[FF] I’m So Sorry

im so sorry2

I’m So Sorry

By           : ReeneReenePott

Casts     : Jung Heenim, Choi Minho, Kim Myungsoo

Genre   : Romance, Sad.

Rating   : PG – 13

Length  : Ficlet

Before story : It’s Sleep Time | Baby! Baby! Baby! | Good Person | Think of You |Sweet Dream | Seul Rin’s Side : Mr. Fussy | Summer Paradise | Letter Of Will | 7 Years of Love | Seul Rin’s Side : Couple Ring | IF | Aloha | Status

Bukannya semua orang tahu, kalau seorang Jung Heenim hanya seorang anak tunggal? Well, itu sekarang. Sekarang di tempat kerjanya tidak ada yang tahu kalau dia pernah mempunyai kakak angkat kecuali Seul Rin. Dan gadis itu pun tak pernah angkat bicara soal seluk-beluk keluarga Heenim karena, yah, memangnya itu diperlukan untuk produktivitas kerja? Sekarang kehidupan Heenim sudah tenang-tenang saja dan berjalan mulus—oh, hampir lupa kejadian beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, Heenim bukannya tidak mau mengaku kalau dia pernah punya kakak angkat. Bukannya malu atau apa, tapi, ck. Siapa sih yang mau membeberkan kisah hidupnya yang menyedihkan, jatuh cinta pada kakak sendiri? Kalau dituduh incest malah marah sendiri. Tapi mau apa? Heenim terpaksa kembali memanggilnya ‘kakak’ karena pria itu duluan yang memanggilnya ‘adik’. Padahal kalau bisa ia tak ingin mengenalnya lagi.

Heenim mengangkat kepalanya ketika merasa ada seseorang yang memerhatikannya. Dan jantungnya hampir copot ketika melihat wajah Im Yoona berada tepat di atas sekat mejanya. “Astaga! CEO Im,” Heenim buru-buru berdiri dan membungkuk, sementara Yoona hanya tersenyum.

“Tidak perlu memanggilku CEO, kau kan adiknya Minho oppa,” Yoona mendekat sedikit lalu kembali ke posisinya semula. “Tapi kenapa margamu berbeda dengan Minho oppa? Apa kau…” Yoona memiringkan kepalanya sedikit, “Kau adik tirinya? Atau kau bukan adiknya?”

Heenim hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya. Kalau sampai Yoona mengatakan kalau ia adik pungut Minho, dia bisa menggampar perempuan itu sampai terjengkang—karena, well, adik angkat lebih halus daripada adik pungut kan. “Y-yah, itu hal yang sulit dijelaskan,”

“Atau jangan-jangan, kau pernah menjalin hubungan dengan Minho oppa lalu putus lalu akhirnya mengambil status kakak-adik? Benar begitu?”

Heenim membelalak. Hah?! “Aku tak pernah pacaran dengan Minho,”

Set.

Heenim kembali mengedipkan matanya ketika Yoona mememberinya sesuatu. Lebih tepatnya, undangan. Undangan pertunangan Choi Minho dan Im Yoona, cukup jelas dengan tulisan super besar itu. “Sebagai formalitas karena kau adiknya Minho oppa,”Tangan Heenim mengambil undangan itu, matanya tak berkedip menatap tulisan di cover-nya. “Aku hanya ingin memberi itu. Sampai jumpa calon adik ipar,” Yoona tersenyum sebelum meninggalkan Heenim yang menatapnya mematung.

Tes

Heenim kaget ketika air matanya jatuh. Segera ia usap sebelum ada yang tahu, baik Seul Rin atau siapapun.

__

“Hei, Miss Jung,”

Heenim mendongakkan kepalanya setelah mengisi cangkir yang sedang dipegangnya dengan air panas. Ia langsung tersenyum dan membungkuk. “Ah, Manajer Kim,”

Myungsoo memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku sementara tangan yang satunya lagi memegang cangkir yang kosong. “Sudah kubilang panggil Myungsoo saja. Bagaimana keadaanmu hari ini?”

Heenim tersenyum kecil lalu mengaduk kopi di cangkirnya, seraya bergerak ke samping memberikan jalan untuk Myungsoo ke dispenser. “Tetap saja, Manajer, anda kan pangkatnya lebih tinggi dari saya,”

“Tapi lebih nyaman kalau panggil nama saja,” jawab Myungsoo sambil memasukkan bubuk kopi ke dalam cangkirnya. Heenim mengangkat sebelah alisnya lalu mencicip sedikit kopinya, menambahkan sedikit gula lalu mengaduknya lagi. “Baiklah, aku mengaku. Mungkin selama ini aku nampak mendekatimu karena, yah,” Myungsoo mengangkat bahunya, “Aku memang menyukaimu, Miss Jung,”

Heenim menurunkan cangkirnya lalu balas memandang Myungsoo yang menatapnya lurus-lurus. Sedetik kemudian ia memaksakan gelak tawa ringan. “Menyukai dalam hal?”

