[FF] Save the Last Dance for Me [2/2]

savethelastdanceformeSave the Last Dance for Me

a twoshots by reenepott

Kim Myungsoo, OC | Romance, School life, Fluff

with “Michael Buble – Save the Last Dance for Me”

___

HAPPY BIRTHDAY URI KIM MYUNGSOO (L)!!!!

Ciye sekarang udah 26 lohh!!!! (internasional masih 25 sih) Semoga nggak menjomblo terus ya! Jangan korbankan perasaan dan masa depan keluargamu hanya demi kami fans-mu. Kami pasti ngerti kalau kamu harus berkeluarga, karena bagaimanapun kami juga akan begitu. Jangan memforsir diri terlalu jauh, kami nggak mau kamu sakit. Jangan main diet-diet, kamu lebih bagus chubby-chubby montog gitu 😛 Lebih menggugah selera :3 . Semoga kau sehat selalu, diberi umur panjang dan selalu diberkati Tuhan. KAMI CINTA PADAMU~!

Dan mulai dari hari itu hidup Jaeun tidak pernah tenang lagi. Persis seperti kata Myungsoo sebelum ia turun dari mobil cowok itu, di malam prom dua minggu yang lalu.

“Kau bilang kita tidak kenal satu sama lain? Baiklah. Aku akan mengenalmu dan kau akan mengenalku, Kwon Jaeun.”

Ya, ternyata meskipun mereka sekarang sedang liburan, tetap tidak mengurangi intensitas pertemuan mereka. Ditambah, angkatan Jaeun sekarang belum merasa puas dengan prom night resmi di sekolah, mereka tengah merencanakan barbecue party di pantai selama seharian full.

Jadi bagaimana Jaeun sekarang hampir setiap hari bertemu dengan Myungsoo, bahkan setelah hari sekolah berakhir dan liburan panjang di depan mata?

Simple. Untuk masalah barbecue party di pantai itu, Jaeun sedang mengurus masalah tempat, Myungsoo mengurus masalah properti, dan beberapa teman yang lain tengah mengatur iuran, transport, konsumsi, dan beberapa detil yang lain. Jadi, pasti mereka akan sering bertemu, ‘rapat dadakan’, membahas ini dan itu, mengurus anak yang belum tentu bisa ikut, mengatur hari, dan segala tetek bengek lainnya.

Jaeun tidak mengerti mengapa teman-temannya menunjuknya untuk mengurus masalah tempat, well, Jaeun tidak keberatan, tapi tetap saja. Bahkan Jiyeon, yang biasanya lebih suka berperan dalam acara angkatan seperti ini, tidak nampak batang hidungnya dalam kepanitiaan.

Dan ia bahkan berangkat bersama dengan Myungsoo setiap ada pertemuan macam itu. Memang tidak setiap hari, tapi akan sama dengan setiap hari bila ditambah saat mereka hangout selepas pertemuan masalah acara itu.

“Oh, jadi sekarang Jaeun sama Myungsoo, ya?!”

Kepala Jaeun langsung mendongak secepat kilat mendengar celetuk salah satu temannya itu. Ia yang tadinya sedang menimbang memilih antara jajjangmyun dan bibimbap langsung buyar dan bengong menatap Hyuna, temannya yang menjabat sebagai bendahara. Mereka baru selesai menentukan tanggal dan menetapkan pengeluaran dan langsung memesan makan siang karena kelaparan.

“Apaan?! Enggak, kok!” balas Jaeun spontan sambil menggeleng kuat-kuat. “Kami berangkat bareng karena tetanggan,” dan Jaeun langsung menyesali kata-katanya saat itu juga. Kenapa bilang dia tetangganya Myungsoo, coba?

Namun Hyuna hanya mengendikkan bahunya dan memasang senyum jahil. “Masa?”

“Yah, Hyuna, jangan bilang-bilang dong. Nanti pedekate-nya Myungsoo ketahuan!” sahut Sungyeol, yang notabene salah satu sahabat terdekat Myungsoo. Jaeun mengerutkan keningnya bingung, merasa agak risih karena ia belum pernah digoda seperti ini. Ditambah dengan ekspresi wajah Myungsoo yang nampaknya tak peduli, Jaeun menjadi makin curiga.

“Sudahlah, Jaeun-ssi, Myungsoo nya juga tidak membantah, kok,” cengir Sungyeol lagi, yang kini berefek pada kedua pipi Jaeun yang mulai memanas. Tawa Sungyeol pecah, dan akhirnya Myungsoo mengambil tindakan.

