[FF] Resolution for Passive Shawol Series : Jinki Ver.

BLACK ABOVE WHITE

by ReeneReenePott

Lee Jinki (Onew) – Han Kyunna | Resolutions, Notes

Parental Guidance | Ficlet | Romance, Drama

Jinki – Kyunna Resolutions

A/N: Firstly, I want to say thank you very much to all of you who has been supporting this story from the beginning. Thank you very much and so sorry for this, I know I’ve broken my promise to continuing this story till the end. To repay my failure about this storyline, I would like to share you some notes about what happen next in the story and the ending resolution. Thank you for reading ^^

Jinki – Kyunna’s Resolutions

__

Jung Hana adalah seorang gadis yang sangat ambisius, dan karena cintanya pada Jinki, dia menghalalkan segala cara agar Jinki dan Kyunna tidak dekat lagi. Dia benci itu. Dia benci Jinki selalu merelakan segalanya demi Kyunna. Apa sempurnanya seorang gadis beasiswa bernama Kyunna? Cantik pun tidak. Karenanya, berkat segala akses ke seluruh pelosok kampus yang tak terbatas, ia berniat menjatuhkan klub jurnalistik yang memang memegang kendali atas mading dan diketuai oleh si anak beasiswa, Han Kyunna. Ia menyewa seorang pengarang dan menyuruhnya meneliti tulisan Kyunna, menirunya, dan membuat sebuah artikel yang menjatuhkan Jinki, baik image dia sebagai artis maupun image-nya sebagai seorang pria dan siswa kedokteran. Hana juga membuat artikel itu menjadi hasil karya Kyunna yang masuk headline news dan menjadi sorotan satu kampus seketika.

Saat itu, Jinki sudah berencana untuk menyatakan perasaannya pada Kyunna dan sekaligus memintanya menjadi tunangannya. Tapi setelah mengetahui artikel tersebut, Jinki marah hilang kendali. Ia membentak Kyunna di depan seluruh mahasiswa, meninggalkan gadis itu yang pucat pasi. Dia tidak pernah menulis berita itu.

Kejadian itu membuat Jinki uring-uringan. Dia sering pergi minum sendiri, padahal Minho dan Key sudah membujuknya untuk ikut serta. Tapi Jinki bersikeras dan langsung mengamuk bila dipaksa. Key menceritakan hal ini pada Changi tapi akhrinya mereka bingung dengan apa yang harus dilakukan terhadap Jinki. Jadi ia hanya bisa meminta bantuan perusahaan untuk menghentikan penyebaran artikel tak diinginkan tersebut pada masyarakat luas, dan menyebutnya sebagai salah satu hasil karya seorang anti-fans.

Disisi lain, Kyunna merasa sangat terpukul. Ia tidak mengerti dan sangat takut saat melihat wajah marah Jinki padanya. Pria itu tidak pernah menghubunginya lagi, bahkan saat berpapasan pun sepertinya dia tak sudi melihatnya. Kyunna merasa sangat sedih dan kecewa, meski tersimpan rasa marah dihatinya. Siapa yang tega sekali melakukan hal ini padanya?

Kyunna ingin sekali bicara pada Jinki, tapi pria itu selalu menghabiskan waktu bersama Hana. Pria itu nampak mesra sekali dengan Hana sampai Kyunna harus menahan sakit hati melihat kedekatan mereka. Setiap kali Kyunna mencegat Jinki yang sedang sendiri, mencoba meminta maaf, tapi Jinki langsung mengabaikannya dan berlalu pergi. Kyunna sama sekali tidak tahu apa yang dia lakukan terhadap Jinki. Akhirnya ia berusaha menyelidiki siapa yang membuat artikel itu, namun diketahui Hana. Hana berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan barang bukti, hingga membuat Kyunna putus asa. Apa yang bisa meyakinkan Jinki kalau bukan dia yang membuat artikel tersebut?

