[FF] A Story About You And Me – CHOCOLATE TRAGEDY [2/2]

heandme

Title : A Story About You And Me

Author : Reene Reene Pott

Main Cast : Choi Minho, Ahn Nada

Supporter Cast : Lee Donghae, Kim Heechul, Cho Kyuhyun, Jung Krystal, Song Victoria, Amber Liu, Lee Jinki, Lee Taemin, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Hyuk Jae/Eunhyuk

Genre : School Life, Romance, Humor (dikit)

Length : Sequel (Chronicles)

Backsound : Super Junior Kyuhyun – Listen To You

A/N : disini bakalan author acak-acak umurnya. Misal harusnya Vic lebih tua, disini yang lebih tua itu Amber. Krystal seumuran yah sama Amber. Taemin tetep jadi magnae. Hae, Chullie, ama Kyu seumuran. Super Junior author masukin disini semua yah?? Kke~~ SHINee kayaknya juga bakalan masuk semua deh. Yah pokoknya cekidot aja deh!

Oke, Sebelum itu aku kasih warning sebentar. Fanfic ini aku tulis sekitar tahun 2010-2011, dimana aku masih SMP dan bahasaku masih acak-acakan. Fanfic ini terkubur tanpa selesai, dan bingung apakah akan diselesaikan atau tidak, karena jujur idenya sudah hilang semua. Aku nggak edit fanfic ini sama sekali, supaya bisa liat reaksi pembaca.

KEMUNGKINAN BESAR TIDAK AKAN DILANJUTKAN.

CHAPTER ONE : CHOCOLATE TRAGEDY [2.2]

Nada POV

Aku memutar kedua mataku berkali-kali. Eomma sekarang sedang sibuk di depan sebuah lemari besar yang penuh dengan berbagai macam gaun. Aku memandangnya bosan. Setengah mati. Tidak, tidak, setengah hidup.

“Eomma, sudah kubilang, aku tidak suka pakai…”

“Ha!! Ini cocok untukmu! Cepat! Ganti bajumu dengan gaun ini!!” kata eomma memotong perkataanku dan menyodorkan sebuah gaun warna pink lembut dengan biru laut. Memang bagus, tapi, it’s too glamour. Aku kurang nyaman. Aku mencoba menatap eomma-ku dan memeberinya tatapan puppy eyes-ku. Eomma pasti tak tega.

“Ya! Sudah eomma bilang puppy eyes-mu tidak akan berpengaruh kali ini! Mau sampai kapan kau terus menerus berakting sok imut seperti itu? Cepat sana ganti baju!” katanya sambil mendorong punggungku masuk ke dalam kamar mandi. Omo… Puppy eyes-ku sudah tidak mempan lagi. Otthokke??

Lebih baik aku menuruti kata eomma. Aku pun menyeret langkahku dengan malas ke kamar mandi. Setelah mengganti baju dengan setengah hati, aku keluar dari kamar mandi dengan wajah ditekuk 100 kali.

“Whoaaa… bajunya cantik sekali!! Pas di tubuhmu!!” pekik eomma-ku girang. Iya, eomma yang girang, aku engga.

“Sudahkan? Aku mau lepas lagi!” kataku sambil kembali melangkah menuju kamar mandi. Langlahku langsung dicegah oleh eomma.

“Andwae. Kau harus ikut eomma dan appa untuk makan malam bersama rekan kerja appa malam ini. Kkaja, eomma rias kamu sedikit dulu, dan, jangan tekuk wajahmu,” kata eomma galak padaku. Aish, eomma, tega nian dirimu ini pada anak semata wayangmu.

“Ne, eomma,” kataku menurut. Sudahlah, kalau sudah seperti ini, eomma bakalan susah di ajak kompromi. Aku didudukkan di depan sebuah meja rias besar milik eomma. Pertama eomma memoleskan bedak, lalu sedikit blush on serta eyeshadow warna pastel, terakhir ia memoleskan lipgloss warna pink pucat ke bibirku. Ya, sederhana memang, namun menurutku ini terlalu berlebihan. Aku tidak terbiasa memakai make up, yang biasa ku pakai adalah cream dengan SPF dan pencegah jerawat. Hanya itu. Lipgloss pun yang kumiliki hanyalah satu-satunya dan tak pernah kupakai. Masih lengkap dengan plastik pembungkus serta label harganya. Baiklah, itu adalah hadiah dariku untuk ultah Vic nanti.

“Nah, kau sudah lebih cantik. Mianhae eomma tak bisa memanggil penata rias salon ke sini,” kata eomma sambil terus memandangku.

“Mwo? Penata rias? Eomma, kalau eomma benar-benar memanggil mereka jangan salahkan aku bila aku nekat kabur,” cetusku kalem. Namun eomma tak menghiraukanku.

“Perempuan seharusnya suka berdandan,” katanya sambil memandangi rambutku yang kukucir sembarangan. “Rambutmu seharusnya diapakan yah?”

“Kuncir kuda?” saranku. Eomma menggeleng tidak setuju.

“Lebih baik kedua sisinya dikepang kecil, lalu disatukan dibelakang,” kata eomma sambil mengambil sejumput rambut bagian samping telingaku. Dikepangnya, lalu disatukan di belakang kepala menggunakan sebuah jepit entah jepit apa. “Nah, begitu lebih manis,”

“Ini bukan aku,” aku terperangah menatap bayanganku di kaca besar itu. Kini, di kaca itu ada bayangan seorang yeoja yang cantik namun sederhana. Apa itu aku?

