[FF] Between Love and Pain [2/2]

betweenloveandpain

Between Pain and Love

By ReeneReenePott

Kris Wu, Song Ahrin(OC) | Drama, Romance, Sad | PG – 17/18 | Twoshots

Backsound : Wu Yi Fan – Time Boils The Rain

NO CHILDREN ALERT!

__

“Apa kau akan terus seperti ini?” Seohyun meletakkan gelas milkshake-nya lalu menatap Ahrin di hadapannya. Ahrin tidak yakin apa yang sedang ia lakukan, ia hanya bisa menatap gelas cappucino di depannya dengan perasaan gamang. Tadi Seohyun menghubunginya jam sebelas siang, memintanya untuk bertemu dan makan siang bersama. Dan mereka bedua bertemu di sini, di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor Kris.

“Tentu saja tidak,” nada suara Ahrin terdengar tidak yakin, ia menghembuskan napas lalu menurunkan tangannya yang sedari tadi bermain di atas meja.

“Maaf kalau pertemuan ini membuatmu tertekan. Aku hanya ingin berbicara langsung denganmu,”

Ahrin menanggapi Seohyun dengan senyum lemah. “Aku tidak tertekan. Aku sudah tahu tentangmu sejak dulu. Dan… aku juga ingin memberitahumu beberapa hal,”

“Boleh aku memanggilmu unni?” potong Seohyun tiba-tiba, membuat Ahrin terkeju sebentar, lalu membalasnya dengan tersenyum kecil sambil mengangguk mengiyakan.

“Aku sudah menanda tangani surat cerai,” ungkapnya langsung, membuat Seohyun mematung di tempat. “Awalnya aku ingin bertahan sampai anakku ada di pertengahan tahun ssekolah dasar, karena aku belum bisa menyokong kebutuhan anakku sendirian,” Seohyun menatap Ahrin lurus, menunggu kelanjutan kata-katanya. “Tapi semakin lama aku semakin merasa ini tak adil untukmu dan Kris. Kalian juga sudah menderita cukup lama. Jadi, kuputuskan untuk menggugat cerai,”

“Dan anak kalian?” tanya Seohyun pelan dan hati-hati.

“Anakku,” koreksi Ahrin tajam, “Itu masalahku nanti. Aku akan pindah ke Jepang setelah menyerahkan surat cerai. Dia bisa menuduhku selingkuh atau apapun yang akan membuat kedua orang tua kami percaya kami tidak cocok dan menyetujui perceraian ini,”

“Kenapa unni memberitahuku dulu? Bukankah Kris oppa belum tahu?” tanya Seohyun lagi, tidak memandang Ahrin. Ia memandang gelas milkshake di depannya dengan berbagai perasaan, menggigit sudut bibirnya seakan ingin mengatakan sesuatu. Ahrin hanya menatapnya, dan Seohyun memilih untuk tidak angkat bicara.

“Dia belum saatnya tahu,” sahut Ahrin, bibirnya mulai bergetar membayangkan reaksi Kris jika mengetahuinya. Membayangkan suaminya menyuruhnya pergi secepat mungkin. Ahrin menutup matanya, meredakan emosi yang bisa membuat air matanya keluar. “Aku mendoakan kebahagiaan kalian,”

“Maaf unni, aku mencintainya,” bisik Seohyun sambil menunduk. Tapi bukan aku yang ia cintai, lanjutnya dalam hati. Entah kenapa, ia tak sanggup mengatakan hal itu.

“Kalian saling mencintai, apa yang perlu dimintai maaf?” balas Ahrin pahit, mengangkat cangkir cappucino-nya dan menghabiskan tegukan terakhir. “Kris suka pancake dengan sirup maple. Dia tidur jam detengah dua belas malam, dan sangat suka membaca sebelum tidur. Kalau lapar dalam keadaan darurat, dia selalu mencari kimbap,” Ahrin menatap Seohyun sendu, lalu tersenyum lemah. “Kau sudah tahu, kan?”

Seohyun mencelos. Ia menatap Ahrin tanpa berkedip, lalu tertawa pelan dan sumbang. “Benarkah? Aku tidak pernah tahu,” tanggapnya sambil mengaduk gelas milkshake-nya yang sudah tinggal seperempat. Dia benar-benar mencintainya.

