[FICTION] Ice Cream

Writing prompt — Ice Cream

by reenepott

__

Kalian semua tahu wanita, lah. Terutama ketika Ms. Moony-is-coming, kalian tahu sendiri lah apa artinya. Termasuk juga diriku ini. Meskipun sebagian menganggap kalau aku bukan wanita—iya, aku wanita secara biologi-kal namun bagi mereka tidak secara mental!—namun tetap saja, aku seorang wanita. Dan sama seperti wanita lainnya, aku juga akan sangat sensitif ketika tamu bulananku itu datang.

Salah satu hal yang paling bisa membuatku luluh saat aku sedang angin-anginan seperti itu, yah, kalian sudah menebak dengan judulnya. Ice cream. Sebenarnya bukan hanya ice cream. Semua es. Mau itu es serut, es lilin, es podeng, es campur, bingsoo, es apapun itu, aku akan segera luluh. Namun karena sekarang topiknya ice cream, mari kita bahas satu topik itu.

Pada dasarnya, aku suka semua macam ice cream. Mau dari ice cream W*ll’s yang dijual murah di minimarket, sampai gelato yang harga per-scoop nya ampun-ampunan. Favorit? Aku bingung. Namun aku paling suka ice cream dengan beberapa rasa tertentu. Vanilla, hm. Menurutku, itu adalah rasa klasik yang segera membawamu ke langit ketujuh begitu sesendok meleleh dimulutmu dan rasa manisnya yang langsung mengguyur ke seluruh rongga mulut. Rasa vanilla juga cocok untuk dijadikan topping minuman lain, yang biasa disebut float. Lalu rasa cokelat. Aku bukan penikmat rasa cokelat yang amat-sangat manis sampai giyung—atau sampai kau merasa kau langsung diabetes begitu mencicip sendok pertama—karena aku lebih suka bittersweet dari cokelat. Kalau bisa rasa dark chocolate, tidak apa-apa bila sedikit manis, tapi yang pasti bitterweet itu loh.

Selanjutnya aku prefer rasa-rasa kopi. Coffee, mocca, apapun itu yang mengandung kopi. Mungkin karena didasari diriku sendiri yang memang penggemar kopi, jadi ketika inderaku mencium wangi kopi, seluruh syaraf tubuhku langsung rileks dan mendesah nyaman. Rasa pahit-manis yang disentuh dengan asam kopi, hm. Seakan mendapat dua hal favoritku dalam satu benda. Mulutku berliur hanya dengan membayangkannya saja. Lanjut! Rum-raisin. Kalau ada rasa hanya rum saja pun boleh, karena intinya adalah sensasi menyengat dan hangat dari alkoholnya. Ohohoho, aku juga menikmati alkohol, tapi hanya sebagai sekedar suka saja. Aku tidak bisa menjadikan alkohol sebagai suatu kebiasaan—alasan pertama, harganya mahal bok! Membeli satu botol bir bisa untuk membeli dua galon air putih—namun ayahku yang mengajarkan untuk menjadikan alkohol itu suatu perangkat pergaulan. Singkat cerita, aku suka alkohol. Haha!

Rasa berikutnya adalah caramel dan salted caramel. Yeap, aku memang sudah mengatakan kalau aku bukan penggemar rasa manis yang giyung—kalian tahu, rasa manis yang bisa membuatmu pusing sejenak—tapi berbeda halnya dengan karamel. Cairan keemasan itu mempunyai rasa sedikit asin yang akan membuatmu serasa sedang menikmati ice cream di Paris, termasuk yang tidak salted. Well, kalian bisa merasakan sendiri lah ya semelayang apa rasa karamel itu. Lalu buah! Satu rasa buah yang maling aku suka adala lemon atau lime. Aku sangat suka asam—aku bisa memakan lemon seperti makan jeruk sunkist—dan orang lain yang melihatku pun meringis. Tapi bagiku itu menyegarkan, dan kebanyakan tekstur ice cream buah memang seperti es serut yang dipadatkan. Peraduan vanilla dan lime—hmm. Benar-benar enak.

Lalu ada rasa terakhir, dan rasa ini kusukai karena ada cerita dibaliknya. Mint-chocochip! Aku memang suka mint, tapi aku tak pernah menjadikannya rasa ice cream favoritku. Cerita ini bermula pada saat pulang sekolah, aku sendirian karena semua temanku ada rencana kencan sementara aku hanya sendirian. Tak ingin mengganggu mereka, kukarang saja cerita kalau kakak sepupuku datang dan aku akan menemaninya makan malam di rumah. Jadi, untuk mengisi waktu senggang, aku mengunjungi toko ice cream yang terletak tak jauh dari sekolah. Bila berjalan, mungkin sekitar 3 – 5 menit untuk mencapainya.

Baru saja aku masuk toko, lalu melihat-lihat varian ice cream di etalase, wajah seseorang tiba-tiba muncul sangat dekat dengan wajahku, membuatku terkesiap kaget. Aku makin kaget ketika mengetahui wajah yang kini juga menatapku itu adalah wajah seorang pria. Yang tak ku kenal pula. Apa-apaan main tempel begini?!

Aku segera menjauhkan diri, lalu menatap curiga dan tetap tak bersuara. Tapi pria itu—dia jelas-jelas lebih tua dariku, mungkin… college?—malah tersenyum. TERSENYUM.

“Hai.”

Aku hanya melongo mendengar sapaannya.

“Kau tahu, ice cream kesukaanku itu mint choco-chip. Kalau kau?”

Aku hanya bisa memendam senyum mengingat pertemuan pertama itu. Setelah kuinterogasi banyak-banyak—dan anehnya pria itu menurutinya dengan santai—dan pulang ke rumah, aku baru percaya pada pernyataannya yaitu ‘Well, ibumu khawatir kau pulang sendirian hari ini. Tapi beneran, kau lupa denganku?’

Yeah, dia tetanggaku. Dan aku hanya bisa manggut-manggut mendengar ceritanya yang seolah menggambarkan kalau ibunya dan ibuku seperti best friend forever. Like, aku tidak pernah tahu ibuku punya teman semacam itu? Tetangga pula?!

Memang, bernostalgia mengingat masa lalu bisa merilekskan hatiku yang tengah berdentum tak karuan ini. Aku harus tenang, rileks, jangan membuat kesalahan. Karena sebentar lagi, laki-laki yang mengaku tetanggaku dan menjemputku di toko ice cream saat pertemuan pertama kami itu, adalah laki-laki yang sama dengan yang sedang menungguku di depan altar sekarang.

Fin.

 

[FICTION] Ice Cream

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.