[FICTION] A Journey of Alan and Niels

A Journey of Alan and Niels

by Alvin Jurianto and Madeleine Tjung

Mystery, Tragedy | General | Ficlet

__

Alan Robertson dibangunkan oleh secercah sinar mentari yang menembus tirai jendelanya. Matanya masih sulit membuka, tertahan oleh kantuk setelah ia kurang tidur. Semalam merupakan malam yang panjang. Ia harus mengurus untuk perjalanannya ke Batavia.

Batavia. Dia segera teringat bahwa hari itu adalah pagi hari, tanggal 20 Agustus, 1880. Hari itu ia akan menaiki kapal Queen’s Sail dari pelabuhan di Liverpool dan pergi ke Batavia, di tanah jajahan Kerajaan Belanda.

“Selamat pagi, Tuan Robertson. Koper anda telah selesai dikemas dan telah ditaruh di dalam kereta.” seorang pelayan masuk. Ia memakai setelan jas dan celana kulit hitam. Sebuah dasi kupu-kupu kecil tersemat di kerah lehernya. Rambutnya yang putih tersisir rapi, dan walaupun di mukanya terdapat kerutan-kerutan kecil, sinar matanya tidak menunjukkan bahwa jiwanya telah termakan usia.

“Terimakasih, Niels. Apakah kau sendiri sudah selesai mempersiapkan diri?” Alan bertanya, sambil menyeruput teh Earl Grey favoritnya. “Sudah, Tuan. Kereta juga sudah siap untuk berangkat sekarang juga.” Alan menghabiskan teh nya agak terburu-buru, tetapi ia berhasil untuk tidak mengotori kemeja putih dan celana kain kesukaan yang selalu ia pakai saat berpergian.”Mari kita berangkat kalau begitu.” serunya dengan sebuah senyum di wajahnya.

Selama perjalanan ke pelabuhan, percakapan antara Alan dan pelayan prbadinya, Niels, sebagian besar diisi oleh pembahasan tentang kesibukan Alan sebagai bagian dari salah satu anggota terhormat di London. Alan yang bekerja sebagai salah satu kepala dari perusahaan transportasi laut yang sukses ini juga merupakan bangsawan yang sangat dihormati. Ia juga sangat dikenal oleh hobinya yang cukup aneh. Berpetualang, dan mencari artifak-artifak kuno.

Memasuki salah satu pelabuhan tersibuk di Kerajaan Inggris, kereta kuda yang ditumpangi Alan sedikit terhambat, tetapi akhirnya mereka berhasil menemukan kapal yang akan ia tumpangi. Hasil dari pekerjaan selama 2 tahun yang melelahkan, melahirkan sebuah pahatan yang sangat mengagumkan. Layar-layar berwarna putih yang ditopang oleh tiang kayu yang menjulang tinggi, diikat oleh tali tambang kualitas terbaik. Diatas nya terdapat bendera dengan lambang Kerajaan Inggris, ditiup oleh angin laut yang menerpa pelabuhan tersebut. Dek dari kapal tersebut terbuat dari kayu kualitas terbaik, lambungnya tidak tergores walapun ia telah berkali-kali menerjang ombak. Diujung kapal tersebut terdapat pahatan seorang wanita, dengan tangan mengangkat anggun dan sepasang sayap terbuka dengan megah dari punggungnya. Queen’s Sail, kapal terbaik milik Robertson’s, perusahaan yang terangkat namanya karena ramainya penggunaan kapal ke penjuru-penjuru dunia, terutama Hindia-Belanda.

Salah satu awak kapal langsung menunjukkan kabin dimana Robert akan mengabiskan waktu sekitar 2 bulan perjalanan laut.

Perjalanan itu tidak dapat menjadi lebih baik.

Tanggal 15 Oktober, ia sudah menjejakkan kaki di tanah Batavia.

“Ah, akhirnya, aku bisa merasakan tanah lagi.” celoteh Alan sambil melihat-lihat keadaan sekitar. ia hanya mengenakkan celana pendek dan sebuah kaos lusuh, karena panasnya cuaca tropis yang ia hadapi. Banyak orang disekitarnya tampak tidak terlalu memperhatikan. Banyak orang pribumi yang lalu lalang. membawa barang ataupun hanya sekedar lewat. Ia juga memperhatikan banyaknya jumlah tentara yang berada disekitar. Sebelum rasa penasarannya muncul, sebuah tangan menyentuh bahunya.