Ahrin mengedipkan matanya, “Kalau begitu sekarang kau tahu,” ujarnya sambil memaksakan senyum, sebelum mengedarkan pandangan ke sekeliling cafe tempat mereka bertemu sekaligus makan siang. Tangannya menegang seketika ketika ia menemukan sosok Kris berdiri di parkiran, menatap tepat ke arah mereka berdua dengan pandangan tajam. Ahrin memang terkejut, namun ia berusaha menelan keterkejutannya dengan memaksakan sebuah senyum. “Priamu menunggu. Kurasa aku harus segera pergi, ia seakan mau menerkamku,” ujarnya sambil terkekeh lalu berdiri. “Sampai jumpa,”

Seohyun menanggapi salam perpisahan Ahrin dengan membungkuk, lalu matanya melebar ketika Ahrin berkata Kris ada di depan. Tanpa ba-bi-bu, Seohyun juga bersiap pergi, menyusul Ahrin yang sudah ada di ambang pintu masuk. Ia berencana menghampiri Kris, namun tubuhnya langsung menegang ketika melihat Kris mencengkeram lengan Ahrin tiba-tiba.

“Apa yang kau lakukan disini dengan Seohyun?” desis Kris tajam. Ahrin tidak menatap Kris, ia menunduk untuk menyiapkan dirinya sendiri.

“Gadismu tak ku apa-apakan. Kau tak perlu khawatir, aku benar-benar tak melakukan apa-apa dengannya. Kau bisa tanya sendiri,” Ahrin menyentakkan tangannya namun tenaga Kris lebih kuat. Pria itu mencengkeram tangan Ahrin lebih kuat lagi, membuatnya meringis. “Lepas, Kris. Aku mau pergi,”

“Bukan itu jawaban yang kuminta,” nada suara Kris mulai keras, Ahrin bisa melihat dari rahangnya yang terkatup rapat.

“Lalu apa? Aku tidak melakukan apa-apa padanya, aku hanya bertemu karena dia yang minta me—”

“Apa yang kau katakan padanya?” potong Kris dingin tanpa melepaskan pandangannya dari mata Ahrin. Sementara Ahrin hanya bisa balas memandangnya dan terdiam, menyiapkan diri untuk membalas kata-kata Kris.

“Haruskah kau tahu? Perlukah?” tantangnya dengan mata yang memerah. Dengan kasar ia menyentakkan tangannya hingga pegangan Kris terlepas dari tangannya. “Aku harus menjemput Jason,”

Baru Ahrin berbalik dan hendak melangkah pergi, tangan Kris lagi-lagi menahannya. “Aku ikut,”

“Dan meninggalkan Seohyun?” sindir Ahrin tajam lalu melirik Seohyun yang terdiam di belakang Kris. “Bukankah kau ke sini untuk menemuinya? Aku harus pergi,” ujar Ahrin lagi sambil berusaha menarik tangannya lepas dari cengkeraman Kris ketika merasakan Seohyun melangkah mendekat.

Unni, kalian butuh bicara berdua. Butuh sangat banyak waktu untuk membicarakan banyak hal diantara kalian berdua. Apapun yang terjadi nanti, aku terima apa adanya,” kata-kata Seohyun membuat Ahrin berhenti mencoba melepaskan diri dari Kris, dan tercengang. Sementara Kris tetap menatap Ahrin lurus. “A-aku duluan,”

Ahrin hanya bisa mentapa sosok Seohyun yang menjauh, menatap Kris panik dan kembali berusaha melepaskan lengannya. “Kris, lepas!”

“Kau ikut denganku,” ujar Kris dengan nada memerintah, lalu menarik Ahrin untuk mengikutinya. Ahrin memberontak lagi, namun tetap saja tangannya tak bisa lepas. Pria selalu lebih kuat daripada wanita.

“Aku bawa mobil!” pekik Ahrin tertahan namun apa daya, Kris sudah berhasil membuatnya masuk ke dalam mobil Kris bahkan sudah duduk manis di kursi penumpang.

“Supirku akan membawa mobilmu. Mana kuncinya?” Ahrin mengerang. Dia tahu Kris memang seorang pemimpin perusahaan, tapi ia tak menyangka kalau dirinya sendiri juga bisa patuh dengan perintah Kris. Ia meronggoh tasnya lalu menyerahkan kunci mobilnya ke tangan Kris tanpa menatap lelaki itu.

Ahrin merasakan Kris keluar dari mobil sebentar, lalu kembali masuk dan mulai menyalakan mesin. Ia menutup mata dan menghembuskan napas pelan. Mungkin Seohyun benar, ia dan Kris butuh bicara. Banyak sekali bicara. Semenjak mereka menikah, tidak ada hal yang pernah mereka diskusikan, hanya beberapa kata tak penting dan beberapa perintah dan aturan yang Kris berikan padanya. Mereka tak pernah bicara—dalam artian saling bicara dengan damai dan kepala dingin. Jadi, Ahrin pikir inilah saat yang tepat untuk memberitahu Kris semua rencananya. Entah apa yang akan terjadi nanti, yang pasti ia akan berusaha untuk menyelesaikan masalah mereka secara baik-baik.