“Sudahlah, Yeol, jangan gossip saja.” Ujarnya dengan suara rendah seraya menyenggol lengaan Sungyeol agar lelaki itu berhenti tertawa. “Ayo dong, kasian dari tadi pelayannya sudah nungguin kita mau pesan apa,”

Setelah teman yang lain selesai menyerukan makanan yang mereka pesan, Jaeun yang berpikir dari awal lagi makanan apa yang ingin ia makan, akhirnya berujar pelan, “Jajjangmyeon dan dak-galbi, minumnya teh hangat saja.”

Ia mendongak untuk mengulangi pesanannya, namun ternyata Myungsoo sudah mendengarnya dengan jelas dan tengah menyampaikannya dengan waiter yang melayani mereka. Setelah Myungsoo selesai, Jaeun masih menatap lelaki itu dengan berbagai pikiran berkecamuk di otaknya. Antara bingung, canggung, takut, sekaligus berdebar. Ia merasakan perutnya terasa agak geli dan melilit tiap Myungsoo menyebut namanya, mengajaknya bicara ataupun saat menatapnya tanpa suara.

Seperti sekarang ini. Jaeun melebarkan matanya ketika matanya bertemu pandang dengan mata Myungsoo, tangannya langsung bergetar dan merasakan jantungnya hampir copot ke bawah. Ditambah lagi Myungsoo tiba-tiba tersenyum, Jaeun tetap hanya bisa memasang wajah tanpa ekspresi sebelum mengalihkan matanya.

Drrrrrt!

From: Myungsoo

Ada apa menatapku seperti itu? Kau marah dengan godaan Hyuna dan Sungyeol ya?

Jaeun hampir ingin membalas SMS Myungsoo dengan berapi-api namun mengingat ia sedang dalam tahap mengobservasi tingkah Myungsoo padanya, Jaeun memutuskan untuk mengontrol emosinya.

Like, marah dengan godaan dan candaan iseng begitu? Hello, kalau mereka tahu apa yang pernah Myungsoo lakukan padanya, candaan mereka tak akan seringan ini.

To: Myungsoo

Bukan. Habis ini kau mau nonton dan karokean sama yang lain, kan? Aku tidak ikut ya, jadi habis ini aku akan pulang. Kau tak perlu mengantarku, aku bisa pulang sendiri.
Tak sampai semenit Myungsoo langsung membalas.

From: Myungsoo

Ada acara lain ya?

To: Myungsoo

Bukan. Aku ingin pulang saja. Sedang tidak ingin hangout, pengeluaranku minggu ini sudah sangat besar berkat kepanitiaan ini.

From: Myungsoo

Kalau begitu, aku juga tidak ikut hangout. Kita nge-date berdua saja, nanti aku yang traktir.

Kedua mata Jaeun melotot membaca pesan Myungsoo itu. Kepalanya otomatis mendongak dan langsung bertemu dengan pandangan Myungsoo yang sedang duduk di seberangnya.

Nge-date?! Berdua?!

Dan bagaimana Jaeun bisa menolak saat Myungsoo melayangkan senyumnya yang berlesung pipit itu padanya.

__

Kencan di hari itu, juga berakhir dengan manis. Jaeun benar-benar merasa senang hari itu, dimana mereka berdua pergi nonton, lalu berjalan-jalan sebentar di taman dan makan malam sebelum pulang. Tidak ada yang mengganggu, Myungsoo tidak menyebut-nyebut soal kejadian saat mereka pulang prom waktu itu, dan Jaeun juga tidak menyinggung-nyinggung soal Jiyeon yang nampaknya ingin membunuhnya dilihat dari tatapannya terakhir kali mereka melihat satu sama lain.

Intinya, siapa yang tidak senang jalan berdua dengan orang yang kau suka? Oh well, Jaeun masih menyukai Myungsoo, oke? Masih sangat menyukai Myungsoo.

Dan jangan ingatkan betapa merah muka Jaeun saat ibunya bertanya kemana saja ia dengan Myungsoo karena baru pulang menjelang malam. Ayahnya bahkan menggodanya tak henti begitu Jaeun menjawab hanya jalan-jalan berdua saja.

Jadi di sinilah ia sekarang. Duduk di salah satu kursi penumpang bus yang akan membawa mereka seangkatan ke pantai tempat mereka mengadakan pesta barbekyu. Agak berubah dari rencana awal, karena sebagian besar dari mereka menginginkan posisi di pantai, tepatnya di daerah Busan, acaranya berubah menjadi sehari semalam, karena akan terlalu lelah bolak-balik Seoul-Busan dalam waktu satu hari, mereka bisa sampai di rumah masing-masing subuh nanti.

