[FF] A Story About You And Me – CHOCOLATE TRAGEDY [1/2]

heandme

Title : A Story About You And Me

Author : Reene Reene Pott

Main Cast : Choi Minho, Ahn Nada

Supporter Cast : Lee Donghae, Kim Heechul, Cho Kyuhyun, Jung Krystal, Song Victoria, Amber Liu, Lee Jinki, Lee Taemin, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Hyuk Jae/Eunhyuk

Genre : School Life, Romance, Humor (dikit)

Length : Sequel (Chronicles)

Backsound : Super Junior Kyuhyun – Listen To You

A/N : disini bakalan author acak-acak umurnya. Misal harusnya Vic lebih tua, disini yang lebih tua itu Amber. Krystal seumuran yah sama Amber. Taemin tetep jadi magnae. Hae, Chullie, ama Kyu seumuran. Super Junior author masukin disini semua yah?? Kke~~ SHINee kayaknya juga bakalan masuk semua deh. Yah pokoknya cekidot aja deh!

Oke, Sebelum itu aku kasih warning sebentar. Fanfic ini aku tulis sekitar tahun 2010-2011, dimana aku masih SMP dan bahasaku masih acak-acakan. Fanfic ini terkubur tanpa selesai, dan bingung apakah akan diselesaikan atau tidak, karena jujur idenya sudah hilang semua. Aku nggak edit fanfic ini sama sekali, supaya bisa liat reaksi pembaca.

KEMUNGKINAN BESAR TIDAK AKAN DILANJUTKAN.

CHAPTER ONE : CHOCOLATE TRAGEDY [1.2]

Nada POV

Yap, di sinilah tempatku bersemayam selama seminggu pertama di sekolah ini. Aku Ahn Nada, siswi kelas 1 SMU Super Shining. Baru seminggu aku bersekolah di sini, itupun dengan keajaiban. Yah, bukan keajaiban sih. Karena, di sekolah ini, hanya aku satu-satunya murid yang biasa-biasa saja. Kenapa? Hei, rambutku hanya dikucir kuda. Rok hanya selutut, berbeda dengan murid-murid lain yang memamerkan kaki mereka yang menurut mereka ‘indah’. Wajahku polos tanpa setuhan make up. Yah, tidak hanya aku sih yang tidak memakai make up, namun di kelasku, wajahkulah yang paling pucat, sementara yang lainnya bersinar bagai bintang. Nah, sebutan apalagi untukku selain ‘The Nerd’? Yah, walaupun pada kenyataannya appaku adalah seorang pengusaha sukses. Tapi menurutku, tidak ada anak di sini yang tau mengenai hal itu.

Seluruh sekolah sampai pelosok-pelosoknya mungkin tahu siapa yang dijuluki The Nerd di sekolah ini. Kalau kalian berpikir sekolah ini adalah sekolah kalangan elit, kalian benar sekali. Gedungnya besar dengan 5 tingkat, lapangan basket, sepak bola, atletik, kolam renang, lapangan tenis, aula, panggung, super lengkap deh. Tapi hanya satu tempat yang menurutku paling the best disini; PERPUSTAKAAN! Okelah, sebagai The Nerd seharusnya begitu kan? Tapi itu benar. Di sekolah ini yang paling kusukai adalah perpustakaan. Beratus-ratus rak tinggi mengisi ruangan ukuran 500 x 500 meter ini. Yah, lumayan lah, meskipun tak sebaik dan sekeren perpustakaan Hogwats. Kalian pikir aku maniak Harry Potter? Betul sangad! Aku mengoleksi semua bukunya, dalam bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, bahkan Korea.

Namun yang kusyukuri : aku tak memakai kacamata. Bagaimana bisa? Entahlah. Namun nyatanya mataku ini masih berfungsi dengan sangat baik tanpa bantuan kacamata walaupun hobiku adalah membaca buku. Dan di sinilah aku sekarang, perpustakaan.
Aku berjalan perlahan ke rak bagian buku astronomi, lalu menemukan sebuah buku yang sudah usang namun setebal buku Harry Potter and The Order of Phoenix. Kuambil buku itu lalu membaca covernya yang sudah memudar : ANTARIKSA (Proses Terjadinya-Sekarang).

Wow! Buku astronomi macam apa ini? Tertarik, kupegang buku itu sementara mataku menjelajah rak buku sejarah di sampingnya. Aku mendapatkan judul-judul buku yang cukup menarik; Mitologi Yunani (Masa Dewa-Dewi Dasar, Masa Para Titan, Dewa-Dewi Olympus, Masa Dewa dan Manusia Hidup Bersama, dan Masa Para Pahlawan), Dongeng Yunani, Terbentuknya Bumi dan Kehidupan Awalnya, dan masih banyak lagi. Sepertinya aku hidup damai disini!

Setelah mendapat 5 judul buku yang menarik—namun tebalnya ampun-ampunan—aku menuju meja baca dan mulai membuka buku astronomi yang tadi kudapat. Kalian pasti berpikir, bagaimana aku bisa menyelesaikan buku-buku itu? Tenang saja, sekarang sadang jam pelajaran kosong, lagipula aku mempunyai kartu perpustakaan, jadi aku diperbolehkan meminjam buku-buku di sini untuk dibawa pulang. Kalian tahu, harapan konyol pertamaku ketika pertama kali memasuki perpustakaan ini adalah; Dapatkah aku menemukan buku-buku karangan Bathilda Bagshoot tentang sejarah sihir? Oke, lupakan, itu hanya akunya saja yang pabo. Siapa itu Bathilda Bagshoot? Dia adalah sahabat Albus Dumbledore, Kepala Sekolah Sihir Hogwarts. Aku aneh kan? Betul. Tapi aku tidak gila.

