[FICTION] Senior High – The Junior III

thejuniora fiction by reenepott

PG WARNING ALERT! Explicit and harsh words : Disarankan hanya untuk pembaca diatas 16 tahun dan dimohon kebijaksanaannya dalam memahami kata-kata tersebut.

A/N : Aku lagi-lagi nggak pakai sensor. Jadi harus dikasih warning. Mohon pengertiannya ya.

__

Cewek berambut brunette yang sedang duduk tenang di kelas dan meminum susu cokelat itu terkesiap dan mematung. Wajahnya terangkat dan membeku dalam tatapan gadis berambut ikal nan legam di hadapannya, yang sedang berdiri dengan tatapan ingin bunuh diri. Ia baru selesai mendengar cerita horor gadis itu dan dia sendiri juga ikutan merasa horor.

OH MY GOSH I’M SORRY ADRIANNA! I FORGOT THATS BEN’S!” cewek itu memekik kaku. “Holly fuck how could I—

“Sudahlah, semuanya sudah terlanjur Nat. Cowok bernama Ben itu sudah dua minggu ini mendapat semua benda-benda yang harusnya kuberikan untuk Sebastian,” desah Adrianna dan ikut duduk di samping Natalie. “Yang pasti, aku harus berhenti dulu. Nanti cowok itu kegeeran aku suka beneran sama dia.”

Natalie hanya menggembungkan pipinya sambil berpikir. “Tapi, Dri, untung kamu nyasarnya ke Ben loh. Daripada ke cowok culun berkacamata pantat botol yang jerawatan parah? Well, Ben also is a nice catch!

“Nat…”

Plus, he is available. Kamu nggak berdosa juga kok!” sambung Natalie menggebu-gebu, yang hanya ditanggapi seperti angin lalu oleh lawan bicaranya.

Look, Nat, masalahnya aku kan—”

Konsentrasi keduanya buyar ketika seorang cowok dan seorang cewek tiba-tiba nongol di ambang pintu kelas dan langsung menatap keduanya. Mata Adrianna membulat horor menyadari siapa yang menemukannya, sementara Natalie menggigit bibirnya gelisah.

“Kau yang bernama Adrianna?” si cowok—Ben—bertanya dengan dingin sambil menatap Adrianna tanpa ekspresi. Dan gadis itu hanya bisa mengangguk kaku. “Boleh bicara sebentar?”

Holly fucking shit!

__

“Jadi tidak ada angkatanmu yang lagi naksir Ben ya…” Keiko menggumam lamat-lamat sambil bertopang dagu di atas buku jurnal kimia.

“Lagipula, Kei, kalau ada angkatanku yang naksir berondong di angkatanmu, pastilah sasarannya kalau bukan Sebastian, ya Adam. Mereka kan badannya jadi semua tuh, mana anak olahraga semua,” timpal si jenius kimia, Alexander Maxfield. Mereka berdua masih dalam proses mengerjakan proyek fisika-kimia mereka bersama July. Tapi khusus hari ini, mereka berdua melakukan pencatatan sementara July sakit sehingga ia pulang duluan tadi.

Keiko menunduk menatap jurnal di tangannya lalu menganggukkan kepala. “Soalnya sudah dua minggu ini Ben dapat barang-barang dari secret admirer-nya, aku dan Cindy sedang menginvestigasi mencari siapa gadis itu.”

Kedua mata Alex berkedip mendengar nama Cindy yang terselip dari bibir Keiko. “Cindy…”

“Oh ya, bagaimana dengan kau dan Cindy? Kudengar kalian..”

“Dia sedang menghindariku, kau tahu? Aku tidak mengerti mau gadis itu apa.” Jawab Alex secepat kilat. Ia membuang muka, mata abu-abu keperakannya menelusuri jemari tengannya yang saling terpaut.

There she is! God, Keiko, aku mencarimu ke seluruh ujung dunia! Ternyata kau disi—” pintu laboratorium terjebak membuka dan munculah Cindy yang langsung membeku mengetahui kalau Keiko tidak sendirian.

“Nah! Aku ke toilet dulu, oke? Cindy, kau jaga tasku di sini, nanti kita pulang bersama,” Keiko buru-buru menyambar ucapan Cindy dan melempar senyum polos sebelum melesat keluar.

And here they are.

“Jadi kamu mau di situ saja dan tidak menyapaku, Cindy? How polite,” ujar Alexander dengan suara rendah, menatap Cindy lurus-lurus. Sementara yang ditatap hanya bisa terdiam dan bergerak mendekat, mengambil tas Keiko dan duduk di kursi bekas temannya tadi.

Hi, then.” Tubuhnya agak kikuk dan benar-benar mematung di tempat duduknya.

Alexander menghembuskan napas keras. “Look, Cindy, aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman seperti itu,”

“Tapi kau memicunya, kan? Kau memicunya dan aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap pernyataanmu waktu itu!”

I like you, Cindy,” cetus Alexander tanpa ragu-ragu. “I like you, a lot. Like, really really like you. And I can’t stand it if you’re just my friend.

Cindy hanya bisa memasang wajah cengo.

You don’t have to give your answer now. I’ll wait.

Alex kemudian menatap Cindy dengan pandangan sendu. “At least, don’t push me away.

Cindy memejamkan matanya lalu menarik napas keras, menghembuskannya sebelum berkata, “Alex, beri aku waktu sendiri, oke?” dan dengan permintaan itu, Cindy langsung menyambar tas Keiko dan bergegas keluar, meninggalkan Alexander yang menatap punggungnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

FIN

[FICTION] Senior High – The Junior III

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.