Mereka melaju dalam keheningan sebelum Kris berkata dengan nada rendah. “Sekolah Jason belum pulang, kurasa,”

Ahrin hanya bisa membuang pandangannya keluar jendela. Skak mat. Sialan, Kris tahu dia berbohong. “Jason… pulang dua jam lagi,”

“Dan kau menggunakan alasan itu untuk menghindariku?” sambar Kris dengan nada dinginnya, membuat Ahrin terperanjat.

“Aku tak punya alasan untuk menghindarimu,” balasnya berusaha tak mengeluarkan emosi apapun.

“Aku kesana bukan untuk menemui Seohyun,”

“Lalu? Jika kau memang mencariku, bagaimana kau bisa tahu? Kau memata-mataiku?” balas Ahrin keras, berusaha sekuat mungkin untuk tidak berteriak melampiaskan amarah yang mulai membukit.

“Seohyun memberitahuku,” balas Kris tanpa emosi, sama sepertinya. “Aku ingin membicarakan beberapa hal denganmu,”

“Sama denganku.” Sahut Ahrin cepat, lalu melirik Kris yang fokus menyetir. Keheningan mulai tercipta kembali, memuat Ahrin berpikir untuk memberitahu Kris lebih cepat. “Mari bercerai,”

“… Apa?” Ahrin mulai meragukan keberaniannya ketika mendengar sura Kris yang rendah dan terdengar menahan marah itu.

“Mari bercerai,” ucap Ahrin sekali lagi, kali ini ia berusaha agar lebih jelas.

“Kau gila?!” sekarang Ahrin bisa mendengar Kris menggertakkan giginya.

“Aku cukup waras untuk memikirkan hal ini matang-matang dan memang ini jalan satu-satunya untuk kita,” jawab Ahrin berusaha tenang dan dingin. “Memangnya kau tahan hidup seperti ini? Kalaupun kau iya, aku tidak, Kris,”

“Jalan satu-satunya? Untuk apa? Hidup seperti apa?” tantang Kris keras, tangannya mencengkeram setir dengan erat sambil berusaha memfokuskan diri ke jalan.

“Supaya kita berdua sama-sama bahagia. Kris, tak lelahkah kau hidup dalam kebohongan seperi ini? Tak inginkah kau menikahi Seohyun? Kau dan aku sama-sama tidak bahagia, untuk apa diteruskan lagi? Kau sudah memberikan cucu untuk ibumu, maka tugasmu sudah selesai,” ujar Ahrin lalu menarik napas panjang, berusaha menelan udara kegugupan yang baru ia sadari terdengar jelas di suaranya.

Namun Kris sama sekali tak bersuara. Pandangannya lurus ke arah jalan, seakan fokus dengan kening berkerutnya. Ahrin mengalihkan pandangannya dari wajah Kris, berusaha berfikir apakah ada lagi yang perlu ia sampaikan. Ia membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar lalu meletakkannya di dasbor. “Kau tinggal menanda tanganinya,”

CKIIITT

DUG

Kris menghentikan mobilnya di pinggir jalan secara tiba-tiba, membuat Ahrin memekik kecil dengan tangannya menahan dirinya membentur dasbor. Mara Ahrin melotot menatap Kris, namun pria itu menyelanya duluan. “Segitunya kah kau membenciku?” tanya Kris lirih, masih tanpa menatap Ahrin, membuat wanita di sampingnya tercengang. “Kau begitu ingin berpisah denganku?”

“Kau sendiri yang mengatakan pernikahan kita tidak didasari cinta dan tidak akan pernah ada cinta, Kris,” jawab Ahrin pelan, terkesan lelah. Perlahan ia menyandarkan punggungnya ke jok mobil sambil menutup kedua matanya. “Aku tak bisa merusak hidupmu lebih lama lagi, Kris. Aku sudah mengganggumu dan hidupmu terlalu lama. Kalau aku pergi, kau bisa menjalani hidup yang kau mau,” ungkap Ahrin, tangannya mulai bergetar. Jika melihat reaksi kris seakan tak ingin melepasnya, bolehkah ia berharap? “Aku akan bawa Jason,” ujarnya lagi, dan seketika ia merasakan tatapan Kris kembali menghujam padanya. “Mungkin ke Jepang,”

Tak

BUGH!

