[FF] Confessions : You Don’t Know You’re Beautiful (Minho Ver.)

Confessions – You Don’t Know You’re Beautiful (Minho Ver.)

By reenepott

Choi Minho – Goo Hara (SHINee KARA) | Romance Fluff

|PG 15 |

Backsound : One Direction – You Don’t Know You’re Beautiful

__

“Astaga Goo Hara, kau sudah sisiran apa belum sih?” Nicole, teman sepermainan Hara hampir memekik hingga seluruh isi kelas mendengar. Sementara gadis yang bernama Goo Hara itu hanya mematung di depan.

“Hah?” Gumamnya bingung, lalu reflek mengelus rambutnya. Sedetik kemudian cengiran polosnya mengembang sambil melangkah mendekati mejanya dan duduk dikursinya. “Ooh, hehe. Aku lupa belum sisiran. Boleh pinjam sisirmu, Cole?”

Nicole mendengus sambil memutar bola matanya, namun tetap mengulurkan sebuah sisir dan sebuah cermin. “Kau benar-benar. Jangan bilang kau juga belum pakai krim wajah?”

Hara hanya mengambil sisir dari Nicole dan menyisir rambutnya asal. Untung saja dia membawa karet rambut kemana-mana jadi Hara bisa langsung mengikat rambutnya. “Uh, well, aku lupa dimana krim wajahku jadi, yah,” jawabnya setelah selesai mengikat rambut panjang kecoklatannya. “Ah! Minhoooooo boleh kupinjam catatanmu? Aku belum buat PR nih,” sambungnya lagi dengan tampang innocent pada seorang cowok yang duduk tepat berada di depannya.

Sontak tindakannya itu mengundang tatapan horor dari sejumlah kaum perempuan yang menjadi penghuni kelas tersebut. But well, sebenarnya tidak ada hal yang aneh dengan itu, karena yang melakukannya adalah Goo Hara. Tapi beda urusan jika sudah menyangkut soal Choi Minho. Karena, demi seluruh isi buku rapor Minho yang tidak ada angka dibawah delapan—that boy is a legend, man.

He got that super sexy freaking handsome face, yeah, ditambah otaknya yang hampir sejenius Einstein, pelajaran non-akademik yang mendekati sempurna, menyandang jabatan ketua murid dan sifat yang cuek dan dingin dengan tatapan membunuh—dia sudah punya fanclub khusus.

Tidak pernah ada perempuan yang seberani Goo Hara memanggil Choi Minho seakan cowok itu teman akrabnya yang biasa dibuli.

Dan masalahnya, sejak dulu memang Goo Hara sudah seperti itu. Dan Hara sama sekali cuek dengan tanggapan orang padanya, terutama cewek-cewek yang mulai mengerutkan kening mereka yang penuh bedak kala melihat interaksinya dengan si Choi Minho itu.

Hey, come on! Choi Minho juga manusia yang sama-sama makan nasi. Dia bukan kanibal yang patut ditakuti, apalagi keturunan setengah dewa seperti Percy Jackson yang hampir sempurna. Jadi dimata Hara, semua cowok itu sama.

Lagipula, mereka sudah saling mengenal sejak taman kanak-kanak. Tidak akrab sih, tapi Hara sering menyaksikan Minho bermain di playground dan sering rebutan perosotan—jadi, yeah, mereka sudah kenal sejak TK.

“Tidak, Hara. Aku belum beres.” Jawab Minho dingin, dan Hara hanya mengendikkan bahunya. Menurutnya Choi Minho itu orang pintar dan kalau sedang baik bisa minta contekan. Garis bawahi itu. Kalau sedang baik.

“Ya sudah deh. Nicoleeee bagaimana denganmu?” kepalanya beralih lagi pada Nicole yang sedang merapikan buku-bukunya di atas meja.

“Tapi aku banyak yang ngasal, Hara-ya…”

“Tidak apa-apa! Yang penting ada tulisannya, kalau disuruh maju dan salah kan aku jadi jujur kalau nggak bisa,” balasnya seenak jidat, menerima buku yang disodorkan dengan senang hati dan dengan tenang mulai menyalin PR.

Choi Minho, yang duduk di depannya, hanya bisa melirik lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Goo Hara, Goo Hara.

__

Goo Hara memang cewek aneh. Bagi Minho, spesies seperti Goo Hara hanya ada satu, yaitu cewek yang duduk di belakangnya itu. Dia tidak mengerti ada yang bisa tidur saat pelajaran berlangsung, terutama mereka yang duduknya agak di depan. Minho sendiri duduk di baris kedua dari depan, berarti Hara berada di baris ketiga. Posisi yang rawan karena berada dalam jarak pandang yang dekat dengan guru, karena yang duduk di barisan paling depan biasanya tidak akan begitu diperhatikan karena pasti akan kondusif.