Akhirnya, Kyunna memutuskan untuk rehat dari aktivitasnya sementara, dia tak lagi memenuhi permintaan fanbase SHINee untuk meng-update setiap member. Dia juga mengambil cuti pekerjaan itu dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain. Dia akhirnya bekerja sebagai seorang editor magang di sebuah perusahaan media cetak dan di situlah dia bertemu dengan seorang diva jaman DBSK, Kim Jaejoong. Pria yang menawan terlebih jika berkenalan secara pribadi itu, terang-terangan menunjukkan perasaan kalau dia tertarik pada Kyunna. Setelah sekitar dua bulan, Jaejoong malah menjadi rutin mengantar-jemput Kyunna setiap saat. Hingga ada saat dimana Jinki dan Hana melihat mereka. Jinki yang masih menyukai Kyunna langsung menjadi berang. Di satu sisi dia membenci gadis itu, dan disisi yang lain dia tidak suka melihat Kyunna bersama lelaki lain. Sementara Hana? Dia semakin gencar mencela Kyunna di depan Jinki.

Jaejoong meminta Kyunna untuk menikah dengannya, dan Kyunna syok setengah mati. Seorang diva melamarnya? Apa tidak salah? Tapi dia tidak bisa menerima lamaran itu, karena setiap detik setiap waktu ia hanya memikirkan seorang lelaki, Jinki. Dia tidak bisa menerimanya dan akhirnya dia meninggalkan Jaejoong dalam keadaan patah hati. Kyunna sudah berusaha keras mengingatkan Jaejoong kalau mereka hanya teman, namuan Jaejoong belum ingin menyerah akan Kyunna hingga dia mencuri ciuman pertama Kyunna di depan mata Jinki.

“Jaejoong-ssi, aku sudah bilang—“

“Kau tak bisa membalas perasaanku, iya, aku tahu itu,” Jaejoong perlahan menatap mata Kyunna dan meremas tangan gadis itu lembut. “Aku hanya ingin memberikan apa yang bisa aku berikan, terutama untuk gadis yang kucintai. Apa tak boleh?”

“Aku tak mau kau menyakiti dirimu sendiri, Jaejoong-ssi,” balas Kyunna lirih, tak berusaha menarik tangannya dari genggaman Jaejoong. “Kau tak pantas sakit hati karena gadis biasa sepertiku,”

Jaejoong tersenyum manis, lalu menarik Kyunna mendekat padanya hingga ia bisa mencium bau shampo gadis itu yang selalu membuatnya melayang. “Asal kau bahagia dan tetap tersenyum, aku akan bahagia. Senyummu adalah segalanya bagiku. Dan, kau bukan gadis biasa dimataku. Kau wanita paling sempurna yang pernah kutemui,”

“Jaejoong-ssi…” panggil Kyunna pelan ketika dilihatnya mata Jaejoong mulai tak fokus menatapnya.

Saranghanda, Kyunna-ya,” gumam Jaejoong pelan sementara matanya terfokus pada dua belah bibir merah yang sangat dekat dengan wajahnya itu. Dan sedetik kemudian, kedua bibir mereka menyatu, dengan mata Kyunna yang melotot dan tubuhnya yang berubah menjadi kaku seketika.

Gerimis turun tiba-tiba, dan halte itu pun kedatangan seorang lagi dari arah zebra cross. Setelah ia sampai di halte dan mulai merapikan pakaiannya, tubuhnya menjadi kaku seketika melihat kedua orang yang sedang menautkan bibir itu. Pria yang melihat semua kejadian itu memakai jas lab dengan name tag bertuliskan Lee Jinki.

Ketegangan diantara Kyunna dan Jinki semakin memburuk, dan masa cuti kuliah Kyunna selama dua bulan pun habis. Kyunna kembali kuliah dan anehnya hampir setiap hari ia melihat Jinki, meskipun mereka berasal dari fakultas yang berbeda. Perlakuan Jinki semakin kasar padanya, hingga saat itu ada kompetisi olah raga yang enam anggota pengurusnya dipilih langsung oleh dosen ketua. Jinki ditunjuk sebagai ketua, dan Kyunna sebagai wakil. Hana memaksakan diri untuk ikut serta menjadi anggota, dan dia mendapat peran sebagai seksi acara. Jinki hampir mengamuk dan selalu memberi sinyal kebencian terhadap Kyunna, namun gadis itu tak menggubris atau berusaha menanggapi, membuat Jinki menjadi berang sendiri.

