang. Minri, Tuan dan Nyonya Park. Tanpa sadar Sehun mengangguk, seakan baru mendapat penjelasan secara tidak langsung. Minri adalah anak tunggal.

Tidak lama gadis itu turun, dia sudah mengganti bajunya. Rambutnya yang panjang ia jalin longgar dan disampirkan ke sebelah kanan bahunya. Cantik. Sehun tidak tahu definisi cantik itu sebenarnya seperti apa, tapi di mata Sehun meskipun gadis itu tidak sedang berdandan atau berusaha terlihat rapi, ia tetap cantik. Sehun sedikit menyesal baru mengenalnya sekarang.

“Nona, waktunya makan siang,” ucap salah seorang pelayan di rumahnya.

Ne, Kim Ajeossi.”

“Kata tuan, ajak teman anda juga.”

“Dia?” tanya Minri sambil menunjuk Sehun yang menatapnya bingung, mungkin merasa dirinya dibicarakan. Dan asal tahu saja, tadi itu benar-benar pertanyaan bodoh. Memangnya siapa lagi temannya yang ada di rumah?

Kim Ajeossi mengangguk, lantas pamit. Kemudian Minri menghampiri Sehun.

“Sehun-ssi, mari makan siang bersama.” Tanpa menunggu jawaban dari Sehun, Minri melengos pergi menuju ruang makan. Di belakang gadis itu, Sehun tersenyum tipis. Dia tidak menyangka akan sejauh ini mengenal keluarga Minri saat mengantar gadis itu ke rumahnya.

Setelah tiba di ruang makan, Sehun membungkuk hormat lagi saat bertemu wanita yang merupakan ibu dari Minri. Wanita itu tampak cantik di usianya sekarang. Wanita itu tersenyum hangat pada Sehun, membuat Sehun ikut tersenyum.

“Silakan duduk nak,” ajak Nyonya Park.

Kamsahamnida,” ucap Sehun lantas duduk di kursi yang berada di samping Tuan Park.

Tanpa sepengetahuan Sehun, Minri menatap Sehun. Laki-laki itu tampak sangat akrab dengan ayahnya. Mereka sesekali tertawa. Minri tidak terlalu mengerti dengan apa yang mereka bicarakan–entahlah, mungkin urusan pria.

Minri menyendok makanannya dan memakannya dengan santai.

“Sehun-ssi, jadi kau ketua klub olahraga yang bekerja sama dengan Minri?” tanya Tuan Park.

Ne,” jawab Sehun sambil tersenyum. Untuk beberapa saat Minri terpaku pada senyuman itu, lantas meletakkan sendoknya dan meraih gelas minumnya. Mencoba mengalihkan perhatiannya dari laki-laki itu.

“Wah, kalian pasti sering melakukan pertemuan. Kenapa tidak sekalian kencan saja?” Sahut Nyonya Park.

Eomma…” Minri mendongak sembari membulatkan matanya. Sehun tertawa kalem. Hanya itu tanggapan dari Sehun. Kelihatannya laki-laki itu menyukai perkataan Nyonya Park barusan.

“Selamat siang semuanya,” sapa Chanyeol riang. Ia baru saja tiba. Chanyeol tampak terkejut dengan keberadaan Sehun di meja makan.

“Sehun-ah, kenapa kau bisa ada disini?” Tanya Chanyeol sambil meletakkan tas selempangnya di kursi lantas duduk di meja makan, di tempat yang biasa ia duduki.

“Heh, tiang! Kau tidak berniat mengganti bajumu dulu atau cuci tangan mungkin? Kau tahu, kau sangat berpotensial menyebar kuman dengan kondisi seperti itu,” Tegur Minri dengan nada menakutkan.

Nyonya Park menyenggol lengan Minri, mengingatkan bahwa ada orang lain di meja makan mereka, agar Minri dan Chanyeol tidak perlu berdebat sekarang. Setidaknya tidak di hadapan Sehun. Tapi gadis itu tetap memasang wajah datarnya sambil menyendok makanannya lagi.

Chanyeol melirik Minri sebentar, kemudian mengalihkan pehatiannya lagi pada Sehun. Dia belum mendapat jawaban dari Sehun kenapa Sehun bisa berada dalam rumah ini.