Dan yang membuat Jaeun membungkam mulutnya sepanjang perjalanan adalah Myungsoo yang duduk di sampingnya. Dia tidak menyadari kalau sedari mereka jalan sampai memasuki bus, Myungsoo selalu berada di belakangnya. Bahkan Minhyuk sampai melotot menyadari siapa yang duduk bersama dengan Jaeun, karena dia, tentu saja, akan duduk dengan Soojung. Jaeun menahan napasnya ketika tahu bahwa Jiyeon sedang berjalan melewati baris bangkunya, sambil menekan dirinya sedekat mungkin ke bagian jendela.

Maksudnya, Jaeun pikir, waktu itu karena tidak ada Jiyeon jadi Myungsoo mengajaknya pergi, atau apalah. Tapi sekarang situasinya kan berbeda.

“Myung, kamu nggak duduk sama Jiyeon saja?” panggil Jaeun takut-takut. Myungsoo hanya menoleh lalu mengerutkan keningnya.

“Kenapa aku harus duduk sama dia? Aku maunya disini kok,” jawab Myungsoo dengan nada polos. “Kenapa? Kamu nggak mau aku di sini? Kamu maunya sama Sungjae, atau sama Jongin?”

“Astaga, bukan gitu!” sela Jaeun cepat-cepat. Ia menggembungkan pipinya lalu menunduk memerhatikan sepatunya. “Bukannya kamu pacarnya? Dari waktu prom aku lihat dia nggak suka waktu kamu nganter aku pulang, kan,” lanjutnya dengan suara pelan. Entah kenapa, dada Jaeun merasa sesak setiap kali ia berpikir kalau Myungsoo sudah bersama Jiyeon sekarang.

Jaeun mengangkat wajahnya ketika Myungsoo tak kunjung menjawab, namun jantungnya serasa copot seketika ketika menyadari kalau Myungsoo sudah mendekatkan wajahnya pada wajah Jaeun, sambil menatapnya dengan tatapan yang… Jaeun tidak tahu itu tatapan seperti apa.

“Intinya, Kwon Jaeun, Jiyeon itu bukan pacarku.” Myungsoo melayangkan senyum miringnya, mengecup bibirnya lalu keningnya, sebelum membawa kepala Jaeun bersandar pada dadanya. “Nah, busnya sudah jalan. Kau tidur saja, nanti malah mabok kendaraan.”

Dan Jaeun masih kaku, matanya hanya berkedip-kedip syok. Astaga Tuhan. Myungsoo menciumnya lagi?!

Jaeun merasakan darah mengalir dengan cepat ke seluruh permukaan wajahnya, jantungnya berdegup makin keras, dan tangannya makin kaku. Tentu saja, terutama saat Myungsoo merengkuhnya dalam dekapan di dada bidangnya, dan tangannya yang memeluk tubuh Jaeun mulai mengusap-usap rambutnya sayang.

__

Jaeun menggeliat, lalu mendesah dengan nyaman sambil membalik tubuhnya. Ia tidak ingin bangun, tapi matanya sudah membuka jadi akhirnya ia menyerah dan mendudukkan diri di atas ranjang.

Tunggu, ranjangnya tidak putih semua seperti ini. Jaeun mengedip-ngedipkan matanya lalu melihat ke sekeliling, jelas-jelas ini bukan kamarnya. Dimana dia?

Astaga. Jaeun tersentak dan langsung bangkit dari ranjang. Ia melihat kopernya berada di samping night stand bersama satu koper lain, lalu segera berkeliling dan menemukan sebuah kunci kamar tergeletak di atas meja rias. Tentu saja, ini adalah kamar motel yang beberapa waktu lalu sudah ia booking untuk seangkatan, dan setahunya ia akan satu kamar dengan Soojung.

Tapi siapa yang membawanya ke sini?

Sambil berpikir, Jaeun mengganti bajunya dengan kaus oblong dan kolor kebesaran, mengambil kunci lalu segera keluar motel. Beberapa alasan yang sudah disepakati bersama teman-temannya, mereka semua memilih motel ini karena letaknya persis di pinggir pantai, dan pihak dari motel itu sendiri juga membenarkan kalau bagian belakang motel yang langsung pantai itu dapat digunakan untuk berbagai acara. Langsung menuju ke pantai belakang itu, Jaeun menghembuskan napas lega begitu melihat teman-temannya sudah bermain dan berenang di pantai.

