[FICTION] Senior High – The Junior IV (END)

thejuniora fiction by reenepott

PG WARNING ALERT! Explicit and harsh words : Disarankan hanya untuk pembaca diatas 16 tahun dan dimohon kebijaksanaannya dalam memahami kata-kata tersebut.

A/N : Aku lagi-lagi nggak pakai sensor. Jadi harus dikasih warning. Mohon pengertiannya ya.

__

“Yang seharusnya malu setengah mati sampai mau tenggelam di Tartarus itu seharusnya dia, Ben. Bukan kamu.”

Ben, cowok yang sedang diberi petuah itu, hanya bisa menghembuskan napas berat dan melempar pandangannya ke lantai. Sudah dua hari terakhir ini Ben tidak mau ke kantin, jadi antara Keiko dan Cindy yang bergantian membelikannya makanan atau Ben yang nyerobot bekal Keiko. Meskipun yang bersangkutan tidak merasa keberatan, tapi tetap saja. Cindy sudah berkoar-koar betapa cupunya dia karena merasa malu setelah konfrontasi waktu itu.

“Aku juga akan seperti Ben kalau mengalami kejadian seperti itu, kau tahu,” timpal Keiko dengan suara pelan, ingin membela Ben yang akhir-akhir ini seperti banyak pikiran. Cindy mengerutkan keningnya, jelas-jelas tidak setuju dengan sohibnya.

“Tapi, ini bukan hal yang sama sekali bisa dikategorikan dengan rasa malu, oke? Ben, you barely know her. Maybe she had forgotten your face already. She desperates for Sebastian, remember? Otherwise...”

Does Adrianna Joaquinn ring a bell?

Oh! Joaquinn, your past-long-term-crush that—” Cindy menghentikan ucapannya ketika ia menyadari sesuatu. “—holly fuck! This c-can’t be...”

Oh, this is happening, sweet Spencer,” balas Ben dengan senyum sarkatis.

So, first love that never dies, Darvis?”

Just cut it, Spencer.”

__

Look, Natalie, aku nggak mungkin mengirimi Sebastian macam-macam lagi. Dua minggu dan aku memberikan semua itu pada orang yang salah, aku harus nenangin diri dari syok dulu, oke?” cetus Adrianna tanpa tedeng aling-aling, mulai kesal karena Natalie seperti merasa bersalah dan mulai menawarkan bantuan untuk membantu Adrianna.

Natalie hanya bisa mendesah pasrah, namun tetap mengimbangi temannya berjalan berdua menuju kantin. “Okay, tapi kalau kau butuh bantuan kau bisa menghubungiku, oke? Sekarang, aku sudah lapar dan—OH MY GOD!” langkah Natalie tiba-tibe terhenti ketika mereka berdua mulai memasuki kantin. Adrianna hanya mengangkat alisnya bingung, lalu mengikuti arah pandangan Natalie.

Dan darahnya seketika membeku. Kedua kakinya tak mampu bergerak.

Karena tepat ditengah ruang kantin, postur tinggi dan tegap Sebastian menjulang tengah merengkuh dan mencium seorang gadis berambut pirang disertai dengan tepuk tangan teman-teman di sekeliling mereka. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berteriak mengucapkan selamat.

“Uh, Adri…” suara pelan Natalie entah kenapa membuat Adrianna langsung membalikkan tubuh, dan bejalan cepat keluar ruangan. “Oh, shit, Adrianna!”

Adrianna terus berjalan, menghiraukan temannya yang terus menerikakkan namanya dari belakang. Kakinya terus melangkah sampai ia tak mendengar suara Natalie lagi, dan begitu ia mengedipkan matanya, ia tersadar ia sudah berada di kebun belakang gedung yang biasa digunakan untuk PA.

Ia mendesah keras, lalu menghentakkan kaki disetiap langkahnya menuju ke bangku panjang. Setelah tepat berada di depan bangku Adrianna menatap ke sebuah kaleng penyok, dan dengan segenap perasaan ia menendang kaleng itu sampai melayang ke atas pohon dan membentur sesuatu dengan keras.