“Masih bisa tersenyum? Wah aku jadi benar-benar yakin bahwa kau iblis berbulu domba,” kata-kata dingin Jinki mengalir bergitu saja saat ia dan Kyunna berada di ruang dokumentasi berdua. Kyunna hanya membalas tatapan Jinki tak kalah dingin.

“Aku tak membuat suatu kesalahan, kenapa aku tak boleh tersenyum? Aku jadi kasihan pada orang yang tak bisa membedakan mana kebenaran dan kebohongan, sepertimu,” balas Kyunna, menarik sebuah map berdebu dan tanpa berkata lagi, meninggalkan Jinki yang terpaku di tempatnya.

Ketika perang dingin antara Jinki dan Kyuna semakin membeku (memanas, I mean), seharusnya dimanfaatkan Hana dengan sebaik-baiknya untuk merebut perhatian Jinki habis-habisan. Dan Hana berniat begitu. Dengan image Kyunna yang hancur di mata Jinki, Hana bisa dengan mudah menyingkirkan Kyunna. Namun yang terjadi ternyata tidak demikian.

Jinki dengan sengaja mengubah perang dingin mereka dengan mengubah sikapnya terhadap Kyunna. Dia sering menyeletuk aneh saat Kyunna berbicara, bersikap kurang ajar dan menggoda gadis itu habis-habisan. Sampai dari sudut pandang Kyunna, gadis itu merasa Jinki benar-benar serius dengan niat balas dendamnya, dan berusaha untuk menghancurkan hidupnya suatu saat nanti, jika menemukan saat yang tepat. Dan Kyunna semakin khawatir ketika saat itu akan datang, karena mau bagaimanapun, meski dengan sikap Jinki yang kurang ajar padanya, dia merasa senang karena Jinki masih mau memberi perhatian padanya. Perlahan ia kembali membuka hatinya pada Jinki, dan segera menyadari kalau perasaannya kembali akan bertepuk sebelah tangan.

Kyunna hampir menangis setiap melihat Jinki jalan berdua dengan Hana. Dia merasa kesal, marah, sedih dan patah hati. Dia kesal karena dia kembali menyukai Jinki, marah kenapa dia merasa begitu lemah ketika melihat pria itu, sedih karena kenyataan yang sama sekali jauh dari harapannya, dan patah hati karena cintanya pasti bertepuk sebelah tangan. Karena itu, dia berusaha lebih keras menghindari Jinki, mengabaikan pria itu, menghilangkan segala bentuk rupa pria itu dari pandangannya. Namun nampaknya, semakin dia berusaha keras menghindari Jinki, pria itu justru semakin gencar mengikutinya kemana pun.

Jujur, Jinki juga bingung kenapa ia berlaku demikian pada Kyunna. Dia tidak suka saat Kyunna menganggapnya sebagai angin lalu, dan dengan cara seperti itu ia bisa melihat reaksi Kyunna. Gadis itu tak mau menoleh saat ia lewat, jadi ia menjahilinya agar setidaknya Kyunna mau menoleh menatapnya, meski dengan raut marah. Kyunna tidak pernah menanggapinya lagi, jadi dia bersikap kurang ajar padanya agar setidaknya Kyunna berteriak padanya.

Jinki tahu dia bodoh. Dulu, dia yang mati-matian menjauhi Kyunna, padahal gadis itu berusaha mengatakan, atau menjelaskan, setidaknya kata ‘maaf’. Dulu, dia yang mati-matian agar tidak melihat Kyunna lagi, mulai jalan dengan Hanna sekedar pengalih perhatiannya dari tatapan memelas Kyunna.

Hingga pada suatu hari Jinki diminta bertemu dengan teman sekos Kyunna, Baek Changi. Sebenarnya Jinki tidak pernah ingin berurusan dengan gadis yang nampaknya segalak singa betina itu, tapi dari tatapan Changi padanya ia tahu ada suatu hal yang harus dibicarakan. Dan sesuai dengan harapannya, mereka membahas Kyunna ketika bertemu di sebuat kafe di pinggiran kota Seoul.