“Jadi Sleeping Beauty-nya bangun juga,” Jaeun menoleh ketika ada suara di sampingnya. “Gimana, tidurnya enak?”

“Soojung-ah,” Jaeun nyengir menyadari siapa yang berceletuk tepat di sampinya. “Kamu nggak nyebur ke laut?”

“Nggak, ingin nonton mereka saja,” jawab Soojung sekenanya. “Tadinya aku mau nungguin kamu di kamar, tapi Minhyuk butuh ditemani beli snack jadinya…”

“Iya, nggak apa-apa. Ngomong-ngomong, kok aku bisa langsung di kamar, ya?”

Soojung mendengus, membuat Jaeun mengerutkan keningnya. “Well, yang jelas kamu udah bikin cewek-cewek seangkatan iri berat sama kamu. So sweet banget, digendong sampai ke kamar. Myungsoo bener-bener pacar idaman deh. Jiyeon sampe bengong ngelihatin kalian tahu nggak.”

Kedua mata Jaeun berkedip-kedip cepat. Sesaat dia nggak konek dengan omongan Soojung barusan. Myungsoo? Menggendongnya? Sumpah? “Hah-hah, jadi Myungsoo bawa aku sampai ke kamar? Kok bisa? Tangannya nggak patah?”

“Ya iyalah, siapa lagi coba. Orang dia yang ngelarang aku bangunin kamu terus langsung gendong kamu ala pengantin gitu sampai kamar. Cewek-cewek langsung pada mupeng tuh, mana Myungsoo gendong kamu kayak yang penuh sayang gitu,” jawab Soojung lancar lalu menarik Jaeun mendekat. “Sabar ya. Sudah pada ngelihatin kamu tuh. Sabar aja.”

Pipi Jaeun langsung memanas membayangkan Myungsoo yang menggendongnya sampai ke kamar. Ia tak pernah mengira Myungsoo akan sampai sebegitunya, dan kalau begini terus lama-lama Jaeun bisa berpikir kalau Myungsoo suka sama dia!

“Tuh, pacarmu datang. Aku ke Minhyuk dulu, ya?” ujar Soojung tiba-tibaa yang membuat Haeun terkesiap panik.

“Hah? Dia bukan—” kata-kata Jaeun terhenti ketika Soojung sudah menghilang dan Myungsoo yang hanya memakai celana renang dan tubuh basah kuyup berdiri sangat dekat dengannya.

“Yah, aku pikir kau akan pakai bikini.”

CTAKKKKK

“Ngawur! Kamu pikir urat maluku sudah putus?” sembur Jaeun jengkel, menghiraukan rintih kesakitan Myungsoo yang kepalanya barusan ditempeleng. Meskipun begitu, pipi Jaeun memanas. Dia memang membawa bikini, tapi dia tidak akan pernah mau memakainya. Dia membelinya juga atas hasutan Soojung, dan membawaanya atas perintah Soojung. “Mau diambilin handuk?”

“Ngga usah, aku ingin mandi bareng saja,” jawab Myungsoo denga nada polos dan menggoda Jaeun dengan mengedipkan sebelah matanya.

“Mandi bareng—?”

“Kamu lah, siapa lagi?”

CTAKKKK

“Ngaco terus ih. Sudahlah, sana mandi. Aku mau ngurusin barbekyunya,” cetus Jaeun kalem dan hendak membalikkan tubuh, namun Myungsoo menahannya. Kedua mata Jaeun membulat dan ia merasa jantungnya hampir copot seketika saat bibir Myungsoo yang basah dengan air laut menyentuh pipinya.

“Dah, aku mandi dulu ya.”

Tubuh Jaeun mematung seketika. Dia tak pernah mengira kalau Myungsoo akan berbuat sejauh ini. Mencium pipinya di tempat umum! Like, memang sih bukan tempat yang terlalu umum tapi secara kasar bisa dibilang di depan seluruh angkatannya! Demi apapun, Jaeun tidak pernah melihat Myungsoo mencium Jiyeon dibagian manapun, mereka hanya sering nampak ngobrol atau berdiri berdekatan. Pegangan tangan saja Jaeun tidak pernah melihatnya, apalagi main cium.

Entah berapa lama Jaeun berdiri di sana tanpa bisa bergerak, hal yang pertama ia sadari kalau orang lain sudah berdiri juga di sampingnya.

“Kamu beruntung banget, tahu nggak?” jantung Jaeun mencelos ketika menyadari bahwa yang berdiri di sampingnya adalah Jiyeon! “Myungsoo bener-bener suka sama kamu, dia nggak pernah mau ngelirik cewek lain selain kamu. Aku iri tahu ngga?”