Aku terus melahap buku astronomi di depanku itu, hingga tanpa kusadari seseorang telah menempati kursi tepat di hadapanku.

“Kau suka buku itu?” Tanya seorang namja. Aku mendongak. Omo, dia keren sekali.

“Nugu?” tanyaku. Dia tersenyum simpul.

“Lee Donghae imnida. Neo?”

“Ahn Nada imnida,” jawabku. “The Nerd,” tambahku. Ia terbelalak.

“Jadi itu kau?” tanyanya terkejut. Aku mengangguk. Lalu meneruskan kegiatan membacaku. Tangannya mulai melihat-lihat buku yang kuambil. “Hm, tak kukira orang seperti kau disebut ‘The Nerd’,” katanya sambil mengerutkan keningnya ketika membaca judul buku Mitologi Yunani. “Mwo? Kau mau membaca buku seperti ini?” tanyanya terkejut.

“Aku sudah kenyang dengan sejarah Korea, jadi aku beralih ke Eropa. Lagipula, aku memang penasaran dengan Zeus, Ares, Hera, Hermes, dan kawan-kawannya itu,” kataku tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang kubaca. “Tapi sampulnya sangat bersih, seperti baru. Kelihatan sekali belum pernah dibuka,” lanjutku lalu mendongak menatapnya. Ia hanya terkekeh tanpa suara.

“Mana ada yang mau baca buku seperti itu,” katanya. “Aku pernah mencoba membacanya, namun malah bingung sendiri jadi kuhentikan saja,”

“Menurutku itu menarik,” kataku.

“Itu menurutmu,” jawabnya sambil mengangguk. “Kau tahu, dalam bayanganku saat anak-anak mulai menyebut ada The Nerd di sekolah ini adalah seorang anak alim yang memakai rok selutut, rambut dikepang dua, dan kacamata tebal. Nyatanya…” dia menatapku tidak percaya.

“Kau tahu dari mana?” tanyaku.

“Dari teman-teman kelas 3 yang lain,” jawabnya. Aku terbelalak. Kelas tiga? Berarti dia sunbaeku dong?

“Eh…” kataku pelan.

“Sudah ya, aku dipanggil,” kata Donghae sunbae sambil beranjak pergi. Kalian tahu? Dialah sunbae pertama yang mau bicara denganku.

Tenonenonet~~~~~

Tenonenonet~~~~~ *itu suara bel sekolah. Jangan tanya author kenapa*

Bel berbunyi tepat setelah aku selesai membaca bab ke 7. Aku beranjak mengembalikan 3 buku lainnya, memutuskan membawa buku astronomi dan Mitologi Yunani itu pulang. Setelah menyerahkan kartu keanggotaan, aku keluar perpustakaan. Kedua tanganku memeluk 2 buku tebal itu, dan berjalan santai kembali ke kelas.

Lalu aku bertemu dengannya lagi. Namja tinggi yang sedari 3 hari pertama di sekolah selalu kuperhatikan. Dari name tagnya, kutahu namanya adalah Choi Minho. Ya, aku memang tertarik dengannya, namun kuhapuskan bayangan itu. Yah, aku sudah dengar dari seluruh sekolah bahwa namja itu namja terpopuler di sekolah. Sayangnya dia itu cuek dan dingin. Primadonna sekolah yang cantiknya seperti apapun tak bisa menaklukannya. Masa bodohlah, yang penting aku hanya mengaggumi wajahnya. Ya, aku kapok berdekatan dengannya setelah kejadian 2 tahun lalu.

Flashback

Memang lucu kalau anak SMP sudah mulai jatuh cinta. Aku, yang baru kelas 1 SMP, dengan nekatnya mau memberi cokelat untuk sunbae kelas 3 SMP.

Aku memandangi cokelat yang sudah kubungkus dengan kotak biru laut. Hari ini aku harus berhasil, sudah lama aku menantikan hari ini. Ya, hari ini, tepatnya tanggal 14 Februari adalah hari Valentine. Aku berencana memberi sunbaeku itu cokelat. Choi Minho, namja yang selalu kukagumi. Semoga dia menyukainya.

Ah, itu dia. Langsung kuhampirinya. “A… annyeong, Minho sunbae,” sapaku. Minho sunbae hanya menengok sekilas. Meski dia tak memandangku, setidaknya dia berhenti berjalan. “Eum… ini aku punya cokelat. Aku harap sunbae mau menerimanya,” kataku berusaha menahan rasa gugup.

“Aku tidak membutuhkannya,.” Jawabnya dingin dan berlalu pergi. Aku terpaku, lalu menatap ke kotak coklat yang tengah kupegang.

“Padahal aku sudah membeli coklat Kiss untuknya. Dasar aneh! Lebih baik aku membeli ini untuk diriku sendiri!” dumelku setelah punggungnya menjauh.