“Aku tidak mengerti apa motifmu hingga setiap hari kau selalu mengganggu unni,” terang Changi datar dengan kening berkerut, langsung tanpa basa-basi segera setelah mereka bertemu. “Tapi apapun itu, aku minta kau untuk berhenti, bisa? Aku tahu kau idol dan pasti dicintai semua orang, tapi untuk kasus ini, tolong jauhi Kyunna unni,”

Kini giliran Jinki yang mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

“Jangan pura-pura bego. Aku tahu kenapa kalian yang tadinya hampir jadian malah jadi musuhan seperti ini. Dengar, unni sudah melewati banyak hal. Dia sudah cukup menderita tekanan batin dan aku harus memastikan tak ada lagi tambahan tekanan batin darimu,”

“Tunggu, Changi-ssi, aku benar-benar tak mengerti maksudmu,” gumam Jinki pelan, namun tatapannya tetap lurus pada Changi.

“Aku rasa kau mengerti maksudku,” tandas Changi lugas, “Kalau kau mau kujelaskan, setiap hari kau ngintilin unni seakan dia ini sampah masyarakat. Dengan image idol-mu itu kau berhasil membuatnya malu setiap hari hingga sering ia tak ingin masuk kuliah. Aku harus terus membujuknya untuk kuliah karena aku tak ingin enam bulan masa cutinya sia-sia,” ceritanya dengan nada tajam, membuat Jinki yang sedang duduk di hadapannya membeku. “Kalau kau mau tahu, dia cuti karena ibunya harus membiayai ayahnya yang sedang sakit dan adiknya yang mau masuk SMA. Kyunna unni harus cuti enam bulan mengambil kerja full-time untuk kembali membayar kuliah persemesternya,”

Kedua mata Jinki berkedip, perlahan ia terhenyak di kursinya.

“Tapi seenaknya kau berkata dia wanita penggoda hanya karena Jaejoong-ssi tertarik padanya. Kau mengganggunya terus-terusan dengan mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak ingin aku ulang lagi padamu,” Changi hampir saja kelepasan berbicara banyak namun ia menahan geramannya ketika menyadari beberapa orang yang mulai melihat ke arah mereka. “Yang terakhir, bukan unni yang menulis artikel sampah tentangmu itu. Aku berani jamin, meskipun tanpa bukti. Bukan unni pelakunya, jika kau masih dendam padanya karena kejadian itu,”

Changi menghembuskan napas untuk terakhir kali, sebelum menatap Jinki untuk terakhir kali dan mulai beranjak berdiri.

“Atas dasar apa kau berani menjamin itu?” tanya Jinki dingin, membuat Changi menghentikan gerakannya, lalu kembali menoleh menatap Jinki bingung. “Atas dasar apa kau berani menjamin bukan Kyunna yang menulis itu?”

Perlahan Changi tersenyum kecil. “Sederhana saja. Setahuku, Kyunna unni sangat menyukaimu. Karena dia menyukaimu dia tak pernah menulis artikel tentangmu. Jika ia menulis tentangmu, tidak akan ada yang tahu dan tidak akan pernah dipublikasi. Aku tahu dia menulis tentangmu di buku diarinya, bukan diketik,”

Seketika Jinki mengerutkan keningnya lagi. “Aku tak bisa menjamin itu,”

“Kau memang tidak bisa,” balas Changi lagi. “Karena kau tak bisa, maka menjauhlah darinya. Sudah cukup ia harus berjuang sendiri untuk hidup, jangan buat dia makin rapuh karena patah hati,”