“Uh… eh…”

“Iya, kamu bener kalau aku suka sama Myungsoo. Jujur saja ya, aku nggak suka saat Myungsoo menyeret kamu pulang saat prom, padahal jelas-jelas dia lagi ngobrol sama aku dan tiba-tiba langsung terbang entah kemana, ternyata kamu lagi digodain sama Jongin.

Tapi setelah ngelihat dia gendong kamu tadi, aku jadi ngerasa nggak enak udah benci nggak jelas sama kamu. Myungsoo hanya cerita tentang kamu terus, sampai-sampai dia nggak sadar kalau aku suka sama dia. Dan tadi akhirnya aku sadar, kalau dia benar-benar sayang sama kamu, nggak bisa diganggu gugat. Dan kalau aku maksa dia sama aku, percuma, aku nggak akan mendapat tatapan yang dia kasih ke kamu.”

Jaeun menunduk, tidak tahu harus berkata apa.

“Jadi, tolong jaga Myungsoo baik-baik ya, dia sayang banget sama kamu.”

__

Jaeun menyingkirkan dirinya saat barbekyu dimulai ketika langit mulai gelap. Ia sudah mengecek tempat duduk melingkar mengelilingi api unggun, dan ia tidak menolak saat Soojung dan beberapa temannya menawarkan diri untuk memanggang daging dan menyiapkan makanan yang lain. Jadi ia hanya duduk-duduk di bangku melingkar sendirian sambil menatap ke laut dan mengamati langitnya yang hendak berubah dari oranye menjadi kehitaman.

Ia juga tidak berusaha mencari Myungsoo, karena nanti pasti akan ada skandal lagi jika mereka berduaan, dan ia tidak ingin mengganggu Minhyuk yang sedang asik ngobrol dengan teman lelakinya. Ia hanya bisa tersenyum terimakasih ketika Soojung tiba-tiba datang dan membawa sepiring daging panggang bersama dengan sayur tumis.

“Apa kita butuh musik? Sepertinya bisa ada yang menawarkan diri bermain gitar atau apalah,” celetuk Soojung dan mulai memakan daging panggangnya.

“Katanya mereka mau mainnya saat api unggun sudah menyala. Dan yang akan menyalakan itu Sungjae, jadi kita tunggu aba-aba dia saja,” jelas Jaeun kalem. “Minhyuk nggak dikasih?”

“Ah, nanti dia bakal ambil sendiri kok. Lagi ngobrol gitu, nggak enak kan diganggu. Lha, Myungsoo kemana?” Jaeun mengangkat bahunya dengan mukut yang terus mengunyah.

“Tadi kulihat pacarmu lagi—”

“Soojung-ah, dia bukan pacarku.”

Soojung mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Belum jadian juga?!”

Namun Jaeun tetap memasang tampang polos. “Dari awal mula kami hanya tetanggan, dan orangtua kami kenal baik. Nggak ada hubungan apa-apa.”

“Terus, yang tadi kenapa dia gendong kamu?”

“Dia memang nggak bisa ditebak. Sebentar begini, sebentar begitu. Aku nggak pernah ngerti maksud tindakan dia itu apa.”

“Kwon Jaeun, hanya orang buta yang nggak tahu kalau dia jelas-jelas suka sama kamu. Digendong, dicariin terus, dilihatin terus, kurang jelas apa coba?”

“Tapi itu nggak bisa dipastikan, Soojung-ah. Kami dekat waktu SD dan dia menjauh saat SMP. Pas SMA, dia seolah-olah nggak kenal sama aku. Kamu pikir aku bisa percaya dia beneran suka atau hanya perasaan sesaat dan kalau sudah bosan aku tiba-tiba ditinggal?

Dulu dia bilang bestfrend-bestfriend, tapi setelahnya kayak nggak kenal. Kamu bingung nggak? Aku mah takut dimainin lagi,” jelas Jaeun panjang lebar. Ia menarik napas saat menyadari kalau Soojung tengah menatapnya lamat-lamat.

“Jaeun, Jaeun. Kamu beneran suka sama dia ya,” timpal Soojung sambil menyunggingkan senyum penuh perhatian.

Jrengg~

Keduanya menoleh ke balik punggung dan menyadari kalau api unggun sudah dinyalakan dan ada yang mulai memainkan gitarnya. Awalnya Jaeun tidak peduli siapa yang memainkan gitar itu, tapi entah kenapa sosoknya sangat familier dan kedua mata Jaeun membulat menyadari siapa yang mulai bernyanyi di tengah itu.