Flashback end

Sungguh kejamkan namja yang bernama Choi Minho itu? Setelah kejadian itu, pulangnya langsung kuhabiskan cokelat itu. Untuk apa menangis? Namun kata-katanya sempat menggores hatiku. Jadi aku tidak mau lagi memberi apapun padanya mulai saat itu. Separuh hatiku mengatakan suatu kesialan bagiku bertemu dengannya lagi saat SMA. It’s okay kalo cuma setahun. Tapi, karena aku—bukannya sombong loh ya—terlalu pintar jadi aku naik satu tahun. Sekarang Minho sunbae kelas 2 SMA. Aku tersenyum kecut mengingatnya.

“Nada-yah!” seru seorang yeoja. Victoria, chingu sekelasku. Dia tahu aku lebih muda darinya, namun ia menolak bila aku memanggilnya eonni.

“Vic-ah,” kataku tersenyum simpul lalu berjalan menghampirinya. “Darimana saja?”

“Dari lapangan basket, tadi sunbae kelas 3 sedang olah raga,”jawab Vic.

“Terus? Apa hubungannya kau di sana?” tanyaku.

“Ya ngeliatin merekalah Nadaaa…” jawabnya . “Nah, kau? Pasti dari perpustakaan lagi kan?” matanya tertancap pada 2 buku yang tengah ada di dalam pelukanku, dan menurutnya bakalan membuat matanya dower kalo dibaca. Aku hanya mengangguk pelan.
“Ck. Eh, kau lihat nggak tadi? Ada Minho sunbae loh!” katanya bersemangat.

“So?” tanyaku cuek. Yah, sejak kejadian itu aku tak mau pusing-pusing memikirkannya.

“Ah, kau tak asik buat diajak curcol. Tau nggak, Minho sunbae itu meski masih kelas 2 itu bla…bla..bla..bla..” Vic mulai mengoceh nggak jelas. Aku hanya menggelengkan kepalaku seraya menatapnya tak percaya.

“Lebih baik kau tulis buku tentang biografinya,” kataku. Vic cemberut. “Ne, ne, tapi kau tahu sendiri kan, aku tak tertarik dengan itu. Jadi jangan terus merecokiku atau kau kusumpal dengan sepatu,” kataku.

“Hoi! Ahn Nada!” seru seorang yeoja dari belakang. Kami berduapun berbalik. Amber eonni. Dia sepupuku.

“Ne?” jawabku.

“Nanti kau harus ikut seleksi klub basket. Kau tahu, aku sudah mendaftarkanmu pada urutan pertama,” lanjutnya.

“MWO? Eonni! Kenapa nggak bilang-bilang?” protesku. Amber eonni hanya mengibas-ngibaskan tangannya.

“Sudah kukatakan kemarin saat makan malam. Sudah ya? Ingat, kau harus datang! Kalau tidak, awas kau!” katanya sambil menujukkan bogem ke arahku. Aku yang tak berdaya hanya bisa mengangguk lemas.

“KYA~ itukan Amber sunbae! Nada-yah, kok kau bisa kenal? Dia siapamu?” cerca Vic. Aku hanya dapat menghela napas pelan.

“Dia sepupuku,” jawabku pelan. Mata Vic membulat.

“Mwo? Ya! Ahn Nada! Kau tak pernah bilang mempunyai saudara disini!” cerca Vic.

“Kupikir itu tak penting,” jawabku ngeles.

“Itu penting, Nada,” jawab Vic sambil menekankan kata ‘penting’ dalam kalimatnya. Aku hanya dapat mengangguk-angguk. “Oh ya, jadi, kau ikut seleksi klub basket? Kenapa Amber sunbae sebegitu memperjuangkanmu yah? Apa kau bisa basket?” cerocosnya.

“Eum, sebenarnya aku hampir menjadi kapten tim basket putri pada saat masih SMP kelas 2,” jawabku. “Hanya teman dekatku yang tau, karena ada chinguku, ah, dia bukan chingu, dia sangat sirik terhadapku, jadi dia berlagak seperti seorang kapten. Padahal keputusannya selalu acakadut,” ceritaku. Vic tampak serius mendengar ceritaku. “Tidak ada yang tahu selain pelatih dan beberapa chingu dekatku. Yang orang tahu saat itu adalah aku sebagai pemain cadangan,” lanjutku. Vic mengangguk mengerti.

“Apa tim basket cowok di sana hebat-hebat?” Tanya Vic. Aku memutar kedua bola mataku.

“Menurutmu, kalau si Choi Minho kaptennya, hebat gak menurutmu?” tanyaku balik. Vic mendelik.

“Mwo? Minho sunbae itu kapten tim basket di sekolahmu?” tanyanya. Aku mengangguk. Untung kelas sedang sepi. Entah kemana haksaeng-haksaeng di kelas ini, langsung menghilang ditelan bumi begitu tahu ada jam pelajaran kosong. “jadi, kau pernah satu sekolah dengannya?” tanyanya lagi, takjub.

“Ne, dan karena aku pernah satu sekolah dengannya, aku tahu semua kebusukannya,” jawabku. Vic merengut.

“Minho sunbae itu perfect! Teganya kau mengatainya begitu,” sungut Vic. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

“Vic, kau sepertinya sudah jatuh cinta adanya yah? Tembak saja,” usulku asal. Aku bosan setiap hari ia terus mebicarakan Minho, dikit-dikit Minho dikit-dikit Minho. Ampooon dah nih pala rasanya mau pecah!