Tapi Minho bisa mendengar dengkuran halus yang berasal dari cewek yang duduk di belakangnya ini. Hara memang tidak pernah tidur di kelas dengan posisi kepala menelungkup. Gadis itu tidur dengan posisi punggung tegak, kepala agak menunduk seperti sedang membaca, dan pena yang masih tergenggam rapi di tangan kanannya. Alhasil bukunya sering terdapat goresan-goresan ringan tinta yang seringkali membuat Hara sendiri bingung darimana goresan-goresan itu berasal. Guru yang tidak begitu memerhatikan pasti menganggapnya sedang membuat catatan atau apa.

Minho berusaha membuat gerakan untuk membangunkan Hara karena guru di depan memberi latihan soal beberapa nomor untuk dikerjakan. “Hara-ya, Goo Hara…” Minho menepuk tangannya yang masih memegang pensil dan Hara tersentak bangun seketika. “Ada latihan soal.”

Dan seketika itu Minho merasakan dadanya dicengkeram erat begitu melihat wajah mengantuk Hara yang sedang mengedip-ngedipkan matanya. Jelas bahwa gadis itu belum sepenuhnya sadar dan pasti bingung dengan apa yang sedang terjadi. “Hei, kita diberi latihan soal.”

Tidak digubris, Hara malah menguap dan matanya terbelalak seketika. “Iler!” pekiknya tertahan sambil mengusap mulutnya yang agak basah. “Aku tidur sampai ngiler!”

Minho bingung harus bereaksi bagaimana. Ia ingin sekali tertawa melihat ekspresi terkejut dan polos Hara yang sibuk mengeringkan wajahnya, karena ia menganggap kalau itu lucu sekali.

Tunggu… apa? Lucu?!

__

“Iya, aku tahu Cole, aku sering melanggar peraturan tapi ini sedang ada di sarangnya. Aku nggak bisa begitu saja kabur dan melupakan tugas sialan ini yang harus segera dikumpul,” sergah Hara ketus menatap nanar pada dua lembar tugas yang sudah nangkring di mejanya sejak ia ketahuan ketiduran di kelas Geografi. Oh pleaseeeeee siapa sih orang waras yang peduli dengan letak bintang dan berapa derajatnya ditambah apa jenis bintangnya dan menurut astrologi memberikan tanda apa?! “Jadi, honey bunny, I’m sorry tapi kau sendiri pergi karaoke dengan Jinwoon dan Woohyun saja ya. Aku akan bergabung dilain waktu.”

Oh pleaseeee Hara-ya tapi ini tidak akan seru kalau kau tidak ada.”

Hara menggembungkan pipinya dan menjatuhkan kepalanya ke atas meja, sementara sebelah telinganya masih tertempel di ponsel. “Ajak yang lain kek. Soojung kek. Siapa kek.”

“Hara-yaaaaaaaa…”

“Cole, kalau kau telpon terus aku ga akan beres tugasnya. Sudah ya, aku harus beresin ini, habis itu pulang, tidur. Capek tahu.” Klik. Tanda menunggu balasan Nicole, Hara langsung memutus sambungan teleponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku dengan kasar. Tatapannya kembali jatuh pada sehalaman soal yang masih bersih dari jawaban. “Dasar guru gila. Soal begini siapa yang bisa jawab? Anak olimpiade, kali!” gerutunya.

“Makanya, kalau di kelas jangan tidur terus. Butuh bantuan?” sebuah suara berat mengagetkan Hara yang tengah dilema antara menyobek-nyobek kertas itu atau memblendernya menjadi bubur. Kepala cantiknya yang lebih sering kosong mendongak cepat dan kedua matanya yang sudah bulat makin membulat melihat siapa yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di hadapannya.

“Minho? Kau belum pulang?” tanya Hara polos, setengah kaget dan setengah tidak tahu apa yang harus dikatakan. Cowok cakep itu hanya mengendikkan bahunya.

“Kulihat cuma kau sendirian di kelas. Kupikir kau kubantu saja supaya cepat pulang.”

Mendengarnya, Hara tersenyum sumringah. “Waaah tumben sekali kau sangat baik seperti ini. Terimakasih, terimakasih! Nah, sekarang bantu aku!”

“Tapi bantuanku tidak gratis, lho.”

Seketika Hara bengong, “Apa?!”

Tidak pernah, tidak sekalipun, Hara mendengar Minho meminta bantuan kepada seorang cewek. Terutama dirinya! Ayolah, Hara juga tahu dari setiap ekspresi Minho jika ia mulai melayangkan jurus annoying-minta-contekan-peer, jelas-jelas cowok itu risih dengan tingkahnya yang seenak jidat. Tapi selayaknya Hara yang masa bodoh, ia pura-pura tidak tahu saja.

Namun Minho hanya tertawa.

“Bercanda kok. Aku hanya ingin balas minta bantuan. Kau boleh menolaknya.”