Ahrin membuka matanya dan melihat Kris yang berjalan keluar dengan kerutan marah di wajahnya, lalu menyandarkan dirinya di kap mobil, memunggunginya. Melihatnya, Ahrin memejamkan matanya, lalu menangkup wajahnya sendiri. Perlahan, isakan halus Ahrin terdengar, semakin keras semakin wakjtu berjalan.

*

Ahrin hanya bisa menatap Jason yang terus-terusan menggenggam tangan Kris degan riang, dari belakang. Wanita itu bingung dengan kelakuan Kris hari ini, apakah ia sedang kesambet atau apa. Mereka bertiga sudah keluar-masuk toko mainan di berbagai mall dan sekarang mereka sedang jalan-jalan di sebuah taman hiburan. Mata Ahrin menatap tautan tangan seorang ayah itu, lalu menghembuskan napas. Perasaannya campur aduk. Mana mungkin Kris bermaksud mengucapkan salam perpisahan seperti ini? Jason pasti tidak terima.

Hari sudah sore dan Jason tertidur di bahu Kris karena kecapekan. Mereka memutuskan untuk pulang dan itu berarti Ahrin masih punya waktu untuk memasak makan malam. Di mobil, Jason berpindah ke pangkuan Ahrin sementara kris sibuk menyetir. “Kita masih butuh bicara, Kris,”

“Kita bicarakan di rumah,”

“Kau tak perlu mengasihaniku, Kris,” ujar Ahrin setelah sekian lama. Kris tidak menatapnya, namun genggaman tangannya pada setir mengeras. “Kalau kau menentang perceraian karena Jason,” Rahang Kris terkatup makin kuat mendengar lanjutan kata-kata Ahrin, menahan ledakan emosi yang bisa meletup saat itu juga. Namun Ahrin tidak menyadarinya, ia hanya menyandarkan punggungnya di jok dengan kepala menatap keluar jendela sepanjang perjalanan.

Mereka sampai di rumah menjelang petang, Ahrin turun dari mobil dengan hati-hati, sementara Kris menyusulnya kemudian. Ahrin langsung membawa dan menidurkan Jason di kamarnya, dan begitu ia brbalik hendak keluar, ia berjengit mendapati Kris menatapnya dalam diam sambil bersandar di ambang pintu kamar Jason. Dan Ahrin tidak tahu apa arti tatapan itu. Tatapan Kris sekarang berbeda dengan tatapan-tatapan sebelumnya.

Namun Ahrin berusaha untuk tetap tenang, ia menarik napasnya dan memutuskan kontak mata mereka, dengan—berusaha—santai ia berlalu melewati Kris menuju dapur, hendak menyiapkan makan malam.

“Kubilang kita akan bicara di rumah, Ahrin,” Kris berkata dengan suara rendah sambil mengikuti Ahrin ke dapur, lalu bersandar pada mini-bar. Ahrin seakan menghiraukannya, ia sudah mulai merebus air dan mengeluarkan sayuran yang sudah ia potong dari kulkas. Menyadari Kris menatapnya semakin tajam, Ahrin tak punya pilihan lain.

“Bicara saja, toh kita sudah di rumah,” balas Ahrin pelan dan lanjut mengeluarkan daging dari freezer. “Kau akan makan malam dimana?”

Kris berdecak keras, dan akhirnya melangkah mendekat hingga menjajari Ahrin di depan kompor. “Kita bicara nanti saja. Kau mau masak apa?” Ahrin yang sedang mengocok telur menangkat kepalanya dan kaget begitu melihat Kris sudah berada di sebelahnya, dengan jarak yang sangat dekat. Sangat. Kris menanggapi keterdiaman Ahrin lalu mengalihkan matanya dari mata wanita itu. “Baiklah, aku ingin makan di rumah,”

Mata Ahrin membelalak. “Apa?”

Kris tidak memandang Ahrin, tapi Ahrin bisa melihat rona merah di wajah pria itu. “Aku sering makan di rumah tanpa sepengetahuanmu,” akunya sambil beranjak ke kulkas, berusaha mencari air dingin. Ahrin menelan ludahnya, mungkin… ia bisa melakukan ini.

“Memang kau mau makan apa?” tanyanya sedikit gugup. Jujur, Ahrin amat sangat heran sekaligus terkejut. Kris pernah makan di rumah? Kenapa dia malah mengakuinya? Kenapa jadi begini? Ini pertama kalinya Kris terang-terangan mengatakan ingin makan malam di rumah.

“Apapun yang kau masak,” balas Kris enteng. Ahrin menyiapkan wajan dan mengangkat daging yang sudah direbusnya, disiapkan untuk dipanggang. Kaldunya langsung ia buat sup, dan wajan yang satunya berisi omelet yang hampir matang.