“Mana berani aku? Kau tahu, setiap yeoja yang menembaknya langsung ditolaknya mentah-mentah,” jawabnya. Aku mengangkat sebelah alisku,.

“Kebusukan pertama, tidak pernah menghargai perasaan wanita,” gumamku keras. Vic meninju lenganku.

“Itu karena ia harus tegas, tau,” sahut Vic.

“Akh, sudah-sudah, aku malas membahasnya,” jawabku menutup telinga.

“Hei! Nilai ulangan fisika sudah diumumkan di papan pengumuman!” seru suara seorang haksaeng yang membuat aku dan Vic saling pandang. Tanpa ba-bi-bu lagi, kami langsung berlari kecil menuju papan pengumuman yang dimaksdukan.

“Woah, Vic! Kau benar-benar dewa!” kataku takjub saat melihat skor nilai Vic di samping namanya. 100! Wah, ternyata memang hanya dia yang mampu bertahan dari serangan kantuk suara Profesor Jang ya?

“Nilai mu juga tidak kalah kok, 92, itu cukup bagus, kan?” jawab Vic sambil tersenyum. Aku melongo.

“Astaga, kena setan apa nih si professor, biasanya aku dikasih 86, 86, 86 terus! Tumben sekarang dikasih 92!” gumamku bingung. Vic terkekeh.

“Wah! Bukankah itu Miss Han?” seru seorang haksaeng lagi, menunjuk ke arah guru yang sedang berjalan di koridor sekolah sambil membawa penggaris pandang dan beberapa buku tebal. Dia adalah salah satu guru yang lumayan ‘killer’ di sekolahku, namanya Miss Han dan ia mengajar Bahasa Inggris.

“KYAA~~~ ayo cepat masuk!” suara haksaeng-haksaeng mulai membahana, diiringi dengan langkah berdebum karena ingin saling mendahului untuk mencapai tempat duduk mereka masing-masing.

__

Tenonenonet~~~

Tenonenonet~~~

Bel berdering lagi. Kali ini karena istirahat, bukan karena pergantian pelajaran. “Mau ke kantin?” tawarku pada Vic. Ia mengangguk lalu bangkit dari kursinya.

Di koridor, aku berpapasan dengan sunbae-ku dulu itu. Namun aku pura-pura tak melihat. Hanya perasaanku saja atau memang benar kalau dia sedang menatapku? Ampun, Vic malah cari muka depan dia. Biarin deh. Aku hanya melangkah lurus menuju kantin. Aku melangkah mencari tempat duduk setelah mendapatkan makanan. Ada sebuah meja kosong dengan 2 kursi dipojok. Mungkin tempat itu lebih baik, dan memang hanya tempat itu satu-satunya yang kosong.

“Kkaja Vic, di situ saja,” arahku. Vic menoleh menatap tempat yang kupilih, lalu ia mengangguk. Namun ketika kami melangkah mendekat…

“Ups, maaf, siapa cepat dia dapat,” kata seorang yeoja yang, cakep. Entah namanya siapa. Ia langsung menduduki kursi incaranku itu. Vic merengut, kelihatan banget dia mau membalas perkataan sunbae itu, namun aku menahannya. “Jagi! Sini!” ia lalu berteriak sambil melambai pada seseorang yang sepertinya… namjachingu-nya. Ya sudah deh, aku ngalah.

“Vic, mau makan dimana? Di taman?” tawarku.

“Hei! Nada!” sebuah suara memanggilku dari arah belakang. Aku menoleh. Omo, itu Donghae sunbae, kan? Aku tersenyum. Vic melongo. “Tidak kebagian meja ya? Gabung dengan kami saja!” serunya lagi. Aku berpikir sebentar, lalu mengangguk.

“Kkaja Vic, kita ke sana ya,” kataku pada Vic yang terdiam mengikutiku. “Annyeong sunbae,” sapaku ramah pada sunbaedeul di situ. Ya, Donghae sunbae kan tidak sendirian.

“Annyeong Nada-ssi. Kulihat tau kau keserobot Krystal ya?” tanyanya langsung. Aku mengangkat bahu.

“Mollayo sunbae. Aku tak tahu namanya,” jawabku jujur.

“Nde? Kau tak tahu namanya? Aigoo, Nada-yah, padahal dia sudah berkali-kali kuceritakan padamu,” sergah Victoria.

“Kan kau tidak menunjuk siapa orangnya, Vic,” jawabku kalem. “Eh, Sunbaedeul, ini chingu-ku, Victoria,” kataku mengenalkan Vic, padahal aku sendiri belum.

“Victoria imnida,” kata Vic sambil membungkukkan badan.

“Annyeong Victoria-ssi, aku Donghae,” jawab Donghae sunbae. Vic terpana. Jelaslah, dihadapannya adalah seorang sunbae keren, upps.. hehehe. “Nada, kau belum mengenalkan diri?” sindir Donghae sunbae. Aku tersadar.

“oh, eh, Nada imnida…” kataku sambil membungkuk. “The Nerd.” Lanjutku sambil memasang tampang datar. Dapat kutangkap ekspresi sunbaedeul di sini. Melongo semua.

“Nah, Nada-ssi, ini Heechul, Kyuhyun, Kibum, Jinki, Taemin, Key, Jong Hyun dan Siwon. Harusnya Sungmin dan Eunhyuk ada di sini, namun sepertinya mereka sudah menghilang entah kemana,” jawab Donghae sunbae mengenalkan chingudeul-nya.