Hara manyun. Ia meraih bolpoinnya dan mulai mencorat-coret kertas tugasnya. “Memangnya mau minta bantuan apa dulu?”

“Temani aku ke pesta ultah sepupuku mau? Well, temanku sama sekali tidak ada yang mau membantu,” Ujar Minho sambil ikutan menyabet salah satu kertas Hara. “Wah, kau benar-benar tidak memerhatikan pelajaran. Menggaris peta bintang saja salah.”

“Kalau begitu bantuin benerin dong, jangan hanya komentar!” sergah Hara, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Minho kali ini. Well, jelas-jelas cowok itu jarang melakukan interaksi dengannya. Menjauh, bisa dibilang. Mungkin karena mereka berbeda kasta. Kasta pintar dan kasta tukang molor, maksudnya. “Sama sekali ga ada yang mau menemanimu memangnya? Kurasa kau punya banyak teman cewek dan cowok yang mau diajak ke pesta seperti itu.”

“Kalau aku punya teman yang bisa kuajak, aku tak akan kepepet mengajakmu seperti ini.”

“Kenapa harus aku? Memangnya kita kenal sedekat itu, sampai aku bisa datang ke pesta ulang tahun sepupumu?”

“Menurutku cukup dekat sampai kau selalu berbicara banmal padaku, padahal belum ada yang pernah melakukannya.” Ujar Minho enteng. Hara mengerutkan keningnya. Iya juga sih.  “Tapi kalau kau tidak mau juga tak apa.”

“Aku mau saja tapi—”

“Baiklah. Nanti ku kabari waktunya. Ini salinan jawabannya, itu sudah soal tahunan yang selalu jadi soal tugas untuk anak nakal. Salin saja, setelah itu kau bawa pulang dan belajar. Oke? Dah.” Minho menepuk puncak kepala Hara sejenak sebelum menyodorkan beberapa lembar catatan sambil tersenyum lembut dan pergi.

Meninggalkan Hara yang masih terbengong-bengong di kursi tempat duduknya.

Tadi Minho mengajaknya kemana?!

__

Sekarang Hara berdiri di depan cermin di kamarnya dengan tatapan sekarang-sedang-perang-tolong-bantu-aku. Well, sebenarnya sekitar dua jam lagi Minho sudah bilang padanya kalau ia akan menjemput dan mereka akan berangkat ke pesta ulang tahun sepupunya yang merupakan lunch garden party—atau apalah itu sebutannya. Dan Hara mulai panik. Dia kan gak pernah datang ke pesta orang! Apa yang harus dia lakukan coba?!

Hal yang sudah siap hanya kado untuk si empunya acara. Waktu itu Hara sempat tanya jenis kelamin dan usia sepupu Minho.

Ini gara-gara si Minho itu. Si sialan berotak seencer lava gunung berapi.

Setelah Hara membawa pulang catatan Minho itu, akhirnya dengan tekad bulat Hara mempelajarinya. Dan alhasil, nilai ujian Hara sedikit meningkat dan dia lulus—meski dengan nilai pas-pasan, tapi intinya dia lulus—sampai-sampai Nicole bengong dan minta rahasianya. Apa dikata, Hara cuma bisa bilang dia nggak punya rahasia. Dia kan cuma akhirnya belajar. Atau apa karena faktor catatan Minho yang mudah dipelajari?

Yah, pokoknya intinya karena Minho-lah Hara bisa menyelesaikan tugas hukumannya sekaligus bisa menyelesaikan ujian dengan baik. Hara seperti sedang berhutang budi.

Setelah banyak bengong dan menarik napas panjang, akhirnya Hara membuka lemari bajunya. Lemarinya memang besar, karena ibunya sering sekali menyelundupkan entah pakaian macam apa ke lemarinya dan Hara pun tak peduli. Biasanya ia hanya akan mencari baju favoritnya—kaus putih gombrong dan jins 7/8 yang rombeng di lutut—dan langsung menutup lemarinya. Tapi kali ini, ia terpaksa menjelajah isi lemarinya dan semakin ia mencari, semakin bingunglah ia. Hara tidak menyangka ia punya banyak baju yang seperti ini!

Tiba-tiba pandangannya jatuh pada sebuah summer dress berwarna biru muda yang nampak simpel. Ia menarik dress itu keluar, dan menyadari bahwa tali lengannya—well, tidak ada lengan baju selain tali lengan itu. Tapi panjangnya selutut—mungkin lebih tinggi sedikit, tapi tak apalah. Matanya kembali mencari ke dalam lagi, lalu menemukan sebuah cardigan rajut berwarna putih gading—yang, setidaknya, dapat menutupi lengannya.

Setelah berganti baju, kini Hara berdiri lagi di depan cermin. Hm, dia tampak oke. Setidaknya, ini beda dari ia biasanya. Kini masalahnya ada di hal yang lain—yaitu rambutnya yang masih dicepol seperti orang mau mandi. Hara ingat kalau Nicole sering mengoceh tentang fesyen, dan mungkin ia bisa menggunakan secuil pengetahuan yang hanya pernah masuk kuping kanan-keluar kuping kiri ini. Yang penting, ia harus menyisir rambutnya dulu.