Tapi ekspresi Myungsoo tetap serius. “Semuanya,” tawa Heenim memudar perlahan. “Semua yang ada padamu. Semua hal tentangmu. Aku menyukainya,”

Jemari Heenim langsung kaku. “Kenapa aku?”

Kali ini giliran Myungsoo yang terbahak. “Kenapa kau? Karena aku menyukaimu. Memangnya kau mengharapkan alasan apa?”

Mulut Heenim sudah bergerak untuk berkata tapi sesuatu menghentikannya. “Miss Jung? Bisa tolong ke ruangan saya sebentar?” baik Myungsoo maupun Heenim menoleh ke asal suara, dan Heenim langsung membelalak mengetahui siapa pria tinggi dengan tatapan dalam yang memanggilnya.

“Baiklah, CEO Choi,” ia menjawabnya dengan sedikit tergagap, lalu menoleh menatap Myungsoo dengan tatapan maaf. Myungsoo mengangguk lalu menggumamkan sesuatu sebelum ia pergi.

“Ketika bertemu nanti, aku mengharapkan jawaban darimu, Heenim-ssi,”

Heenim membeku setelah Myungsoo pergi. Tapi akhirnya ia mengikuti Minho ke dalam ruangannya, masuk dan kembali menutup pintunya. “Apa yang perlu saya bantu—!”

Grep!

Kedua mata Heenim melotot ketika sepasang lengan melingkari pinggangnya dan tubuh Minho terjembab ke tubuhnya. “Aku merindukanmu, Heenim-ah,”

Jantung Heenim yang sudah bagai genderang perang , spidometernya langsung naik lagi. Mulutnya ingin sekali mengeluarkan kata-kata larangan, tapi suaranya tidak mau keluar karena tenggorokannya serasa tercekat dan lidahnya rasanya tak bisa ia gerakkan. Matanya mulai basah terutama ketika Minho mengeratkan pelukannya. Lagi ia merasakan kehangatan tubuh Minho. Lagi ia mencium aroma khas pria itu. “T-tolong jangan begini,” ujarnya lirih.

“Apa kau tidak merindukanku?” kepala Minho bergerak menatap Heenim, tanpa melepas pelukannya. Heenim bisa makin gila. Ia meraih kedua tangan yang melingari pinggangnya dan berusaha untuk melepasnya.

“Minho, tolong jangan seperti ini—“

“Apa kau melupakan kata-kataku?”

“Minho oppa!” pekik Heenim dan mendorong kasar tubuh Minho. “Sejak kapan kau jadi romantis padaku, hah? Main peluk-peluk, seperti bukan Minho saja,” marah Heenim berusaha menahan tangis. Bisa saja, arti pelukan itu sebagai pelukan kakak pada adiknya, kan?

“Loh, kau ditinggal tujuh tahun kok tetap galak sih,” dengus Minho lalu kembali ke mejanya. Heenim ikutan mendengus dalam hati. Tuh kan.

“Ada masalah apa?” ekspresi Heenim melunak. Kejam juga kan kalau galak terus pada Minho?

“Nanti mau makan malam?” pertanyaan yang meluncur dari bibir Minho membuat Heenim tercenung.

“Heh? Makan? Bareng kau dan Yoona? No way, aku tidak mau jadi obat nyamuk di sana,” cibir Heenim lalu duduk di kursi depan meja Minho. “Ngomong-ngomong, selamat atas pertunanganmu,” duh, menyebutkanya saja sudah membuat Heenim tak karuan. Huh, payah.

“Tidak, hanya kita berdua. Mau?”

Hati Heenim melonjak. Entah senang entah kaget. “Selama tujuh tahun kau tak pernah mengabariku, memberi sinyal apa kau masih hidup atau tidak, lalu sekarang kau mengajakku makan malam? Benar-benar kakak yang perhatian,”

Minho terkekeh menatap ekspresi Heenim. Tuhan, betapa ia merindukan gadis ini. Oh tidak, gadis ini sudah menjadi wanita sekarang. “Jadi intinya mau atau tidak?”

Heenim menatap mata Minho lurus-lurus, lalu beberapa detik kemudian ia mengeluarkan desahan panjang. “Maaf, Minho. Kurasa aku tak bisa,”

“Kenapa?”

“Aku sudah ada janji,” jawab Heenim memasang ekspresi menyesal. Bohong. Hari ini Heenim tidak akan kemana-mana. “Ngomong-ngomong, aku tak usah memanggilmu oppa, ya? Menjijikkan,”

“Kalau begitu nanti malam aku main ke rumahmu,”

Oke, sekarang jantung Heenim mau copot. “Ke rumah appa? Silahkan saja. Tapi aku sudah tidak di sana,”

Mata Minho berkedip. “Kau kabur dari rumah?”

“Ya tidaklah, dasar kau payah! Aku menyewa tempat tinggal yang lebih dekat dan strategis kemana-mana,” balas Heenim. “Jadi hanya itu saja yang mau kau katakan?” bahu Heenim turun dengan malas melihat Minho menggeleng.