I love you noreul saranghae

Chama hajimotan mal

Ddeolineun gaseumi nae maeumi

Neul seumgyeowatdeon geureonmal

Achimimyeon nunbushige nareu

Bichwojuneun

Neul haessalgateun neoneun

Naegeneun neoneun

I like you neoreul johahae

Meotjin keun namucheorom

Eonjena pyeonanhi naegyeote

Nal jikyeojuneun geureum neol~

Jaeun tahu lagu itu seharusnya dinyanyikan duet. Ia tidak begitu mendengarkan sisa lagunya karena perhatiannya terfokus pada si penyanyi, Kim Myungsoo. Yah, sepertinya bukan hanya dia yang tersihir dengan permainan gitar dan suara Myungsoo, tapi semua cewek-cewek seangkatan ikutan mupeng mendengarnya. Lagunya romantis nggak ada dua, oke?! Cewek mana yang nggak mupeng dinyanyiin seperti itu, dengan suara yang dalam dan tatapan yang bisa menembus ke jantung.

Setelah lagunya selesai, Jaeun tidak bisa menahan senyumnya. Namun seketika senyumnya berubah menjadi senyum pahit ketika cewek-cewek mulai mengerubungi Myungsoo hingga hilang dari pandangan dan meminta cowok itu untuk menyanyikan lagu lain. Ia akhirnya membalikkan tubuh dan bangkit, berjalan menjauh menuju tepi pantai. Situasi di tempat api unggun panas, ia butuh udara segar.

Jaeun melihat sebuah batang pohon besar dan duduk di sana. Setidaknya ini jauh keramaian. Ia menghela napas panjang lalu memandang jauh ke arah laut.

Sepertinya ia benar-benar mengosongkan pikirannya sampai tiba-tiba ia merasakan ada yang meremas bahunya dan duduk di sampingnya.

“Kau memang suka menghilang, ya.”

Jaeun mendongak tiba-tiba dan napasnya tercekat ketika menyadari Myungsoo duduk sangat dekat dengannya. “Hei. Tadi kamu nyanyinya bagus.”

Myungsoo menyeringai, dan jantung Jaeun serasa berhenti berdegup saat itu juga. Lelaki ini memang tidak mengasihani Jaeun yang sudah berjuang sekuat tenaga untuk tidak memberikan reaksi apapun yang berkaitan dengan perasaannya pada Myungsoo.

“Terimakasih, ternyata kau mendengarnya.”

Kening Jaeun berkerut. Tentu saja dia mendengarnya!

Anyway, mau berdansa denganku?” tanya Myungsoo tanpa basa-basi sambil meminta tangan Jaeun. Tentu saja gadis itu terkejut setengah mati.

Mworagu?! Ngapain berdansa di sini?” pekik Jaeun dengan suara tertahan.

“Kwon Jaeun, kau tidak berdansa denganku saat prom lalu,” balas Myungsoo dengan suara rendah dan ekspresi serius.

“Tapi, Kim Myungsoo, ini di pantai! Kalau teman-teman melihat, mereka pikir kita gila!”

“Siapa peduli?” cetus Myungsoo kalem lalu menarik tangan Jaeun hingga tubuh gadis itu berdiri dan membentur tubuhnya sendiri. Jaeun tak bisa mengalihkan tatapannya dari mata Myungsoo yang balas menatapnya dalam, sementara alunan gitar yang lembut terdengar dari area api unggun. “Musiknya juga sudah ada. Kita tinggal berdansa, Jae.”

Dan Jaeun tidak bisa membantah. Ia mengikuti langkah Myungsoo yang mulai membawanya berayun mengikuti alunan musik. Matanya tak lepas dari mata Myungsoo, dan tanpa sadar ia sudah mengalungkan tangannya di leher Myungsoo. Perlahan, entah karena kedua lengan Myungsoo yang lembut memeluk pinggangnya atau aroma tubuhnya yang menenangkan, Jaeun perlahan meletakkan kepalanya di dada Myungsoo dan memejamkan matanya.

“Kwon Jaeun.”

“Hm?”

“Jadilah pacarku.”

Bagai diterpa hawa dingin, Jaeun mengangkat kepalanya dan menatap Myungsoo bingung. Terkejut, tepatnya. Kedua matanya membulat dan hanya memandang Myungsoo tanpa reaksi. Kedua tangannya sudah jatuh dari leher Myungsoo ke kedua sisi tubuhnya. Mereka sudah berhenti berdansa, namun jarak diantara mereka masih sangat dekat. Jaen tak bisa mengeluarkan suaranya.