Ketika Hara hendak mengambil sisirnya yang terletak di meja rias, ia menemukan sesuatu yang tergeletak manis di sampingnya. Sepertinya, kalau Nicole bilang ini adalah lip gloss—atau lip balm? Hara tidak tahu perbedaan untuk keduanya, tapi yang jelas ini untuk dipakai di bibir.

Setelah menyisir dan menggerai rambutnya, Hara mengambil lip balm—atau lip gloss itu dan memakainya tipis-tipis di bibir bawahnya. Lalu ia ratakan dengan yang atas, karena ia tak mau mengambil resiko gagal pada pemakaian pertama. Baiklah. Ini adalah pertama kalinya Hara berpenampilan spektakuler—karena ia akan bertemu dengan keluarga Minho. Sebagai anak yang dibesarkan dengan etika, ia harus bisa memposisikan diri. Meskipun dengan berat hati.

Tak lama kemudian bel pintu rumahnya berbunyi, dan Hara hanya tinggal memakai sepatu C*nverse-nya dan mengambil tas selempang—yang ternyata ia miliki. Begitu ibunya melihat Hara keluar dari kamar, matanya membelalak.

“Astaga! Putriku cantik sekali!”

“Astaga umma… malu, ah.” Gumam Hara rendah manahan semburat merah di pipinya. Karena, well. Ibunya tak pernah menyanjungnya cantik.

“Tapi ini pertama kali umma lihat kamu pakai dress, sayang. Tuh kan, dress-nya cocok untukmu. Kau mau pergi dengan cowok ya?”

Jleb. Kenapa sih ibu harus selalu benar.

“Yah…”

Ting tong!

Umma, aku saja yang buka!” Hara langsung ngibrit ke pintu depan, takut ibunya bakal meledeknya lebih parah lagi jika tahu kalau yang menjemputnya itu memang seorang cowok.

__

“Maaf, Minho-ya. Yah, ibuku memang agak berlebihan, tapi dia hanya bercanda. Kuharap kau tidak menganggap ocehannya itu,” gumam Hara cepat setelah mereka berdua aman di dalam mobil Minho. Ia cepat-cepat mengenakan sabuk pengaman sementara Minho yang ada di kemudi di sampingnya menyalakan mesin mobil. Cowok itu hanya tersenyum tipis.

“Ibumu tampak baik hati.”

“Yeah,” balas Hara mau tak mau. Pikirannya sudah kacau semenjak mata ibunya menangkap sosok Minho yang berdiri di ambang pintu rumahnya, bersiap menjemputnya dengan pakaian santai tapi rapi. Dan terlihat sangat tampan. Untuk ibu Hara yang tidak pernah melihat putrinya pacaran, ketika melihat putri satu-satunya diajak jalan dengan seorang cowok cakep, siapa yang tidak senang. Matanya berbinar-binar dan dengan jelas meminta Minho untuk tidak buru-buru mengantar Hara pulang.

Like, what?!

Hara tahu dia memang ngenes kalau soal cowok, tapi kan gak begini juga caranya.

Mereka melaju dalam keheningan, atau lebih tepatnya karena Hara yang membungkam diri. Biasanya memang dia orang yang lebih banyak bertanya, berisik-seberisiknya, dan dia yang paling banyak ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas sama orang yang bahkan baru saja dikenal. Tapi entah kenapa kali ini Hara tidak tahu harus bicara, atau membuka pembicaraan dengan apa.

Mungkin karena ia terlalu gugup.

Pertama, dia duduk di mobil berdua dengan si Choi Minho yang memang si ‘cowok keren’, dan kedua, mereka pergi ke pesta ulang tahun sepupu Minho. Which is, bertemu keluarga Minho. Dia adalah teman perempuan yang dibawa seorang cowok ke acara keluarga.

Otak Hara memang lemot untuk urusan begini, tapi dia nggak bego-bego amat untuk menyambung inti-demi inti kejadian yang dialaminya dengan Minho sampai kini.

“Kita sudah sampai,” suara berat Minho menyentak Hara dari lamunannya, dan melongok keluar jendela. This is worse.

Hara berpikir mungkin pestanya akan diselenggarakan di suatu tempat tertentu, café pinggir pantai, taman hotel, atau apa. Tapi ini nampaknya seperti rumah Minho. Atau rumah keluarga besarnya, Hara tidak tahu. “Ini rumahmu?”

“Ya. Rumahku, ayahku, dan kakekku. Ada tiga generasi di sini, jadi kebanyakan pesta dan acara keluarga pasti akan diadakan di sini.”