“Tentu saja itu kamu, kamu itu sebenarnya cantik, namun karena kau malas merawat diri ya jadinya awut-awutan gitu,” kata eomma sambil membereskan perlengkapan riasnya. “Kkaja, tamu appa pasti sudah menunggu. Ayo turun,” ajak eomma. Aku menoleh lalu mengikuti eomma dengan pasrah.

Author POV

Kini, Tuan Ahn beserta keluarga dan Tuan Choi dan keluarganya duduk di sebuah meja makan di rumah kediaman Tuan Ahn. Nada terus menerus menunduk, kaget setengah mampus ketika mengetahui tamu appa-nya adalah keluarga Choi. Dan yang duduk tepat di depannya sekarang adalah Minho!

Minho pun tak kalah kagetnya, karena, setahunya Nada yang penampilannya terkesan cuek dan apa adanya kenapa tiba-tiba berubah menjadi glamor seperti ini? Dan, dapat di akui Minho juga, bahwa Nada pada dasarnya sangat cantik.

“Ah, jadi ini putri anda, Tuan Ahn?” Tanya Tuan Choi kepada Tuan Ahn. Tuan Ahn hanya mengangguk dan tersenyum.

“Ne,”

“Whoa, sangat cantik ya? Padahal waktu bayi sangat gembul,” sergah Nyonya Choi menatap Nada kagum. Nada melongo. “Siapa namamu?” Tanya Nyonya Choi pada Nada yang masih bengong.

“Ahn Nada imnida,” jawabnya pelan dan gugup.

“Ah, nama yang manis,” lanjut Nyonya Choi.

“Dan, apakah ini putra anda? Choi Minho?” Tanya Nyonya Ahn sambil memandang Minho. Nyonya Choi hanya mengangguk. “Tampan dan gagah ya,”

“Ya, sepertinya mereka memang serasi,” sahut Nyonya Choi. Tuan Choi hanya tersenyum. Nada mendelik, lalu menatap eomma-nya bingung.

“Saya setuju,” jawab Tuan Ahn. “Jadi, apakah kita akan melangsungkan pertunangannya?”

“MWO?” pekik Nada dan Minho bersamaan.

“Apa maksud appa?” Tanya Nada marah. “Aku akan dijodohkan, begitu? Ini bukan jamannya Siti Nurbaya appa..”

“Kau harus menuruti perintah ini, Ahn Nada, karena kau anak tunggal,” kata eomma-nya. Nada terhenyak. “Baiklah, jadi, kapan rencananya?” Tanya Nyonya Ahn kepada Nyonya Choi dan Tuan Choi.

“Eomma, appa, kami berdua permisi dulu,” kata Minho sambil menarik tangan Nada. Orangtua mereka hanya tersenyum. “Ikut aku,” bisik Minho pada Nada yang hanya melongo melihatnya.

Minho mengajak Nada keluar teras. Mereka berdua membisu. Nada menggigit bibirnya pelan, berusaha meredakan rasa gugupnya.

“Aku tak menyangka kau akan berdandan seperti itu,” kata Minho tiba-tiba tanpa menoleh. Nada tersentak.

“Ini paksaan,” jawab Nada kalem. “Wae?”

“Kau terlihat.. berbeda,” kata Minho lagi. Nada terdiam. “Kau tahu tentang pertunangan ini?”

“Aniyo,” jawabnya singkat. “Sunbae, sungguh, bukan aku yang mau. Aku akan menolak pertunangan ini,” kata Nada tiba-tiba lalu berbalik kembali ke meja makan. Secepat kilat Minho menahan tangannya.

“Siapa yang memintamu untuk menolaknya?” Tanya Minho dingin. Nada merinding.

“Uh? Kenapa aku tidak boleh menolaknya?” Tanya Nada bingung. Minho tersenyum evil.

Nada POV

Aku sedang melangkah menelusuri lorong kelasku ketika kudengar suara langkah kaki terdengar mengikutiku. Ini sudah jam pulang sekolah, dan aku sendirian. Vic sudah pulang duluan karena sudah dijemput eonni-nya. Rasa takut langsung menyergap hatiku. Tidak mungkin ada penculik di sekolah ini, kan?

Aku mengubah langkahku yang pelan menjadi semakin cepat. Lebih cepat lagi, dan akhirnya aku berlari. Kenapa lorong ini terasa sangat panjang ya? Aku terus memfokuskan pandanganku ke ujung tangga yang ada di ujung lorong.

“Hey! Tunggu!” sepertinya aku mengenal suara berat itu. Baru saja aku menghentikan langkah dan hendak berbalik, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram tanganku dan mendorong tubuhku hingga membentur dinding.

“Aw!” ck, orang ini benar-benar main kasar rupaya. Aku mengadah, lalu berjengit ketika mendapati Minho sudah ada dihadapanku. Pandangan matanya membuatku takut untuk menatap langsung ke wajahnya. “Ada apa?’ tanyaku pelan.

“Kau yeoja itu kan?” sergahnya denagan suara yang dalam. Aku mendongak menatapnya bingung.