“Aku hanya mengantarkan Minri pulang, lalu Tuan Park mengajakku masuk,” ucap Sehun sambil tersenyum pada ayah Minri.

Chanyeol cukup terkejut dengan alasan Sehun. Mengantarkan Minri pulang? Aneh sekali. Sehun tidak pernah sepeduli ini pada wanita. Terlebih mereka baru dekat akhir-akhir ini saja. Jangan-jangan tebakannya benar. Chanyeol merasa cara Sehun menatap Minri sangat berbeda dibandingkan saat Sehun menatap orang lain. Saat menatap Minri, Sehun seperti lupa keadaan sekitarnya. Seakan seluruh fokusnya hanya tertumpu pada gadis itu. Itulah yang Chanyeol lihat saat di lapangan basket. Saat gadis itu lewat dan menganggu acara berfoto mereka.

***

“Chanyeol-ah, aku pulang dulu.” Sehun menaiki motornya lalu memakai helm di kepalanya.

Geurae,” sahut Chanyeol.

“Tuan Park, Nyonya Park, kamsahamnida.”

“Sering-sering kesini ya?” ucap Nyonya Park sambil tersenyum hangat. Sementara Minri yang berada di samping ibunya hanya menatap wanita itu dengan pandangan tidak percaya. Seluruh keluarganya sudah takluk dengan laki-laki bernama Sehun itu. Apa mereka tidak memikirkan Minri? Mereka pasti tidak tahu kalau jantung Minri agak bermasalah jika berdekatan dengan laki-laki itu sampai radius sepuluh meter.

Sehun balas tersenyum. Ia ingin sekali sering-seing kesini agar ia bisa mengenal gadis itu lebih dekat. Tapi sepertinya ia harus mencari alasan yang tepat agar gadis itu menerima kedatangan Sehun. Lain kali, di pertemuan berikutnya Sehun harus melihat gadis itu tersenyum.

Tiba-tiba ponsel Minri berbunyi. Gadis itu merogoh saku celananya lantas menekan salah satu tombol.

“Yeon-ah? Ada apa?”

***

Yeon berjalan mondar-mandir dalam kamarnya. Ia bahkan belum mengganti bajunya setelah pulang dari rumah Kris. Gadis itu ingin sekali menelpon sahabatnya Minri dan menanyakan mengapa Minri dan Sehun bisa pulang bersama. Sebenarnya Yeon tidak berhak mengetahui semua urusan sahabatnya. Hanya saja kalau hal itu berkaitan dengan Sehun, ia harus tahu.

Yeon memegang ponselnya. Menekan tombol hijau agar panggilan terhubung. Tapi belum sempat terhubung, Yeon lebih dulu menekan tombol merah. Ia ragu. Dan ini sudah dilakukannya berulang kali dalam setengah jam terakhir.

Gadis itu menarik nafasnya dalam lalu menekan tombol hijau lagi. Sampai panggilan benar-benar terhubung dan Minri mulai bicara.

“Yeon-ah, ada apa?”

“Err…” Belum sempat Yeon melanjutkan kalimatnya, Yeon cukup dikejutkan dengan suara laki-laki dari balik telponnya.

“Minri-ssi, aku pulang dulu. Terimakasih.” Yeon yakin sekali kalau itu suara Sehun.

Ne.” terdengar suara motor yang di jalankan, lalu suara itu semakin menjauh hingga akhirnya menghilang. “Yeon?” tegur Minri.

Tunggu dulu! Jam berapa ini? Ucap Yeon dalam hati. Gadis itu melirik jam beker yang terletak rapi di atas meja belajarnya. Sudah lewat dua jam dari waktu pulang sekolah. Apakah Sehun dan Minri jalan ke suatu tempat dulu atau Sehun berlama-lama berada di rumah Minri? Aish! Yeon jadi pusing.

Aniyo, aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan sore ini. Bagaimana?”

“Yah, sayang sekali aku tidak bisa. Masih banyak tugas yang belum ku selesaikan,” ucap Minri dengan nada kecewa.

Jinjjayo? Geurae, gwaenchana. Hwaiting!” ucap Yeon dengan nada ceria.