“Heechul imnida, kau bisa panggil aku Chullie oppa,” kata seorang sunbae dengan wajah cantik.

“Annyeong aku Kibum,” kata sunbae yang wajahnya imut. Omo, senyumnya kyeopta.

“Annyeong, aku Jinki, Ketua OSIS,” jawab sunbae dengan mata sipit dan berkulit putiiiiiiiiih seperti tahu.

“Panggilannya Dubu,” sambung Heechul sunbae. Jinki sunbae tampak mau menjitak kepala Heechul sunbae.

“Annyeong, aku Kyuhyun, jadi, kau yang dapat gelar ‘The Nerd’ itu?” tanyanya. Aku hanya mengangguk. “Beda sekali dalam bayanganku,” gumamnya.

“Aku Key,” kata seorang namja bertampang dingin. Aku tahu, dia satu spesies dengan Minho sunbae. Homo sapiens spesies es!!! Dinginya.. brrr

“Annyeong, Nada, Victoria, aku Jong Hyun, tapi kalian bisa memanggilku dengan Jjong oppa,” kata sunbae berponi kuning. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Annyeong, aku Siwon, wakilnya Jinki,” kata sunbae bertubuh tinggi atletis sambil tersenyum.

“Annyeong, aku Taemin, si Magnae,” kata sunbae yang imuuuut banget sumpah, aku ngerasa dia itu hoobae-ku bukan sunbae-ku.. XD

“Ne, aku, Heechul, Siwon, Jinki, dan Kibum kelas 3, Key dan Jong Hyun dan Kyuhyun kelas 2 sedangkan Taemin kelas 1,” jelas Donghae sunbae. Mulutku membentuk huruf O. Vic juga.

“Ayo, makan, dari tadi bengong aja,” ajaknya.

“Ya iyalah hyung, dia kan lagi terpesona sama ketampananku,” jawab Jjong oppa—yah, aku jadi manggil dia gitu—yang langsung disertai jitakan dari yang lainnya.

“Oppa, kau ge-er sekali. Padahal yang diperhatikan Nada itu…” celetuk Vic misterius. Aku mendelik ke arahnya. Vic hanya cengengesan.

“Siapa Vic?” seru Jjong oppa penasaran.

“Emangnya siapa Vic?” Chullie oppa—oke, aku suka dengan panggilan itu—akhirnya ikut bertanya juga. Vic hanya tersenyum misterius.

“Bukunya! Yah, dia mah kaga tertarik ama namja, oppa, hatinya dia itu mahaaaaal banget!” cerocos Vic yang akhirnya disambut jitakan kecil dari Taemin.

“Akh, appo, kau itu namja bertampang angel tapi tenaganya gila ya?” keluh Vic mengusap-usap kepalanya. “Kalo aku nyeritain Minho sunbae aja responnya Cuma ‘hemmm’ , ‘Ye, apa katamulah’, ‘ iyaaa..’, abis dia mah napsunya sama Harry Potter,” cerocos Vic lagi. Akh, Vic, berhentilah mempermalukanku!

“Ah, masih mending akulah oppa, daripada dia, muja-muja si Minho sunbae mulu, aku udah bosen ampe lumutan dia ngomongin itu mulu,” dumelku balik. Donghae oppa—hehe, aku pengen aja manggil gitu—hanya terkekeh. Aku melahap makan siangku.

“Memang apa salahnya? Toh semua haksaeng yeoja di sini muja-muja si Minho,” ujar Siwon sunbae. Aku membulatkan mataku.

“Semua?” desisku tak percaya. Taemin yang duduk di sebelahku hanya mengangguk.

“Oh ya, Nada-yah, kau mau ikut klub apa?” Tanya Chullie oppa. Aku merenung sejenak.
“Aku sudah daftar klub sains dan langsung diterima, tapi Amber eonni mendaftarkanku ikut basket,” jawabku. “Oh ya, aku juga ikut organisasi perpustakaan,” tambahku.

“Basket?” Tanya Kyuhyun sunbae. Aku mengangguk. “Memangnya kau bisa?” tanyanya tak percaya.

“Lihat saja nanti saat seleksi,” jawabku sambil memasukkan makanan ke mulut.

“Vic-ah?” Tanya Chullie oppa. Vic tampak terkejut.

“A… aku sudah daftar di klub drama dan paduan suara,” jawabnya gugup. Wajah Chullie oppa langsung berubah cerah.

“Drama? Aku ketuanya!” serunya. Vic hanya tersenyum. Perasaanku atau memang iya yah, Jinki sunbae terpana dengan senyum Vic. Omo… jangan-jangan…

“Minho-yah!” seru Kibum sunbae kepada seseorang. Aku hanya menunduk dan meneruskan makanku. Vic terkesiap, dia pasti bahagia banget. Secara gituh, Minho kan idolanya.

“Oppa, ayo makan denganku,” seru suara seorang yeoja. Sepertinya itu sunbae yang tadi menyerobot kursiku itu. Bodo amat deh. Yang penting perutku kenyang dan cepat-cepat pergi dari sini. Aku melahap nasiku dengan cepat, menghiraukan tatapan bingung dari Hae oppa. Oke, aku lancang membuat nama panggilan untuk mereka, namun itu untuk menyingkat saja*ketauan banget author males ngetik*.