“Tuan, saya sudah menemukan seseorang yang rumornya memiliki sebuah kain batik langka.” kata Niels sambil berbisik. Seorang kurir dengan pakaian lusuh berdiri di sampingnya. Ia membawa secarik kertas dengan tulisan yang tidak dapat Alan pahami.

“Batik, ya. Baiklah, Niels, sepertinya kau sudah menemukan sesuatu yang menarik! Ayo kita kunjungi pemilik dari kain “Batik” ini.”

Ini adalah awal mula dari serangkaian kejadian tidak terduga, yang pada akhirnya membuatnya terjebak di belantara hutan jawa, tepatnya di sekitar pantai selatan pulau jawa, bersama Niels dan pemandu mereka, Mr. Tono.

Mereka sedang mencari-cari candi legenda peninggalan dari tokoh terkenal, sang Nyi Roro Kidul. Alan harus mencari ini karena ia telah melanggar aturan yang terdapat dalam kain batik yang hendak ia beli beberapa hari sebelumnya. Kain itu, menurut kabar burung, memiliki kutukan sehingga apabila ia dibawa keluar dari daerah tempatnya bersemayam, maka orang yang membawanya akan terkena bencana hebat. Tidak percaya akan takhayul itu, Alan dengan tenang hendak kembali ke Batavia dan pulang ke Liverpool, dan kapalnya, Queen’s Sail, akan juga bertolak ke Liverpool. Tetapi saat ia hendak berangkat, ia mendapat kabar bahwa kapalnya itu karam setelah ia melakukan perjalanan singkat ke Malaka. Semua awaknya selamat, tetapi ia kehilangan transportasi untuk pulang.

“Saya rasa, Tuan, batik ini memang gaib. Apakah sebaiknya dikembalikan ke tempat asalnya? Satu bencana sudah terjadi, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” Niels berkata pelan sambil melirik tas kulit yang berisi batik langka yang terbuat dari sutera bersulam emas itu. Alan mengerutkan keningnya, tak bergeming dari pendiriannya.

“Omong kosong, Niels. Tidak ada semacam itu di tempat ini. Tidak ada bencana. Kapal itu karam karena kesalahan navigasi nahkodanya. Itu bukan ulah batik ini,” tegas Alan dan membuat Niels tidak berani berkata lagi. “Sekarang kita harus mencari penginapan. Ayo, Niels,”

Mereka akhirnya menyewa sebuah kamar penginapan di dekat pelabuhan Batavia, bermaksud untuk menunggu kapal yang juga akan bertolak ke Liverpool. Atau minimal berangkat menuju Tanjung Harapan, maka mereka akan mudah mencari perlayaran selanjutnya kembali ke Inggris. Berkali-kali Niels meminta Alan untuk waspada pada kain batik yang dibawanya kemana-mana itu, namun tak diindahkan Alan. Pria itu terlalu kagum dengan keindahan dan kesempurnaan kualitas kain batik itu.

Suatu malam yang tenang, Alan sedang tertidur di ranjang penginapan dengan kain batik yang tersampir di kursi rias di dekatnya. Sinar bulan yang cerah menerangi ruangan itu lewat jendela, membuat sulaman batik itu berpendar keemasan. Angin berhembus dingin, membuat Alan menggelungkan tubuhnya merapat ke selimut. Dia kembali pulas dengan selimut selehernya, tidak menyadari ada pendar kehijauan merayap masuk lewat jendela mengitari ruangan itu. Wangi laut bercampur melati samar tercium, namun Alan sama sekali tak bergeming. Tak disangka, pendar itu menyelubungi kain batik yang tersampir dikursi, membuat kain itu bergerak ringan dan halus, perlahan merayap ke atas tubuh Alan.