“Aku tidak beli daging sapi, kau mau makan ayam?” tanyanya lagi. Well, ini pertama kali Kris makan makanannya… atau akan makan malam bersama dengannya… sepertinya?

“Tak apa. Hei, aku belum bilang kalau masakanmu lumayan,” ujar Kris, kini ia merasa lebih pede untuk terang-terangan. Dengan tekun ia mengamati gerak-gerik Ahrin, mengamati tangannya yang lincah memotong, membumbui, maupun yang menggunakan spatula.

“Hm… terimakasih,” balas Ahrin sedikit menunduk, kembali berusaha berkonsentrasi dengan apa yang dilakukannya, karena merasakan tatapan Kris selalu tertuju ke arahnya.

“Dan kau seharusnya berhenti meminta Seohyun mengirim sarapan untukku kenapa bukan kau saja?” sambar Kris lagi, dan Ahrin baru menyadari kalau Kris sedang berusaha mengoreknya. Napas Ahrin terhenti selama mendengar kata-kata Kris, namun kembali berusaha seolah itu bukan masalah besar. Ia berpura-pura memasak sup dan mengecek oven, seakan untuk membuat Kris sadar kalau ia sedang sibuk dan tidak ingin membahas hal macam itu. Menit berlalu dalam keheningan hingga akhirnya Ahrin mematikan kompor dan mengeluarkan ayam dari oven.

“Nanti malam tinggal dipanaskan,” ujarnya sambil menutup ayamnya dengan tudung saji. Ia menghiraukan Kris sambil berjalan keluar dapur, Ahrin merasa sedikit gugup jika bersama dengan Kris dalam ruangan sempir seperti itu.

Bugh

Ahrin mengedipkan matanya dan terlonjak ketika Kris mendorong tubuhnya hingga membentur dinding di depan dapur. “Kris! Apa yang kau lakukan?!” pekik Ahrin ketika melihat tatapan Kris yang seperti mau meledak ke arahnya.

“Kau membenciku? Kau sungguh ingin berpisah denganku?” tanya Kris dengan suara yang dalam namun sarat penjelasan. Air mata Ahrin mulai merebak. Tentu saja tidak. dia rela hidup seperti ini kerena Kris, kan?

“Kau… kau tak akan pernah mencintaiku, kan? Untuk apa aku bertahan? Lagian Seohyun…”

“Aku tidak membicarakan Seohyun,” sela Kris dingin. Hatinya langsung bergejolak melihat air mata yang turun di pipi Ahrin. Dengan lembut diusapnya airmata itu dengan ibu jarinya. “Maafkan aku,”

Ahrin menunduk dan menggeleng. “Tidak, kau tidak salah apa-apa, Kris. Jangan begini,” ia menghapus airmatanya cepat tanpa menatap Kris lagi.

“Tidak, aku minta maaf,”

“Kris, berhenti meminta maaf. Semuanya memang harus ternjadi—mmph!” Ahrin membelalak ketika Kris tiba-tiba membungkam mulutnya dengan bibirnya. Tangannya kaku dan airmatanya kembali luruh ketika merasakan degup jantungnya berpacu lagi. Tangan Kris meraih pinggangnya, menariknya mendekat dan menghabiskan jarak diantara mereka.

Ahrin tersadar beberapa detik kemudian dan mulai meronta dalam dekapan dan ciuman Kris. Tapi ternyata yang dia lakukan justru membuat Kris menciumnya lebih dalam, menjajah habis mulutnya dengan penuh tuntut. Seluruh tubuh Ahrin bergetar dengan sensasi bergelenyar dari ciuman Kris, tapi ia memaksakan diri untuk mengangkat tangannya dan berusaha mendorong dada Kris menjauh. Kris masih tak melepasnya, bibirnya meraup bibir Ahrin dalam-dalam, lalu mengeratkan pelukannya.

Air mata Ahrin tumpah lagi, tangannya memukul lemah dada Kris dan ia kembali pasrah. Satu-satunya pria yang pernah menyentuhnya hanya Kris, dan memang hanya dia yang Ahrin ijinkan untuk menyentuhnya. Ia tak pernah mau disentuh oleh pria lain selain Kris karena memang hanya sentuhan Kris yang terasa seperti listrik di kulitnya. Sekarang, setelah menyadari dirinya tak lama lagi akan menyerah, Ahrin akhirnya memegang bahu Kris dan membiarkan pria itu berbuat semaunya. Ia memajamkan matanya ketika merasakan ciuman Kris mulai turun ke lehernya dan jemari Kris meraba kulitnya dari balik blusnya.