Aku sama sekali tidak melirik yeoja itu, namun Vic terus menerus bengong, menyebabkanku untuk menyenggol lengannya. “Hei, Vic, makanmu tuh!” bisikku. Lalu aku melanjutkan makan dengan tenang. Lalu aku merasa seseorang tengah memperhatikanku. Aku mendongak. Dan dalam sekejap, mataku sudah terkunci oleh mata besar itu.

Author POV

Minho terus menatap Nada. Ia merasa pernah bertemu dengan yeoja itu, dan mencoba untuk lebih seksama memerhatikannya. Nada-pun balas menatapnya. Tersadar, Nada dengan cepat memalingkan wajahnya, kembali fokus dengan makanannya.

Tiba-tiba Minho duduk di sebelah Taemin, tanpa menghiraukan Krystal yang sedari tadi merengek meminta untuk makan bersama dengannya. Key hanya menatap Krystal dengan pandangan risih. Taemin tetap melanjutkan makannnya tanpa terganggu. Nada hanya menyeruput es jeruknya dengan diam, sementara Victoria melongo menatap Minho.
Tiba-tiba Nada menggerakkan kepalanya menghadap Donghae. “Donghae oppa, tau nggak siapa namjachingunya Amber eonni?” tanyanya berbisik. Donghae tersedak.

“Mwo? Namja chingu?” ulang Donghae setelah menenangkan napasnya. Nada mengangguk kalem. “Mollayo, aku tak pernah tahu. Untuk apa kau bertanya seperti itu?”

“Aniyo, aku hanya mau membalasnya,” jawab Nada enteng.

“Memang ada hubungan apa kau dengan Amber sunbae?” Tanya Jong Hyun. Nada menoleh.

“Aku sepupunya, oppa,” jawabnya lalu menyeruput es jeruknya lagi. Minho mendelik mendengar Nada memanggil Jong Hyun dengan sebutan ‘oppa’.

“Oppa, ayo makan dengankuuu… Nih, aku sudah nyiapin tempat duduknya,” rengek Krystal sambil menarik-narik tangan Minho. Nada merinding mendengarnya.

“Ih, sunbae itu malu-maluin yah?” bisik Vic di telinga Nada. Nada hanya mengangkat bahu.

“Sudahlah Vic, jangan cari gara-gara,” tegur Nada. Ia menyuap suapan terakhirnya. “Sunbaedeul, oppadeul, aku sudah selesai. Gomawo,” katanya sambil berdiri dan membungkukkan badan. Donghae dan Heechul tampak terkejut.

“Kenapa cepat sekali?” protes Heechul. Nada hanya tersenyum.

“Kupikir di sini sudah cukup ramai,” jawab Nada, “ Lagipula aku mau kembali ke kelas untuk…” Nada tampak kehabisan kata-kata, namun Vic menlanjutkan,

“Mengerjakan PR kami tadi. Mumpung masih ada Jiyeon, jadi sebaiknya kami cepat-cepat meminta bantuannya,” karang Vic lancar. Heechul tampak tak terima. “Sudah ya sunbae—“Vic menghentikan kata-katanya ketika Heechul memelototinya”—eh, oppa, kami balik dulu,” ralatnya cepat-cepat sambil menarik tangan Nada.

Minho POV

Aku menyipitkan mata sambil menatap ke arah yeoja yang sepertinya familier dalam pandanganku. Aku yakin aku pernah bertemu dengan yeoja ini, tapi aku sudah lupa dimana. Ia tampaknya tak suka melihatku, buktinya ia selalu menghindari tatapanku. Yeoja-yeoja di sini malah histeris jika aku menatap mereka, kenapa dia tidak? Dasar yeoja aneh!

Aku cukup yakin kau pernah mengenalnya. Ya, pernah. Tapi dulu sepertinya, karena kini ia sedikit berubah. Jadi makin yeoppo. Ap… apa? Apa yang barusan kupikirkan? Yeoppo? Astaga…

Aku melirik Krystal yang sedari tadi nempel-nempel denganku terus. Kalian tahu? Setiap hari ia selalu mengirimiku cokelat. Dalam bentuk apapun. Mau kue, pudding, bahkan coklat batangan yang beratnya bisa 1 kg pernah di berinya! Apakah ia sangat suka menghambur-hamburkan uang ya?

Tunggu… cokelat? Astaga! Aklu baru ingat sekarang! Minho pabo! Bagaimana bisa kau melupakannya? Kau kan yang menolak cokelatnya semasa SMP dulu! Ya! Aku ingat sekarang! Dia anggota basket waktu di SMP dulu kan? Yang pernah dijuluki master of 3 point jump shoot? Haish, kenapa aku bisa lupa?! Err… apa dia jadi benci padaku karena cokelat itu ya?

Dasar anak-anak! Masa ngambek bertahun-tahun hanya dengan masalah itu?

Aku merenyitkan keningku begitu mendengarnya memanggil Heechul hyung dan beberapa chingu-nya dengan sebutan oppa. Entah kenapa, rasanya aku tidak suka dengan itu.

Nada POV

Kenapa aku masih merasakan sesak? Aigoo, apa lagi ini? Sudahlah, kalau tidak dipikirkan, akan hilang dengan sendirinya. Aku yakin.