Tangan Hara cepat-cepat menahan tangan Minho sebelum cowok itu berjalan masuk. “Tunggu dulu. Ini acara keluargamu?” tanyanya hati-hati. Hara mulai panik.

“Hm… iya. Tapi kan tidak hanya keluargaku. Teman-teman sepupuku juga diundang, dan beberapa kolega. Nggak seprivat itu kok, kau tenang saja,” balas Minho mencoba menenangkan. Tangannya berganti menggenggam tangan Hara, dan menariknya masuk ke dalam rumah besar dan megah, namun tetap terlihat nyaman itu.

Dan sekujur tubuh Hara seketika membeku. Like… ini pertama kalinya ada cowok yang jelas-jelas menggandeng tangannya!

Sampai di dalam, Hara dan Minho langsung disambut oleh ibu Minho, yang ternyata seorang wanita paruh baya yang ramah senyum. Matanya tak lepas dari Hara, menatapnya penuh minat. Hara hanya bisa tersenyum canggung sambil memperkenalkan diri dengan suara pelan, menjaga jarak sejauh-jauhnya dari Minho seakan ingin memberi tanda kalau mereka berdua memang tidak ada hubungan khusus dan datang hanya sebagai teman.

Tapi nampaknya tidak ada yang percaya.

Ayah Minho juga nampaknya memasang wajah berminat yang sama, seolah-olah puas dengan kehadiran Hara sebagai pasangan Minho di tempat itu.

Mrs. Choi mengamit lengan Hara, lalu menemani gadis itu ke dalam sambil berbincang ringan. “Kau tahu, Hara-ssi. Kau adalah perempuan pertama yang pernah dikenalkan pada kami. Dan kami tidak kecewa sama sekali. Kau gadis yang sangat cantik.”

Hara hanya bisa membalas tersenyum dan menggumamkan terimakasih. Sungguh, dia merasa amat sangat canggung dengan situasi ini. Ditambah dengan ibu Minho yang minta dipanggil eomonim.

“Setidaknya anakku memilih gadis yang tepat. Aku sudah hampir ketakutan kalau-kalau gadis itu yang akhirnya ia pilih.”

Ucapan ibu Minho membuat kening Hara berkerut. Rasa penasaran mulai menggelitik di perutnya. “Gadis itu siapa, eomonim?”

Tak terasa, mereka berdua sudah sampai di ruang keluarga yang luas, menampakkan suasana yang ramai dan meriah. Terutama di taman yang terbuka langsung dari ruang keluarga, nampak beberapa anak usia sekitar lima tahun bermain dan tertawa. Ibu Minho menatap Hara sejenak, sebelum dagunya menunjuk sesosok yang berdiri di ambang pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan taman. Seorang gadis yang tampak cantik sekali bagi Hara. “Itu Jiyeon, tetangga kami dan teman bermain Minho sejak kecil. Dia memang anak baik, tapi aku hanya merasa kalau ia bukan untuk Minho.”

Hara hanya bisa mengangguk paham. Gadis itu, Jiyeon itu, memang sangat cantik. Tubuhnya ramping, tidak kerempeng seperti Hara. Rambutnya cokelat bergelombang, kulitnya bersih. Dia tampak seperti model. “Minho suka Jiyeon?” tanya Hara tiba-tiba. Ibu Minho di sampingnya hanya terkekeh.

“Untungnya sih tidak. Hanya saja, aku tidak suka dengan tatapan yang sering Jiyeon berikan untuk Minho. Sepertinya Jiyeon yang suka dengan Minho.”

Hara kembali diam. “Eomonim, yang ulang tahun yang mana ya? Saya belum kasih kado.”

“Oh iya,” ucapan ibu Minho tertahan sebentar ketika melihat Minho datang dari taman. “Nah, nanti dikenalin sama Minho. Kalian berdua dulu ya, umma mau bikin camilan dulu.”

Minho mengiyakan dan Hara tersenyum, lalu tatapan Minho jatuh pada Hara. “Kamu nggak dinasihatin yang macem-macem, kan?”

“Nggak kok, ibu kamu baik banget. Tapi aku harus ketemu sama yang ulang tahun nih, belum kasih kado,” ujar Hara sembari mengeluarkan box hadiah ukuran sedang dari tas rajutnya. Kedua alis Minho terangkat, dia jelas nampak kaget.

“Padahal kamu nggak usah beli kado, kan aku yang minta bantuanmu.”

“Hei, tidak sopan kalau kau datang ke pesta ulang tahun tanpa kado. Sudahlah, kadonya tidak mahal kok,” balas Hara sambil mengibas tangannya lalu menunduk menatap kadonya. Kenapa? Karena tiba-tiba Minho menatapnya seperti itu. Ya, seperti itu. Hara jadi awkward.

“Oke, aku panggilin deh anaknya,” Minho tersenyum dan langsung berbalik, mencari sepupunya yang sedang berlarian di taman. Ketika punggung Minho sudah menjauh, gantian sesosok gadis yang menghalangi pemandangannya.