“Yeoja? Tentu saja jenis kelaminku yeoja!” balasku kaget. Ini orang kepalanya terbentur apa sih?

“Bukan itu maksudku, kau itu yeoja yang dulu pernah memberiku cokelat, kan?” ujarnya lagi yang langsung membuat tubuhku menegang. Kenapa dia bisa ingat?

“Eh… bagaimana kau tahu?” tanyaku terbata. Yah, mau bohong susah, mau jujur juga tidak enak rasanya. Jadinya gimana dong?

“Pokoknya yeoja itu kau, kan?” ujarnya. Terpaksa aku mengangguk pelan. “Mana cokelatnya?” lanjutnya yang membutatku melongo. Astaga anak ini, otaknya kemana sih? Kalau cokelatnya masih kusimpan, tentu saja sudah jamuran! Itukan sudah beberapa tahun lalu, dasar pabo!

“Tidak ada,” balasku pelan. Yah, sedikit-tidak sedikit aku memang jadi ciut bila harus menghadapinya seperti ini.

“Maksudnya?”

“Waktu aku berikan padamu, kau menolaknya. Ya kumakan saja! Lagi pula itu cokelat enak, kau tidak mau lagi! Ya sudah! Berarti aku yang hoki!” balasku sedikit kesal.

“Baiklah. Valentine ini, aku tunggu cokelat darimu, oke?” ucapnya yang membuatku bengong.

“Kau lagi ngidam cokelat ya?”

Pletakk

“Ya tidaklah, pabo!”

“Memangnya, kenapa aku harus memberimu cokelat? Toh aku yakin kau cukup punya uang untuk membeli cokelat sendiri, atau kau memang tidak mampu membeli cokelat?” balasku lagi.

Pletakk

“Ya! Kau ini main jitak sembarangan sih?”

“Bicara denganmu dengan kondisi seperti ini bikin tensi. Sudahlah lebih baik kau ku antar pulang!” sahutnya kesal lalu menarik tanganku mengikutinya.

“A… aku…”

“Aku tahu kau biasa pulang sendiri, tapi ini perintah dari eomma-mu, bodoh!” semburnyta lagi yang membuatku langsung bungkam. Ya, lebih baik bungkam di posisi seperti ini. “Dan ingat! Karena kau calon tunanganku, kau harus menurut padaku. Arra?!” lanjutnya garang. Aku terhenyak dengan mata terbelalak.

“Ya! Beraninya kau mencampuri kehidupanku!”

View days later…

“Sudah cukup!! Aku tak kuat!!” Aku membanting buku di atas meja. Vic yang heran karena perlakuanku hanya bisa mendekat.

“Wae? Ada masalah lagi dengan calon tunanganmu itu?” tanyanya. Ya, dia sudah tahu tentang pertunangan itu. Dan apa reaksinya? Dia bilang aku yeoja paling beruntung, berbahagia di seluruh jagad raya! Apakah dia tidak tahu apa yang namja itu lakukan padaku selama aku menyandang status sebagai ‘calon tunangannya’? Tentu saja, tapi bukankah sudah kuceritakan padanya? Aku memutar kedua bola mataku kesal.

“Memang dengan siapa lagi?” kataku ketus. Ia hanya terkekeh.

“Bukankah enak?” tanyanya. Aku melotot.

“Enak katamu?? Aku harus membawa perlengkapannya kesana-kemari, menungguinya, membelikannya makan siang+minum, menungguinya latihan yang membuatku bosan setengah mampus, ya!! Aku sudah berapa kali membolos karenanya?” celotehu panjang lebar. “Belum lagi… belum lagi aku tak sempat menyelesaikan membaca Mitologi Yunaninya!! Aissshh… namja paboo!!”

“Jincha?? Wahh… kau enak sekali Nada-yah..” ucap Vic iri. Aku mendelik.

“ENAK KATAMU??? AKU SEPERTI DI NERAKA!!” seruku frustasi. “Semoga hari ini menjadi surga bagiku..” gumamku pelan sambil menyandarkan diri di kursi. Baru saja aku mengeluarkan sebuah buku supertebal yang akan menjadi ‘makananku’, ternyata penderitaanku dimulai lagi.

“AHN NADA!!! KUTUNGGU KAU DI LAPANGAN BASKET DALAM WAKTU SEPULUH DETIK!!! DIMULAI DARI SEKARANG!!!” seru suara namja menjengkelkan itu. Aku membiarkannya.

Bodo amat, yang penting hari ini aku mau nyantai.

“7….6…5…”mwo? dia menghitungnya!! Ampuuunnn… kalau telat bisa gawat!! Aku tidak mau disuruh menemaninya dan eomma-nya belanja!!!! Heuu~~

“YAA!!!!” aku berusaha lari secepat kilat. Entah berapa banyak orang yang kutubruk.

“12 detik. Kau terlambat 2 detik, Ahn Nada,” kata namja itu begitu aku ada di depannya. Aku menatapnya nanar.

“MEMANGNYA KENAPA HUH? INI WAKTUKU UNTUK BERSANTAI!” seruku marah.

“Membantah, lari lapangan 100 kali,” katanya dingin. Oh, mau menantang? Dia pikir dia siapa huh?