Gomawo Yeon-ah.”

Klik! Saluran telpon terputus. Yeon memukul kepalanya pelan. Ia tidak boleh berburuk sangka pada sahabatnya sendiri. Minri tidak mungkin menyukai Sehun. Karena Minri jelas-jelas tahu kalau Yeon sudah menyukai Sehun sejak awal.

***

Cuaca hari ini cerah. Mendukung Seoul High School untuk melaksanakan event mereka. Beberapa siswa tampak berkumpul di lapangan. Mereka tidak ingin melewatkan event yang sangat berharga ini. Mereka menunggu pertandingan yang paling bergengsi. Permainan basket.

Berita tentang tim inti tidak boleh ikut serta sudah tersebar. Kebanyakan para yeoja merasa kecewa karena mereka tidak bisa melihat kapten tim menunjukkan kehebatannya di lapangan. Tapi kekecewaan mereka sedikit terobati saat mengetahui kalau Sehun akan menjadi wasit. Itu berarti mereka masih bisa melihat Sehun, meski bukan sebagai pemain.

Acara belum dimulai. Karena kelihatannya para panitia masih mempersiapkan segala peralatan.

Minri berjalan menuju ruang olahraga untuk mengambil papan skor. Semua anggota divisinya sedang sibuk, makanya ia harus mengambilnya sendiri. Lagi pula hanya mengambil papan skor bukan tugas yang berat baginya.

Minri membuka pintu perlahan, lantas masuk. Ia menyusuri lemari locker tinggi yang berada di kanan dan kirinya. Biasanya benda-benda seperti papan skor diletakkan diujung ruangan. Minri berbelok ke kiri, dimana tempat penyimpanan peralatan olahraga diletakkan.

Tiba-tiba Minri terkesiap saat melihat ada orang lain di dalam ruangan itu–Sehun. Gadis itu berbalik, membelakangi Sehun saat melihat laki-laki itu membuka bajunya. Dan ia tidak tahu lagi apa yang dilakukan laki-laki itu selanjutnya.

“Aku sudah selesai.” Lalu ada suara langkah kaki mendekat. “Mengapa kau kemari Minri-ssi?” Minri berbalik dan melihat Sehun memakai pakaian berbeda dari yang pertama dia lihat. Rupanya laki-laki itu mengganti bajunya dengan pakaian olahraga.

“A-aku mencari papan skor,” ucap Minri sedikit tergagap saat Sehun semakin mendekat.

“Oh, itu di atas locker.” Tunjuk Sehun tepat di atas kepala Minri, membuat gadis itu mendongak.

Minri mengira-ngira apakah ia sampai menjangkau benda itu hanya dengan tangannya? Lantas kembali menunduk saat menyadari benda itu terlalu tinggi. Ia menatap Sehun sebentar, laki-laki itu masih bergeming di tempatnya. Sehun tidak ingin membantunya ya? Baiklah, dia bisa kok melakukannya sendiri.

Minri menyusuri pandangannya ke seluruh ruangan. Kemudian berjalan sampai ke sudut ruangan tapi tidak menemukan benda yang ia cari–sebuah kursi. Sehun hanya melihati gerak-gerik gadis itu dengan pandangan datar. Laki-laki itu berusaha mempertahankan tubuhnya tetap diam agar tidak membantu gadis itu. Tapi akhirnya Sehun menyerah saat melihat gadis itu menghembuskan nafasnya gusar. Sedikit bingung juga mengapa gadis itu tidak meminta bantuannya. Gengsi?

Minri berdiri di depan locker.

“Kenapa kau tidak meminta bantuanku saja?” tanya Sehun sembari menghampiri gadis itu. “Minggir!”

Minri mundur selangkah, membiarkan Sehun berada di depannya. Jarak mereka dekat sekali. Sehun tepat berada di depan locker, lalu Minri di belakang Sehun. Laki-laki itu menjangkau dengan satu tangannya. Setelah mendapatkan benda itu Sehun segera menurunkannya. Minri menyambut papan itu, kemudian ada benda yang terjatuh dari sana. Sebuah spidol. Minri baru akan mengambil benda itu tapi Sehun lebih dulu menunduk.