Hara berkedip, lalu menyadari kalau Jiyeon sudah ada dihadapannya. “Kamu siapa?” tanya Jiyeon langsung tanpa basa-basi. “Pacar Minho?”

Tapi Hara hanya bisa mematung dan menggeleng. “Bukan.”

Well. Tapi kamu ke sini sama Minho, kan? Kalian nggak ada hubungan khusus?”

“Nggak ada.”

“Baguslah.” Dan dengan kata sesingkat itu, Jiyeon meninggalkan Hara. Tapi dengan sikap Jiyeon yang begini, Hara menangkap maksud Jiyeon. Jauhi Minho. Jangan harap Minho mau sama cewek kayak kamu. Kamu harus tahu diri kalau kamu nggak akan bisa sama Minho.

“Nah, kenalin nih. Teman hyung, namanya Hara nuna.” Minho kini sudah berada di hadapan Hara lagi, tapi kini ia menggandeng seorang anak laki-laki berusia lima tahun tepat di hari ini. Hara buru-buru memasang senyumnya, lalu sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi dengan si bocah.

“Hai, aku Hara. Namamu siapa?”

“Aku Yoogeun!”

“Umurnya berapa?”

“Lima tahun sekarang!”

“Yoogeun-ah, selamat ulang tahun ya! Ini hadiah dari nuna,” ujar Hara sambil menyerahkan box hadiah yang sedari tadi dipegangnya. Ia kembali tersenyum, lalu mengelus pelan pipi Yoogeun yang menggemaskan itu.

“Yoogeun, bilang apa?”

“Terimakasih, nuna cantik!” ujarnya dengan semangat menerima hadiah yang diberikan Hara. Sedetik kemudian bocah itu sudah melesat entah kemana, meninggalkan Hara yang berdiri canggung di samping Minho.

“Kamu mau minum apa? Ada jus, es buah, sama soda,” tawar Minho tiba-tiba, sementara Hara akhirnya berhasil mengalihkan pandangannya dari sepiring kentang goreng yang ada di atas meja bersamaan dengan beberapa pastry. “Akan kuambilkan.”

“Oh? Apa saja deh. Terimakasih,” senyumnya. Oke. Tenang Hara-ya, ini adalah latihan sopan santun di acara orang!

Tak lama setelah Minho pergi mengambil minum, Hara yang tak tahu harus berbuat apa hanya celingak-celinguk memerhatikan dekorasi. Di samping dia tidak kenal siapa-siapa, ia tidak mungkin membuat kericuhan di rumah orang. Tak lama matanya lalu menjalar memerhatikan jejeran makanan yang tersaji di sebuah meja panjang. Ada pasta, sup krim, iga bakar/steak iga, dan kalkun panggang beserta semangkuk besar salad sayur di tepi. Lalu ada kentang goreng, ayam goreng, berbagai pastry dan isian sandwich di meja yang lain. Tak terasa perut Hara mulai kerucuk-kerucuk, tapi ia masih punya malu karena tidak ada siapa-siapa yang mendampinginya sekarang.

“Boleh kita bicara sebentar?”

Sebuah suara perempuan mengejutkan Hara dan membuyarkan niatnya untuk mencomot sepotong kalkun panggang. “Hah!”

Hara berbalik tiba-tiba untuk menemukan kalau Jiyeon sudah berdiri dekat dengannya. “Kau datang dengan Minho?”

“… ya?” jawab Hara agak ragu.

“Kau siapanya Minho?” tanya Jiyeon lagi, kali ini lebih lantang dengan kening berkerut dan suara yang mulai terdengar aneh. “Kau pacarnya?!”

Hara mencelos, keningnya ikutan berkerut mendengar tuduhan gadis cantik yang berdiri di depannya ini. Belum juga memperkenalkan diri, sudah main tuduh begini! Tadi juga sudah tanya dan sudah dijawab, ini orang cantik tapi kupingnya juga jadi pajangan kali ya? “Maaf, tapi aku nggak tahu siapa kamu. Aku merasa nggak harus menjelaskan hubunganku dengan Minho dengan orang yang nggak ku kenal seperti ini, deh.”

Wajah Jiyeon memerah, ia benar-benar nampak siap meledak sekarang juga. “Kamu! Beraninya bicara seperti itu padaku?!”

“Dan kau juga berani bicara seperti itu padaku. Aku bisa saja hanya temannya Minho, aku bisa saja adik temannya Minho, atau semacamnya. Belum kenal sudah main tuduh-tuduh. Aku berani bertaruh kau juga bukan orang spesialnya Minho,” sentak Hara dengan nada kesal. Sekuat mungkin ia sudah berusaha menahan emosinya, menjaga agar volume suaranya tidak menggelegar sampai satu ruangan terdengar.