Apa?!

Jaeun harap ia salah mendengar. Kim Myungsoo… memintanya untuk menjadi pacarnya?!

“Aku menyukaimu—tidak, aku mencintaimu, Jae. Aku mulai menyukaimu saat kita SMP, karenanya aku menjauh darimu perlahan-lahan. Memang kau akan berpikir ini aneh, tapi saat itu aku takut, Jae. Aku takut kau akan menjauh kalau aku mulai teritorial dan posesif terhadapmu. Aku takut kau akan marah, dan tidak mau bertemu denganku lagi. Apalagi saat SMA, aku berharap kalau perasaan sukaku padamu hanyalah sebuah crush, tapi ternyata bukan.”

“Myung…” Jaeun hanya bisa membisikkan nama Myungsoo, karena selama mendengarkan Myungsoo ia menahan napasnya.

“Kau tak tahu bagaimana perasaanku saat kau mulai didekati Jiyoung. Dan kau tak tahu kalau aku selalu ingin meninju wajah Chunji karena kau selalu tertawa bersamanya. Aku ingin kau tertawa bersamaku, Jae. Dan Kang Minhyuk. Kalau aku tak tahu kalau dia sudah punya pacar, aku sudah mematahkan hidungnya karena kau terlalu sering memanggilnya dan memeluknya. Aku ingin kau meneriakkan namaku untuk mengajakku makan siang. Aku ingin kau memelukku, Jae. Tapi aku takut. Aku takut kau akan terluka. Maafkan aku.”

Mwo? Chunji? Dia…”

“Aku mendengar kalau Yoona sunbae akan melukai siapa saja yang akan menjadi pacarku. Aku tak mau kau terluka, Jae. Aku tidak bisa menahannya untuk menjagamu, dan memilikimu diwaktu yang bersamaan. Karenanya aku meminta bantuan Jiyeon karena Yoona adalah sepupunya. Aku pikir, setelah Yoona sunbae lulus aku bisa segera bergerak untuk mendekatimu. Tapi kau seolah nampak membenciku, dan aku takut untuk mendekatimu…”

Jantung Jaeun mencelos. Yoona sunbae? Oh ya, dia ingat. Yoona sunbae, gadis yang terlalu ambisius, pada pelajaran maupun pada Myungsoo. Jaeun ingat dimana Yoona sunbae itu selalu mengancam semua cewek yang dekat-dekat dengan Myungsoo. Hingga pada akhirnya setelah mencelakakan seorang siswi hanya karena siswi tersebut satu kerja kelompok dengan Myungsoo, ia di periksa dan divonis terkena penyakit psikis dan akhirnya dirawat di rumah sakit jiwa. Gadis cantik dan sempurna itu terkena gangguan mental. Jaeun hampir tak mempercayai telinganya saat mendengar berita yang menggemparkan satu sekolah itu.

“Aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan, Jae, bahkan ditahun terakhir, yang kupikir bahwa aku bisa mendekatimu lagi, aku tetap tidak bisa. Aku takut kau mendorongku menjauh, terlebih karena perlakuanku padamu selama ini. Tapi saat Kang Minhyuk tiba-tiba menonjokku dan bilang kalau aku telah mematahkan hatimu—“

“Tunggu, Kang Minhyuk katamu?!” cetus Jaeun cepat, heran kenapa tiba-tiba ia bisa menemukan suaranya kembali, “Oho, Kang Minhyuk, malam ini kau tidak akan tidur dengan nyenyak,” Jaeun mengumpat dengan suara rendah, makin lama makin menyadari kalau Minhyuk bisa saja selalu melaporkan kondisinya pada Myungsoo sialan ini, dan dengan gamblangnya—

“Kalau dia tak pernah menonjokku, aku tak akan pernah tahu kalau kau ternyata juga menyukaiku, dan aku takkan pernah berani mengambil langkah untuk mendekatimu lagi, Jae, seperti sekarang. Aku tak pernah tahu kalau ternyata pipimu selalu bersemu merah setiap menatapku.”

Kedua tangan Jaeun membeku, ia lalu menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Myungsoo, namun kedua tangan lelaki itu keburu menangkap tubuhnya dan menggenggam kedua tangannya.

“Jangan pergi, please? Aku belum menjelaskan kenapa saat prom aku meninggalkamu sendirian. Aku sudah berjanji pada Jiyeon, kalau aku akan berdansa dengannya, sebagai tanda maaf kalau aku tak bisa menerima perasaannya. Dia telah membantuku melaporkan keadaanmu, dan menginformasikan siapa saja yang mencoba menembakmu, dan aku tak bisa lebih berterimakasih lagi. Dia menyatakan perasaannya padaku, dan dia tahu aku tak bisa menerimanya.”