“Nada-yah, kau tahu, itu adalah karanganku yang paling mujarab,” cerocos Vic setelah kami sudah menjauh dari kantin. Aku hanya menatapnya.

“Kau hebat,” kataku pelan. “Hei, aku tak pernah melihatmu—atau mendengarmu—mengarang seperti itu. Dapat ide darimana?” seruku. Vic hanya tersenyum jahil.

“Mollayo,” jawabnya. “Mulutku yang mengaturnya. Samasekali tak terpikirkan olehku untuk mengatakan itu. Aku sendiri juga heran,” ujar Vic. Aku hanya menggeleng-geleng.

“Ya, ya, mungkin reflekmu sangat bagus, begitu bagus sehingga kau bisa mengambil alih situasi secara tak sadar,” jawabku sok kedokteran. Vic menyenggol lenganku.

“Ih, sok dokter,” katanya sambil cengengesan. “Kuperhatikan, tapi Minho oppa memperhatikanmu terus,” gumam Vic tiba-tiba. Mwo? Apa katanya?

“Jangan bercanda Vic, mungkin dia hanya heran atau merasa pernah bertemu denganku. Ingat, aku pernah satu sekolah dengannya,” jelasku. “Lagipula, dari tadi Onew sunbae terus menerus memperhatikanmu,” balasku sambil mengarahkan Vic untuk masuk ke dalam kelas.

“Jincha? Omo.. dia memang tampan… tampan sekali. Dia juga keren, terus kyeopta, omo…” mulai deh, Vic ngomong nggak jelas. Tapi memang kuakui sih, Onew sunbae itu T.O.P banget. Udah pinter, tampan, ramah, baik, keren, akh.. sepertinya aku ketularan Vic.. ==”

“Ya, dan kau berharap untuk menjadi yeojachingu-nya,” jawabku asal. Vic cemberut.

“Aniyo! Hanya menjadi salah satu chingunya aku sudah senang kok,” bela Vic. Aku menatapnya penuh selidik.

“Jongmal? Kalau dia nanti dengan yeoja lain jangan nangis ya,” ancamku. Vic langsung merengut.

“Ya! Aku ini eonni-mu, kenapa kau sangat suka menggodaku sih?” protesnya. Hahaha… walalupun kau eonni-ku, tetap saja kau sangat lucu…

“Hei, sejak kapan kita mempersalahkan umur? Kau sendiri yang bilang tidak mau dipanggil eonni,” belaku.

“Ya, ya,”

Tenonenonet~~~

Tenonenonet~~~

“Sudah masuk tuh, kkaja,” ajakku. Vic menurut lalu duduk di sampingku.

Author POV

“Baiklah, kalian semua sekarang telah berkumpul di sini. Terimakasih karena telah bersedia mengikuti seleksi basket ini. Sebenarnya seleksi ini tidak bermaksud untuk menyingkirkan atau memilih yang berbakat, tapi untuk mengetahui dimana kelemahan kalian sehingga kami selaku senior sekaligus pelatih dapat terus menggali potensi kalian,” pidato singkat Siwon yang to the point menggema di lapangan basket indoor yang sekarang telah berisi segerombolan haksaeng yeoja maupun namja yang sekarang tengah menyimaknya dengan penuh perhatian.

“Karena itu, sebagai perkenalan, aku minta siswa yang namanya kusebutkan untuk berdiri dan memperkenalkan diri kalian,” sambung Amber tegas. “Park Heenim?” katanya diiringi dengan seorang siswa yang langsung berdiri.

“Park Heenim imnida, kelas X-B, mohon bantuannya,” kata yeoja berkucir satu dengan rambut hitam ikal. Setelah ia duduk, Amber langsung memanggil nama-nama yang lainnya, hingga….

“Ahn Nada?” kata Amber sambil mengangkat alis dan mendongak ke arah para haksaeng. Tiba-tiba seorang yeoja dengan rambut dikucir awut-awutan berdiri perlahan.

“Annyeong. Ahn Nada imnida, kelas X-C,” ia berhenti sejenak sambil memandang seluruh haksaeng yang memperhatikannya. “The Nerd,” lanjutnya gugup dan langsung duduk.
Dan semua haksaeng langsung heboh sendiri.

“Ya!! Ya!! Ya!! HARAP TENANG!!!!” seru Siwon kewalahan sambil menepuk-nepukkan tangannya. Seketika itu juga para haksaeng mulai tenang. “Hari ini kita langsung latihan. Khusus bagi junior, kalian kuminta untuk berlatih passing dan lay up. Untuk pembentukkan regu kusarankan untuk pertemuan depan. Para senior diharapkan untuk membantu mereka,” jelasnya namun para haksaeng kemudian ribut lagi. “MULAI!!” serunya.

“Ya… ya… ya… Hyun Jee.. lay up!!” seru Siwon. Namun sayangnya haksaeng bernama Hyun Jee itu gagal memasukkan bola basket itu ke dalam keranjangnya.

“Next.. Nada.. ya.. ya… Lay up!!! Greaaaatt!!” Siwon langsung memberikan applause pada Nada yang berhasil memasukkan bola dengan mulus. Amber tersenyum di belakang Siwon, memberikan Nada kedua jempolnya, yang dibalas oleh senyuman dari Nada.