Jinki terhenyak mendengar kata-kata Changi. Ia merenung, hingga keesokan harinya, ia melakukan seperti apa yang diminta Changi. Jinki berhenti mengganggu Kyunna, berhenti muncul dihadapan Kyunna. Sebagai gantinya, ia menatap dan memerhatikan Kyunna dari jauh. Seketika itu ia sadar, Kyunna yang ia lihat sekarang bukan Kyunna yang dulu. Ia menyadari betapa Kyunna terlihat lemah saat ini. Ia makin kurus, namun tetap memaksakan diri untuk tersenyum. Masih banyak tatapan sinis dan pedas dilayangkan padanya, terutama dari kaum perempuan. Namun semuanya tidak dianggapnya dan ia lagi-lagi memaksakan senyum. Jinki baru sadar kalau Kyunna terlihat rapuh dan butuh pelindung. Seakan dia porselen di tepi meja yang jika tersenggol sedikit bisa jatuh dan pecah.

Tapi disisi lain, Jinki tidak bisa memercayai kata-kata Changi. Ia belum bisa percaya bukan Kyunna pelaku penulis artikel laknat tersebut, padahal ia ingin sekali itu sebuah kenyataan. Jinki ingin percaya bukan Kyunna yang menulis artikel tersebut. Tapi sayangnya, kemampuan Jinki juga terbatas. Kalau saja ia bisa menyewa seorang detektif yang teramat handal…

Hingga akhirnya Jinki berhasil mendengar sebuah percakapan. Ia tahu mencuri-dengar itu kurang ajar, tapi ia gatal sekali ingin mendengarnya.

“Ya, Hana sangat beruntung. Dia cantik, kaya, tak dapat ditolak. Hanya dengan seorang agen dan jurnalis handal ia bisa mendapatkan SHINee Onew, kan?”

“Andai aku sekaya dia, mungkin aku juga akan memanipulasi tulisan Kyunna seperti itu! Ah, dia sudah menemukan cara baru ternyata!”

Tentu saja Jinki terkejut setengah mati. Ia segera mengejar dua wanita yang bergosip itu dan langsung meminta keterangan lebih lanjut. Ia berusaha mengorek-ngorek siapa sebenarnya pembuat tulisan itu, sampai memanggil orang untuk memeriksa CCTV di hall kampus. Di sisi lain, Kyunna benar-benar ingin melupakan Jinki. Ia sudah mulai melupakan masalahnya, kembali kuliah dengan tenang. Meskipun beberapa orang masih mencemoohnya, ia akhirnya kembali mendapat kepercayaan menjadi salah satu staf klub jurnalis di kampus lagi. Meskipun posisinya bukan sebagai ketua, Kyunna sudah cukup senang ia bisa menulis artikel lagi. Setelah kejadian yang lalu, Kyunna sudah memutuskan kalau ia tidak akan lagi berhubungan dengan orang yang berprofesi di dunia entertain, dan sekarang ia mulai menulis artikel tentang edukasi, travelling, atau kesehatan. Ia tak ingin tulisannya dimanipulasi lagi untuk menjatuhkan seseorang lagi.

Akhirnya, Jinki memang menemukan siapa pelakunya. Seorang pria yang menjadi jurnalis di sebuah majalah yang tak begitu populer, ia setuju untuk meniru dan memanipulasi tulisan Kyunna dengan tawaran uang yang sangat banyak. Jinki makin terkejut lagi ketika menemukan fakta kalau Hana-lah yang menjadi dalang dibalik semua peristiwa itu. Ia langsung mengkonfrontasi Hana sambil melemparkan bukti-bukti ke wajah gadis itu dihadapan seluruh kampus, dan berteriak memanggil Kyunna yang ternyata ikutan melihat kejadian menegangkan di hall kampus itu.

Kyunna yang kaget ketika Jinki meneriaki namanya, ia mundur perlahan dan kabur dari lokasi kejadian. Dia tidak mau lagi menjadi sorot perhatian. Ia tidak malu lagi dicela dan dihina di depan banyak orang, dia tidak mau lagi…

Dan saat itulah ia merasakan sepasang lengan melingkari pinggangnya, menariknya hingga punggungnya membentur tubuh yang hangat. Kyunna membeku, ia tak berani bergerak ketika mendengar suara yang sudah sangat dihapalnya berbisik padanya.