Perlahan kedua mata Jaeun menatap mata Myungsoo yang sedari tadi menatap wajahnya dengan sayang. Dan ketika pandangan mereka bertemu, entah kenapa kedua mata Jaeun langsung memanas dan berkaca-kaca.

“Oh, dear, jangan menangis, tolong,” Myungsoo nampak panik dan langsung menangkup wajah Jaeun dengan kedua tangannya. Namun air mata Jaeun justru meleleh dan Myungsoo makin kalang-kabut. “Please, please, please, jangan menangis, tolong.”

Jaeun terisak, ia segera menjatuhkan kepalanya ke dada Myungsoo, dan lelaki itu dengan otomatis memeluk tubuhnya.

Jaeun tidak mengira kalau Myungsoo menyimpan perasaan sebesar itu padanya. Jaeun kira perasaannya tak akan terbalas sampai kapanpun. Jaeun tidak mengira—

Oh. Sekarang Jaeun mengerti. Ia mengerti kenapa Myungsoo sering menatapnya tajam, dan ia sering memasang tampang ingin marah setiap Jaeun tertawa dengan Minhyuk, atau setiap ia jalan ke kantin dengan Chunji. Jaeun pikir Myungsoo membencinya. Karenanya Jaeun benar-benar memasang wajah jutek setiap kali melihat Myungsoo. Wajah tidak mengenal malah. Ia tidak tahu—

“M-maafkan aku, Myung. A-aku tidak tahu—”

Myungsoo tersenyum lalu mengusap rambut Jaeun sayang, membawanya semakin dalam ke pelukannya. “Kau tidak akan tahu, Jae. Aku juga tidak tahu kau ternyata selama ini cemburu pada Jiyeon.”

“K-kau jahat sekali. Aku pikir kau bersama Jiyeon. Aku tidak t-tahu—” Jaeun menghentikan kalimatnya karena napasnya tercekat akibat tangis. Myungsoo menyeringai, menundukkan wajahnya lalu mengecup keningnya.

“Maaf sudah membuatmu cemburu,” bisik Myungsoo pelan. “Jadi, Kwon Jaeun,” Myungsoo menarik napas sejenak, “Jadilah pacarku.”

Jaeun menghentikan tangisnya, lalu mengangkat kepalanya dan menatap mata Myungsoo. “Myungie, kau sudah tahu jawabannya. Haruskah aku mengatakannya?”

Tell me, Jae. Aku ingin mendengar suaramu mengatakannya,” pinta Myungsoo sambil menyatukan kening mereka.

Jaeun menarik napas dalam dan menutup matanya. “Yes, Myungsoo. Aku mau jadi pacarmu.”

Look at my eyes and tell me,

Jaeun membuka matanya, menatap Myungsoo dengan kedua matanya yang mulai basah lagi. “I love you, Myungsoo. I’m yours.

Myungsoo menyeringai, ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Jaeun lalu menunduk dan menyatukan bibir mereka. Kini, Jaeun menerima ciumannya dengan senang hati. Perlahan ia membalas tiap pagutan Myungsoo, setitik airmata meleleh lagi di pipinya. Myungsoo memiringkan kepalanya agar dapat mencium Jaeun lebih dalam lagi, menggenggam leher Jaeeun dengan sebelah tangannya. Myungsoo menghentikan ciumannya saat mereka mulai kehabisan napas, namun tak melepaskan bibirnya dari bibir Jaeun.

I love you too, Jae. So damn much.”

__

But don’t forget who’s taking you home

Or in whose arms you gonna be

So darling,

Save the last dance for me

Baby don’t you know I love you so

Can’t you feel it when we touch

I will never, never let you go

I love you oh so much

__

A/N: oke, jangan marah ye. Ini emang bobrok banget astagaaa endingnya omoooooo kenapa gue malu banget XD gue sempet berkaca-kaca dan mesem-mesem kayak orang gila tapi kenapaaa gue malu banget omaigaddd Tuhannn maafkan hamba-Mu ini….
Ini juga salah satu ke-khilafan saya, ini harusnya Cuma ficlet, tapi lagi-lagi jadi sepanjang jalan kenangan begini, maklumi saja ya…. wkwkwkwkk

Thankyou buat yang udah baca dan ngasih komen XD

[FF] Save the Last Dance for Me [2/2]

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.