Aw!

Oops. Adrianna menegakkan punggungnya karena merasakan kalau kaleng itu mengenai seseorang. Pandangannya mengedar dan ia menerjap terkejut ketika kaki seseorang tiba-tiba tergantung dari atas pohon.

“Siapa yang tendang kalengnya?!”

Kali ini seluruh tubuh Adrianna membeku. Oh crap. Dia mengenali suara berat siapa itu. Jelas seorang laki-laki, dan jelas kakak kelasnya. “Sorry!

Suara dentuman keras membuat Adrianna melompat ke belakang dan menatap laki-laki yang baru saja lompat turun dari atas pohon. Jadi sekarang kita semua tahu siapa laki-laki yang sering absen makan siang bareng Keiko dan Cindy. Selama ini Ben selalu ada di taman belakang sambil makan.

Oh, you.

Adrianna mengkeret. Ben menggenggam sebuah sandwich yang tinggal setengah di tangan kanannya dan satu lagi yang masih dibungkus plastik di tangan yang lain. “Hai.”

“Hei. Kenapa kau ada di sini?” tanya Ben datar. Adrianna merasakan lidahnya kelu.

“Memangnya aku tidak boleh ada di sini?”

“Ini kan jam makan siang. Biasanya anak-anak semua ke kantin. Mana kau tidak bawa makanan apa-apa,” sergah Ben sambil menunjuk kedua tangan Adrianna yang kosong.

“O-oh, aku lupa.”

Ben menatapnya sebentar, lalu mengajaknya duduk di bangku panjang itu. Adrianna menurut, namun ia mengambil jarak sejauh mungkin dengan Ben. “Kau lapar? Mau ini?”

Bohong besar kalau Adrianna tidak lapar. Ia baru menyadari perutnya berbunyi sedari tadi. Dengan senyum malu, ia menerima uluran sandwich itu. “Thank you.

Mereka berdua makan dengan diam. Ben menatap lurus ke depan, membut Adrianna agak kikuk. “Well, apa kau selalu ada di sini?”

Ben menoleh, agak terkejut dengan pertanyaan gadis di sampingnya ini. “Hm, tidak selalu sih. Akhir-akhir ini saja aku sedang ini mencari ketenangan di sini.” Dan mereka kembali terdiam “Lalu, kenapa kau juga ke sini? Tidak bersama dengan temanmu, si Natalia?”

“Natalie, dia mengatakan kau sering salah menyebutkan namanya,” cetus Adrianna polos, sementara Ben hanya nyengir. “Ada kejadian tidak mengenakkan di kantin.”

Kening Ben berkerut seakan berpikir keras. “Jangan bilang Sebastian nembak Kylie di kantin?” Ben melotot, namun sedetik kemudian ia menyadari tatapan sendu Adrianna. “I’m sorry. I shouldn’t talk about it.”

It’s okay,” balas Adrianna cepat. “It’s not like he knows me.

Ben terdiam, begitupula Adrianna. “Hey, Adri, do you like ice cream?

Adrianna mengerutkan keningnya, entah kenapa ia menyukai panggilan Ben padanya.

Why?

“Aku tahu ada tempat es krim enak di sekitar sekolah. Pulang nanti kau mau ke sana?”

Adrianna menaikkan sebelah alisnya menanggapi itu.

“Anggap saja ucapan terimakasih karena kau sudah mau repot-repot memberiku macam-macam selama dua minggu?”

Tanpa disadarinya, kedua sudut bibir Adrianna melengkung membentuk senyuman. Ia tidak tahu mengapa tapi itu terdengar menarik. “Sure.”

FIN

A/N : aku bingung ngelanjutnya gimana karena pasti jadi menye-menye gitu. Kalao bisa imajinasiin aja sendiri ya. Kk~

[FICTION] Senior High – The Junior IV (END)

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.