“Ngghh…” Ahrin berusaha menahan suara aneh yang tiba-tiba keluar dari mulutnya itu dengan menggigit bibirnya. Tangannya menyusup ke rambut lebat Kris ketika pria itu meraih payudaranya yang masih terbalut bra. “Apa ini salam perpisahan?” bisik Ahrin lemas, belum berani membuka matanya untuk bertemu pandang dengan Kris.

Sejenak, Kris berhenti menciumi leher Ahrin dan berganti menelusuri leher wanita itu dengan hidung runcingnya. Menghirup sedalam-dalamnya aroma wanita itu, mengisinya penuh-penuh ke dalam otaknya. Sekejap kemudian tangan kris mengangkat kedua kaki Ahrin dan melingkarkannya di pinggangnya, menggendong wanita itu sambil terus menciuminya dan membawa mereka berdua menuju kamarnya.

*

Ahrin tersenyum kecil ketika tubuh polosnya dipeluk dan direngkuh Kris dengan posesif, rambutnya sudah lepek karena berkeringat dan kulit mereka yang lengket saling bersentuhan. Selimut sudah kemana-mana, hingga tubuh mereka yang sama-sama polos terekspos di atas ranjang Kris yang berukuran king size itu. Ia tersneyum karena bisa menikmati pelukan hangat terakhir malam ini.

“Besok pesawatku berangkat,” gumam Ahrin sambil menikmati hebusan napas kris yang menerpa wajahnya. Langsung pelukan Kris di pinggangnya menegang.

“Kau tidak akan kemana-mana. Kau akan tetap ada di sini,” gumam kris dengan suara rendahnya yang membuat roma Ahrin meremang. Kris… menahannya? “Jangan pergi,”

“Setelah aku ingin berpisah kau berlagak seperti pacarku,” Ahrin tertawa geli namun tak ditanggapi Kris. Pria itu hanya memeluk dan mengelus rambut panjang Ahrin seakan hal itu adalah kebiasaannya sejak lama.

“Aku suamimu, bukan pacarmu,”

“Ya, ya,” Ahrin memutar bola matanya lalu memandang bahu telanjang Kris tak fokus. “Tapi kenapa? Sudah kubilang aku tak akan meminta tanggung jawabmu atas Jason, kenapa kau jadi begini? Kita harus berpisah kalau tak ingin semakin saling menyakiti satu sama lain,”

Kris menatap Ahrin lagi, membuat wanita itu balas menatapnya tanpa canggung. Kris menggeram rendah dan dalam sepersekian detik bibirnya sudah kembali menguasai bibir Ahrin yang seperti mengundang di matanya itu. Ahrin tak bisa melakukan apa-apa selain menerima ciuman itu, yang entah kenapa terasa hangat, menenangkan, tapi posesif dan menuntut. Ahrin mulai terbuai dengan ciuman manis itu namun sontak mengerang ketika tangan Kris kembali membelai tubuhnya, membangkitkan rasa panas yang berkobar diantara mereka berdua. Kris melepaskan bibir Ahrin, membiarkan wanita itu mengerang di telinganya sementara bibirnya kembali menelusuri leher Ahrin dan memberikan tanda kemerahan di sana. Menambah tanda kepemilikannya atas Ahrin, dan ia memastikan kalau tanda itu tak akan pergi sampai seminggu lamanya.

“Jangan pergi, Ahrin-ah. Aku mencintaimu,” bisik Kris lembut sambil menciumi telinga Ahrin, yang langsung berefek dahsyat. Mata Ahrin yang semula terpejam menikmati sentuhan Kris tiba-tiba melotot. Tangannya menghentikan kerakan tangan Kris yang menari-nari di tubuh polosnya.

“Kris, jangan bercanda. Kau kerasukan apa?” tatapan penuh selidik yang ditudingkan Ahrin ternyata tak digubris sama sekali oleh Kris. Pria itu membiarkan kedua tangannya dicengkeram Ahrin sementara bibirnya sibuk mencumbui Ahrin lagi. “Kris!” pekik Ahrin dengan erangan yang tertahan. Pernyataan cinta Kris tentu saja membuat pikiran dan perasaannya jungkir-balik. Bagaimana mungkin? Sejak awal pria itu sudah mewanti-wanti kalau tidak akan ada cinta yang tumbuh di antara mereka berdua. Sejak awal pria itu juga sudah memaksa Ahrin menguburkan perasaan cinta dan harapannya pada Kris dalam-dalam.