Minri meniup papan itu, menyingkirkan debu-debu yang menempel. Kemudian menghadap Sehun. Bersamaan dengan itu Sehun baru saja berdiri sehingga tanpa disengaja bibir Sehun menyentuh pipi Minri. Gadis itu membulatkan matanya karena kaget. Kemudian ia mendirikan papan skor di tepi lemari. Lantas mendorong Sehun sampai laki-laki itu tersandar di lemari locker.

“YAK?!” bentak gadis itu geram.

Sehun juga terkejut dengan kejadian itu. Sehingga ia hanya sempat menarik nafas. Lantas menghembuskannya perlahan saat tersadar dari keterkejutannya.

Minri menatap laki-laki itu dengan pandangan sengit. Sementara Sehun balas menatap dengan pandangan datar. Sehun bergeming. Tidak melakukan apa-apa dan tidak berkata apa-apa.

Perlahan tatapan Minri melunak. Ia mengedipkan kedua matanya pelan. Gadis itu bingung kenapa Sehun hanya diam dan menatapnya seperti itu, membuatnya takut saja. Jantungnya tidak bisa diajak kompromi sekarang. Degupannya yang terlalu keras membuat Minri takut kalau Sehun akan mendengarnya.

Minri terkesiap saat Sehun tiba-tiba memegang kedua bahunya dan membalikan badan Minri dengan cepat sehingga ia tersandar di locker.

“Begini baru benar,” ucap Sehun seraya tersenyum manis. Laki-laki itu meletakkan satu tangannya di samping wajah Minri, membuatnya leluasa untuk menatap wajah gadis itu.

Minri terpaku. Dia pasti sudah tidak waras kalau tidak melakukan perlawanan apapun. Dia harus segera sadar dan pergi dari situ agar tidak terjadi macam-macam. Atau setidaknya tidak membiarkan Sehun melakukan hal yang tidak diinginkannya.

Sehun mendekatkan wajahnya, sementara gadis itu memejamkan matanya. Sehun mengeluarkan smirk, ia seperti baru saja mendapatkan izin melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Mencium gadis di depannya.

Hening. Tidak ada suara dalam ruangan itu, hanya hembusan nafas dari keduanya. Tinggal sesenti lagi bibir Sehun menyentuh bibir gadis itu, tapi… suara ponsel menghentikan aktivitasnya. Sialan!

“Arrgh! Micheoseo!” Minri mendorong tubuh Sehun dengan gusar, membuat Sehun terjengkang ke belakang, nyaris terjatuh kalau saja ia tidak memiliki keseimbangan tubuh yang cukup.

Minri bukan kesal karena mereka tidak jadi melakukan ciuman itu. Tapi ia kesal karena dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia benar-benar sudah tidak waras. Dan ia yakin, laki-laki ini penyebabnya. Aish!

Gadis itu meraih ponsel di saku jaketnya, lantas mengangkat telpon.

Yeoboseyo Suho-ssi?… Ne, aku akan segera ke sana… Aku sudah menemukan papan itu… Jeongmal mianhamnida… Pertandingan akan dimulai ya? Geuraeyo.”

Minri mengangkat papan skor itu lantas melangkahkan kaki keluar ruangan. Ia sempat menatap Sehun sebentar. Sebelum menghentakkan kaki dan mengacak poninya sendiri dengan tangannya yang bebas. Gadis itu tampak frustasi sekali. Baru kali ini Sehun melihat sisi lain dari gadis itu.

Minri berdeham keras, lalu memasang wajah datarnya lagi. Dengan kalem dia berjalan keluar ruangan, seolah tidak terjadi apa-apa dengannya barusan.

“Ya, Minri-ssi! Chamkammanyo! Pertandingan tidak akan dimulai jika wasitnya masih berada disini.” Sehun menyejajarkan langkahnya dengan gadis itu.

Minri melirik Sehun, lantas mempercepat langkahnya.

“Aku bisa gila,” gumam Minri.

TBC

© Charismagirl

 

Leave a comment ya^^ Sorry for typo. And … thanks for wait. *bow*

All About Us – line 3

5 thoughts on “All About Us – line 3

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.