“Maafkan aku…”

Kyunna tidak tahan lagi. Hancur sudah benteng pertahanan yang susah payah dibangunnya selama ini. Tapi tidak. Dia sudah berkomitmen dan ia tak akan membiarkan bentengnya hancur begitu saja. ia menarik diri dari pelukan Jinki lalu menghadap pria itu dan memaksakan sebuah ekspresi datar. “Jinki-ssi, kukira tidak ada hal lagi diantara kita. Untuk apa kau meminta maaf?”

Jinki langsung tercenung ditempatnya berdiri setelah mendengar jawaban Kyunna. Se-keterlaluan itukah kelakuannya? Sesakit itukah Kyunna? Sejahat itukah dia sampai Kyunna pun berusaha untuk tidak mengingatnya lagi dan tidak ikut campur dengan urusannya lagi? “Aku tahu aku tidak pantas meminta ini dari mu, tapi aku tetap ingin mengatakannya. Maafkan aku,”

Sebentar Kyunna merasa senang Jinki akhirnya menyadari kalau ia bukan penulis artikel sialan itu. Tapi haruskan ia memaafkan Jinki? “A-aku harus pergi,” ucap Kyunna terbata dan langsung meninggalkan Jinki.

Oh, playing hard to get, eh?

Jinki bisa mengerti kalau Kyunna butuh waktu untuk memikirkan permintaan maafnya—atau menyesuaikan diri dengan Jinki yang tak lagi mengganggunya, tapi ini sudah kelewatan. Sebulan eh? Sudah sebulan Kyunna tetap menganggapnya sebagai angin lalu bahkan lebih terkesan menghindarinya. Setakut itukah Kyunna padanya?

Hingga pada suatu siang ketika Kyunna baru saja selesai kuliah dan berjalan melalui lorong perpustakaan kampus yang memang selalu sepi, Jinki menunggunya di balik pilar tangga karena dia tahu Kyunna selalu melewati jalan itu. Ketika Kyunna melewatinya, ia langsung menarik lengan Kyunna dan membalik tubuh gadis itu yang menegang.

“KYAAA~!”

“Ini aku!”

Kyunna akhirnya berani membuka matanya setelah beberapa detik mengenal suara itu. “Jinki?!”

“Setakut itukah kau padaku?” tanya Jinki tanpa tedeng aling-aling. Kyunna yang masih syok hanya terdiam.

“Apa?”

“Setakut itukah kau padaku?”

“Aku tidak takut padamu,” tegas Kyunna datar. Namun matanya tak mau bertemu dengan mata Jinki. Reflek ia memeluk dirinya sendiri dan menghembuskan napas lelah. “Ada apa?”

Jinki tertegun. “Kau menghindariku selama sebulan ini, dan yang kau tanyakan pertama kali ada apa?!”

Dan Kyunna, yang akhirnya menatap Jinki, memandangnya dengan tatapan kosong. “Kenapa kau jadi marah-marah?”

“Beri aku kesempatan sekali lagi, Kyunna-ya,” pintanya memelas. “Satu kesempatan lagi. Makan malam denganku akhir minggu ini. Jika setelah ini kau masih membenciku, aku tak akan mengganggumu lagi. Please?”

Kyunna hanya terus menatap Jinki, dan ia hanya menemukan ketulusan disana. Seraya menelan ludah dengan susah payah, Kyunna berusaha bersuara. “Baiklah.”

Dan saat itulah Jinki tersenyum lebar untuk yang pertama kalinya dalam beberapa bulan teakhir.

__

Singkat cerita, Jinki memang membawa Kyunna makan malam di sebuah kapal pesiar, hingga akhirnya bertanya apakah mereka bisa memulai semua ini dari awal lagi. Kyunna mengiyakan, karena dilubuh hati terdalamnya, iapun merindukan sosok Jinki. Satu hal yang tidak ia tahu, kalau Jinki sudah berencana bukan hanya untuk berteman, tapi sampai mereka mengikat janji suci dalam pernikahan.

END

P.S DAKU TAHU INI BOBROK. MAAFKAAANNN

[FF] Resolution for Passive Shawol Series : Jinki Ver.

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.