“Kau bukan coach. Jadi sorry, aku tak sudi!” kataku sambil membalikkan badan.

“Baiklah, tapi mungkin ini akan terpampang di madding sekolah,” katanya. Aku berbalik. APUUUAAAAA??????

“NEO??? DARI MANA KAU MEMOTRETNYA???!?!” pekikku. Terpampang jelas di ponselnya, rok sekolahku yang tersingkap memperlihatkan CD warna putihku. Ia tersenyum iblis. Emang dia iblis dari sononya!!

“Saat kau membereskan tasku yang terjatuh. Wah.. ternyata warna putih. Besok warna apa yaa??” katanya sambil menatap foto itu. Aku melayangkan jitakan mautku ke kepalanya.

PLETAKKKKK

“DASAR MESSSSUUUUMMM!!!!”

“Ayaaa!!!! Tanganmu itu terbuat dari apa sih?” tanyanya mengelus kepalanya. Aku menekuk wajahku.

“Dengar, aku tidak akan pernah lagi mematuhi perintahmu, itu semua membuatku seperti di neraka, kau tahu?!” semburku padanya. Ia hanya nyengir, sepertinya sangat bahagia.

“Atau aku akan bilang pada eommaku kalau kau mengajaknya belanja? Well, kurasa itu bukan ide yang buruk juga,” ia mengangkat bahunya dan melengos pergi. Aku membulatkan mata. Mwo? Belanja? Dengan eommanya? Itu adalah mimipi terburuk yang akan kualami!

“Mwo?!”

“Nde, eommaku bukankah wanita yang sangat menyenangkan? Kau bisa menghabiskan waktumu seharian dengannya, dan ia pasti akan senang sekali bila ‘calon menantunya’ mengajaknya berbelanja,”

“Kau mau membunuhku, Choi Minho?!” desisku. Ia menggeleng polos.

“Ani. Aku hanya menggertakmu saja,”

“ARGH! Damn kau!”

Author POV

Nada mengusap wajahnya perlahan ketika merasakan sinar matahari mulai menerobos pelupuk matanya. Dengan berat ia berusaha membuka matanya, dan melirik ke sebelah kanannya tepatnya ke arah jam weker yang menunjukkan pukul setengah enam pagi. Sambil menghembuskan napas berat, ia kembali berbaring sambil mengumpulkan nyawanya.
“Aigoo, apa yang telah terjadi?”desahnya pelan sambil membuka matanya lagi. “Ah, sudahlah. Toh mungkin itu hanya kekeliruan,”katanya berusaha menenangkan dirinya sendiri dan mulai beranjak menuju kamar mandi.

Selesai membersihkan dirinya, ia menatap bayangan dirinya sendiri dalam cermin meja riasnya. Wajah polos tanpa sentuhan make up, rambut kucir kuda dengan beberapa jumput kecil anak rambut yang mencuat hingga membentuk seperti poni tipis di keningnya, seragam sekolah polos tanpa permak apapun—mengingat sebagian besar haksaeng yeoja di sekolahnya memermak seragam mereka menjadi lebih mini dan berenda-renda yang menurutnya menjijikkan—dengan roknya yang sebatas lutut, meski ia sudah memakai celana ketat dibaliknya, berjaga-jaga bila ada latihan basket dadakan yang sering dilakukan oleh eonni sepupunya, Amber. Ia memperhatikan wajahnya. Ia tidak pernah merasa bahwa dirinya cantik. Yah, meski ia memiliki hidung bangir impian semua yeoja, dagu runcing dan rahang yang jenjang membentuk wajah ovalnya menjadi semakin menarik. Alisnya hitam alami dan terbentuk meski tidak pernah ia perhatikan, bibirnya tipis berwarna peach segar, menjadikan ia tidak memerlukan polesan lipgloss atau lipstick untuk menambah warna pada bibirnya—dan ia memang tak peduli akan itu—pipinya yang sedikit chubby dan kemerahan walaupun sering berjemur, menjadikan wajahnya semakin cute sekaligus menarik.

Secara tak sengaja, Nada merasa bahwa wajahnya agak mencolok. Ia membuka laci, mencari sesuatu di dalamnya dan menemukan sebuah kacamata berbingkai tebal dengan lensa biasa. Ia memiringkan wajahnya sejenak, lalu memakai kacamata tersebut dan berkaca lagi.

“Pffftt,…” ia membekap mulutnya sendiri menahan tawa. Sungguh, wajahnya kelihatan culun sekali di situ. Setelah melepas kacamata itu, kini ia memperhatikan postur tubuhnya. Tubuhnya tinggi—cenderung kerempeng—karena sering marathon atau kebiasaannya bermain basket karena di ajak oleh Amber—Kulitnya kuning langsat cenderung kecokelatan karena sering terbakar matahari. Dibalik kemeja sekolahnya, otot lengan atasnya mulai terbentuk menjadi lebih kencang. Ia memandangi sosoknya sejenak sambil melamun.

“YA!! NADA!! PPALI!!! CALONMU SUDAH MENJEMPUT!!” pekik sebuah suara dari luar kamarnya, membuyarkan lamunanya. ‘’INI SUDAH JAM SETENGAH TUJUH, KAU BELUM SARAPAN!! AYO TURUN!!’’ pekik suara itu lagi yang tak lain tak bukan adalah suara eommanya. Nada tersentak dan membulatkan matanya.