“Kalau aku tidak cinta padamu, kenapa aku seakan ingin menonjok si Lee Hoya itu tiap aku melihatnya mendekatimu?” balas Kris akhirnya, melepas cumbuannya dan menarik Ahrin ke dekapannya sambil memainkan rambut hitam kecoklatan Ahrin yang sedikit bergelombang. Tawa sumbang lepas dari mulur Kris, membuat Ahrin terkesima dan bingung harus merespon apa. “Aku baru menyadari sesuatu belakangan ini,”

“Apa?” tanya Ahrin asal kena.

“Aku mencintaimu,”

Ahrin mengggigit bibirnya. Dia senang. Tentu saja dia senang, setelah sekian lama baru kali ini ia mendengar Kris berkata kalau dia mencintainya. Tapi dia juga tidak bisa lari dari kenyataan. “Lalu Seohyun? Kau tidak memikirkannya?” tanya Ahrin dengan perasaan aneh. Ia hampir melonjak ketika menyadari kalau Kris menatapnya dalam-dalam.

“Kami sudah berakhir lumayan lama,”

Ahrin tidak merespon. Pikirannya terlalu kacau saat ini. “Selama apa?”

“Mungkin hampir setahun,” balas Kris rendah. “Ahrin-ah, aku memang tak berhak mendapatkan maafmu. Kau juga berhak benci padaku. Tapi kumohon, tetaplah di sini,” pinta Kris lirih, membuat pipi Ahrin memanas dan jantungnya kembali berdegup lebih cepat dari biasanya. Ahrin masih menatap Kris dengan pandangan kosong ketika Kris kembali mengeratkan pelukannya pada Ahrin seakan tak ingin melepasnya pergi. “Aku ingin mencoba menjadi suamimu yang sesungguhnya, bolehkah?” tanya Kris lirih, sarat akan harapan da penuh ketulusan. Air mata Ahrin mulai menggenang lagi, dan payahnya Kris pasti bisa merasakannya menangis karena wajahnya menyentuh dada telanjang pria itu.

“Seohyun berkata ia mencintaimu,” gumam Ahrin lirih, masih bingung antara kenyataan atau ilusi semata. Kris menggeram sambil menatap Ahrin tajam. “Kris, kau tak harus membohongi hatimu sendiri karena mengasihaniku. Bukankah aku sudah bilang kalau aku bisa berjuang sendi—aakh!” kata-kata Ahrin terputus dan matanya melebar ketika tangan Kris kembali meremas bokongnya dan bibirnya menciumi leher Ahrin dengan agresif. Kedua tangan Ahrin bersiap mendorong dada Kris menjauh namun kekuatannya seakan hilang ketika sebuah lenguhan keluar dari bibirnya saat jemari Kris turun dan menggoda bagian intimnya. Nafasnya mulai berat dan ia kembali meracau ketika Kris kembali bermain dengan jarinya sementara bibirnya sudah sampai di kedua puncak payudara Ahrin.

“K-Kris…” Ahrin mencengkeram rambut di tengkuk kris keras dan mengerang ketika puncaknya datang.

“I won’t do this if I don’t love you, baby,” bisik Kris mesra di telinga Ahrin sebelum menanam tubuhnya ke tubuh Ahrin dalam sekali hentakan, membuat istrinya mendesah keras.

*

“Iya sayang, sabar ya,” ujar Ahrin sambil mengusap kepala Jason dan melangkah ke dapur. Sial, gara-gara Kris mereka hampir melewatkan makan malam. Untung saja Jason berteriak kelaparan, kalau tidak ia yang akan jadi santapan malam Kris di ranjangnya.

Kris menatap punggung Ahrin yang sibuk di dapur sambil tersenyum. Tangannya bergerak memeluk Jason dan emndudukkannya di pangkuannya yang sedang duduk di meja makan. Putra satu-satunya itu masih nampak mengantuk, tapi tak bisa tidur karena keroncongan. Sepanjang makan malam, Ahrin berusaha menyibukkan diri dengan Jason dan mencoba mengacuhkan tatapan lembut Kris padanya. Dan pada akhirnya ketika mereka sudah selesai makan dan Ahrin mencuci piring-piringnya, ia merasakan sepasang lengan melingkari pinggangnya. Jantungnya berdegup tak karuan ketika menghirup aroma khas Kris dan mendapati bahunya yang terasa berat karena Kris meletakkan dagunya disana.

“Kris, aku sedang cuci piring,”

“Hm,”

“Kenapa kau jadi manja begini, sih?”