“Ya!! Neo.. neo.. neo… ikut aku!! Kalian ku-tes passing!” seru Amber menunjuk beberapa haksaeng namja yang sedang duduk-duduk sambil memperhatikan uji lay up itu.

“Ne, sunbae,” jawab mereka menurut dan mengikuti Amber ke tengah lapangan. Sementara haksaeng-haksaeng itu di uji oleh Amber, Nada mendapat jatah istirahat dari Siwon sehingga ia menonton eonni sepupunya di tribun penonton sambil membawa sebotol air minum dan sebuah buku tebal. Ya, dia belum menyelesaikan membaca buku astronominya. Setelah mendapat tempat di kursi penonton yang nyaman, ia duduk dan mulai membaca hingga masuk ke dalam fantasi akan buku tersebut.

“JEDERRR…” seru sebuah suara mengagetkan Nada. Nada langsung tersentak.

“Ya! Mars telah dicoba untuk diteliti sejak…”

“Kau ini. Buku, buku, bukuuuu terus. Apa kau tak bosan, eh?” kata sunbae yeoja tomboy yang tak lain tak bukan adalah Amber.

“Ini hidupku, eonni,” kata Nada memutar kedua bola matanya.

“Kau ini sangat berbakat dalam basket. Liat, sejak tadi Siwon berbinar-binar untuk melatihmu, harusnya sejak dulu kau berlatih keras dan mengikuti training di berbagai lembaga nasional seperti-nya. Kau pasti akan menjadi seorang pemain basket handal,” jelas Amber tanpa titik koma.

“Gak eonni gak Vic sama aja. Harus berapa kali sih aku bilang? Aku memang suka basket, namun itu hanya sebatas hobi. Aku lebih suka membaca,” kata Nada lagi sambil mengalihkan pandangannya kembali pada buku yang ia baca.

Priiitt~~

“Ckckck. Hentikan itu. Dengar, peluit Siwon sudah berbunyi. Kau harus menutup bukumu kalau tak mau merasakan amarah Siwon di latihan pertamamu,” kata Amber lagi sambil menepuk pelan bahu Nada dan berlalu. Nada hanya mengangkat bahunya, lalu menutup bukunya dan bergegas kembali berlatih.

Minho POV

Latihan sudah selesai. Seperti biasa Siwon sunbae selalu memberikan latihan ekstra bagi tim inti. Tubuhku sudah mau remuk, ditambah kaku karena selama liburan aku jarang berlatih ekstra sementara latihan pertama baru dimulai hari ini. Hah, hari ini. Yeoja itu. Selalu mengusik pikiranku. Aku selalu melirik padanya waktu latihan. Aigoo, apa yang terjadi denganku?

Yeoja itu… wajahnya terus menerus terbayang dibenakku. Aigoo… aku sudah mulai gila karenanya. Tidak salah lagi, dia adalah hoobae-ku dulu. Aisssh… tapi aku rasa dia mengenalku, tapi kenapa dia sepertinya tidak mengenalku?

Aku juga baru tahu kalau dialah yang diberi gelar ‘The Nerd’. Ya, ya, aku tidak mempersalahkan gelar itu namun aku rasa ia tidak terlalu nerd seperti yang diceritakan Krsytal padaku. Buktinya ia memiliki teman dan cukup akrab dengan Donghae hyung. Banyak yeoja yang harus antri, ah bukan, bahkan tidak mungkin berkenalan dengannya yang memang sudah super star di sekolah.

Krystal. Yeoja yang selama ini menggangguku. Yah walaupun dia teman sekelasku namun tak seharusnya ia menjadikanku seperti ‘miliknya’. Namun aku harus melakukan apa? Eomma kenal baik dengannya, dia sudah seperti saudaraku sendiri.

Aku masuk ke dalam rumah dan langsung disambut oleh eomma. Ada apa ya? Tidak seperti biasanya.

“Eomma? Waeyo?” tanyaku setelah sampai di ruang tamu. Appa dan eomma-ku lengkap di sana, dengan pakaian resmi yang membuatku terbengong-bengong, apakah ada pesta sore ini?

“Ya, Minho-ah, cepatlah kau mandi dan pakailah pakaian yang pantas, kita akan pergi ke rumah rekan kerja appa untuk makan malam bersama,” suruh eomma sambil mendorong punggungku agar masuk ke dalam kamar.

“Ne? Waeyo?” tanyaku kebingungan.

“Kau akan dikenalkan dengan putrinya,” jelas appa sambil terus membaca koran. Sore-sore kok baca koran? Tunggu, tadi appa bilang, putrinya? Putri rekan kerja appa? Jadi? Aku dijodohin gitu?

“Mwo? Maksud appa?” tanyaku meminta penjelasan.

“Sudahlah lebih baik kau siap-siap dulu sana, kau habis main basket ya? Bau,” kata eomma sambil mendorong punggungku lagi. Ya iya lah eomma, kayak eomma nggak tahu kalo aku maniak basket aja. Menyerah, akhirnya aku masuk ke dalam kamar dan mandi.

Setelah mandi dan memakai pakaian yang pantas—tuksedo, yang sudah disiapkan eomma, pastinya—aku melangkah keluar kamar.

“Ah, Minho-ah… neomu daebak…” kata eomma. Aku mendengus pelan. “Kkaja, sekarang kita berangkat!!”

To Be Continued…

[FF] A Story About You And Me – CHOCOLATE TRAGEDY [1/2]

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.