“Namja itu?” gumamnya pada dirinya sendiri. “Cih, namja penjilat,” dumelnya lagi sambil menyeret tas sekolahnya keluar kamar.

“Ya, Ahn Nada, dari tadi ia sudah menunggumu, bukannya cepat-cepat keluar dan sarapan malah berlama-lama di dalam kamar,” kata eommanya mengomeli Nada sambil mengoleskan selai cokelat di atas seiris roti. “Minho, kau sudah makan?”katanya ramah.

“Ne, eomonim,” jawabnya sopan yang membuat Nada memutarkan kedua matanya sebal. Ia mengambil seiris roti dan mengoleskan selai strawberry kesukaannya, lalu langsung melahapnya sambil mendumel dalam hati.

Eomma boleh termakan omongan manisnya yang disopan-sopankan, namun aku tidak akan pernah termakan oleh ucapannya yang menjilat itu—

“Nada, ayo cepat selesaikan sarapanmu, kau tidak mau terlambat kan?” kata eommanya.

“Aku naik bis eomma, tidak akan terlambat,” sergah Nada kesal.

“Kau tidak akan naik bis, karena kau akan berangkat bersama Minho,”ujar eommanya tegas yang sukses membuat Nada melongo.

“Tapi—“

“Kkaja, nanti kalian terlambat,” sambung eommanya lagi. Namun ia kini tengah memelototi Nada yang sedang mengikat tali sepatunya dengan santai. “PPALI!!!” pekik eommanya sambil mendorong punggung Nada.

“Ne, eomma,’’ jawabnya pasrah.

“Selamat bersenang-senang,’’ kata eommanya sambil melambaikan tangannya dengan senyum lebar. Nada membalasnya dengan senyum kecut sebelum masuk ke dalam mobil Minho.

“Untuk apa kau datang, huh?” tanya Nada ketus pada Minho yang duduk berdampingan dengannya sekarang.

“Jangan geer dulu, aku dipaksa eommaku,”katan Minho membela diri.

“Cih,”dumel Nada dan menghiraukan Minho lagi. Ia memandang keluar jendela dengan perasaan kesal yang memuncak.

Tak ada yang berani membuka percakapan dalam mobil itu. Selama perjalanan keduanya hanya terdiam membisu, menyisakan keheningan yang menyebabkan kecanggungan yang mengisi mobil itu. Minho mengatupkan rahangnya keras, benci dengan situasi ini. Sementara Nada hanya melamun, membiarkan situasi seperti itu tetap berjalan dan memang menurutnya lebih baik sepeti itu.

“Aku turun di sini saja,” kata Nada tiba-tiba saat mereka sudah sampai di perempatan sebelum gerbang sekolah.

“Wae?” tanya Minho kaget.

“Aku tak ingin seisi sekolah heboh karena melihat kita berdua berangkat sekolah bersama. Lagipula, aku tak sanggup dengan gosip tak senonoh yang akan muncul,” katanya panjang lebar. Minho merenyit heran.

“Jadi, kau tak suka berangkat bersamaku?” tanya Minho sinis. Nada menoleh.

“Aniyo, hajiman, kau itu populer. Kau tak pernah tau tentang ‘kepopuleranmu’ itu ha? Kau pikir, dengan berangkat bersama seperti ini, apa yang akan dipikirkan anak-anak fansmu itu? Mereka akan mengira aku itu saudaramu atau semacamnya…”

“Tinggal bilang terus terang bahwa kita akan segera bertunangan, apa susahnya?” jawab Minho ketus menyela kata-kata nada. Kedua mata Nada membulat.

“MWO? BILANG TERUS TERANG? APA KAU GILA CHOI MINHO???” pekik Nada. “AKU AKAN DIBUNUH FANS MU BABOYA!!!!” serunya lagi tepat di telinga Minho yang menyebabkan Minho harus menutup telinganya bila mau menyelamatkan gendang telinganya.

“Ne.. ne.. arasseo, tapi kita bisa mengaku untuk hal yang lain, kan? Misal, kau itu ternyata sepupuku,”

Bletakkk

“Siapa yang sudi menjadi sepupumu hah?” kata Nada geram. Minho mengelus-elus kepalanya yang baru pertama kali itu dijitak oleh seorang yeoja.

“Aku juga sebenarnya tidak sudi, tau, tapi mau bagaimana lagi?” kata Minho membela dirinya sendiri.

“ya sudah, turunkan aku di sini,” jawab Nada ngotot. Minho menggeleng menolak.

“Ani. Kau akan kuturunkan di parkiran,” katanya tegas. Nada makin emosi.

“Yaa~~”

“Aku lagi bawa anak orang tau!! Kalo kau kenapa-napa, yang dituduh aku!!” seru Minho tajam yang menyebabkan Nada kembali terdiam.

“Ne, terserah kau lah,” jawab Nada pasrah. Minho tersenyum puas.

“Baiklah.. sekarang kita sudah sampai..” kata Minho tenang sambil memarkirkan mobilnya. Nada masih memasang wajah ditekuk. “Ayo turun..” ajaknya ramah.

“Kau duluan. Setelah kau menghilang, baru aku mau keluar,” kata Nada ketus.