Merasakan hawa dingin yang tiba-tiba merasuk, mata berat alan hanya terbuka setengah. Tidak sadar, ia hanya melihat sesosok wanita cantik yang menatapnya penuh amarah. Matanya merah, perlahan muncul taring di giginya meski tak pengurangi keanggunannya. Alan terkesiap dan benar-benar bangun, berusaha lompat drai ranjang namun seluruh tubuhnya terasa kaku.
Tidak ada yang bisa dilakukannya selain membuka mata lebar-lebar dan mencengkeram selimut erat-erat, menyadari kain batiknya sudah meliliti lehernya, menggeliat seperti ular yang siap mencekik.

“Kau sudah tahu kalau ini keramat,” bisik suara wanita itu, Alan terkesima wanita itu bisa bicara bahasa Inggris. “Namun kau tidak mengembalikannya. Semua perbuatan pasti ada akibatnya, dan sekarang kau akan menerima buah perbuatanmu,”

Mata Alan melotot ketika ia merasakan lehernya perlahan tercekik. Ia tidak sempat berteriak keras karena kemudian yang dia rasakan hanyalah hawa dingin dan mata wanita cantik itu yang terus memandanginya, bersama dengan batik yang masih erat mencekik lehernya.

Niels sedang menyeduh secangkir teh di dapur penginapan, merasa sedikit kedinginan ia merapatkan jubah tidurnya sambil menggenggam cangkir teh yang mengepul. Setelah mengambil sepotong roti bagel ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan Tuannya, dimana dia akan kembali tidur di sofa. Untung saja, kamar mereka terletak di lantai dua jadi tidak butuh waktu lama untuk menaiki tangga. Namun ketika kakinya tepat menginjak kayu lantai dua, entah kenapa perasaannya menjadi aneh.

Ia mencium wangi melati samar-samar, dan ternyata kamarnya terbuka. Bergegas ia ke sana, namun ia langsung terpaku ketika melihat sesosok wanita cantik berambut panjang dengan pakaian serba hijau. Wanita itu berdiri di depan ranjang Alan dan menatap pria itu yang kini sudah tak bernyawa dengan penuh amarah. Kain batik yang dikagumi Alan dan dikabarkan keramat itu berada di sampingnya.

PRANG!

Niels syok dan menjatuhkan cangkir tehnya. Ia berjalan mundur, namun wanita cantik itu menghadapnya dan mengubah ekspresi wajahnya. Niels tak bisa bergerak, dan ia bisa mendengar suara wanita itu sangat lembut dan manis.

“Aku minta kau segera kembalikan batik itu, supaya tidak ada korban lagi,” Niels tercengang karena wanita itu berbicara bahasa Inggris, namun ketika ia mengedipkan matanya, wanita itu menghilang, bersama dengan wangi melati dan hawa dingin yang tadinya berhembus.

__

“Jadi, setelah itu apa yang Grandpa lakukan?” suara anak lelaki umur sepuluh tahun itu nyaring, sarat dengan penasaran. Niels yang terduduk di kursi goyang mahoninya tersenyum sambil menghela napas, tangannya pelan meengelus puncak kepala Tommy, cucu lelaki semata wayangnya.

“Aku akhirnya memenuhi pesan wanita itu. Keesokan harinya aku berangkat ke pantai tempat dimana majikanku menemukan kain batik itu, lalu mengurus pemakaman majikanku,”

“Lalu? Apa semuanya kembali normal?”

Niels berdeham, membasahi tenggorokannya yang selalu kering jika berbicara banyak. “Ya, kembali sangat normal,”

“Aku jadi ingin melihat batik itu,” Tommy duduk di pangkuan Niels dan memainkan gagang kursinya, dan kembali melihat kakeknya. “Apa aku bisa melihatnya?”

Niels tersenyum lalu menggeleng. “Tapi kau bisa mendapatkan kain dengan motif sejenisnya. Nusantara punya beragam kain batik seperti itu,”

“Apa semuanya bagus?” tanya Tommy lagi. Dan Niels mengangguk.

“Ya, tentu saja. Semuanya bagus sampai kau bingung mau memilih yang mana. Karena setahuku, Nusantara merupakan negeri paling eksotis dan sarat kebudayaan yang pernah kuketahui,”

FIN

A/N : Ini tugas sekolah dan dikerjain berdua, nyehehe :3

[FICTION] A Journey of Alan and Niels

2 thoughts on “[FICTION] A Journey of Alan and Niels

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.