“Ck! Minho nggak pernah mengajak temannya untuk datang ke acara seperti ini—”

“—dan nada bicaramu menghina sekali, nona cantik. Aku hanya temannya Minho, dan itulah yang dikatakannya padaku saat mengajakku kesini. Kalau itu bertentangan dengan prinsipmu, mungkin kau belum mengenal Minho lebih dekat. Atau, kau memang tidak dekat dengannya. Jadi, jangan asal tuduh seperti ini. Lagipula tadi kamu juga sudah tanya, dan aku sudah jawab lagi. Cara kamu ini, nggak sopan banget, tahu?” potongnya dengan tegas. Hara tidak pernah menyangka kalau ia bisa membantah—atau bersilat lidah sampai segininya. Karena biasanya ia yang kalah dengan Nicole kalau di kelas.

“Aku tahu namamu Jiyeon. Kau bisa memanggilku Hara, dan aku sedang kelaparan sekarang. Boleh aku mentup perbincangan ini?” tapi ia tidak menunggu balasan Jiyeon, dan langsung melenggang menjauh. Ia paling tidak tahan dengan orang seperti cewek itu. Cantik sih cantik, tapi kelakuannya seperti tidak pernah sekolah saja.

Tanpa disadari baik Hara maupun Jiyeon, dari kejauhan Minho memerhatikan mereka berdua sambil senyum-senyum sendiri. Ia memang tidak mendengar jelas seluruh percakapan itu, tapi ia tahu kalau Hara berhasil membungkam Jiyeon dengan cara yang ‘Hara’ banget.

Dan ia suka itu.

__

Hara tidak percaya ini. Matanya berkedip-kedip, tapi ternyata yang dilihatnya masih sama selama semenit terhakhir. Ya Tuhan! Ia tidak tahu kalau Jiyeon se-childish ini!

Lokernya penuh dengan sampah cemilan saat ia buka, ditambah dengan kertas yang menempel dengan coretan lipstik berbunyi ‘JAUHI CHOI MINHO ATAU KAU AKAN MATI’ dan dengan bodohnya cewek itu menambahkan inisial ‘J’. Hara tidak tahu apakah ia boleh tertawa atau tidak.

“Hahahaha…” ups. Kekehan Hara terlepas begitu saja. Lalu berubah menjadi tawa saat ia kembali membaca ulang tulisan itu sambil mencopot kertasnya dari dinding pintu lokernya. “Hah… yaampun.”

BRAKK

“Kau ketawa, hah?!” Hara berjengit ketika mendengar suara pintu loker yang dipukul di sampingnya, disusul dengan suara cewek yang kemaren mulai cari ribut sama dia di rumah Minho. Yaampun ini manusia. Hara pikir manusia yang murni memang nyebelin hanya ada di drama-drama saja. “Aku nggak habis pikir kalau ada ya cewek se-nyebelin kamu begini.”

Hara melongo. “Wah, pikiran kita sama loh! Kok bisa yah?” sambarnya dengan pede. Tips buat menghadapi manusia kayak gini, santai aja bro! Kalau ga salah ya ngapain takut? Tapi muka Jiyeon beneran merah sekarang, seakan sudah siap-siap untuk membunuh Hara di tempat. “Gini lho, mbak. Bukannya saya mencoba untuk tidak sopan, tapi mboknya mbaknya sadar gitu kalau situ sendiri yang nggak sopan duluan. You should treat someone how you want them to treat you.

“Aku nggak peduli sopan sama kamu atau engga, karena kamu itu worthless dan nggak se-level denganku dan Minho. Yang penting, aku minta kamu jauh-jauh dari calonku!”

Ungkapan Jiyeon yang lantang demikian membuat Hara menaikkan alisnya tingga-tinggi. Apa katanya? Worthless? Nggak se-level? Hanya karena dia bukan orang kaya tajir-melintir, kan? Yaampun. Hara sekarang sadar, kalau inilah efek jika waktu kecil dimanja berlebihan. “Aku nggak tahu yang kamu maksud worthless itu apa, se-level dengan kamu itu apa. Tapi yang jelas, cara kamu mengungkapkan ini padaku itu low-class banget. Pernah ngaca nggak sih, dengan tingkah kamu yang low-class begini, memangnya Minho mau sama kamu?” Ups. Hara menelan ludahnya dengan cepat. Matilah dia. Nyebut merk lagi. Ditonton anak-anak selorong lagi.

Aaargghhh!

“Kamu juga harusnya ngaca, dia juga ga mau sama kamu! Kamu nggak ada apa-apaya dibanding sama aku!”

Lho? Diputer balik gaes.

“Jiyeon, cukup.”

Hara merutuk dalam hati. Kenapa sih ini klise banget? Protagonis dilabrak antagonis, lalu datanglah sang hero untuk menyelesaikan semua masalah. Ia menelan ludah begitu suara bariton Minho terdengar dari sebelahnya. Hara menutup matanya, menghembuskan napas pelan, lalu menoleh menatap Minho yang dirasanya sudah berdiri di sebelahnya. “Minho-ssi—”

“Hara-ya, sebaiknya kita umumkan saja.”