“Ini tugasmu,”

Brug

Heenim melotot melihat setumpuk berkas di atas meja Minho. “Pelajari berkas ini, untuk memilih bintang tamu episode selanjutnya. Karena kita akan mengundang artis-artis lama,”

__

Heenim memutar-mutar ponsel di tangannya sambil tidur tengkurap di ranjang. Lagi galau ceritanya. Ya jelaslah, siapa sih yang gak galau kalau seorang manajer tampan menyatakan cintanya tapi sayangnya dia sedang patah hati? Bisa saja sih menerimanya tapi…

“Errrggghhh!!” Heenim mengerang kesal dan tepat setelah itu sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Tanpa melihat kontak yang menelponnya, langsung saja ia angkat panggilan itu. “Yoboseyo?”

“Heenim-ah,” mata Heenim membulat mendengar suara berat yang khas itu. Darimana Manajer Kim tahu nomor ponselnya? “Mau keluar tidak?”

Kening Heenim berkerut. “Maksudnya keluar?”

“Aku ingin mengajakmu makam ttopokki,” Myungsoo berdeham sebentar, “Aku ingin bicara denganmu,”

Heenim melirik jam. “Baiklah. Mau ketemuan dimana?”

“Aku sudah di depan pintu apartemenmu,” jawab Myungsoo yang membuat Heenim membelalak.

“Benarkah? Tunggu sebentar, oke?”

“Ya,” Heenim langsung memutuskan panggilannya dan loncat dari ranjang, menyambar ponsel, dompet dan jaketnya lalu berlari keluar kamar. Secepat kilat ia membuka pintu apartemennya, dan Myungsoo yang tersenyum padanyalah yang menjadi pemandangan pertama.

“Eh,” Heenim nampak ragu untuk mengatakan sesuatu, tapi akhirnya ia balas tersenyum.  “Selamat malam,”

“Kau sudah siap?” tanya Myungsoo. Heenim mengangguk lalu keluar dan mengunci pintu apartemennya.

__

“Aku tak pernah memaksamu untuk menerima perasaanku,” Heenim masih menatap jalan, menghiraukan Myungsoo yang sedang menatapnya lekat lewat bangku kemudinya. “Tolong jangan diam saja,”

Heenim mendengus seiring dengan mobil Myungsoo yang melaju makin cepat. “Memang kau mengharapkan aku menjawab apa, Manajer?”

Dengusan berat Myungsoo menandakan hawa yang tidak enak di dalam mobil itu. “Baiklah. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa-apa padamu,”

“Maaf,” sahut Heenim lantang kemudian, membuat Myungsoo meliriknya sebentar dan kembali menatap jalan.

Senyum pahit terukir di wajah tampannya. “Aku sudah tahu kau akan menjawab itu,”

“Aku ingin menjawab terimakasih, tapi,” Heenim menarik napas, apakah ia harus melanjutkan kalimatnya? “Yang dapat kukatakan sekarang hanya maaf,”

Myungsoo tidak meresponya.

“Tapi kau benar-benar teman yang baik, Manager Kim. Hanya saja, aku sangat minta maaf padamu,”

FIN

LIAAAATTT!!!! ADA MYUNGSOOOOOO ARARRRRGRGRGGGGHHH TAK KUBIARKAN HEENIM TERUS-TERUSAN MEREBUT HATI MYUNGSOO!! DIA KAN UDAH SAMA MINHO!!!!! #labil

Haaaah aku capek. Aku capek tekanan batin tiap liat foto Myungsoo yang ganteng amit-amit itu. EAARGH! Sayangnya dia udah punya cewek. Aku takut dicakar sama Kim Doyeon (?)

Cukup sudah. Next! Bakalan Myungsoo’s side (hanya di-post di blog pribadi tapi ya). Aku gak tahan. Aku butuh Minho, tapi dia lagi sibuk dan belum bisa menyelamatkanku dari demam Myungsoo saat ini. Yang datang menghampiri justru membuat keadaan semakin parah. KRIS! Ya Tuhannnn…. T^T JUNG DAEHYUN! Si Tokki dari planet entah dimana itu terlalu memukau. AAAAAAAAA (??)

[FF] I’m So Sorry

6 thoughts on “[FF] I’m So Sorry

  1. taurusgirls says:

    Sf3si g bisa dbuka syukur udh d.post dsini jg fufufu..

    Ahhhh!!! Henim kenapa g terima Myungso aj sihh?!! biar Minho cemburu, uhhh.. lgian dia mau tunangan jg kn -_-
    Lanjut lanjut!!!

    1. Iya, terakhir aku cek udah ganti tema, tapi lagi di privat muahahahah xD
      Yaaahhh namanya juga sukanya sama Minho yah. Mau gimana juga Myungsoo nya yaaa pasti ditolak huehe xD
      Trims yaa ^^

  2. dvapril says:

    yaaahh.. kenapa langsung ditolak myungsoo nya?
    digantung dulu aja gitu tadi mah, biar seru gitu.. haha
    atau ga liatin kedekatan heenim ma myungsoo ke minho.
    biar cemburu mampusss..
    eh btw kok aku ga liat vignette yg ini ya di sf3si?
    apa emang aku ga liat..

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.