“Geurae.. annyeong chagiya~~” kata Minho keras-keras setelah keluar dari dalam mobilnya sambil melambai pada Nada yang masih di dalam mobil dengan tatapan syok.

“KYAAA~~~~” jerit beberapa—mungkin seluruhnya—haksaeng yeoja yang bergerumul mau menyaksikan Minho turun dari mobil.

Nada POV

Haa? Barusan tadi, dia memanggilku apa? Ya Tuhan, kenapa aku jadi berdebar-debar begini? Bukankah aku sudah janji untuk tidak akan menyukainya lagi? Haduh, wajahku memanas. Dan sekarang mulai memerah. Aigoo… dia mulai menggodaku.. =3=

Aku masih syok dengan perkataannya tadi. Aku berharap tidak ada yang mendengar. Aku menghembuskan napas keras berusaha menenangkan diri sendiri, dan berkali-kali mengipasi wajahku sendiri. Setelah mulai tenang dengan diriku sendiri, aku membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Namun ternyata, sepertinya ada bahaya besar—gak terlalu besar sih—menghadangku. Ya, tepat dihadapanku, ada seorang sunbae, sunbae yang sama dengan sunbae yang merebut jatah kursiku beberapa waktu lalu di kantin. Yep, siapa lagi kalau bukan Krystal.

“Eh, sunbae?” tanyaku terbata. Ia hanya melirik sinis ke arahku sambil meneliti sekujur tubuhku, seakan aku ini kambing pilihan yang akan segera di sembelih… ==”

“Ya! Kau, hoobae tengik, apa hubunganmu dengan Minhoku, ha?” tanyanya dingin dan meremehkan. Aku makin melongo, namun sedetik kemudian mengerti dengan maksudnya dan kenapa ia berkata seperti itu. Ya, kau Choi Minho baboya.. ==”

“Aniyo, aku tak punya hubungan apa-apa dengannya,” jawabku singkat terkesan ketus. Ia menaikkan alisnya tinggi-tinggi dan menatapku remeh.

“Tak punya hubungan apa-apa? Lantas apa maksudmu, kau bisa berada di dalam mobil Minho, ha? Jangan mengelak,” katanya dingin. Aku hanya menelan ludah dengan susah payah.

“A… Aku.. hanya….”

“Ya! Nae chagiya, sedang apa kau di situ? Bukankah kau ingin mengunjungi Taemin? Katanya kau memerlukan buku Biologi? Kkaja, dia sudah menunggu,” kata seorang namja yang mencekal lenganku kuat. Dengan cepat aku menoleh padanya, dan langsung terbelalak dengan apa yang sedang kuhadapi di depan mataku.

Hah. Kurasa semuanya akan terbengong-bengong.

Bagaimana tidak?

Yang ada di depanku itu Donghae sunbae!!!

Aigoo, aku rasa tak lama lagi aku akan segera diceburkan ke Sungai Han oleh fans-fansnya.
“Eh? Donghae oppa, igeo.. neo…???” tanya Krystal sunbae heran. Aku hanya menahan napas.
“Ne, nae chagiya. Kami baru jadian 3 hari yang lalu,” jelas Donghae sunbae sambil merangkul bahuku. Kurasakan wajahku memanas. Bagaimana tidak? Aku diakui sebagai pacar seorang Lee Donghae!! Aku si The Nerd! Mimpi apa aku semalam??

Kurasakan tanganku kembali ditarik dengan sigap dan pikiran anehku langsung buyar seketika. Aku tak dapat menahan diri untuk tidak menatap Hae oppa—well, waktu itu aku sempat memberinya nama kecil—yang telah menarikku masuk ke dalam gedung.

“Oppa, mianhae, tapi kita kan tidak pacaran?” tanyaku polos. Ia hanya tersenyum sambil melepaskan cengkeramannya.

“Memang. Tapi aku terlanjur menyelamatkanmu dengan cara seperti itu. Jadi, mungkin kita harus berpura-pura pacaran untuk sementara ini,” katanya tenang namun membuatku mendelik menatapnya.

“Yaa! Oppa!! Aku tidak mau terlibat masalah hanya karena sudah menjadi ‘pacar palsu’mu!!” pekikku tertahan. “lagipula, apa oppa tidak kasihan denganku, aku masih anak baru oppa!!”

“Ne, aku tahu. Tapi asal kau tahu, Krystal sangat ditaktor. Ia bisa melakukan apapun sesuka hatinya, dan ia selalu ingin keinginannya tercapai dengan sempurna,” kata Hae oppa yang membuatku merinding setengah mampus.

“Maksud oppa?”

“Dia sangat terobsesi dengan Minho, kau harus tahu itu,” katanya lalu melangkah pergi.
Aku sama sekali tidak mengira bahwa kenyataannya seperti itu. Kenapa Hae oppa mau menyelamatkanku? Apa ia tahu tentang hubunganku dengan Minho?? Aih, kenapa semuanya tiba-tiba berubah menjadi sulit? Tapi tunggu, bukankah ini yang kumau? Minho bersama dengan yang lain. Tapi kenapa aku ga rela yah? Ah, biarlah.

“Ya! Ahn Nada! Mau sampai kapan kau bengong terus di situ hah?” seru sebuah suara diringi tepukan di bahuku. Langsung aku menoleh. Vic.