Kedip.

Kedip kedip.

Hara menatap Minho dengan bingung. Hah? “Apaan?” Hara baru mengedipkan matanya, dan sesaat kemudian tangan Minho sudah melingkari pinggangnya dan tangan yang lain meraih wajahnya. Detik kedia, ia merasakan ada sapuan halus di bibirnya dan—Minho sedang menciumnya!

… apa?

Sekujur tubuh Hara membeku, tapi tidak bisa ia pungkiri kalau sentuhan ringan di bibirnya terasa seperti sengatan listrik. Dan ketika Minho memiringkan kepalanya dan memperdalam ciumannya, otomatis lengan Hara menaiki bahu Minho dan menariknya mendekat.  Dan disaat ciuman itu berakhir, Minho masih tetap memeluknya dan tidak menunjukkan tanda-tanda untuk melepasnya.

“Jiyeon-ah, Hara itu pacarku. Kalau kau berani menyakitinya, aku tak akan segan menyakitimu,” Minho melirik Jiyeon yang mematung, menatap Minho dan Hara dengan tatapan horror. Ia membuka mulutnya hendak protes, tapi Minho keburu melanjutkan “—aku tidak peduli apa katamu tentang Hara, tapi di mataku, dia tetap cantik. Menurutmu dia tidak seperti gadis di luar sana, mungkin juga dia nggak menganggap dirinya cantik, tapi itulah yang membuatnya sangat cantik di mataku.”

Lalu pandangan Minho beralih ke semua siswa yang sedang mengerumuni mereka. “Dan ini berlaku juga pada kalian. Sekarang bubar!”

Hara masih berusaha mencerna semua ucapan Minho di kepalanya dan terpaksa harus tersentak begitu Minho menariknya menjauh. “Yah! Apa yang kau bilang pada mereka?!” pekiknya tertahan setelah berhasil menemukan suaranya.

Minho hanya menoleh sebentar, lalu tersenyum kecil. “Kalau kau milikku, babe.”

Dan untuk pertama kalinya, pipi Hara memerah, jantungnya berdegup sangat cepat.

__

Sekarang, Hara menelan ludah berkali-kali, berpikir kata-kata apa yang pantas ia lontarkan sekarang ke hadapan sahabatnya yang sedang mendelik ke arahnya, menuntut penjelasan.

“Jadi itulah kenapa selama ini kau santai sekali dengan Choi Minho.”

“Nggak begitu, Cole. Sudah kubilang, itu semua terjadi begitu saja. Aku kan sudah bilang!”

“Tapi itu semua menjelaskan kalau sebenarnya dari dulu ia memerhatikanmu, ya kan?” serang Nicole lagi. “Jangan bilang tidak, Hara. Cuma kamu yang ia perbolehkan mem-banmal-nya selama ini.”

Hara terdiam. Tapi Nicole memang benar. Tadi siang, segera setelah pengakuan Minho ke seluruh sekolah kalau mereka berpacaran, ia langsung ditarik ke atap gedung untuk bicara berdua dengan Minho. Dan benar, ia dan Minho telah menyelesaikannya semua di sana. Sebagai sepasang kekasih. The kiss was helping a lot, though.

Tanpa sadar, pipi Hara memerah lagi.

“Sekarang, kau harus menceritakan semuanya! Apa saja yang sudah kalian perbuat?”

END

NB: Hai. Setelah ngendog 3 tahun di folder fanfic akhirnya oneshot ini kelar gaes. Dari jaman gue baru beres ospek sampe gue mau nyusun skripsi. HAHAHAHAHAH.

OIYAH. INI JUGA DIPOST UNTUK MERAYAKAN ULANGTAHUN BABANG CHOI MINHO YANG KE-27.

Tadinya sekalian uri leader Onew tapi dia ga nongol di sini. Hm. Di selametin ajalah ya bang hehehe semangat ya wamilnya kami menunggu disini!!

USIA UDAH SIAP MERID LOH BANG MASA GA ADA CALON SIH HAHAHAHA. ANAK ORANG MULU DIURUSIN KAPAN NGURUS ANAK SENDIRI (anak kita mungkin?#ditampar) WAMIL BURU SANA JANGAN SAMPE KAYAK JIDI UDAH SAMPE LIMIT (?) XD

DANNN UNTUK MERAYAKAN HARI NATAL DAN TAHUN BARU!

Jadi, ini yang versi Minho-nya. Sudah kuusahakan supaya tidak sebobrok yang versinya Key. Semoga masih layak baca karena gue juga udah kaku kelamaan gak nulis T^T Kalau kesampean, sampai jumpa di Confessions berikutnya! Ciao~!

[FF] Confessions : You Don’t Know You’re Beautiful (Minho Ver.)

Oxygen Please... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.