“Aku serius dengan apa yang kukatakan, sayang,”

Tangan Ahrin berhenti membilas piring ketika hidung Kris bergerak menelusuri jenjang lehernya, dan kalau saja pria itu tidak menahannya ia bisa saja ambruk sekarang. Sentuhan Kris benar-benar membuatnya gila, seperti disengat listrik namun anehnya terasa nyaman. “Kris… nanti kau kulempar piring,”

Kris terkekeh lalu mencium puncak kepala Ahrin sayang, membuat suhu wajah wanita itu meningkat drastis. Dapat dilihat seluruh wajahnya yang semerah tomat sekarang. Kris tak pernah memperlakukannya seperti ini, jadi jelas sekali dia kaget sekaligus nyaman. “Kau seksi kalau sedang marah,”

Ahrin menggigit bibirnya, menahan senyumnya yang perlahan mengembang. Ia membiarkan Kris memeluknya seperti itu sampai dia mengambil lap dan mulai mengeringkan piring yang baru dicuci. “Tapi Kris, aku tetap pergi ke Jepang, mungkin selama tiga hari,”

Pelukan Kris di pinggangnya menegang. “Kau tetap ingin pergi?” tanyanya dingin. Ahrin sudah selesai mengeringkan piring dan sudah selesai mengembalikannya ke rak, dan kembali diam karena Kris masih memeluknya, bahkan lebih erat. Akhirnya ia membalikkan tubuh dan langsung tersentak ketika Kris menatapnya dengan tatapan tidak rela. “Aku termakan omonganku sendiri. Awalnya aku tak berniat mencintaimu sama sekali, tapi kau… hh. Kau begitu memikat. Aku tak bisa menahannya lagi. Sebenarnya Seohyun hanya gadis yang kugunakan agar kau cemburu. Aku minta maaf telah bersikap seperti pria brengsek selama itu,”

Kini Ahrin tersenyum kecil. Meski hatinya maish tak percaya, tapi ia berusaha untuk percaya karena melihat ketulusan dan kejujuran di mata Kris. “Itu urusan pekerjaan, Kris. Perusahaan majalah memintaku untuk mencari inspirasi disana. Tidak lama kok, hanya tiga hari—Jason juga kutinggal,” Ahrin menggigit bibirnya gugup. “Dan… kau bisa menyobek surat perceraian itu kalau kau mau,”

“Bukan disobek sayangku,” senyum Kris merekah dan menarik Ahrin semakin mendekat padanya, “Tapi akan kubakar, oke?”

Ahrin terkikik ketika Kris kembali menciumi ceruk lehernya. “Oke,”

*

4 days later…

Senyum Ahrin mengembang ketika ia baru saja melangkah keluar dari Arrival di bandara. Dua laki-laki terpenting dihidupnya tengah melambai dan tersenyum padanya. Menghiraukan rasa lelah sehabis penerbangan, ia menghambur untuk memeluk suaminya lalu menggendong anaknya.

Welcome home dear,” bisik pria itu mesra di telinganya, membuat rindu yang membuncah sedari tiga hari lalu itu tak dapat ditahan lagi.

Ahrin menatap Kris dengan senyum, lalu berjinjit dan menggapai bibir suaminya itu, menautnya dalam dan langsung melepasnya. “I love you, Kris,”

Kris menyeringai dan menarik pinggang istrinya mendekat, balas berbisik dengan suara rendah yang menggoda. “I love you more,

Ahrin terus memeluk Jason, pehlawan kecilnya yang sedang bergelung tenang dalam gendongannya, menunggu saat yang tepat berceloteh karena kecapekan dalam perjalanan menuju bandara.

Welcoming gift-nya malam ini ya,” mata Kris berkedip nakal sebelum merangkul bahu istrinya dan membimbingnya menuju parkiran, dan Ahrin hanya mengangguk sambil menyeringai. “Sampai pagi?”

Kali ini Ahrin melotot. “Aku baru pulang for God’s sake, Kris!”

Namun suaminya yang sudah berani jahil hanya mengangkat kedua bahunya. “I’ll keep on trying untill we get a girl. Lagipula, aku tak akan menyia-nyiakan waktu seharian cuti besok,”

“KRIS!!”

END

A/N : Maafkan ratingnya. Maafkan karena saya sudah legal jadi berani-berani aja post beginian NYEHEHEHEHEHEHE. Maafkan kalau ini bobrok. Maafkan kalau ini plotnya ngaco. Maafkan kalau ini gajelas juga alurnya. Maafkan kalau Inggrisnya kacau. Maafkan sudah menistakan Kris HAHAHAHAHAHA

Ini harusnya di-post awal tahun tapi karena banyak ‘kendala’, baru sempet dipost sekarang. Hehehe. Ceritanya dibuat sebelum Kris jadi ex-EXO dan sayang banget kalo dibuang._. Thank you for reading!

[FF] Between Love and Pain [2/2]

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.