“Hei, Vic,” sapaku lemah padanya. Ia nyengir kuda.

“Tadi kau diselamatkan oleh Donghae oppa yah? Wah, kau beruntung sekali!!” pekiknya. Aku menggeleng lemah. “Kenapa kau jadi lemes begini sih??” tanyanya lagi.

“Aku benar-benar mengalami tekanan batin,” kataku terus terang padanya. “Aku harusnya benci dengan mahkluk bernama Choi Minho itu, ia harusnya bersama dengan wanita yang di cintainya. Dan aku pikir itu Krystal. Namun kenapa aku tidak rela? Disini sesak, Vic. Lalu Hae oppa mengatakan bahwa aku yeojachingunya di depan Krystal agar ia tak menerkamku bagai singa. Dan Hae oppa juga bilang…”

“ya… ya.. ya.. Ahn Nada.. bernapaslah.. kau berbicara tanpa di rem… aku tak mengerti,” katanya polos. Vic-ah, pikiranku kalut sekarang, aku tak tahu apa yang barusan kukatakan.
“hahh… kita bicarakan itu nanti di rumahku,” kataku sambil menelungkupkan kepalaku di atas meja. Bisa kurasakan Vic menepuk-nepuk bahuku memberi semangat. Aku hanya depat membalasnya dengan mengangguk.

__

Aku menyelesaikan tugas yang diberikan Park sonsaengmnim dengan diam dan sengaja mengudur-undurnya sampai istirahat. Dengan malas, kuhentikan gerakan menulisku dan menatap ke luar jendela. Pikiranku melayang jauh entah kemana.

Brakkk

“Ya! Kenapa bengong terus hah?” seru suara yang sangat sangat familier di gendang telingaku, meningat setiap hari aku selalu mendengar suaranya itu. Aku menoleh dan tampaklah Vic dengan wajah heran. Aku hanya menggeleng lemah dan menelungkupkan kepalaku di atas meja.

“Tumben kau disini, Vic,” kataku acuh.

“Dingin sekali, kau makan es yah tadi pagi?” jawabnya menghiraukan pertanyaanku. Aku hanya terdiam. “Ya! Jangan karena masalah segitu kau jadi seperti ini! Hei! Ahn Nada!! Kau punya semangat hidup tidak?” celotehnya panjang lebar.

“Ya!! Itu yang namanya Ahn Nada! Katanya ia dan Donghae sunbae sudah berpacaran 3 hari yang lalu ya?” terdengar beberapa haksaeng membicarakanku. Aku hanya mendengus mendengarnya.

“Vic, ayo kita keluar, tidak enak di sini,” kataku pelan lalu menarik tangan Vic keluar kelas. Baru sampai di depan pintu, yah, mahkluk rese aneh bin ajaib itu sudah menghadangku.
“Apa yang telah kau lakukan hah?” katanya agak dingin.

“Wae? Minggir,” kataku tak kalah dinginnya.

“Ya! Apa yang lakukan itu hah? Sini kau! Ikut aku!” katanya keras sambil melepas tangan Vic dari cengkeramanku dan malah menarik tanganku untuk mengikutinya.

“Apa-apan hah?” tanyaku tetap dengan nada datar. Ia hanya memalingkan mukanya dan terus menarikku ke atap gedung. Hei, kemana fans klubnya? Aku membutuhkan mereka sekarang untuk menghalanginya.

Ia terus menarik tanganku dan sampailah kami tepat di atap gedung. Ia berjalan menyudutkanku, hingga punggungku membentur dinding. Ya Tuhan, apa yang akan dilakukan namja ini? Semoga saja….

__

“Apa yang telah kau lakukan hah?” katanya keras sambil menatapku ke manik mata. Aku hanya memalingkan muka. Ia kembali memegang kedua bahuku, memaksaku untuk menatapnya.

“Apa maumu sih?” tanyaku ketus. Ia semakin dalam menatapku, membuatku tak berkutik.

“Kau tahu kan, kalau kau itu calon tunanganku?” kenapa ia menanyakan hal yang sudah fakta sih? “Karena dari itu, jangan pernah membuatku marah, atau, kau akan menerima akibatnya.”

Apa-apaan dia ini?

Aku mendesah pelan. “Baiklah, apa maumu?” kataku pada akhirnya. Ia tersenyum senang.

“Lain kali, jangan biarkan Donghae sunbae menyentuhmu,” katanya yang langsung membuatku mendelik.

“Mwoya?”

“Kau dengar gossip apa tadi? Kau dan Donghae sunbae berpacaran!! Hah, aku bisa gila,” katanya yang membuatku kembali merenyitkan keningku. Apa maksudnya?

“Apa maksudmu?” tanyaku bingung. Ia menatapku sejenak, lalu mengibas-ngibaskan tangannya.

“Sudahlah, lupakan saja,” katanya dan berlalu meninggalkanku.

“Ya!!” panggilku, namun ia tak menoleh lagi. Dengan kesal, aku meninju punggungnya namun nyatanya aku meninju udara karena punggungnya telah menghilang ke balik tangga.

“Eh? Nada?” sebuah suara berat membuatku menoleh. Dengan desahan keras, aku kembali menatapnya.

“Donghae oppa?” sapaku. Ia hanya tersenyum tenang. Hahh.. dia memang baik, tidak seperti Minho yang keras kepala.

“Tidak sengaja tadi aku mendengar percakapanmu dengan Minho,” katanya lagi yang membuatku menegang.

“Jincha? Oppa mendengar apa saja?” tanyaku gugup.

“Semua,” jawabnya singkat. Kami pun terdiam cukup lama.

Tenonenonet~

Tenonenonet~

“Eh.. oppa.. aku… balik ke kelas dulu,” kataku buru-buru meninggalkan Donghae oppa yang menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.

Hah.. aku yakin, Vic pasti dengan-akan-segera menerorku dengan berbagai pertanyaan bak dektetif. Biarlah, toh ia tak pernah ember. Aku percaya sepenuhnya padanya. Saat aku memasuki koridor sekolah, dapat kurasakan tatapan para haksaeng hanya tertuju padaku dalam berbagai ekspresi. Ada yang bingung, terkejut, sinis, hah, aku pun tak bisa menjelaskan semuanya.

Dan ketika aku memasuki kelas, aku lebih terkejut lagi.

“Ya! Apa-apaan ini?” pekikku keras, menatap seorang sunbae yang tadi pagi sudah mencegatku—siapa lagi kalau bukan Krystal—dan antek-anteknya yang kini tengah mencekal lengan sahabatku, Vic. Vic hanya menatapku terkejut.

“Hahhh, orangnya ternyata ada di sini. Kebetulan sekali, kau perlu bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan,” Krystal—aku sudah tidak sudi memanggilnya sunbae, mengingat ia suka menggangguku yang bahkan tidak melakukan apa-apa—menatapku sinis.

“Ada perlu apa?” jawabku dingin.

“Kalian!! Ini waktunya pelajaran!! Kau, Jung Krystal, kembali ke kelasmu!” teriakan Park sonsaengnim membahana. Dengan sigap aku menarik Vic mendekat padaku dan bergerak menuju tempat duduk kami.

Aku melirik Vic, ia tampak sedikit pucat. Pasti karena Krystal tadi melabraknya. “Gwaenchanna, Vic?” tanyaku pelan. Ia hanya melirikku sekilas dan mengangguk. Kemudian ia menarik secarik kertas dan menuliskan beberapa kata di sana. Setelah beberapa saat, disodorkannya kertas itu kepadaku. Akupun membacanya dengan cepat.

“Sekarang, buka buku kalian halaman 157,” ujar Park sonsaengnim. Aku melakukannya, dan kembali berkonsentrasi dengan kertas yang Vic sodorkan.

Aku hanya kaget, Krystal sangat kejam jika melabrak orang,

Aku menoleh ke arah Vic. Ia hanya memasang senyum samar. Pandanganku kembali kualihkan ke arah Park sonsaengnim untuk sekilas memperlihatkan ‘perhatianku’ terhadap pelajarannya ini. Dan dengan cepat juga, aku membalas kata-kata Vic dengan menuliskan kata-kata di sana juga.

Hh, kau orang kedua yang dilabrak olehnya. Tadi pagi aku juga sama. Tapi stay cool aja kalau ia melabrakmu, biasanya kalau kita stay cool, dia juga akan ciut sendiri,

Aku segera kembali menyodorkan kertas itu. Vic membacanya sambil tersenyum, lalu berkata lemah tanpa suara, “Gomawo,”. Aku membalas senyumannya dan kembali berkonsentrasi dengan pelajaran.

__

Aku benci hari ini. Kenapa di hari yang sudah penuh dengan musibah ini ditambah dengan musibah lagi sih? Kenapa harus basket hah? Kenapa? Kenapa harus basket sementara ada cabang bola besar lainnya, voli kek, atau sepak bola?

Aku menyeret langkahku menuju loker siswa untuk mengambil pakaian praktek olahraga. Sampai. Di loker bernomor I-108. Aku mencari kuncinya di sakuku, dan setelah ketemu, aku memasukkan kunci itu ke lubangnya dan memutarnya. Kutarik pintunya, namun…

Srekkk

Sebuah kertas tak dikenal yang berasal dari dalam lokerku jatuh ke atas kakiku. Aku merenyit heran. Untuk apa aku menyimpan kertas yang hanya selembar itu di loker? Aku memungutnya, lalu membaca tulisan bertinta merah di kertas itu.
Jauhi Minho!

Omonaaa…. Jaman gini masih pakai teknik mengancam seperti ini? Apa kata dunia?? Kalian berpikir aku tak mengetahui pengirimnya? Sial sekali, aku sangat tahu siapa dia. Pasti Krystal, toh hanya dia yang mengetahui bahwa aku—terpaksa—dekat dengan mahkluk-jangkung-menyebalkan itu. Ya kan? Kalau haksaeng lain, bisa kutebak bukan nama Minho yang disebut, tapi nama Donghae oppa.

Aku hanya menghembuskan napas berat, meremas kertas itu dan melemparnya sembarangan, setelah itu mengambil baju praktekku dan bergegas ke kamar mandi.

Chocolate tragedy—end

[FF] A Story About You And Me – CHOCOLATE TRAGEDY [2/2]

2 thoughts on “[FF] A Story About You And Me – CHOCOLATE TRAGEDY [2/2]

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.